Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 128


__ADS_3

Kini keduanya memasuki area perbelanjaan setelah selesai mengisi perut mereka dengan makanan yang diinginkan oleh Zakia. Salah satu kegiatan yang Zidan sukai adalah berbelanja. Menyaksikan Zakia yang sibuk memilih dan membandingkan satu bahan dengan yang lainnya adalah pemandangan yang wajib Zidan saksikan.


Mengambil troli dan mulai mendorongnya. Zidan yang mendorong dan Zakia berjalan di depannya. Mulai menjelajahi setiap lorong yang merupakan surga bagi para wanita itu.


"Sayang gak beli buah? " Tanya Zidan saat melihat Zakia melewati para buah-buahan yang berbaris rapi.


"Nanti, kita cari bahan lainnya dulu"


Zakia mulai menuju ke rak bagian daging. Memilih antara satu dan yang lainnya, tampaknya wanita mungil ini sedang merencanakan untuk masak besar di rumah sang mama. Terbukti saat dirinya memilih banyak daging dan beberapa bahan lainnya


"Udang Mas? " Tawar Zakia namun tak melihat ke arah Zidan.


"Tadi kan udah sayang"


"Beli aja deh, buat stok" Zidan memasang ekspresi datar seketika.


Zakia tak memperhatikan perubahan ekspresi suaminya. Terus berjalan dan memilih apa saja yang ada didepannya.


"Sayang, kebutuhan kamar mandi di kamar kita masih lengkap? " Tanya Zidan.


Semenjak menikah, seluruh kebutuhan kamarnya diurus oleh Zakia. Bahkan meskipun ada ART di rumahnya, Zakia tak memperbolehkannya masuk, dirinya membersihkan sendiri kamar besar milik Zidan itu. Alasannya simple, Zakia tak ingin area pribadinya di masuki oleh orang lain. Zidan hanya menyetujui apa yang istrinya inginkan.


"Masih ada. Lagian kita baru balik Mas, ya kali habis" Ucap Zakia.


Zidan melupakan hal ini, melupakan jika dirinya dan Zakia tak menempati kamar tersebut dengan waktu yang lama.


"Ke rak buah-buahan, Mas"


"Iya" Zidan hanya menjawab seadanya.


"Mas pilih deh mau buah apa, Kia pilih yang lain" Ucap Zakia setelah sampai di rak yang berisi buah-buahan.


"Kita gak lama di rumah Mama loh, Yang" Zidan mulai memilih anggur yang berjejer rapi dihadapannya.


"Kan bisa bawa pulang ke rumah Mas, nanti taruh di rumah Mama beberapa aja. Sisanya kita bawa pulang lagi" Jelas Zakia.

__ADS_1


"Jangan lupa ambil strawberry Mas. Kia lama gak makan salad, nanti mau buat" Zakia memasang wajah lucu menatap Zidan.


Zidan harus menahan gemas mengingat saat ini mereka berada di tempat umum.


"Oke, mau buah apalagi. Eh, sayang buah persik mau gak? " Tawar Zidan saat matanya tak sengaja menangkap buah berbulu halus itu.


"Boleh Mas. Kia ke rak sebelah dulu ya. Mas mau snack atau apa? "


"Emang boleh makan snack? "


"Nggak juga sih, cuma nawarin aja. Kia bikinin cemilan asal gak snack" Zakia langsung berlalu begitu saja meninggalkan sang suami yang melongo dibuatnya.


Mereka berpisah dan mengurus urusannya masing-masing. Sepertinya ikatan batin mereka cukup kuat, hingga tanpa mengatakan apapun mereka langsung menuju kasir dengan waktu yang bersamaan pula.


Zakia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Melihat belanjaannya yang begitu banyak, membuat dirinya meringis sendiri. Tampaknya kini dirinya lupa diri saat berbelanja. Maklum saja, semenjak tinggal terpisah dengan Zidan, Zakia jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah lagi berbelanja. Semua kebutuhannya dirinya pesan secara online. Baik bahan masakan atau apapun itu. Karena kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan membuat Zakia cukup kesulitan menyesuaikan jadwal kerjanya dengan yang sebelumnya.


"Eh" Penjaga kasir terkejut saat suami istri tampak menyodorkan kartu yang sama dengan waktu yang bersamaan pula.


"Kia aja yang bayar"


"Mas aja, Sayang"


"Gak papa biar Mas aja, jangan bandel oke" Zidan menarik kartu Zakia dan menyelipkan kembali di dompetnya.


"Ini belum pernah Kia pakai loh, Mas" Zakia membenarkan letak kartunya dan membiarkan Zidan membayar belanjaan mereka.


