Janda Kembang

Janda Kembang
Extrapart End


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rani semakin merasakan sakit yang tiada Tara. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai disana.


Tiba disana, terlihat Jika Reza semakin panik saja. Dokter semakin kebingungan dibuatnya. ''Allahu! Aku melupakan istriku yang ingin melahirkan! Bagaimana in!?! Ck! Bodoh kau Reza! Gara-gara panik, Rani kau tinggalkan! Aduh.. istriku.. anakku..!!'' seru Reza semakin panik.


Sementara dokter Alvian terkekeh melihat sahabat karibnya semakin tidak menentu seperti itu.


''Tenanglah Za... Rani pasti Sampai sebentar lagi. Kamu sih! Panik ya panik! Tapi jangan ditinggal juga dong istrinya? Gimana sih?'' gerutu dokter Alvian tapi terkekeh.


Reza meraup wajahnya saking gemasnya dengan diri sendiri. Sementara Rani baru saja masuk ke pekarangan rumah sakit.


Terlihat Reza disana sedang mondar mandir tidak jelas. ''Ck! bukannya jemput istri, malah mondar mandir nggak jelas! Ayo, Pak! Panggilkan dokter Alvian untuk membawaku kedalam ssssttt... huffftt... huffftt...'' ucap Rani dengan menahan rasa sakit yang tiada Tara.


Rasanya, tulang-tulang di tubuhnya patah semua sangat sakit rasa di perutnya saat ini. ''Baik, Neng!'' sahut Pak Rahmat.


Pak Rahmat keluar dari mobil dengan tergesa dan menghampiri dokter Alvian. Setelah berbicara sebentar, ia pun membawa kursi roda di ikuti Reza dan Pak Rahmat di belakang nya.


Melihat kedatangan tiga orang itu, Rani membuka pintu dengan perlahan. Ia menahan sakit saat perutnya semakin mulas.


Ia keluar dari mobil dengan sangat hati-hati. Tapi ketika ia berdiri, sesuatu merembes melalui gamis batik nya.


''Pecah? Air ketuban?'' ucap Rani bersamaan dengan ketiga orang itu datang.


Dokter Alvian dapat melihatnya. Jika ketuban Rani sudah pecah. ''Ayo Za! Bawa istri mu ke dalam. Bayinya akan segera keluar!''


''I-iya!'' sahut Reza begitu gugup


Dengan segera ia memapah Rani untuk duduk di kursi roda. Setelah itu, Rani dibawa masuk kedalam ruang bersalin.


Reza masih setia menemani Rani. Dokter Alvian yang merupakan dokter kandungan segera memanggil perawat dan juga satu orang bidan untuk bisa menangani Rani.


''Hiffftt... huffftt.. huffftt...'' Rani Hanya bisa membuang nafas, ia tidak bisa berbicara lagi.


Sementara Reza berdiri mematung disamping Rani. ''Pak Reza! Beri sembahyang pada istrinya! Jangan melamun!'' tegur bidan yang sedang menolong Rani saat bersalin.


Dokter Alvian yang sedang duduk dibalik tirai tapi disebelah Rani terkekeh. Ia masih sibuk dengan alat nya untuk melihat jalan lahir Rani dan juga bayi mereka ingin keluar.


''Waooww.. Za! Ngebet banget nih cebong kamu mau keluar! Lahat tuh! Salah satu dari mereka saling dorong-dorongan!'' seru dokter Alvian pada Reza.


Reza yang sedang membatu pun tiba-tiba menoleh. Ia Melihat di layar monitor jika kedua anaknya saling berebut ingin cepat keluar.


Ia terharu. Dengan segera mendekati Rani yang sedang miring ke kiri. ''Sayang... nak... jangan rebutan ya? Papa minta kalian berdua harus saling membantu. Kasihan Mama kesakitan. Abang dulu ya yang keluar, baru setelah itu adek nyusul. Papa tunggu kalian disini,'' lirih Reza diperut Rani. Ia mengusap lembut perut yang semakin menegang itu.


Terlihat dari layar monitor, jika bayi laki-laki Reza dan Rani yang lebih dulu maju. Sedang yang satu lagi memilih mundur memberikan jalan untuk sang Abang lebih dulu keluar.


''Masyaallah.. lihatlah. Seperti tau. Mereka berdua menurut padamu Za! Subhanallah...'' ucap dokter Alvian terharu.


Bidan yang bernama Mutia itu tersenyum. ''Saat seorang istri sedang dilanda rasa sakit ingin mengeluarkan janinnya, seorang suami lah yang harus berperan banyak disana. Ia harus memberi semangat pada sang istri yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Beri semangat untuk istri anda Pak Reza. Bayi laki-laki anda akan segera keluar!'' ucapnya dengan segera menarik tirai dan menutupnya kembali.


