Janda Kembang

Janda Kembang
Komplek Griya M


__ADS_3

''Kediaman Reza Alamsyah??'' gumam Rani saat melihat tulisan yang terpajang di tepi dinding pintu pagar yang menjulang tinggi.


''Ya, benar. Ini kediaman Rumah Den Reza. Dan juga rumah Neng Rani yang selama ini, Bapak dan istri yang mengurusnya. Sebentar lagi Den Reza akan tiba kesini. Mari Neng, istirahat dulu didalam?''


''Eh?''


''Hah?''


''A-apa?! Rumah bang Reza?? Reza Rustamsyah??'' tanya Rani yang baru sadar dari ucapan Pak Rahmat.


Pak Rahmat mengangguk. ''Disini den Reza dikenal Dengan putra Alamsyah, bukan Rustamsyah Neng...''


''A-apa?! Bagaimana mungkin?!''


''Ya mungkin atuh Neng.. wong kartu identitas nya pun dengan nama itu??'' sahut Pak Rahmat.


''Hah?''


''Bapak nggak salah?? Lalu, ini bukannya komplek perumahan khusus para pengusaha dan pejabat ya?? Mengapa pula Bang Reza beli rumah disini??'' tanya Rani untuk memastikan sesuatu.


''Den Reza sudah lama membeli tanah berserta rumah ini neng, semenjak delapan tahun yang lalu kalau nggak salah bapak sih. Karena ketika tanah dan rumah ini dibeli dulunya, rumah disebelahnya itu sudah ada berdiri disitu.'' tunjuk pak Rahmat pada rumah tetangga mereka.


''Itu rumah siapa rupanya Pak?? Pengusaha juga kah??''


Pak Rahmat mengangguk. ''Ya, itu rumah pengusaha sukses dan terkenal, ANGGA BHASKARA. Beliau dulu yang pertama kali membeli tanah dan membangun rumah di komplek perumahan ini. Beliau sudah terkenal sejak dulunya. Tapi Bapak hanya kenal dengan tuan Angga saja. Jika pemilik yang pertama yaitu ayahnya tuan Angga Bapak tidak kenal Neng.'' jelas pak Rahmat.


''Oo.. begitu toh.. eh? saya mau sholat subuh Pak! Ini kan sudah masuk waktu subuh, tanggung jika saya tidur lagi.'' imbuhnya, sembari bergegas ingin masuk.


Pak Rahmat yang melihat Rani, terkekeh. ''Mari Neng.. kenapa bengong lagi??''


''Hehehe.. saya nggak tau mau masuk dari pintu yang mana??'' Sahut Rani dengan sedikit senyum meringis.


Pak Rahmat tertawa. ''Dari pintu mana saja bisa atuh Neng... Hayoo.. istri Bapak udah nungguin Neng, tuh!'' tunjuknya pada seorang wanita paruh baya seumuran dengan bibi Kasmi sedang tersenyum melihat Rani.


''Selamat datang Neng Rani...'' sapanya pada Rani.


''Terimakasih sambutan nya Bu...'' balas Rani dengan sedikit senyum dibibir tipisnya.


''Mari Neng, kamarnya sudah ibu siapin. Kalau Neng mau sholat, disebelah kamar Neng itu Mushola. Sedangkan yang disebelah kanan kamar Neng, itu kamarnya den Reza. Eh? Den Reza nya sudah sampaikah??'' tanya nya pada pak Rahmat.


''Nanti jam tujuh pagi den Reza baru sampai kesini. Mari neng, kalau mau sholat silahkan! Bapak mau ke belakang dulu. Istirahat sebentar.'' imbuhnya, kemudian berlalu meninggalkan Rani yang berdiri mematung melihat sebuah figura besar yang terpampang dihadapan nya.


Bu Ani yang melihatnya tersenyum. ''Kenapa Neng?? kok segitunya lihat foto sendiri??''

__ADS_1


Rani menoleh. ''Kapan foto ini ada disini?? Bukankah foto ini saat aku sedang ke mall dan bertabrakan dengan bang Reza??''


''Sebulan yang lalu Neng, den Reza mengirimkan figura ini kesini sebelum ia berangkat ke Inggris waktu itu.'' jelas Bu Ani.


Rani terkejut. ''Inggris?? Luar negeri maksudnya??''


''Betul Neng.. saat itu, den Reza bergegas ingin berangkat ke Inggris, tapi sebelum berangkat, den Reza menelpon Bapak untuk menerima paket, jika nanti ada paket yang datang atas namanya. Dan mengenai foto itu... Ibu tidak tau Neng. Jika Neng Rani ingin tau, tanyakan saja pada den Reza. Sebentar lagi Den Reza akan datang. Ayo Neng, katanya tadi mau sholat?? Nanti subuh nya habis loh..'' tegur Bu Ani membuat Rani lari terbirit-birit masuk ke kamar dan hampir saja kejedug pintu.


''Astaghfirullah! isshh.. ini, pintu kok halangin sih?!'' gerutu Rani saat masuk kemarnya.


Saat masuk kekamar itu, lagi dan lagi Rani terkejut, melihat sebuah figura besar antara dirinya dan Reza seperti sedang berpelukan.


