
"Al, coba ajak Kia, seru nih kayaknya kalau ditambah Kia" Seru Rina.
Kali ini mereka kembali berkumpul setelah cukup lama sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka menamai kumpulan mereka dengan nama geng somplak. Berisikan orang dengan berbagai karakter. Aleta, si pendiam dan lembut. Tania, si paling ceplas ceplos. Reta, si sulung yang berwibawa kalau kata mereka, karena Reta adalah member paling kalem. Rina, sebelas duabelas dengan Tania. Rosa, si paling moddyan namun saat ini gadis itu tidak bisa berkumpul dengan alasan sibuk. Mereka juga tidak memaksa karena mereka tahu hal yang menimpa Rosa dan keluarganya.
"Ho'o lama gak jumpa Kia, tapi dia kan gak ikut Zidan. Berarti masih kumpul sama kalian berdua juga dong? " Tanya Romi.
Tak ketinggalan juga para laki-laki yang ikut berkumpul. Dimana ada bidadari geng somplak, disitulah para pria akan ikut berkumpul. Siapa lagi jika bukan Albert, si paling pendiam diantara mereka. Rian, si paling dewasa. Romi, si biang tertawa. Dewa, si paling bijaksana menurut mereka. Jangan lupakan juga trio bule yang sekarang bergabung dengan circle mereka.
"Kia udah gak tinggal sama kita lagi. Dia milih tinggal di apartemen. Sesekali juga main dan nginep di rumah" Jawab Alesha.
"Loh kenapa? " Tanya Rina, Rina memang paling kepo jika menyangkut soal Zakia.
"Kia bisa jadi rebutan kalau tinggal di rumah" Tania memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Nia kagak capek apa ngunyah mulu dari tadi? "
"Enak Ret" Jawab Tania sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Coba telfon Kia deh, lama juga gak ketemu sama bungsu kita itu" Ujar Romi.
Zakia memang dianggap bungsu di circle mereka. Selain umur Zakia memang yang paling muda. Zakia juga yang paling manja diantara mereka.
"Bentar gue telfon dulu" Alesha mengatakan itu dengan mulut penuh dengan makanan.
"Di telan dulu makanannya" Yash memperingati Alesha, dibalas anggukan lucu dari sang istri.
Mereka menunggu panggilan yang Alesha lakukan diangkat oleh adik kandungnya itu. Jelas mereka rindu dengan wanita mungil milik Zidan itu. Zakia yang biasanya aktif di sosial medianya, kini jarang sekali mengunggah aktivitasnya.
"Halo, Assalamualaikum" Sapa Alesha saat melihat panggilannya diangkat. Padahal wajah Zakia belum nampak dilayar ponselnya.
"Wa'alaikumussalam" Jawab Zakia di seberang sana.
"Muka Kia mana ih? " Alesha tampaknya cukup kesal karena sang adik belum menampakkan wajahnya, sedangkan Zakia hanya merespon dengan kekehan.
Sembari menunggu Zakia memunculkan wajahnya, mereka dengan sigap dan rapi mengatur posisi mereka agar terlihat di kamera.
"Kia? " Panggil Tania kali ini.
"Bentar Kia masih pakai hijab" Setelah mengatakan itu tampaklah wajah menggemaskan Zakia.
__ADS_1
"Ya ampun pipinya" Pekik Rina tertahan saat melihat pipi chubby Zakia.
Zakia malah memencet kedua pipinya hingga bibir mungilnya maju, membuat mereka menahan gemas dengan wanita yang satu ini.
Enggak ini terlalu gemas. Batin Rian.
Adek gue kenapa gemesin banget. Alesha menatap nanar karena tak bisa mencubit pipi bak squishy itu.
Sebelas duabelas lah sama gue montoknya. Tania dengan otak gilanya.
"Kia lagi dimana? " Tanya Xavier.
"Ayo susul kita kesini Kia" James mengajaknya dengan semangat.
"Kia lagi di Bengkulu" Jawaban Zakia membuat mereka melongo. Ditambah lagi dengan kedua saudara Zakia yang tak tahu menahu kapan adik mereka ini berangkat.
"Ngapain kamu kesana? " Tanya Xavier, jiwa keposesifan seorang kakak muncul dengan sendirinya.
"Kerjaan, Kia gak lagi liburan. Besok balik kayaknya"
"Sama siapa kamu kesana Kia? " Yash ikut menimpali juga.
"Jangan lupa minum obatnya" Peringat Yash.
"Siap kakak ipar, apa kabar dengan kakak ku? " Alesha menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan adiknya itu. "Apa cucu pertama Lawrence sudah jadi? " Zakia menaik turunkan alisnya menggoda sang kakak.
Melihat muka merah Alesha, mereka semua terbahak. Jarang sekali Alesha blushing, karena wanita itu terlalu datar. Hanya Yash yang beruntung melihat wajah blushing Alesha yang tak mudah ditampakkan itu.