"Bukan salah Mas" Jawab Zidan seadanya dan mulai membawa satu persatu belanjaannya setelah selesai melakukan pembayaran.


Zakia ikut membantu mengangkat sisa belanjaan yang tidak bisa Zidan bawa. Zakia bukan tipikal wanita manja yang akan menyerahkan seluruh belanjaan pada sang suami.


Setelah menatanya di dalam bagasi mobil, mereka mulai meninggalkan area perbelanjaan dan mulai menuju rumah orang tua Zakia. Suasana hening menyelimuti mereka berdua sebelum akhirnya Zidan memecah keheningan dengan ucapannya.


"Sayang, kartu yang Mas kasih itu dipakai buat penuhi semua kebutuhan kamu. Itu Mas kasih bukan cuma buat pajangan atau temen kartu-kartu kamu yang lain"


"Uang Kia masih ada, Mas" Jawabnya. Terbiasa hidup sendiri membuat Zakia sungkan untuk memakai uang Zidan, meskipun itu adalah haknya.

__ADS_1


"Uang kamu simpan, siapa tau kamu ingin sesuatu atau apapun itu. Uang dari Mas itu nafkah, kewajiban Mas sebagai suami"


"Kia gak enak, Mas sampai kasih black card segala perkara urusan nafkah doang" Bukan maksud menyepelekan, namun Zakia merasa ini terlalu berlebihan.


"Sayang ku, bidadari ku. Itu nafkah yang mampu Mas kasih buat kamu. Kalau Mas gak mampu, gak mungkin Mas kasih ke kamu sayang. Mas tau kamu gak terlalu menuntut soal nafkah atau uang belanja. Tapi, itu adalah kewajiban Mas sayang, dan mampu Mas segitu. Karena jika Mas kasih seluruh kartu Mas sama kamu. Kamu pasti bakalan nolak"


Bukannya menjawab apa yang Zidan utarakan. Zakia malah bertepuk tangan hingga membuat Zidan melongo bingung.


"Ini kalimat terpanjang yang Kia dengar" Zidan tampak menghela napas pelan melihat tingkah sang istri.


"Mas serius, sayang" Tampaknya jika bersama dengan Zakia, Zidan akan memiliki stok sabar porsi jumbo.


"Oke, maaf Mas. Kia hanya merasa itu berlebihan, kita bahkan terhitung baru berapa bulan menikah, dan Mas langsung memberikan Zakia black card dengan begitu mudahnya. Kia hanya kaget, tak biasanya seperti ini. Bahkan dulu... "


"Stop membandingkan masa sekarang dengan yang lalu, sayang. Kamu sudah lepas, tidak lagi dibayang-bayangi masa lalu kamu. Zakia yang sekarang adalah Zakia yang baru. Istri seorang Zidan Al Fatih, jangan samakan perlakuan Mas dengan mantan suami kamu ya"


"Kia gak bermaksud membandingkan Mas, cuma... "


"Sudah-sudah, Mas ngerti. Jangan dilanjutin, Mas gak mau kamu nangis cuma gara-gara inget yang dulu" Zakia mencebikkan bibirnya.


"Kode sayang? " Zidan melirik Zakia yang memanyunkan bibirnya.


"Apa? "


"Minta dicium" Zidan mengedipkan sebelah matanya pada Zakia.


"Mesum ih"


"Mesum sama istri sendiri gak papa. Baru kalau sama istri orang dosa"


"Emang berani? "


"Bukan gak berani, tapi gak minat. Bidadari Mas di rumah sudah luar biasa, itu saja sudah cukup. Gak baik memiliki sifat tamak"


Zakia tersenyum manis mendengar ucapan Zidan. Dalam hatinya melambungkan syukur atas pemikiran Zidan dan berharap akan selalu seperti itu. Zakia berharap ini adalah pernikahan terakhirnya, tidak ada badai besar yang akan membuat kapalnya karam. Bukan trauma yang Zakia takuti, namun Zakia sudah terlanjur menyerahkan seluruh rasanya pada Zidan.

__ADS_1


Tidak hanya Zakia, Zidan pun juga berharap demikian. Menurut Zidan, Zakia adalah wanita langka yang berhasil dirinya temukan. Wanita pekerja keras yang tak lupa akan setiap kewajibannya. Wanita multitalenta yang sudah jarang dirinya jumpai. Bersyukur benang takdir menyatukan mereka dalam ikatan halal. Zidan yang hanya berbekal nekat saat melamar Zakia dan berujung pada resminya hubungan mereka.


Mungkin ada kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang mengusik ketenangan keduanya. Tapi tampaknya keduanya memilih saling diam dan menyelesaikannya secara individu.


__ADS_2