
''Besok Paman harus kembali ke Bogor, Za. Karena pesanan kopi yang diminta oleh mereka, lusa akan di kirim. Jadi... yah.. Paman harus balik besok!''
''Lah? Cepat amat Paman!'' sahut Airin masih dengan mengunyah kue bolu pisang.
''Memang harus Nak.. kamu tau sendiri kan Abang mu masih sakit?? Beruntung ada Fatih yang membantu, jadi agak meringankan sedikit beban Paman.'' sahutnya santai, tanpa melihat reaksi Rani berhenti menyuapi Reza karena mendengar paman Ali menyebut Fatih.
''Bang Fatih??'' tanya Reza, karena melihat wajah Rani berubah menjadi datar.
''Ya, Al Fatih! Dialah yang membantu kita selama kamu di rumah sakit!'' sahut Paman Ali dengan serius.
''Apa?! Maksud Paman, selama Bang Reza sakit, Bang Fatih lah yang mengurus segala nya?? Termasuk kebun kopi yang di Bogor??'' Airin terkejut dengan ucapan Paman nya.
''Ya, betul! Oleh karena nya-''
''Nggak! Itu nggak mungkin Paman! Mana mungkin Abang disini, bukankan dia sedang di rawat dirumah sakit jiwa di Bogor?!'' bantah Airin, karena dia sendiri yang menjenguk Fatih saat berada di rumah sakit jiwa.
Ceklek. Pintu di buka dari luar. Semua menoleh termasuk Rani dan Reza.
''Abang sudah keluar dari sebulan yang lalu, Dek.. Abang nggak sakit kok. Hanya sedikit kecewa saja..'' ucap Fatih dengan melirik Rani sekilas.
Rani menatapnya datar. Setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaan nya untuk menyuapi Reza kembali.
Wajah Rani masih tetap sama. Datar tanpa ekspresi. Fatih yang melihatnya menghela nafas.
''Dek...''
''Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi! Antara aku dan Abang sudah selesai! Aku disini hanya sebagai sepupu kalian! Jadi jangan lagi mendesak ku untuk mengingat masa lalu yang sudah ku kubur secara paksa! Cukup sampai disana saja! Itu berlaku untuk mu Bang Reza!''
Deg!
__ADS_1
''Apa maksudmu??'' tanya Reza tidak mengerti dengan ucapan Rani.
''Dek.. tolong mengerti posisi ku.. ini juga sulit bagiku-''
''Aku tak perlu mengerti posisi orang lain, sedang orang lain saja tak pernah mengerti dengan posisi ku! Cukup! Aku datang kesini karena permintaan seseorang, jika tidak aku tidak akan datang kesini!''
Semua yang mendengar nya terdiam. Reza menatap datar pada Rani.
''Kenapa??'' setelah lama terdiam, kini Reza bersuara walau pelan tapi tetap sama dengan Rani. Datar tanpa ekspresi.
''Karena Abang bukanlah siapa-siapa aku, kalian berdua sepupu ku! Bukan lagi suamiku! Kau bang Fatih, hari dimana kau menjatuhkan talak kepadaku, di hari itu juga aku sudah melupakan jika aku pernah menikah dengan mu! Dan kau bang Reza! Dihari kau pergi tanpa kabar sama sekali untukku, kau menikahi orang lain, hari itu juga wasiat Ayah Alam batal! Ayo Mbak, kita pulang! Tugasku sudah selesai disini!'' ucapnya begitu dingin, hingga Fatih dan Reza tidak berani mengatakan apapun lagi.
Alisa melihat Fatih dan Reza. Ia menghela nafasnya. ''Dek.. bicarakan dengan baik-baik ya? Jangan dengan emosi.. jika kamu sudah tidak menginginkan mereka berdua, setidaknya kamu masih bisa memperlakukan mereka sebagai sepupu mu kan?? Mereka berdua kan Abang sepupu mu??'' bujuk Alisa begitu lembut.
Ia menarik Rani yang sudah berdiri di depan pintu. Fatih yang melihat ada seorang wanita begitu cantik sedang bersama Rani, terpaku.
''Jangan coba-coba ingin mengganggu Kakak ku! Dia sudah memiliki suami!'' ketus Rani, membuat Fatih terkejut dari menatap Alisa dengan instens.
