Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 148


__ADS_3

"Assalamualaikum anak solehnya Umma" Bisik Zakia lembut di telinga bayi mungil dalam gendongannya itu.


Tampak bayi itu menggeliat kecil merespon ucapan Zakia, tak lama setelahnya senyum kecil terbit di bibir mungilnya.


"Lihat-lihat dia senyum" Heboh Rina.


"The power of Zakia emang gak main-main" Romi menimpali ucapan Rina.


"Gak heran sih, suaranya lembut banget. Zidan yang modelan es batu aja cair apalagi ini cuma bayi" Rina kembali dengan celetukan anehnya.


"Tutor jadi bayi dong" Celetuk Dewa usil.


Benar saja, Zidan langsung melayangkan lirikan tajam dan aura intimidasi miliknya. Yang lain hanya terkekeh melihat respon yang Zidan berikan. Sedangkan Zakia masih asik dengan bayi mungil yang tampak nyaman di pelukannya itu.


"Kak Dewa mana nih calonnya? " Tanya Zakia saat menyadari aura tak nyaman dari sang suami. Celetukan Zakia sukses membuat Zidan tersenyum miring.


"Aish, jangan gitu ah" Dewa dengan wajah sendu yang dibuat-buat.


Pasalnya mereka tahu jika Dewa gagal bertunangan dengan calonnya. Dewa juga tahu jika Zakia hanya niat bercanda dengan dirinya, bukan bermaksud untuk mengejeknya. Karena mereka juga salah satu alasan kenapa Dewa tidak berlarut karena gagal bertunangan.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam" Jawab mereka kompak dan menoleh juga secara serempak.


"Rosa? "


"Ya? " Rosa menjawab sekaligus menyalami tangan para panutua yang ikut berkumpul.


"Xavier? "


"Ya? " Xavier yang kebetulan masuk bersama dengan Rosa juga ikutan menoleh.


"Kalian? " Reta dan Rina berucap kompak.


"Kenapa? " Rosa dan Xavier juga menjawab dengan kompak.


"Lagi adu kekompakan apa gimana kalian ini? " Celetuk Alesha. Yang lain hanya terkekeh mendengarnya.


"Kak Vier, Mom apa kabar? " Tanya Zakia saat menyalami tangan Xavier yang menjadi kakak angkatnya itu.


"Baik, mungkin besok atau lusa Mom balik ke sini" Jawab Xavier sambil mendudukkan dirinya di lantai beralas karpet itu.


"Mom dimana? "

__ADS_1


"Di Jerman, Daddy ada sedikit urusan disana" Zakia hanya mengangguk mendengar penjelasan kakak angkatnya itu.


"Gak sama James? " Tanya Rian.


"James sama Yash, masih otw sini juga " Yang lain hanya mengangguk mendengar jawaban Xavier.


"Kamu mau kemana? " Tanya Zidan yang melihat Zakia berdiri.


"Gak kemana-mana, ini dedek bayinya gerak-gerak. Takutnya haus"


"Dia baru selesai nyusu, Sayang. Letak di kasurnya aja, biar nggak capek kamu" Zidan menunjuk kasur bayi yang ada di tengah-tengah ruangan itu.


"Tapi Kia masih pengen gendong, Mas"


"Mas paham. Kalau capek, dedek bayinya tidurin di kasurnya ya " Zakia hanya mengangguk melangkahkan kakinya sedikit menjauh, karena ruangan tersebut mulai ramai dengan suara candaan para sahabatnya.


"Biar dia gendong sepuasnya, Dan. Jangan dilarang biarin aja. Anak gue anak kalian juga kan? " Ucap Albert.


"Iya gue tau, lo tau sendiri Kia gak se sehat keliatannya. Dia sering tiba-tiba drop sejak kehamilannya kan? Gue cuma takut dia kecapekan terus drop lagi" Jelas Zidan.


"Gue paham lo khawatir sama adek gue. Tapi jangan di kekang biar dia gak stres, Kia tau kapan dia harus berhenti buat istirahat"


Zidan tak menjawab melainkan fokus menatap sang istri yang tengah menimang bayi mungil dalam gendongannya itu. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu tampak tenang dalam gendongan Zakia.


"Gue emaknya, gue yang ngandung dia, gue yang gadein nyawa buat lahirin dia. Eh si cantik malah anteng sama Ummanya. Kayaknya gue harus belajar banyak cara nenangin anak sama Kia deh" Celetuk Tania.