Reza menunduk dan berbisik di telinga Rani. ''Kamu kuat sayang! Abang yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini. Iangt tentang bayi kita. Abang sangat, sangat mencintaimu sayangku. Cup!'' Reza mengecup sekilas kening Rani yang sudah di permisi oleh keringat.


''Dorong Bu Rani!'' seru bidan Mutia.


''Hufft.. huffftt ... eeggghhhh..hah .. eeggghhhh...'' Rani masih berusaha mengeluarkan sang bayi pertama mereka.


''Lagi! Kepalanya sudah keluar! Ayo! dorong lagi!''


''Huffttt .. huffftt... eeggghhhh.. eeggghhhh.. eghhh.. eghhh... eghhh... haaaaahh..'' erangank terakhir Rani bersamaan dengan seorang bayi keluar.


''Oeekk.. oeekk.. oeekk...''


''Alhamdulillah... bayi pertama laki-laki! Sekarang kita tunggu bayi kedua! Ini yang paling malu. Ia tidak mau menunjukkan nya kepada kita siapa dia?'' ucap bidan Mutia pada Reza.


Reza menangis. Ia terharu melihat bayi pertama mereka laki-laki. Ya, Reza sudah tau jika bayi mereka laki-laki salah satunya.


Yang satu lagi tidak mau menunjukkan diri pada mereka. Malu kata dokternya. Dokter Alvian melihat pergerakan bayi itu agak melemah.

__ADS_1


''Za! Bicara padanya! Denyut nadinya melemah!''


Deg!


Reza terkejut, dengan segera ia mendekati tubuh Rani yang masih terengah-engah. ''Sayang.. anak gadis Papa.. adek kuat ya? Ayo nak, kita keluar? Kamu tidak inginkah ketemu Papa dan Mama? Papa udah lama loh nungguin kamu? Keluar ya? Papa tunggu diluar! Putriku! Cup!'' Reza mengecup perut Rani yang masih membuncit itu.


Dokter Alvian tersenyum saat melihat pergerakan bayi di dalam perut Rani kembali bergerak.


Dan Rani merasakan mulas lagi. Ia kembali mengedan untuk mengeluarkan bayi kedua mereka.


Sekuat tenaga ia berjuang, dengan Reza selalu menyemangati nya. Dan juga berbisik lirih pada perut Rani.


''Huffttt.. huffftt... eeggghhhh... eeggghhhh.. eghhh..aaahhh...'' pekik Rani sambil menangis terharu.


Akhirnya bayi kedua mereka keluar dengan selamat. ''Anda benar-benar ya Pak Reza! Selamat bayi kedua anda seorang putri! Sangat cantik!'' celutuk bidan Mutia.


''Hiks.. anakku... hiks ..'' Isak Rani dengan wajah basah air mata.


Begitu juga dengan Reza. Ia memeluk leher Rani dan tersedu bersama. Perjuangan sang istri untuk memilki anak, akhirnya terkabul juga.


''Ini bayi anda, Pak Reza. Silahkan di azani. Kami akan mengurus ibunya terlebih dahulu.'' kata bisa Mutia.


Reza mengangguk, dengan segera ia berwudhu dan mulai mengadzani putra dan putrinya.


Sementara diluar kamar bersalin, keluarga Reza sudah heboh menunggu kelahiran bayi Rani. Cucu pertama keluarga Almarhum Alamsyah.


Paman Ali, Bibi Kasmi dan kedua anaknya tidak bisa diam. Begitu juga dengan Ibu Saras. Beliau yang paling heboh diantara yang lain.


Setelah semua selesai, kini dan kedua anaknya keluar dari ruang bersalin. Dan Rani di pindahkan keruang inap.


Nanti sore mereka sudah bisa pulang. Karena Rani dalam keadaan sehat-sehat saja. Tiba diruang rawat inap, para Nenek dan kakek, keluarga Reza begitu heboh saat melihat wajah bayi mungil kembar sepasang itu.


''Masyaallah.. yang laki-laki mirip Rani!'' seru bibi Kasmi dan Paman Ali.


''Yang perempuan mirip kalian berdua ya? Perpaduan antara Reza dan Rani. Cantik sekali! Siapa sih nama anak gadis cantik kesayangan nenek ini, hem?'' ucap Ibu Saras pada bayi perempuan yang sedang ia timang-timang di pangkuan nya.


