
''A-apa yang ingin kamu lakukan!'' tanya Rani sembari beringsut ke kepala ranjang, hingga kepala nya terbentur.
Dug.
''Ah .. sssstt...'' desis Rani.
Reza mengulum senyum. Ingin sekali ia tertawa tapi tidak bisa. Reza harus berpura-pura membuat Rani takut dan mau mengikuti apa yang ia katakan.
Reza terus bergerak membuka seluruh pakaiannya, hingga tersisa celana pendek selutut yang lumayan ketat membentuk sesuatu disana.
Melihat itu Rani memalingkan wajah ke arah lain. Wajahnya terasa panas saat ini. Ia merutuki wajahnya yang tak tau diri.
Bisa-bisanya bersemu merah disaat waktu yang tidak tepat. Reza mendekati ranjang Rani dan menaiki nya.
''Ka-kamu mau apa Bang Reza?!''
''Mau melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri, apalagi?'' sahut Reza, dengan terus mendekati Rani.
Deg!
Rani beringsut mundur, wajahnya ketakutan. Pikiran buruk menghantuinya saat ini. Sedangkan Reza semakin mengikis jarak.
''Ja-jangan mendekat! me-menjauh! Pergi!!'' Seru Rani namun tergagap.
Bulir keringat mengalir di dahi Rani. Melihat itu Reza ingin menyentuh nya. Ia ingin menyeka keringat itu.
Namun belum sempat tangan itu menyentuhnya, Rani sudah mendorong dan memekik kuat.
''Tidaaaakkkk.. aaaaa...''
Gedebuukk.
''Aakkkkhhh... Raniiiiii...'' pekik Reza saat dirinya jatuh terjengkang kebelakang karena Rani mendorong nya begitu kuat.
''Astaghfirullah!! Abang!!!'' pekik Rani, kini gantian Rani yang terkejut karena melihat Reza jatuh terjengkang di bawah ranjangnya.
Ternyata tadi Rani mendorong Reza dengan memejamkan matanya.
Ingin Rani tertawa, tapi tidak berani. Melihat wajah Reza yang meringis menahan sakit, Rani merasa kasihan.
Rani turun dan mengulurkan tangannya pada Reza. Reza menyambut uluran tangan itu. Dan...
__ADS_1
Grep!
''Dapat kamu! Sekarang kamu tidak akan bisa lari lagi!'' imbuh Reza dengan segera memeluk Rani begitu erat.
Rani jatuh terduduk di atas pangkuan Reza. Dengan dadanya menghadap ke arah Reza. Rani mengerjabkan matanya saat merasakan hembusan nafas hangat Reza menembus baju gamisnya.
Reza sangat nyaman saat memeluk tubuh itu. Begitu juga dengan Rani. Untuk sesaat mereka terbuai.
Terbuai akan rasa rindu yang selama ini terpendam. Tanpa di perintah, tangan Rani sudah memeluk kepala Reza.
Merasa kan itu Reza semakin erat memeluknya. Harum tubuh Rani begitu ia rindukan selama hampir setahun ini.
''Dek...'' panggil Reza masih dalam dekapan Rani.
''Hem,'' sahut Rani.
''Nikah yuk! Agar bisa bebas seperti ini! Abang kangen banget sama kamu..''
''Rani juga kangen banget sama Abang... tapi...''
''Tapi apa?'' tanya Reza sembari menatap lekat mata Rani.
''Abang udah nikah sama Kak Karin.. bentar lagi tuh cebong Abang akan lahir! Jadi ..''
''Ya, kecebong kamu kan ada di kak Karin? Lalu cebong mana lagi yang kamu maksud?!'' Ketus Rani.
Ia berubah jadi jutek. Reza tertawa terbahak setelah memahami maksud perkataan Rani dan juga Lana tadi.
''Buahahaha... kamu salah sayang!''
''Salah? Dimana letak kesalahan nya?! Kan bener jika itu kecebong kamu! Gara-gara kamu, kak Karin jadi hamil seperti itu!'' ketus nya lagi.
Reza semakin terbahak mendengar ucapan Rani. ''Buahahaha .. kamu salah paham sayang!''
''Nggak! Aku nggak salah paham! Minggir!'' ketus Rani lagi.
Reza berhenti tertawa, ia tersenyum manis melihat Rani. Ia menatap lekat wajah yang berada di hadapan nya kini.
''Abang sudah tau apa yang kamu sembunyikan sayang! Kita pulang ya?'' bujuk Reza, ia menatap lekat manik hitam yang sedang menatapnya dengan datar.
''Tidak mau!''
__ADS_1
''Sayang...''
''Tidak mau!'' sahut Rani lagi.
''Kita pulang ya?''
''Nggak!! Abang pulang sendiri! Urus tuh kecebong Abang yang bentar lagi brojol! Tak Sudi aku harus bersama dengan lelaki yang sudah beristri punya anak lagi!'' ketus Rani lagi.
