Janda Kembang

Janda Kembang
Nasihat Alisa.


__ADS_3

Dirumah besar milik Alisa, Rani sedang belalu mondar-mandir. Lana yang melihatnya jadi pusing.


''Buk! Ibuk kenapa sih?! Dari tadi mondar mandir nggak jelas?! Pusing Abang lihat nya!'' tegur Lana, membuat Rani berhenti hilir mudik.


''Ibuk bingung Bang..''


''Heh? Bingung kenapa Buk?? Tak punya uang kah??'' tanya Lana


Membuat Ira dan Raga yang sedang duduk lesehan berdua di lantai terkekeh.


''Ihh.. bukan itu Abang!'' sahut Rani pula. Ia jadi kesal dengan ucapan Lana.


''Lah Terus apa dong??''


''Ini.. Paman ibuk dari sebelah Ayah nelpon sedari tadi. Bingung, mau ngangkat atau tidak ya??'' sahut Rani masih dengan mondar mandir tidak jelas.


''Angkat aja Dek.. mana tau penting??'' titah Alisa, membuat Rani menoleh.


''Tapi Mbak..''


''Udah! Angkat dulu! Siapa tau memang penting kan??'' kata Alisa lagi.


''Baiklah..'' sahut Rani pasrah.


Rani pun mengangkat panggilan telepon itu, dan saat ia mengangkat nya panggilan itu berubah menjadi video call.


''Hallo Pa-Abang!!!!!'' pekik Rani.


Alisa yang mendengarnya terkejut. Begitu juga dengan Lana dan Ira. Sedangkan Raga berlari mendekati Rani dan memegang ponsel nya.


Dan diarahkan kepada Rani. Rani masih shock saat melihat Reza terkapar dengan selang infus menancap ditubuhnya.


''Abang!!!'' pekik Rani lagi.


''Rani....'' terdengar sahutan dari seberang sana.


Paman Ali tersenyum. ''Masihkah kamu ingin pergi Rani setelah tau seperti apa sekarang keadaan Reza??'' tanya paman Ali, tanpa mengubah layar ponselnya menjadi wajah Paman Ali.


''Kembalilah Rani...'' igau Reza membuat hati Rani tercubit.


''Abang... hiks.. hiks..''


''Kembalilah Rani! Apakah kamu ingin Reza mati dulu baru kamu kembali pada nya??'' tanya Paman Ali.

__ADS_1


Deg!


''Tidakkk!!!!! Nggak!! Abang nggak boleh matii!!!'' pekik Rani pula.


''Rani... pulang...'' lirih Reza lagi begitu lemah.


Tubuh yang dulu nya tegap berisi kini lunglai tak berdaya. Rani semakin menangis melihat keadaan Reza saat Paman Ali kembali mendekatkan kamera itu ke seluruh tubuh Reza.


''Pulang Dek.. pulang...'' lirihnya lagi, air mata mengalir di pipi tirus nya.


Rani semakin tersedu tak bisa berbicara lagi pada Paman Ali. Alisa yang paham mengambil alih ponsel itu dan berbicara pada Paman Ali.


''Assalamualaikum.. Pak??''


''Waalaikum salam, kamu siapa??'' tanya Paman Ali.


''Saya Alisa, saat ini Rani sedang tinggal dirumah saya sekalian bekerja di toko roti saya.'' sahut Alisa, masih dengan menatap ponsel milik Rani.


''Kamu, majikan Rani?? Apa tidak apa-apa Rani tinggal dirumah mu? Bagaimana dengan suami mu??'' selidik Paman Ali.


Alisa tersenyum teduh. ''Saya janda tiga orang anak, Pak! Jadi Bapak jangan khawatir tentang Rani. Untuk sekarang, biarkan Rani tinggal bersama saya. Jika nanti sudah siap untuk bertemu.. siapa tadi??'' tanya Alisa, karena tidak begitu mengingat nama Reza.


''Bang Reza..'' sahut Rani masih dengan sesegukan.


''Hah.. iya, Reza! Nanti saya sendiri Yang akan mengantar kan nya kesana. Bapak jangan khawatir ya? Untuk sekarang biarkan saya yang berbicara dulu padanya. Masalahnya.. adik saya ini masih galau Pak, dengan perasaan nya!'' seloroh Alisa, membuat Paman Ali terkekeh.


''Apa? hem? Cinta? Tapi kenapa pergi??'' tanya Alisa, sambungan ponsel itu masih terus menyala.


''Abang sudah menikah dengan orang lain, Mbak.. aku tidak ingin jadi pelakor dalam hubungan mereka.. lebih baik aku pergi asalkan Abang bahagia..'' lirih Rani dengan leher tercekat.


Alisa menghela nafasnya. Paman Ali masih bersedia mendengarkan Rani dan Alisa disana.


Ia ingin tau apa yang akan dikatakan oleh wanita beranak tiga itu.