Rani mengangguk patuh. ''Ya, itu malam yang bagus untuk mereka berdua. Bahkan Abang sangat yakin, jika anak kedua kita adalah perempuan!'' Rani terkekeh mengingat dua bulan yang lalu, mereka berdua berdebat gara-gara jenis kelamin anak kedua mereka.


Dan ya, Reza benar. Jika anak kedua mereka adalah perempuan. Rani dan Reza terkekeh saat mengenang hal itu.


''Siapa nama pangeran tampan dan putri cantik ini, nak??'' tanya ibu Saras pada Reza.


Reza tersenyum, ia mengusap pipi halus sang putri dengan sayang. ''Untuk Abang, Papa beri nama Zidan putra Alamsyah, untuk adek, Papa beri nama... Zahrani putri Alamsyah. Nama yang cantik, untuk putri Papa yang cantik! Sangat cocok bila disandingkan dengan Bang Rayyan putra Gilang Bhaskara! Ya 'kan sayang?'' tanya Reza pada Rani.


Rani mengangguk setuju. ''Rayyan? Cucunya ibu Dewi tetangga kita?'' tanya Ibu Saras.


''Ya, sedari mereka belum ada kami Memang sudah berniat menjodohkan Rayyan dan putri kami nantinya. Alisa dan Gilang sangat senang mengetahui hal ini. Bahkan ide ini berasal dari Gilang sendiri. Ia bilang, Jika suatu saat bang Reza memilki anak perempuan, kita jodohkan saja mereka berdua. Yaitu Rayyan dan Zahrani.'' jelas Reza, membuat semua yang ada disana mengangguk paham.


''Tererah kalian saja. Kita tidak tau masa depan seperti apa. Kita boleh merencanakan. Tapi Allah yang memutuskan. Terima saja keputusan takdir apapun itu.'' imbuh ibu Saras masih dengan menimang bayi perempuan mirip Rani dan Reza itu.


Sangat cantik.


Lengkaplah sudah keluarga kecil Rani dan Reza. Keluarga janda kembang yang dulu pernah dihina dan direndahkan karena statusnya yang seorang janda dan juga terlahir dari seorang wanita gila.


Mereka akan hidup sebagaimana mestinya. Hidup untuk beramal sambil menunggu kematian menjemput mereka semua.


Selamat berbahagia keluarga besar Janda kembang.


The end.


Beneran tamat ya? hehe..


Assalamualaikum semua.. hehehe..


Maafkan othor yang selalu lama update cerita ini. Othor lagi kebut cerita keluarga Papi Gilang yang akan bersinggungan dengan keluarga besar Reza nanti.

__ADS_1


Kalian jangan khawatir tentang cerita ini. Othor udh punya sekuelnya kok. Paling bulan depan udah rilis.


Ceritanya terpisah dari ini ya? Tapi tetap judulnya janda kembang. Isi cerita anaknya Rani dan Reza berbeda dari Mama dan Papa nya.


Othor udah siapin semua. Bulan depan baru bisa. Othor kasi judulnya aja ya? Sebagai spoiler buat kalian tau, jika cerita ini akan berlanjut kepada anak mereka.


Rani dan Reza tetap akan nongol kok di cerita ini.


JANDA KEMBANG SEASON 2


( TERNODA )


Untuk covernya belum othor siapin masih cari yang cocok. Yang lebih bagus dari Mama dan Papa nya.


Sambilan nunggu season 2 nya, mampir dulu yuk dikarya othor yang lain.




Aku bukan pembawa sial




Pelabuhan terakhir ku ( Kamu bukan pembawa sial )




Cinta dalam nestapa




Muara cinta Maulana




Annisa istri kecilku.




Jangan lupa mampir! Othor tunggu ye? Dukungan kalian sangat berarti buat othor.


Terimakasih bagi kalian yang sudah mengikuti karya ketiga othor ini hingga selesai. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian semua dan diberikan kesehatan, mudah rezekinya dan juga selamat dunia dan akhirat. Ammiiinn..


Jika ada kata-kata othor yang salah saat kalian baca, kalian harap maklum ya? Othor penulis baru di sini. Dan masih wajar banyak kesalahan dalam menulis.


Tapi othor sempatin kok untuk memperbaiki dengan cara revisi lagi dan lagi.


Maklum kan saja othor ini Mak Mak sibuk momong anak tapi masih sempat juga menulis. Untuk menyalurkan hobi dan bakat terpendam 🤣🤣🤣🤣🤣


Sekian cuap-cuap dari othor ye? Othor tunggu dukungan kalian di semua cerita othor!


Assalamualaikum. wr. wb.


Salam hangat othor remehan rengginang

__ADS_1


...Melisa...


__ADS_2