
''Jangan pergi Rani.. Paman, nikahkan kami berdua agar Rani tidak pergi lagi dariku! Sudah cukup selama ini aku melepas nya! Kali ini tidak lagi! Nikahkan kami segera Paman! Sebelum Paman balik ke Bogor!'' tegas Reza membuat Rani mematung.
Begitu juga dengan Alisa. Alisa menatap Rani yang juga sedang menatapnya kini. ''Dek??'' panggil Alisa.
Rani membalikkan badannya menatap Reza. ''Nggak! aku tidak mau menikah dengan mu Bang Reza!'' sentak Rani.
Reza terkejut. Bukankah memang ini yang harus terjadi? Lalu, mengapa Rani sekarang menolaknya?
''Kenapa?? Kita perlu ija qobul saja sekarang, agar kamu sah menjadi istriku!'' tegas Reza sambil menatap Rani dengan tajam.
''Nggak! aku nggak mau! Aku tidak mau mengulangi hal yang sama dua kali! Cukup sekali aku merasakan nya! Dinikahi kemudian di ceraikan dalam waktu dua hari! Cukup sudah! Jika Abang menginginkan ku tetap mengurus mu disini, maka lupakan niatmu itu untuk menikahiku! Abang tak berhak atas ku! jadi jangan coba-coba untuk menahan ku!'' tukas Rani begitu kesal.
''Kamu istriku Rani!''
Deg!
''Apa?!'' pekik Airin, Rani dan Fatih secara bersamaan.
''Kamu istriku sah secara hukum tapi belum sah secara agama Aisyahrani binti Muhammad Alamsyah!!''
Deg!
Deg!
Rani membatu. Pikirannya kosong tiba-tiba. Kakinya serasa mati rasa. Tubuhnya merinding.
Jantungnya berdegup begitu kencang. Bertalu-talu hingga rasanya mau melompat keluar.
Paman Ali terdiam. Ia tidak berbicara sepatah katapun. Ia hanya sedang menatap Reza, mencari kebohongan di wajah tampan nan tirus itu.
''Sayang... kamu istri Abang, Dek.. apakah kamu rela meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini??'' ucap Reza masih dengan menatap Rani.
Sedangkan Rani menatap Alisa dengan tatapan kosong nya. Tadi ketika ia menyahuti ucapan Reza, Rani sudah berada di depan pintu dan kebetulan Alisa sudah ada disana.
''Ai?''
''Sejak kapan?'' tanya Rani datar.
''Sejak sebulan yang lalu. Abang sengaja mendaftar kan pernikahan kita disini. Karena kita akan menikah disini nantinya bukan di Bogor. Gilang pun tau akan hal ini!''
__ADS_1
''Apa?!'' kini gantian Alisa pula yang terkejut.
Reza terkekeh. ''Bahkan tanpa aku beritahu pada nya, Gilang sudah tau jika aku sudah mendaftarkan pernikahan kami di kantor KUA. Tempat yang sama dengan pernikahan kalian berdua!''
''Hah? Jadi Gilang juga sudah tau, kalau kamu dan Rani sudah menikah eh salah maksud saya mendaftar kan pernikahan kalian berdua begitu? Sejak kapan? Ini aneh buat saya. Masa' Gilang bisa tau sih?! Sedekat apa rupanya kamu dengan Gilang, Reza?!'' seru Alisa sambil menatap tajam Pemuda tampan itu.
Lagi, Reza terkekeh. ''Kamu dan Rani, kalian berdua itu sama! Dan aku dan Gilang pun sama! Kami mendapatkan istri polosnya nggak ketulungan! Hadeeuuhhhh..'' gerutu Reza, walau ia terkekeh karena ucapan nya itu.
Rani dan Alisa mendelik. Mereka berdua menatap Reza dengan tajam. Reza semakin tertawa melihat kelakuan dua wanita beda generasi itu.
Rani berkacak pinggang. ''Sampai kapan pun aku tidak mau menjadi istri Abang! Oke! Jika aku istri sah secara hukum, lalu bagaimana dengan Karin? Apakah Karinita istri siri begitu?''
Jleb!
Tepat sekali pertanyaan Rani ini. Itu juga yang ingin Alisa tanyakan pada Gilang dulu. Mengingat itu Alisa menggeleng kan kepala nya.
Fatih terkekeh melihat Alisa bertingkah seperti itu. Begitu juga Pak Rahmat. Menurutnya Rani dan Alisa ini mereka memiliki kepribadian yang sama.
Beda nya hanya pada usia saja. Jika Alisa wanita dewasa. Sedangkan Rani masih belia. Masih berusia dua puluh tahun.