''Hahaha.. itu bukan cebong Abang sayang! Itu cebong nya bang Fatih! Karin itu istri Bang Fatih! Hari dimana kamu mengirim paket kerumah, hari itu juga Abang menceraikan nya. Tidak seperti dugaan mu! Abang tidak pernah sekalipun menyentuhnya, sayang.. tidak pernah..'' jelas Reza sambil menatap dalam pada Rani.
Rani tersenyum sinis. ''Sudah ada bukti, masih juga mau mengelak! Cih! Awas!!'' sentak Rani.
Reza terdiam. Rani berusaha melepaskan pelukannya dari belitan tangan Reza. Tapi tidak bisa.
Reza memeluknya begitu erat. ''Beneran sayang... Abang bukan lagi suaminya. Karin sekarang menjadi istri Bang Fatih. Sebulan setelah Abang ceraikan, ia menikah dengan Bang Fatih. Abang serius Dek! Nggak bohong!'' seru Reza begitu serius menatap Rani.
Rani menatap Reza, untuk mencari kebohongan disana. Tapi nihil, Reza berkata jujur.
''Kita pulang ya? Sudah cukup selama ini Abang memberikan waktu untukmu bisa berdiri sendiri. Sudah cukup banyak kan mendapat ilmu dari istri Gilang? Hem?''
Rani diam, ia tidak tau harus berkata apa sekarang. ''Sebaiknya Abang keluar! Sudah cukup Abang disini! Pergilah! Jika kedua orang tua mu menginginkan harta itu, maka berikan! Aku ikhlas tidak memilikinya. Yang penting di dalam hidupku, aku merasa tenang seperti saat ini. Tanpa mu dan juga gangguan dari kedua orang tua mu. Aku akan pulang sendiri ke Bogor satu bulan lagi. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ku dengan Mbak Alisa disini. Tak apa jika aku tidak memiliki harta. Harta bisa dicari, namun ketenangan tidak dapat dibeli. Aku percaya, jika kita rajin berusaha maka rezeki itu akan datang sendiri nya. Lebih baik Abang pulang ke Bogor tanpa aku! Aku ikhlas melepas harta itu! Pergilah!'' Usir Rani, membuat Reza melepaskan belitan tangannya dari tubuh Rani.
''Baik, Abang akan pulang ke Bogor. Untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi tidak dengan harta Ayah Alam. Harta itu adalah wasiat yang ia tugaskan kepada kita untuk di jaga sampai anak cucunya. Bukan diserahkan kepada orang lain begitu saja. Apa kamu masih ingat surat wasiat itu Rani? Jika kamu menolak surat wasiat itu, maka semua harta Ayah, akan di sumbangkan kepanti sosial. Abang tunggu kamu pulang ke Bogor. Untuk sekarang, pikirkan ini baik-baik. Semua ini adalah hak mu! Bukan hakku! Aku di tugaskan hanya untuk menjaga saja! Jika kamu sudah mengambil keputusan, segera pulang ke Bogor! Satu Minggu! Tidak lebih dari satu Minggu. Jika kamu tidak kembali, maka kami berdua akan tinggal nama! Abang pamit, Assalamualaikum. Cup!'' Reza mengecup kening Rani sekilas.
Rani mematung mendengar ucapan Reza. ''Tinggal nama? Apa maksudnya?'' gumam Rani.
Reza dengan cepat menggenakan semua pakaian nya. Setelah selesai, tanpa berbalik lagi ia segera berjalan tergesa sambil berbicara melalui sambungan ponsel nya.
Melihat Reza keluar dengan berlari, Rani pun mengejarnya. Tiba disana, terlihat raut wajah Fatih dan Karin begitu terkejut.
Mereka menatap Rani yang tak jauh berada dari mereka semua. Tanpa menoleh lagi dengan segera Reza keluar dari rumah Alisa.
Sebelumnya ia pamit pada Alisa dan Lana. Alisa menoleh pada Rani dengan tatapan sendu nya.
Begitu juga dengan Fatih dan Karin. Fatih mendekatinya. ''Pulanglah Dek! Reza membutuhkan mu saat ini. Ibu mu sedang dalam bahaya sekarang! Demi kalian berdua, Reza rela harus berkorban nyawa. Pergilah! Sebelum semuanya terlambat! Jika sudah, menyesal pun tidak ada gunanya. Abang hanya memberikanmu nasehat. Bukan menggurui dan memaksa mu. Lepaskan dan kembalilah! Reza butuh kamu Dek.. jika kamu tidak bisa menolong nya sekarang, maka siapapun tidak ada yang bisa menolong nya! Kunci nya ada pada mu, makanya kami datang kemari untuk menyusul mu! Pergilah sebelum terlambat! Maut sedang menanti suami mu disana!''
Deg!
Deg!
💕💕
__ADS_1
Ayo loh neng Rani.. kejar itu babang Reza jika tidak mau terlena eh terlambat! 😄😄
TBC