"Hahaha, Kia bercanda. Nikmati masa kalian berdua dulu, karena kalian sama seperti Kia. Pacaran setelah menikah. Mbak Nia apa kabar? Baby gimana? " Tanya Zakia beralih pada saudara sepupunya itu.
"Baik dong, baby juga baik" Jawab Tania masih asik dengan kunyahan buahnya.
"Kak Dewa, kapan-kapan bawa main lah sama kita-kita ceweknya. Jangan dikekep mulu"
"Makanya balik sini dulu, ntar kakak kenalin sama cewek kakak" Jawab Dewa seadanya.
"Aye aye kapten. Nanti atur jadwal lagi" Zakia melakukan pose hormat.
Mereka diam saat melihat Zakia tampak berbicara dengan seseorang disana. Mereka tak terlalu jelas mendengar apa yang dibicarakan mereka, karena tampaknya orang yang berbicara dengan Zakia berada di depan pintu.
__ADS_1
"Iya, siapin semuanya. Berkasnya saya yang urus" Zakia langsung menolehkan kepalanya ke arah kamera lagi. "Kia pamit duluan ya, mau siap-siap. Satu jam lagi Kia ada meeting. Papay, Assalammualaikum" Zakia melambaikan tangannya sebelum mengakhiri panggilan video tersebut.
...****************...
Di belahan negara lain, Zidan mengerutkan keningnya saat melihat nama penelpon di ponselnya. Karena tak biasanya sang kepala keluarga itu menelponnya jika tak ada hal yang penting.
"Assalamualaikum Yah? "
"Waalaikumsalam" Zidan menaikkan satu alisnya mendengar nada dingin sang ayah. Al Fatih memang terkenal dengan pribadi yang dingin, namun itu tak berlaku untuk anggota keluarganya.
"Tumben Ayah telfon Zidan, ada sesuatu Yah? " Zidan begitu to the point, cerminan Al Fatih.
"Berita sampah apa yang sedang beredar di sana Zidan? " Inilah Al Fatih yang sesungguhnya. Bukan hanya cara mendidiknya yang keras, namun juga perkataannya yang kasar jika sudah tidak bisa membendung amarahnya.
"Maksud Ayah? " Zidan masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Cek Zidan, bukan balik bertanya. Jangan sampai menantu Ayah tau dan sedih, jika itu sampai terjadi. Lekas pulang dan terima hukuman mu"
Tut...
Zidan tanpa sadar menelan ludahnya kasar. Bertahun-tahun jauh dari keluarganya membuat Zidan bernafas lega karena terhindar dari amukan macan Al Fatih itu. Al Fatih tidak mentoleransi kesalahan apapun yang dilakukan penerusnya. Maka dari itu Zainal dan Zidan minim sekali melakukan kesalahan. Kedisiplinan tinggi yang All Fatih terapkan membuat alam bawah sadar mereka menanamkan tingkat kedisiplinan tingkat dewa pada tubuh mereka.
Zidan tak ingin menebak apa yang sedang terjadi. Dirinya bukan sang istri yang pandai bermain teka-teki dan memecahkan teori. Tangannya dengan lincah mencari berita yang sedang trending saat ini. Tak mungkin jika sekelas ayahnya bisa mengetahui berita itu jika tidak viral. Karena Al Fatih tipe orang yang tidak peduli sekitar.
Mata Zidan melotot horor saat melihat apa yang dirinya dapat dengan pencarian namanya sendiri.
Zidan Al Fatih, dikabarkan tengah berkencan dengan sekertaris pribadinya yang bernama Dinda Kirana Al Fatih
Bahkan berita itu sudah tersebar luas di Indonesia. Tak heran jika sang Ayah langsung menelponnya. Kini Zidan bimbang sendiri, bagaimana jika sang istri melihat berita ini. Zidan hanya takut Zakia merasa dikecewakan karena ini.
Padahal kejadian yang sebenarnya, mereka tidak berdua melainkan bertiga dengan asisten Zidan. Foto yang beredar itu adalah foto setelah mereka melakukan meeting di sebuah restoran ternama di negara itu.
"Ada-ada aja yang bikin berita ini" Zidan menggelengkan kepalanya.
"Mark" Teriak Zidan, ingin rasanya Zidan menghajar pembuat berita yang merilis berita itu.
Asisten pribadi Zidan itu membuka pintu dengan kasar saat mendengar teriakan Zidan. Ini pertama kalinya Zidan berteriak selama Mark menjadi asistennya. Tak adanya Zakia di samping Zidan cukup membuat Mark kewalahan menghadapi bosnya yang memiliki mood naik turun itu. Tanpa Mark sadari jika Zakia lah yang membuat mood Zidan naik turun.
"Pesanan tiket pulang sekarang. Jangan membantah, usahakan hari ini aku berangkat ke Indonesia" Perintah Zidan saat melihat Mark hendak membuka mulutnya.
__ADS_1
Mark hanya mengangguk melihat atasannya yang tampak menahan amarah itu. Dirinya langsung bergegas keluar untuk melakukan tugasnya, dirinya tak ingin menerima amukan singa jantan ini.