Reza menatap Rani dengan dalam. ''Ya, kami hanya menikah siri!'' sahut Reza tanpa mengalihkan perhatian nya dari Rani.
Alisa menatap Rani dengan dalam. Ini juga yang ia pertanyakan dalam hatinya. Namun mulutnya terkunci walau hanya untuk sekedar bertanya seperti itu kepada Gilang.
Walaupun Gilang mengatakan jika ia tidak akan menyentuh Vita, tapi tidak menutup kemungkinan bukan??
Alisa tidak seperti Rani, langsung saja bertanya pada intinya. Itulah perbedaan Rani dan Alisa.
Rani tipe wanita yang langsung bertanya tanpa takut. Walau nanti hatinya sakit dengan jawaban akan pertanyaan itu.
Tapi ia tetap ingin mendengar nya langsung dari sumbernya. Alisa menghela nafas nya.
''Mbak tak sekuat kamu Dek..'' gumam Alisa, namun masih terdengar oleh Rani.
Rani menoleh, ''Jawab Bang! Apakah Abang bisa menahan hasrat yang ada pada diri Abang agar tidak menyentuh Karin??'' tanya Rani lagi.
Tangan nya mengepal erat ketika pertanyaan itu ia luncurkan kepada Reza. Reza masih diam, ia masih ingin memastikan sesuatu pada pujaan nya itu.
Mata nya menoleh pada tangan Rani yang mengepal erat, juga keringat sebutir jagung mencuat di dahi nya.
__ADS_1
Reza tersenyum tipis. Saking tipis nya Rani pun tidak menyadari nya.
Kamu mencintai Abang, Dek.. kamu tidak bisa berbohong padaku. Aku tau seperti apa dirimu. Sedari kecil kita selalu bersama.
Seperti apa sifat dan kelakuan mu, Abang sudah paham Dek. Sekarang terbukti semua nya.
Lantas, apa yang sebenarnya kau cari dengan cara menghindari ku?? Kenapa?? Kenapa aku tidak menemukan jawaban itu dari dirimu? Batin Reza.
Aku akan mencobanya! Batin Reza lagi.
''Ya, aku sudah menyentuh nya dua Minggu yang lalu sebelum Abang tau jika kamu pergi untuk meninggalkan Abang selama nya bersama Karin!''
Ddddduuuaaarrrr..
Bagai disambar petir di tengah malam buta, Rani oleng. Ia jatuh terduduk. Pandangan mata nya kembali kosong.
Sebulir bening mengalir di pipi tirus nya. Alisa yang melihatnya mendekati Rani dan memeluknya.
Rani menangis dalam diam. Alisa dengan erat memeluk Rani. Ia pun sama ikut menangis. Ternyata, kisah antara dirinya dan Gilang, kini juga di alami oleh Rani.
Reza tersenyum puas melihat Rani. Airin yang sedari tadi memperhatikan Reza jadi bingung. ''Kenapa Abang tersenyum disaat kak Ai menangis?? Apa yang sedang dicari Bang Reza dari Kak Ai! Aku tau seperti apa Abang ku yang satu ini. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dan sesuatu ini pasti bersangkutan dengan Kak Ai.'' gumam Airin, tapi masih terdengar oleh Pak Rahmat.
Karena jarak antara Pak Rahmat dan Airin lumayan dekat.
Sedangkan Reza semakin tersenyum puas melihat Rani sesegukan seperti itu. Alisa mengusap bahu Rani dengan sayang.
Rani menoleh pada nya. Dan Alisa mengangguk. Rani menghapus Air matanya dengan kasar.
Ia bangkit dan menoleh pada Reza. ''Oke. Aku sudah tau jawabannya apa! Sekarang waktunya Abang untuk melepasku! Lepaskan aku dari belenggu pernikahan yang tidak seharusnya ini. Sah kan pernikahan kalian berdua! Aku mendukung mu! Aku tak mau merebut mu dari Kak Karin. Hiduplah bahagia bersama nya dan juga anak-anak mu nanti. Selamat bang Reza! Selamat menempuh hidup baru! Semoga sakinah mawadah warohmah. Aku tunggu surat pengadilan nya dari mu! Besok aku akan mengantarkan makanan untukmu selama seminggu ke depan! Ayo Mbak, kita pulang! Assalamualaikum!''
''Waalaikum salam..'' sahut Reza dengan tersenyum puas.
💕
Weleh, kok bisa senang tuh Abang Reza??
Ada yang tau kenapa Rani menolak menikah dengan nya walau ia sangat mencintai Reza??
Ikuti terus kelanjutannya!
__ADS_1
TBC