
Setelah perdebatan antara Karin dan Reza yang Keukeh harus membawanya ke Medan, kini dua orang itu sudah tiba di bandara.
Ditemani oleh Paman Harun dan Ibu Salima, Reza pamit dan berjalan duluan. Sedangkan Karin masih berada bersama kedua orangtuanya.
''Nak.. jika kamu sudah tidak sanggup, beri tahu Papa. Agar Papa bisa menjemput mu ke kota Medan.'' ucap dokter Harun.
''Benar Nak .. tapi sebelum itu terjadi, kamu harus bisa meluluhkan hati Reza dulu. Rebut hatinya, pasti akan gampang untuk membujuknya untuk tidak menikahi gadis itu. Ingat Nak.. kamu sekarang istri sah nya! Jangan biarkan gadis itu masuk kedalam rumah tangga mu! Kamu ingat itu!'' pesan Ibu Salima.
Karin hanya bisa mengangguk. Mereka tidak tau saja, jika Reza pria dingin tak tersentuh. Hanya Rani yang bisa mencairkan nya! Gumam Karin dalam hati.
Setelah itu mereka berangkat ke kota Medan. Tiba disana sudah Maghrib. Karin diantarkan Reza kerumah lain bersama Airin.
Sedangkan Reza pulang kerumah mereka di perumahan Griya M.
Flashback off.
Setelah tau jika Rani pergi tanpa membawa apapun, Reza bergegas mengecek cctv di rumah itu.
Mata yang masih basah, ia tak peduli. Baginya hanya Rani. Reza masuk ke dalam ruangan khusus untuk pengawas.
Ruangan khusus untuk mengintai dari bahaya maling atau apapun itu. Disana belum ada penjaganya, karena Reza dan Rani belum sepenuhnya tinggal dirumah itu.
Reza duduk di kursi dan mulai mengeceknya. Terlihat disana jika Rani baru saja pergi beberapa menit yang lalu.
Saat Pak Kurni masih di mesjid. Reza memutar lagi rekaman itu hingga matanya menangkap bayangan samar-samar seorang pemuda yang begitu ia kenal.
''Gilang??'' kaget Reza saat melihat Rani pergi dengan menaiki mobil mewah Gilang.
Yang di supiri oleh Gilang sendiri. Melihat itu, Reza berlari ke depan dan berpapasan dengan Pak Rahmat.
''Pak Rahmat! Ikut saya!'' titah Reza sembari berlari keluar rumah mereka.
Pak Rahmat yang terkejut pun ikut berlari mengejar Reza. Dan kebetulan sekali Gilang baru saja pulang dari mengantar Rani.
__ADS_1
''Tunggu Gilang!'' panggil Reza saat melihat Gilang ingin masuk kerumah nya.
''Loh? Bang Reza?? Kapan pulang nya??'' Gilang terkejut melihat Reza sudah berdiri di depan nya dengan wajah datar.
''Ya, Abang baru saja kembali. Katakan! Kemana kamu membawa Rani??'' tanya Reza to the poin.
Gilang tersenyum tipis. ''Ayo Abang ikut Gilang ke mesjid. Akan Gilang ceritakan disana. Sebentar lagi isya kan?''
Reza mengangguk setuju. Mereka berjalan berdampingan dan beriringan. Pak Rahmat mengikuti mereka dari belakang.
''Abang tau? Jika posisi Mbak Rani sekarang sama dengan posisi istri sah ku!''
Deg!
Reza menoleh pada Gilang. Sedang Gilang terus saja menatap ke depan sembari terus berjalan perlahan.
''Aku juga sama seperti Abang! Mencintai wanita lain tapi harus menikah dengan gadis lain! Dan sekarang, posisi ini sangat menyulitkan ku! Aku harus memilih diantara dua pilihan. Pilih istri sah secara hukum? Atau istri sah secara agama??'' lanjut Gilang, lagi dan lagi membuat Reza terkejut.
''Apa maksudmu??''
Deg!
Lagi, Reza terkejut. ''Darimana kamu tau?'' tanya nya lagi.
''Apa yang tidak ku ketahui Bang Reza.. Kita berdua itu sama saja. Bedanya kamu itu sudah dewasa. Sedang aku baru berusia sembilan belas tahun! Dan aku juga sangat menyayangkan hal ini. Kenapa harus terjadi pada pemuda tampan seperti kita ini! Ck!'' Reza dan Pak Rahmat yang mendengar nya terkekeh.
''Abang tau? Jika istriku itu sama seperti Mbak Rani. Em.. bolehkan ya aku manggil Mbak bukan lagi Kakak??'' tanya Gilang sembari menatap Reza.