Fatih salah tingkah karena ketahuan menatap Alisa. Ia berdehem untuk menghilangkan rasa malu nya pada Rani.
''Ehm, Abang kan cuman lihat doang Dek? Apa salah nya coba?!'' kilah Fatih.
''Salah! Salah karena kau sudah berpikiran ingin mencoba untuk mendekati nya! Jangan coba-coba! Aku lawan mu!'' ketus Rani lagi.
Alisa terkekeh. Fatih terpaku dengan wanita seumuran dirinya ini. ''Masih berani juga heh?!'' sentak Rani. Karena melihat Fatih yang terpesona melihat Alisa tertawa.
''Eh? Apa?!'' sahut Fatih. Ia terkejut dengan sentakan Rani.
Alisa jadi malu sendiri melihat tingkah Rani. ''Ai! Nggak boleh begitu ah! Dia itu Abang mu loh.. dia punya mata, ya bisa lihatlah! Kamu ini ada-ada saja!'' Alisa terkekeh kecil setelah mengucapkan itu.
__ADS_1
Sedangkan Rani cemberut sebal. ''Mbak ih! Dibilangin juga! Pria di depan Mbak ini, matanya jelalatan! Gatel kayak ulat bulu! Mesum lagi!'' ketus Rani lagi.
Fatih terkejut dengan ucapan Rani. ''Mana Abang kayak begitu sih Dek! Kamu ngaur, ah!'' kilah Fatih.
Padahal mah, dia senang banget jika Rani masih mengingat tentang masa-masa dimana mereka baru menikah dulu.
Namun khayalan itu terputus karena mendengar ucapan Reza yang begitu membuat nya merasa tertampar.
''Sungguh, kalian pasangan yang begitu serasi! Aku heran, kenapa kalian bisa berpisah ya? Apakah Abang tidak mempercayai mu Rani? Atau? Abang selingkuh? Atau kamu yang jadi biang masalahnya? Apakah kamu dianggap pembawa sial Rani?? Sehingga dengan mudahnya Bang Fatih menceraikan mu??''
Deg!
Rani terkejut mendengar ucapan Reza. Ia menatap datar pada Reza. ''Sayang sekali ya, jika semua tebakan ku itu benar adanya? Padahal kamu kan tidak seperti itu?!'' Reza terkekeh kecil, walau hatinya sangat sakit saat mengatakan hal itu.
Fatih menatap Reza dengan nanar. ''Za.. jangan diungkit.. itu sudah berlalu. Abang datang kesini untuk minta maaf pada Rani, bukan untuk meminta nya kembali. Abang tau Jika Abang salah pada nya. Karena tidak mencari bukti dulu saat itu dan lebih mempercayai ucapan Mama kita. Makanya Abang sampai stress saat mengetahui fakta yang sebenarnya..'' lirih Fatih dengan leher tercekat.
''Tidak perlu mengungkit masa lalu! Bagiku sekarang adalah masa depan! Untuk seminggu ke depan aku akan tetap mengurus mu Bang reza! Selebihnya kamu harus di urus oleh istri mu! Aku hanya adik sepupu mu, bukan istrimu!'' ujar Rani dengan segera menyiapkan bekas makan Reza di meja nakas.
''Dek.. Abang dan Karin, kami sudah-''
''Tidak perlu di jelaskan! Bagiku, apa yang sudah terlihat di depan mataku, itulah kenyataan yang sebenarnya! Terimakasih Bang Fatih! Karena pesan dari mu itu aku jadi tau dengan siapa bang Reza menikah! Selamat Bang! Aku pulang! Ayo Mbak!'' ajaknya apda Alisa.
Rani sengaja mengatakan itu demi menjaga hatinya yang tidak kuat berada diruang yang sama dengan dua orang yang pernah melukai hatinya dalam waktu yang singkat.
Bahkan cintanya sekarang pun juga melukai nya. Jika bukan karena permintaan Alisa, maka Rani tidak akan pergi kerumah sakit untuk menjenguk Reza.
Tak dipungkiri, jika Reza adalah semangat hidup Rani selama ini. Setelah pertemuan nya dulu dengan Reza di mall, entah kenapa hatinya seakan terikat dengan pemuda jangkung nan tampan itu.
💕
__ADS_1
TBC