
Fatih berjongkok di depan box itu. ''Waduh! bener bau euuuyyy.. dasar Reza! Usil banget sih!'' gumam Fatih sambil merogoh isi kotak itu. Ia terkekeh pelan.
Mama Nia tidak tau jika Fatih sedang terkekeh, begitu juga dengan Reza dan Karin. Sedari tadi, mereka berdua terus saja terkekeh-kekeh.
Fatih dengan sengaja merogoh sesuatu yang ada dibalik kepala kerbau busuk itu. Sebelum nya ia mengangkat dulu kepala kerbau busuk itu untuk dibawa mang Udin agar segera di tanam di perkebunan belakang rumah mereka.
''Mang! bawa ke belakang. Segera di tanam! Jika nggak mau terkena virus busuk kepala kerbau!''
Mang Udin terkekeh. ''Aden bisa saja! Mana ada virus kepala kerbau. Yang ada itu virus ban serep!''
''Hahaha... iya ya mang. Ayo dibawa ke belakang, sebelum yang muntah-muntah itu ngamuk!'' celutuk Fatih dengan sedikit pelan takutnya Papa Rustam mendengar nya.
Mang Udin cekikikan. ''Baik Den!'' sahut mang Udin. Dengan segera ia membawa kepala kerbau itu ke belakang rumah mereka.
Sebelum nya ia bawa dengan karung besar sebagai pelapis agar tangannya agar tidak ikut bau.
Setelah mang Udin pergi, kini tinggallah Fatih, Karin dan Reza. Mereka berdua mendekati Fatih yang sedang memegang sesuatu di tangan nya.
''Ini apa??'' tanya Fatih sembari memegang kertas itu.
''Hooh, Apa itu Den?'' tanya mang Udin dengan segera mendekati box itu. Mang Udin datang lagi setelah menyuruh salah satu pelayan lain untuk mengubur Kepala kerbau itu.
''Ada kertasnya Ma!'' seru Fatih.
Mama Nia yang mendengar nya terkejut. ''Kertas? Kertas apa?'' tanya sambil menoleh ke arah Fatih. Tangannya masih saja sibuk memijat tengkuk Papa Rustam.
__ADS_1
Fatih mendekati Mama Nia dan menunjukkan nya. ''Buka!'' titah Mama Nia, sementara tangannya masih sibuk memijit tengkuk suami nya.
Dengan segera ia membuka kertas itu dan membacanya.
''KELUAR! ATAU MATI!''
Deg!
''Astaghfirullah!!! Apa itu maksudnya?!'' pekik Mang Udin.
''Mang Udin ini ya. Sangat mendalami peran nya disini.'' Gumam Fatih dalam hati.
''Apa maksudnya ini?'' tanya Fatih dengan bingung.
''Siapa yang tega mengirim kepala kerbau itu kemari?'' tanya Reza masih dengan menatap Fatih.
Deg!
''Teror?! Siapa yang berani meneror kita?!'' pekik Mama Nia.
Fatih dan Reza menggeleng bersamaan. ''Astaghfirullah! siapa pula yang tega meneror keluarga besar Rustamsyah??''
''Entahlah.. Saya pun tak tau Mang!'' sahut Fatih.
''Apa jangan-jangan...''
__ADS_1
''Jangan-jangan apa?!'' pekik Mama Nia yang semakin ketakutan.
''Apa ini pekerjaan arwahnya Neng Rani??'' bisik mang Udin.
Deg!
Lagi jantung Mama Nia seperti di pompa saat ini. ''Ra-rani?? Bu-bukan nya dia sudah mati ya?'' tanya Mama Nia begitu pelan.
''Iya sih.. tapi kan tidak menutup kemungkinan jika Rani masih hidup saat ini. Dan dia kembali untuk balas dendam sama kita?'' sahut Karin dengan wajah ketakutan nya.
''Bagus sayang! Dalami teroooossss..'' gumam Fatih dalam hati.
Ia ingin tertawa melihat wajah Karin yang ketakutan seperti itu. ''Ah, nggak mungkinlah.. mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi??'' elak Reza, padahal hati nya saat ini sedang tertawa jahat.
''Kan bisa jadi, Ma!'' bantah Karin.
''Nggak! Nggak mungkin!'' bantah Mama Nia.
Ia menggelengkan kepala nya tak percaya dengan ucapan Karin. Tubuhnya bergetar mengeluarkan keringat dingin.
''Nggak! Aku nggak percaya!'' kata nya lagi.
Tubuh nya semakin bergetar hebat seiring dengan matanya yang terpejam.
Brruukkk..
__ADS_1
''Mama!!!!''
TBC