Janda Kembang

Janda Kembang
Teror


__ADS_3

Keesokan harinya.


''Papa!!!!'' pekik Mama Nia.


Papa Rustam yang sedang berada di belakang lari tunggang langgang ke depan. Di mana Mama Nia sedang berada.


Papa Rustam berlari begitu kencang melewati Fatih dan Reza yang sedang berada diruang makan.


Wuuushhh...


''Wuiiihhh.. kencang amat tuh larinya? Nggak takut apa? tuh pinggangnya kumat encok?'' ucap Fatih dengan sedikit kekehan di bibirnya.


''Hus! Papa kamu itu loh..'' tegur Karin.


Reza terkekeh kecil melihat Papa nya berlari ke depan tanpa melihat keberadaan mereka yang ada di ruang makan.


Sementara Papa Rustam tiba disana dengan nafas ngos-ngosan. Ia melihat Mama Nia berdiri mematung.


Karena penasaran, ia mendekati Mama Nia. Dengan tangan ia tekukkan di lutut.


''Hoosshh.. hosshh.. kamu kenapa sih Ma? Bikin Papa jantungan aja! Jangan teriak-teriak napa?! Hisshh...'' gerutu Papa Rustam.


Mama Nia tak menyahut, matanya menatap sebuah box yang lumayan besar. Papa Rustam mendekati Mama Nia sedang Mama Nia sudah berjongkok untuk membuka kotak itu.


''Kalau pagi-pagi itu jangan teriak-teriak Mama! Nanti darah tinggi kamu kumatlagi! Mau kamu, leher kamu di gips kayak dulu? Ishh lebih baik kita olah raga Pagi-pagi kan lumayan bisa ngeluarin keringat! Ayo sayang kita masuk! Kamu ngapain sih? Itu box apaan?'' Ucap Papa Rustam dengan segera mendekati Mama Nia berada di dekat box itu.


Mama Nia membuka box itu dengan hati-hati. Baru sedikit yang terbuka bau busuk sudah menyengat keluar dari kotak itu.


''Benda apa ini? Kok bau busuk begini?'' gumam Mama Nia masih terdengar oleh papa Rustam.


Papa Rustam yang mendengar pun berceloteh lagi, namun sebelum selesai dirinya sudah di kejutkan dengan isi dalam box itu.


''Itu apa sih sayang? Kok kamu lebih menginginkan itu sih di bandingin Papa?! Kamu itu harus nurut sama Papa- aaaaaa...'' pekik Papa Rustam.

__ADS_1


Mulut nya berhenti mengoceh karena melihat isi di dalam box itu. Ia mundur beberapa langkah ke belakang, dengan tangan menutup hidung dan mulutnya.


Papa Rustam mual melihat benda itu. ''Apaan tuh Mama- hueeekk... hueeekk..'' Papa Rustam begitu mual benda berbau busuk itu.


Mama Nia menghela nafasnya. Ia tau jika sang suami sangat benci dengan kepala kerbau.


Ya, isi kotak itu adalah kepala kerbau yang sudah membusuk. ''Ma... buaangggrrrtthhh... huuueekkk... huuueekkk...'' lagi Papa Rustam muntah.


Ia mengeluarkan isi sarapan paginya di teras rumah. Sementara di ruang makan, mereka bertiga cekikikan mendengar Papa Rustam muntah-muntah seperti itu.


''Dasar adik durhakim! Tega-teganya dia buat Papa muntah kayak gitu?'' Ucap Fatih pada Reza sambil terkekeh.


''Enak aja! Kamu juga Abang durhakim tau? Ide siapa yang buat seperti itu?'' balas Reza masih dengan kekehan di bibirnya.


''Kalian berdua? Dasar! Kalian itu Sama-sama, anak durhakim! Ayo ah! ke depan. Biar itu orang tua nggak curiga sama kita?'' sela Karin saat melihat Reza dan Fatih masih saja tertawa.


''Ho'oh, ayo kita keluar! Aku ingin lihat seperti apa Papa saat ini?''


''Ck! Dasar Abang durhakim!''


Reza dan Fatih tertawa.


Tiba disana, mereka bertiga melihat Papa Rustam masih muntah-muntah. Fatih mendekati kedua orang tuanya.


''Loh? Papa kenapa, Ma?'' tanya Fatih pura-pura. Ia menahan tawa saat melihat Papa Rustam yang terus terusan muntah karena kepala kerbau itu.


''Pakek nanya lagi! Noh .. kepala kerbau itu yang membuat Papa kamu mabok! Ck! siapa sih yang iseng banget mengirim kepala kerbau yang udah bau busuk itu? Nggak tau apa? Kalau Papa kalian itu anti banget sama kepala kerbau yang sudah bau busuk? Dasar!'' gerutu Mama Nia dengan pelan ia memijit tengkuk suami nya.


''Hoo.. Fatih kira Papa sedang ngidam? Eh, apa Mama ngidam? Jangan-jangan Mama nih yang sedang berisi?''


Mama Nia mendelik. ''Mana ada Mama hamil! Istri kamu iya!'' ketus Mama Nia.


''Lah.. kok marah? Yang Fatih bilang kan bener Ma? Fatih heran aja. Yang hamil kan Karin? Kenapa pula Papa yang mual-mual?''

__ADS_1


''Ck! diam kamu! Cepat buang itu bangkai! Tanam atau buang kemana aja! Asal jangan disini!'' sentak Mama Nia.


Reza dan Karin cekikikan di belakang Fatih. ''Di buang? Sayang dong.. kan bisa di masak? Ya kan sayang?'' tanya Fatih dengan wajah polosnya.


''Astaghfirullah... buang Al Fatih Rustamsyah!!!! Buaaaanngg...'' pekik Mama Nia.


Para asisten rumah tangga mereka berlari berhamburan keluar karena mendengar Mama Nia menjerit begitu kuat.


''Ada apa Nya? Loh? Tuan kenapa?'' tanya mang Udin dengan raut wajah khawatir.


Mama Nia menoleh dengan wajah kesal. ''Kamu lihat tidak box itu? Apa isinya? Masih nanyak juga!'' ketus Mama Nia


Lagi Reza dan Karin menahan tawanya. Sedangkan Fatih berjongkok di depan box itu. ''Waduh! bener bau euuuyyy.. dasar Reza! Usil banget sih!'' gumam Fatih sambil merogoh isi kotak itu.


''Ini apa??''


''Apa itu??'' tanya mang Udin dengan segera mendekati box itu.


''Ada kertasnya Ma!'' seru Fatih.


Dengan segera ia membuka kertas itu dan membacanya.


''KELUAR! ATAU MATI!''


Deg!


''Astaghfirullah!!!''


💕💕💕


Maaf ya kemarin othor nggak update. Maklum, buntu ide! Alhamdulillah, pagi ini sudah ada! hihihi..


Like dan komen ye!

__ADS_1


TBC


__ADS_2