''Tentu, Dek.. kita kan senasib??'' gurau Reza.
Gilang terkekeh namun sendu. ''Biarkan Mbak Rani pergi Bang.. biarkan dia mencari jati diri nya sendiri. Dia bersama dengan istriku! Abang tak perlu mencarinya.. Mbak Rani pasti aman tinggal bersama nya.'' Imbuh Gilang berhenti di undakan tangga, karena mereka sudah tiba di mesjid.
''Tapi Abang khawatir Dek.. takut terjadi
__ADS_1
sesuatu pada nya .. belum lagi ini di rantau orang?'' ujar Reza, ia duduk di undakan tangga dan bersandar di pilar mesjid itu.
''Aku tau Bang Reza.. istriku juga orang perantauan. Malah sekarang dia sukses disini. Kemarin baru saja buka toko roti. Jadi aku anterin kesitu, karena memang istriku itu sedang butuh seseorang untuk membantu nya. Jika sudah sukses nanti, pastilah rekrut karyawan kan??'' ujar Gilang sembari menoleh ke depan dimana ada bintang-bintang bertaburan diatas gemerlap nya malam.
''Ya, apa yang harus kita lakukan ya Gi??'' tanya Reza sembari menengadah ke atas.
Gilang menoleh dan tersenyum. ''Abang sudah menyentuh istri siri Abang itu??''
Reza menghela nafasnya. ''Abang tidak bisa menyentuhnya Gi.. karena dia...''. ucapan Reza terputus karena suara alunan merdu sudah menyapa indera pendengaran mereka.
''Kita sholat dulu, nanti dilanjut lagi saat kita sudah selesai sholat.'' Imbuh Gilang, ia bangkit dan berdiri menuju tempat wudhu.
Begitu juga dengan Reza. Selesai sholat, mereka kembali lagi duduk di tempat yang sama. Gilang tersenyum tipis melihat wajah murung Reza.
''Bang.. terkadang kita harus merasakan sakit dulu untuk bisa mencapai rasa bahagia. Kita harus di uji dengan cobaan seperti ini. Abang beruntung jika belum menyentuh istri siri Abang. Lah aku? Takutnya bulan depan jebol tuh kecebong yang ku tanam? Mana istri pertama ku itu, nyuruh aku untuk bisa membahagiakan nya lagi. Padahal aku sudah berjanji kepada nya, jika istri pertama tidak bisa aku berikan nafkah batin, maka istri kedua pun tidak. Dan itu aku jalani, tapi sialnya aku di cekoki n dengan obat sialan itu! Jadilah nanti bibit unggul ku menempati istri siri ku itu!'' ketus Gilang begitu kesal.
Reza yang mendengar nya jadi tertawa. Padahal tadi ketika mendengar cerita Gilang ia begitu serius, tak taunya Gilang malah ketus begitu.
Reza masih saja terkekeh karena ucapan Gilang. ''Abang bukan tidak mau menyentuh istri siri Abang, Gilang. Tapi istri Abang itu sudah terlebih dahulu disentuh oleh orang lain selain Abang! Lah kamu enak, bisa ngerasain belah duren. Abang?? Boro-boro, yang dapat malah barang bekas! Ck!'' gerutu Reza, kini gantian Gilang yang tertawa terbahak.
Mendengar tawa Gilang yang begitu lucu, membuat Reza pun ikut tertawa. ''Kenapa ya kita senasib Dek??'' tanya Reza lagi di sela-sela mereka tertawa.
''Hooh! Abang istri tua gadis, sedangkan istri muda barang bekas. Lah aku? Istri tua janda tiga orang anak, tapi cinta ya? Sedangkan istri muda gadis euuuyyy.. ck! ck! benar-benar senasib dan seperjuangan kita Bang.. Istri pertama kita dua-duanya pergi dari kita hanya demi istri kedua. Ini mah cocoknya lagu Ahmad Dhani ini Bang.'' sahut Gilang dengan sedikit kekehan di bibirnya.
''Hahaha.. kamu bisa saja Gilang! Kalau istri tua merajuk, kanda pulang pada istri muda, kalau dua-duanya merajuk kanda kawin tigaaa...'' ujar Reza sembari menyanyikan bait lagu Ahmad Dhani.
Buahaha haha...
Mereka tertawa bersama, sebelum nantinya harus melewati ujian yang lebih pahit lagi.
💕
Nanti konflik lagi ye! Sekarang senang-senang dulu sama babang Gilang.. 🤣🤣🤣
__ADS_1
TBC