"Kalau kebanyakan bayi rewel nya itu malem, anak gue beda. Dia kalau rewel siang, Papanya bahkan gak bisa berangkat ke kantor karena dia rewel banget" Tania tampak menghela napas ringan.


"Kalau malem? "


"Dia anteng, tidur nyenyak banget. Makanya gue heran, siang ini dia anteng banget ditangan Zakia"


Mikayla Putri Wijaya, bayi mungil berjenis kelamin perempuan. Anak dari pasangan Tania dan Albert. Bayi berusia satu bulan itu tampak nyaman berada dalam gendongan Zakia. Tania, sang mama bukannya iri, hanya saja dirinya bingung sekaligus heran melihat tingkah putrinya. Biasanya jika siang hari bayi mungil itu akan rewel, namun berbeda dengan siang ini yang begitu anteng ketika di gendong oleh Zakia yang mengklaim jika dirinya juga ibu dari bayi mungil itu. Begitu juga dengan bayi Alesha nanti.


"Mungkin dia kangen Kia kali, Ni. Kalau gak salah Kia cuma gendong dia pas lo lahir doang kan? " tanya Rina.


"Ya gimana, habis itu Kia kan harus bedrest total. Sedangkan gue juga gak bisa keluar buat jenguk adek gue"


"Emang kandungan Kia lemah, Dan? " Tanya Xavier pada Zidan yang fokus pada ponselnya. Bukan hal aneh lagi jika Zidan sibuk dengan ponselnya ketika sang istri tidak ada di sampingnya.


"Kandungannya gak lemah, cuma daya tahan tubuh Zakia yang menurun. Tau sendiri gimana istri gue kan? Mana ada dia bener-bener fit total, yang ada dia pura-pura baik-baik saja"


"Vitaminnya? "

__ADS_1


"Aman, nyokap James rutin kasih Kia vitamin" Jelas Zidan. " Sayang? " Panggil Zidan pada Zakia.


"Iya Mas? "


"Mas mau ke kantor sebentar, Kamu mau disini atau gimana? " Zidan tak mau meninggalkan Zakia.


"Kia disini gak papa? Masih mau main"


"Ya sudah, nanti Mas jemput kesini lagi. Mas gak lama kok, Mas pergi dulu ya. Assalamualaikum" Zidan mengecup hampir seluruh wajah sang istri.


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati Mas" Zakia menyalami tangan Zidan setelah suaminya selesai dengan ciuman kupu-kupu di bibirnya.


"Gue ke kantor bentar, titip Kia ya. Assalamualaikum" Zidan langsung berlalu begitu saja setelah melihat Albert dan Tania mengangguk.


"Mbak Nia? "


"Ya? " Seluruh atensi berfokus pada Zakia.


"Kia laper, gak ada apa gitu? " Wajahnya dibuat frustasi namun bibirnya mengerucut lucu. Mereka hanya terkekeh melihat tingal bumil yang satu ini.


"Di dapur ada. Bunda tadi sebelum pergi sudah masak. Ayo Mbak temani, Kayla letak di kasurnya aja" Zakia hanya mengangguk. Albert mengambil alih putri cantiknya dari gendongan Zakia.


"Kakak ikut" Alesha bangkit dengan perlahan dari duduknya.


"Mau ngerampok kulkas gue lagi lo? " Tania terkekeh melihat ekspresi malu di wajah Alesha.


"Jangan lupa, lo juga tukang rampok kulkas Zakia" Balas Alesha membuat Tania tertawa pelan.


"Ya udah ayo" Tania menggandeng lengan Alesha, kehamilannya hanya tinggal menunggu waktu. Membuat mereka benar-benar ekstra menjaga Alesha. Sedangkan Zakia sudah berlalu terlebih dahulu ke arah dapur.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam" Mereka menoleh kompak.


"Bini gue mana? " Rupanya Yash dan James yang datang.


"Noh lagi ngerampok kulkas" Yash terkekeh mendengar jawaban Albert. Namun kakinya melangkah menyusul sang istri.


"Apa kabar lo? "


"Baik, sorry gue baru nengokin si cantik. Kerjaan lagi numpuk, tapi tenang hadiah buat si cantik pasti sampai. Gue udah pesen dan dikirim ke alamat ini"


"Repot amat sih lo, James"

__ADS_1


"Gak ada kata repot di kampus gue, Al"


"Btw, thanks pelayanan rumah sakit lo beneran terbaik buat bini gue" James hanya mengangguk menjawab ucapan Albert.


__ADS_2