''Ini... bukannya ini... saat dirumah Bang Reza ya?? Saat sholat tahajud??'' ucapnya pada diri sendiri.


Masih dalam keadaan kebingungan, kini Rani dikejutkan lagi dengan sebuah weker kesayangan nya sudah terletak diatas nakas.


''Ini lagi?? kapan Bang Reza membelinya??''


Lagi Rani terkejut.


Saat mengingat waktu subuh sebentar lagi, Rani bergegas untuk mandi dan sholat subuh di kamar saja.


Saat selesai sholat, Rani membuka lemari bermaksud ingin meletakkan baju dan menyusunnya disana.


Semuanya lengkap. Mulai dari underware, hijab instan, hijab ke kondangan dan masih banyak lagi.


Didalam lemari tiga pintu itu juga ada baju lelaki. Rani melihat dan menyentuhnya. ''Ini .. seperti ukuran bajunya Bang Reza?? Kenapa ada di lemari kamar ku?? Dan ini juga? Mengapa pula ada disini??'' gumamnya pada diri sendiri sembari menyentuh CD Reza.


Sibuk melihat dan membuka lemari pakaian itu, Rani tidak sadar jika sudah ada seseorang yang memperhatikan nya sejak tadi.


''Baju, jas, celana, Gasper serta CD pun ada di lemari ini? Apa maksudnya?? Bukannya kamar Abang ada disebelah ya??'' ucapnya lagi pada diri sendiri.


Tangannya masih saja sibuk menyentuh CD milik Reza. Sesekali Rani geli dan juga terkekeh.


''Hihihi.. kalau aku pakai beginian lucu kali ya??'' ia cekikikan sendiri tanpa menyadari ada seseorang yang terus menerus menatap nya sedari tadi.


Bu Ani yang melihat Reza masih bersandar di depan pintu menegurnya.


''Den...'' bisiknya.


Reza menoleh dan tersenyum. ''Saya di kamar ini aja deh Bu.. mau godain calon istri!'' bisiknya tapi masih terdengar oleh Bu Ani.


Bu Ani terkekeh geli. ''Semua yang Aden suruh, sudah Ibu kerjakan. Lihatlah Rani, ia geli sendiri melihat pakaian dalam den Reza.'' imbuhnya dengan sedikit cekikikan disana.

__ADS_1


Reza terkekeh pelan. ''Ya sudah, ibu siapkan aja sarapan kami ya? Sebentar lagi saya menyusul dengan Rani.''


''Sipp... selamat berjuang Den!'' ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.


Setelah itu ibu Ani berlari ke dapur. Membuat Reza terkekeh. Melihat Rani cekikikan sendiri, Reza menutup pintu dan mengunci nya.


Ceklek.


''Astaghfirullah! Abang!'' kejut Rani membuat Reza tersenyum tipis.


''Tu-tunggu disitu! ja-jangan mendekat! A-abang salah masuk kamar!'' serunya pada Reza yang terus mendekat padanya.


Rani ketakutan melihat Reza seperti ingin menerkam nya. Reza makin maju, Rani semakin mundur hingga membentur lemari dibelakang nya.


''Ja-jauh bang! A-abang salah masuk kamar! ini kamarku! ka-kamar Abang disebelah!'' ucap Rani lagi dengan bibir yang sudah memucat.


Reza semakin mendekat padanya. Saking takutnya melihat Reza yang semakin dekat padanya, Rani memejamkan kedua matanya.


Reza tersenyum. Sangat gemas melihat tingkah Rani. Rani semakin gemetaran ketika merasakan deru nafas Reza yang menyapu keningnya.


Sengaja Reza menggoda Rani. Ia ingin tau, apakah Rani masih sama, seperti Rani nya yang dulu atau sudah berubah.


Rani semakin ketakutan saat merasakan dada Reza semakin menghimpit tubuhnya. Keringat dingin mengucur di dahinya.


Ia yang sudah mandi kini berkeringat lagi. Reza semakin gencar menggoda Rani. Tangannya menggapai sesuatu diatas kepala Rani.


Membuat Rani menahan nafasnya. Tapi ada sesuatu yang aneh ia rasakan. Kenapa berada di depan tubuh Reza, Rani merasakan ketenangan dan rasa aman?


Tangan Rani yang masih memegang CD Reza, kini sudah nangkring di pinggang Reza. Semakin lama ia mencium bau tubuh Reza, ia semakin nyaman.


Tanpa sadar ia memeluk Reza dengan erat. Membuat Reza terkejut. Reza yang sedang berusaha mengambil sesuatu dari atas kepala Rani membatu.


Pelukan yang sama saat mereka berada di dalam Mushola rumahnya. Reza mematung saat merasakan cengkraman tangan Rani begitu kuat memeluk dirinya.


Sadar jika sedang ada yang tidak beres, Reza menurunkan tangannya untuk menyentuh pundak Rani.


''Jangan tinggalin Rani lagi Bang... Rani nggak sanggup tanpa Abang... Rani butuh Abang.. Rani mau Abang... jangan tinggalkan Rani lagi Abang... Rani sayang Abang... hiks..''


Deg.


💕


Ada apa sama Neng Rani??

__ADS_1


TBC


__ADS_2