
Setelah seluruh keluarga mengucapkan selamat kepada Rani dan Reza, kini Reza menagih janjinya pada Rani. Seluruh keluarga nya sudah keluar sedari tadi dari kamar mereka.
''Ceritakan sayang! Apa yang kamu lakukan hingga kamu bisa hamil anak kita?'' tanya Reza, ia melambai kan tangannya pada Rani agar duduk di sebelahnya.
Rani terkekeh, ''Sangat penasaran ya? hem?''
Reza mengangguk, tangannya dengan cekatan membuka hijab Rani. Ia elus puncak kepala Rani dengan sayang.
''Katakan, Abang ingin tau. Bagaimana bisa kamu bisa hamil sementara Abang udah di vonis mandul..'' lirih Reza masih dengan menatap manik hiatm mata Rani.
Rani tersenyum. Cup. Ia mengecup pipi Reza dan memeluk tubuhnya dengan erat. ''Rani sengaja kontrol ke rumah sakit untuk menanyakan kesehatan Abang pada dokter Alvian. Dia bilang, Abang bukan mandul tapi sakit. Sakit Karena bagian saraf kepala yang terhubung dengan saluran itu mengalami penurunan aktivitas nya dalam memproduksi bibit unggul milik Abang.'' Rani terkekeh setelah mengatakan hal itu. Begitu juga dengan Reza.
''Terus?''
''Dokter Alvian bilang, Abang harus sering minum obat yang selalu ia resepkan pada Rani-,''
''Obat??''
''Ya, obat. Obat untuk kesembuhan Abang selama tujuh bulan ini. Setiap sebulan sekali Rani selalu ke rumah sakit. Rani sering minta ijin kan ya sama Abang untuk kontrol ke rumah sakit?''
''Hem, terus?'' tanya Reza lagi. Matanya terpejam karena tangan Rani mulai nakal lagi.
''Waktu itu dokter Alvian menyuruh Rani untuk mengambil bibit unggul punya Abang tanpa penyatuan. Rani bingung dong. Gimana caranya dapat bibit unggul tapi tidak dengan penyatuan? Dokter Alvian memberikan saran padaku untuk membuat Abang mau mengeluarkan nya sendiri dengan cara... ehem.. buat Abang melayang-layang tapi di dalam mimpi!''
Reza membuka matanya, ia menoleh pada Rani. Rani mengangguk. ''Pernah mengalami nya kan?''
''Ya, waktu itu Abang pikir memang mimpi basah. Jadi ternyata itu...''
Rani tersenyum, ''Ya, aku mancing Abang untuk bisa mendapatkan bibit unggul Abang tanpa melakukan penyatuan. Aku terpaksa harus melakukan itu ketika Abang tertidur lelap. Hihihi.. Abang lucu. Abang ngigau. Abang bilang sangat ingin menyentuh ku, tapi senjata Abang tidak berfungsi. Nyatanya? Berdiri tegak kayak pohon kelapa!''
Reza mendelik menatap Rani. Rani tertawa. Cup. Kecupan singkat Rani berikan di bibir sang suami.
''Nakal kamu ya?''
Rani tertawa. ''Nakal pun dengan suami sendiri! Apa salah nya?'' ucap Rani masih dengan tersenyum.
''Ssssttt... ugghh.. jangan sekarang sayang.. ceritakan dulu... sssttt...'' desis Reza saat merasakan tangan nakal Rani sudah bekerja dari sebalik celana Reza yang sudah terbuka kancingnya.
__ADS_1
Rani terkikik geli. ''Inilah yang aku lakukan selama lebih kurang enam bulan ini. Sengaja aku memancing hasrat Abang agar bibit unggul bisa ku periksa setiap bulannya. Abang itu akan bekerja saat malam saja. Ketika siang hari selalu murung seperti itu!'' ketus Rani.
''Ssssttt.. maaf sayang...'' desis Reza lagi dengan mata terpejam.
''Maka dari itu, aku sengaja mengambil bibit unggul untuk diperiksa oleh dokter Alvian. Dan benar seperti dugaan nya. Jika bibit unggul Abang itu mengalami penurunan aktivitas nya. Dokter Alvian selalu memberi kan aku resep yang aku campur dalam susu Abang setiap pagi dan malam. Gunanya untuk membuat bibit unggul Abang itu bekerja kembali.''
''Ah...'' desaah Reza. Rani semakin gencar melakukan tugasnya dalam membuat Reza melayang-layang.
''Setiap sebulan sekali di periksa. Dan terakhir pada bulan kemarin. Kata dokter Alvian, Abang udah bisa untuk membuahi sel telur ku. Dan aku pun di periksa, untuk melihat kesuburan kandungan ku. Abang tidak mandul, hanya sakit. Perjuangan ku selama tujuh bulan ini, tidak menghianati hasil. Aku sengaja memancing Abang waktu itu, agar Abang mau menyentuhku. Tapi Abang menolak, jadi terpaksa ku lakukan dengan cara seperti itu.''
''Senjata Laras panjang milikku ini, memang sehat. Hanya produksi bibit unggul nya saja yang bermasalah. Abang terlalu larut dalam rasa itu sampai melupakan ku. Padahal waktu itu aku sangat butuh semangat dari Abang. Mana ibu juga tidak ada disini. Rasanya aku ingin menyerah, tapi dokter Alvian selalu menyemangati ku untuk selalu semangat walau Abang sering menolakku! Aku butuh Abang..'' lirih Rani masih dengan aktivitas nya.