''Dengarkan Mbak, Rani! Kamu boleh pergi darinya, tapi setelah dia sadar dari tidurnya. Biarkan ia bangun dulu. Beri ia semangat hidup seperti biasa nya. Tunjukkan pada nya jika kamu juga menyayangi nya. Hanya saja.. takdir tidak berpihak pada kalian berdua. Mbak juga sama seperti kamu, Rani. Tapi sebelum Gilang pergi, Mbak memberikan semangat pada nya agar tetap sehat akal pikiran nya. Agar ia tidak berlarut-larut dalam kesedihan, walaupun Mbak tau jika kami berdua tidak mungkin bisa bersama. Paling tidak, Mbak sudah memberikan kenangan manis untuk yang terakhir kalinya. Dan lihatlah bukti nya sekarang? Gilang sehat-sehat aja kan??''


Paman Ali tertegun dengan ucapan Alisa. Begitu juga dengan Rani. Ia menatap sendu pada layar ponselnya.


''Aku...''


''Pergilah, Dek! Reza sangat membutuhkan dirimu! Hanya dirimu bukan yang lain. Jangan siksa batinnya lagi. Lihatlah betapa terpuruknya Reza saat tau jika kamu pergi meninggalkan nya. Apakah hatimu sudah mati, hingga untuk menolong demi rasa kemanusiaan saja tidak bisa??''


''Mbak...'' lirih Rani dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


''Mbak tau Dek.. memang sakit! Bahkan lebih sakit lagi ketika melihat orang yang begitu kita cintai terluka karena kita! Pergilah, Reza sangat membutuhkan mu saat ini. Untuk sekarang saja Dek.. setelah itu terserah pada mu. Apakah kamu memilih pergi darinya ataupun tidak itu pilihan mu. Tapi paling tidak, berikan semangat hidup pada nya. Tinggalkan kenangan manis saat kamu bersama nya. Percayalah, jika kalian memang ditakdirkan untuk bersama, sejauh apapun kamu melangkah dan dimana pun kamu berada maka ia akan menemukan jalannya untuk bisa bersama mu! Mbak meyakini itu Dek..'' ujar Alisa panjang lebar.


Membuat Paman Ali, Airin dan pak Rahmat menangis haru. Ternyata Rani tinggal dengan orang yang tepat.


Sedangkan Rani memeluk Alisa dengan erat. ''Mbakk... aku beruntung memiliki Mbak sebagai kakak ku!''


''Mbak juga beruntung sayang, memiliki adik semanis dirimu! Ya... walaupun kamu bukan adik kandung Mbak sih!'' seloroh Alisa, membuat Rani merengut sebal.


''Mbakk.. ish.. '' rengek Rani lagi.


''Mbak temani ya kesana nya? Besok pagi kan Kakak sama Abang libur? Jadi waktunya kita untuk menggadis!'' seloroh Alisa lagi


Pecahlah sudah tertawa Rani. Begitu juga paman Ali. Ia sangat beruntung mendapati ponakan nya berada di rumah yang tepat.


''Sebenarnya kamu siapa, Nak??'' tanya Paman Ali, Rani yang mendengar terkejut.


Ternyata sambungan ponsel mereka masih tersambung. ''Mbak Alisa ini istri dari Gilang Bhaskara! Istri sah nya! Tetangga kita! Pak Rahmat pasti tau siapa Gilang!'' celutuk Rani, membuat Alisa melototkan matanya.


''Ihh.. kenapa pula mata Mbak yang kayak mau copot gitu liatin Rani? Salahkah Rani berbicara seperti itu?? Kan emang benar!'' imbuh Rani, semakin membuat Alisa melototkan matanya.


''Diam kamu Dek! Awas tak Mbak ijinin kamu masak! Baru tau rasa kamu!'' ancam Alisa, tapi Rani nyengir kuda.


''Nggak bisa ya udah! Nanti aku masak di rumah mertua Mbak aja kalau begitu!'' sahut nya tambah membuat Alisa ingin menimpuk kepala Rani.


Geram, Alisa mencapit telinga Rani hingga Rani mengaduh. Paman Ali yang melihatnya tertawa.


Begitu juga dengan Pak Rahmat. ''Beruntung sekali Den Gilang mendapatkan istri sebaik Mbak Alisa ini. Tapi bagaimana dengan Ibu Dewi Dan Pak Angga ya? Apakah mereka tidak tau tentang hal ini? Dan lagi, bukannya den Gilang sudah memiliki istri? Dan sekarang istrinya itu sedang hamil?? Bingung atuh euuuyyy..'' gumam Pak Rahmat dalam hati.


''Baiklah Pak, besok Saya dan Rani akan datang kesana. Mohon bersabar ya? Karena kami para janda ini butuh persiapan untuk menghadiri para pelanggan kami!'' seloroh Alisa, membuat Rani membeliakkan mata nya.


''Mbak! Ishh...''


''Santai Neng.. kamu harus tampil cantik saat bertemu suami mu! Eh salah! calon suami maksud ku!'' ucap Alisa dengan sedikit kekehan disana.


''Baik! Kami tunggu Mbak Alisa. Untuk anda kami persilahkan tempat dan waktu!'' sahut Paman Ali.


Lagi Rani melotot kan matanya. Ternyata paman nya ini pandai juga membuat lawakan.


''Terimakasih, Mbak...''


''Sama-sama, Dek!''


💕

__ADS_1


Nanti dilanjut lagi konfliknya, tunggu Reza sembuh dulu ye!


TBC


__ADS_2