
Mereka bercakap-cakap ria di rumah Alisa hingga mnejlang malam. Sehabis Maghrib, Rani dan Reza baru pulang dari kediaman Alisa.
Saat ini mereka baru saja keluar dari rumah itu. ''Apa kamu sembah sayang, sudah bertemu dengan Mbak mu itu?''
Rani terkikik geli mendengar perkataan Reza. ''Tentu Abang! Jika bukan ide darinya, mana mungkin sampai saat ini kita biasa datang kerumahnya dan Minggu depan kita akan menikah?''
''Hem.. iyalah..'' sahut Reza dengan terkekeh. Alisa sudah menceritakan semuanya kepada Reza.
Bahwa ide tentang penculikannya dan Papa Rustam adalah ide Alisa. Jangan main kasar. Tapi hukum mereka dengan cara yang baik dan lembut.
Alisa yakin, mereka pasti akan luluh. Dan terbukti semua yang dikatakan Alisa benar adanya.
''Kita harus berterima kasih pada Gilang, Dek. Karena dia lah kita bisa di pertemukan dengan Alisa. Sosok wanita yang begitu bijaksana. Beruntung sekali Gilang mendapatkan istri sepertinya. Dan lebih beruntung lagi, karena aku mendapatkan titisan Alisa. Yaitu dirimu, sayangku.'' imbuh Reza membuat Rani tersipu malu.
Saat ini mereka sudah tiba di kediaman keluarga besar Alamsyah. Reza dan Rani masuk kerumah, sesaat setelah bersapa ria dengan Pak Angga dan Ibu Dewi. Orang tua Gilang.
Setelah itu mereka masuk dan istirahat. Untuk menyegarkan tubuh mereka yang lelah akibat perjalanan jauh dari Bogor ke Medan. Dan ke tempat Alisa lagi tanpa istirahat sama sekali.
Satu Minggu kemudian.
Saat ini di kediaman keluarga besar Alamsyah sedang melakukan acara pernikahan Rani dan Reza.
Mereka berdua akan dinikahkan di mesjid komplek perumahan Griya M. Tempat dimana Gilang menikah dengan istri pertama nya.
Saat ini Reza dan Paman Ali sedang berjabat tangan untuk menyerahkan Rani keponakan nya secara langsung kepada Reza.
Sempat menjadi candaan para tetua disana. Yang mana Reza, harus menikahi adik sepupunya sendiri dan yang menjadi walinya pun, pamannya sendiri.
''Sungguh dunia yang sempit ya? Ck! ck!'' ledek Pak penghulu.
Mereka semua tertawa. Begitu juga dengan Reza. Semua Susana di dalam mesjid itu menjadi heboh setelah mendengar candaan dari Pak penghulu.
__ADS_1
Saat nya Reza untuk melakukan ujian qobul dengan Paman Ali, selaku wali dari Rani. Pengganti ayah Alam.
''Baiklah, mari kita mulai ijab Qobul nya! Seperti nya, pengantin pria nya sudah tidak sabar untuk melihat mempelai wanitanya ya?'' goda Pak penghulu lagi.
Semua yang ada disana terkekeh. Termasuk Rani. Saat ini ia duduk terpisah dari Reza. Ada Alisa yang menemani nya. Juga Ibu Dewi, Mama Gilang.
''Oke, kit mulai! Tak ada habisnya kalau saya terus pidato ya? Hah. Ayo Pak Ramli. Silahkan berjabat tangan dengan keponakan Anda! Haduh! Ribet euuuyyy!'' celutuk nya lagi.
Lagi dan lagi semua orang tertawa. Reza hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Bibir tipis pemuda itu tidak berhenti untuk tersenyum.
''Bismillahirrahmanirrahim, Asyhaduanla ilaha ilallah Waasyhaduanna muhhammadurrasulullah. Saudara Ar Reza Rustamsyah bin Rustamsyah saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan keponakan saya Aisyahrani binti Muhammad Alamsyah dengan mas kawin seperangkat alat sholat satu buah mushaf Al-Qur'an dan satu buah liontin berlian dibayar tunai!''
Paman Ali menyentak tangan Reza. ''Saya terima nikah dan kawinnya Aisyahrani binti Muhammad Alamsyah untuk saya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat satu buah mushaf Al-Qur'an dan satu buah liontin berlian dibayar tunai!'' jawab Reza dengan satu kali tarikan nafas.
''Bagaimana para saksi? Sah?''
''Sah!''
''Sah!''
''Panggilkan mempelai wanitanya kemari. Ini dia yang kita tunggu-tunggu!''
Deg!
Jantung Rani berdegup kencang. Ia membeku di tempat. Ucapan itu Sam saat seperti ia menikah dengan Reza dulu.
''Nak?'' ibu Saras menyentuh tubuh Rani yang mematung dengan tatapan kosong.
''Hah? I-iya Bu.. Ayo!'' ajaknya pada Ibu Saras.
Ibu Saras mengangguk. Mereka keluar bersama di ikuti Alisa dan Ibu Dewi di belakang Rani.
__ADS_1
Tiba disana, Rani di dudukan di hadapan Reza yang saat ini sedang menatapnya tak berkedip. Namun situs senyum manis terbit di bibirnya saat berpapasan mata dengan Alisa dan ibu Saras.
''Ayo, doakan dulu istrimu!'' titah Pak penghulu.
Dengan segera Reza meletakkan salah satu tangannya di kepala Rani dan satu lagi ia tadahkan untuk berdoa.
Kemudian ia mengecup kening Rani dengan Rani menunduk dan mencium balik tangan Reza.
Reza tersenyum, namun Rani seperti ada keraguan di dalam hati nya. Seakan tau, Reza berbisik lirih di telinga Rani saat ia memasang liontin berlian di leher Rani yang tertutup hijab.
''Abang tidak Anda menceraikan mu sampai kapanpun sayang. Bagi ku, ku adalah istriku satu-satunya seumur hidup ku. Aku tidak akan menceraikan nmu tepat dua hari setelah pernikahan kita. Kamu percaya sama Abang, Hem?''
Rani menatap manik mata hitam Reza. Ingin mencari kebohongan di mata itu. Tak ada kebohongan disana. Yang ada hanya ketulusan yang Reza berikan untuk Rani.
Rani tersenyum dan mengangguk. Cup!
Kecupan hangat ia berikan lagi ke kening sang istri. Rani terisak dengan segera ia memeluk tubuh wanita nya yang berguncang karena menangis.
Reza terkekeh, namun buliran bening itu juga ikut menetes di pipi nya. Ibu Saras tersenyum haru.
Akhirnya, Reza menikah juga dengan Reza. Seperti wasiat terakhir suaminya sebelum ia meninggal dua puluh tahun yang lalu.
''Aku sudah menyelesaikan yigadku, Mas Akan. Kini aku akan bersiap, kapanpun kamu ingin membawaku. Aku pasrah. Karena inilah takdirku.'' gumam ibu Saras dalam hati. Sekilas ia melihat Suaminya tersenyum lembut melihat Rani dan Reza berpelukan seperti itu.
💕💕💕💕
Noh, kalung berlian untuk Rani dari bang Reza. Hiks! pengen... 😰
Yuk kondangan. Sediain amplop yang tebal buat othor ya? 🤧🤧
__ADS_1
Beberapa bab lagi end!
Tapi tenang.. othor udah punya sekuelnya kok. 🤧🤧