''Ayo, ah. Abang udah nggak tahan ini..'' pinta Reza dengan sangat. Rani tersenyum, dengan senang hati ia menuruti kemauan Reza.
Mereka larut dalam penyatuan cinta mereka yang tertunda selama empat bulan ini. Karena usaha Rani yang begitu keras, akhirnya membuahkan hasil juga.
Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Mereka hanya menunggu waktu kelahiran bayi mereka saja.
Hari-hari yang dilewati oleh mereka berdua begitu penuh drama. Yang mana Reza selalu mual saat mencium bau parfum entah siapa pun itu.
Reza mengalami kehamilan simpatik. Kehamilan yang terjadi karena sang suami begitu mencintai sang istri. Ikatan batin inilah yang membuat mereka merasakan hal yang seperti ini.
Fatih dan Karin yang selalu menjadi sasaran mereka untuk mendapatkan apa yang mereka idamkan.
Hari-hari yang dilewati di penuhi rasa bahagia yang tiada Tara.
Empat bulan kemudian.
Sedari pagi, Rani sudah merasakan mulas di perutnya. Tapi ia tetap beraktifitas. Walau sesekali meringis, namun tetap berjalan.
Reza sudah pergi ke kantor. Sementara ibu Saras sedang ke Bogor lagi untuk memeriksa perkebunan mereka.
Sudah dua hari ini Rani merasakan sakit pinggang dan perut bagian bawahnya. Walaupun demikian ia selalu memberikan hak Reza.
Seperti tadi pagi. Setelah subuh Reza meminta lagi jatahnya. Rani mengiyakan. Kata Reza untuk membuat proses kelahiran lancar.
Saat melakukan penyatuan tadi pagi, Rani merasakan sakit yang tiada Tara di perutnya. Namun, ia memilih diam karena saat itu Reza sedang menginginkan hak nya.
__ADS_1
Setelah penyatuan itu selesai, Rani lagi di dera rasa sakit semakin parah. Tapi tetap juga diam.
Ia menahan nya agar Reza tidak khawatir dengan dirinya. Rani tau, jika kehamilan nya sudah tiba waktunya untuk melahirkan.
Dokter memang sudah mengatakan hpl Rani. Dan ia ingat tanggal hari ini. Ia tersenyum, namun meringis.
Di rumah tidak ada siapa pun. Hanya dirinya dan Pak Rahmat saja. Reza menugaskan nya untuk selalu mengawasi Rani, kalau Rani nanti melahirkan cepat dibawa kerumah sakit. Begitu katanya.
Dan tepat seperti dugaan Reza, Rani mengalami mulas yang semakin lama semakin terasa.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi Pak Rahmat untuk membawanya ke rumah sakit. Kakinya sudah bergetar merasakan sakit yang tiada Tara.
Sambil terengah-engah, Rani mencoba berbicara pada Pak Rahmat. ''Ha-halo Pak! Masuk ke rumah! Saya mau melahirkan!!''
''Oh.. iya Neng! Sebentar!'' sahutnya. Setelah itu ia menyuruh Pak Kurni untuk mengeluarkan mobil dan mereka berdua masuk kedalam untuk membawa Rani.
Pak Rahmat sudah tau akan terjadi hal ini. Makanya ia dengan sigap menyuruh pak Kurni untuk mengeluarkan mobil.
Rani masuk ke mobil, bertepatan dengan Reza juga baru pulang karena ada berkas yang tertinggal.
''Loh? Ada apa Pak?'' tanya Reza dengan panik melihat Rani meringis.
''Aden sebentar lagi akan jadi Papa! Ayo! Neng Rani semakin sakit itu!'' ucap Pak Rahmat pada Reza yang terkejut karena ucapan nya.
''Papa? Aku?'' tanya Reza lagi pada Rani.
Rani menahan sakit yang tiada Tara. ''Masuk Bang! Anak kamu mau brojol ini!! hufffttt... hufffttt... Allahu Akbar! Abang!!!'' sentak Rani.
Reza terkejut. ''Allahu Akbar! Istriku! Anakku! Baju, tas, ibu, uang, amplop!'' seru Reza panik. Ia tak tau harus berbuat apa sekarang.
Pak Rahmat sampai tertawa melihat kepanikan Reza. ''Ayo, Pak! Kita, kita pulang ke Bogor! Eh, ibu! Ibu mana ibu!''
Rani terkekeh, namun masih meringis. ''Ayo Abang! Aku mau melahirkan ini!!'' seru Rani lagi.
Reza semakin panik tidak menentu. Dengan segera ia lari ke mobilnya dan membawa mobil itu dengan terburu-buru.
Rani dan Pak Rahmat Sampai geleng kepala melihat nya. Rani menggerutu disela rasa sakit nya.
__ADS_1
''Ck! Istri mau melahirkan kok malah kabur sih?! Hisshh... sssttt.... jalan Pak!'' titah Rani pada Pak Rahmat.
Pak Rahmat mengangguk. Dengan segera ia pergi kerumah sakit dimana Reza sudah menunggu nya disana.