
Zidan menurunkan Zakia secara perlahan diatas kasur empuk itu. Berbalik dan mengunci pintu kamar. Dirinya butuh privasi untuk menenangkan sang istri kali ini.
"Sayang? " Zidan mengelus kepala Zakia yang masih sesegukan itu.
Zakia hanya mendongak dengan wajah menggemaskan menurut Zidan, namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggoda pemilik wajah itu. Zidan langsung merengkuh Zakia kedalam pelukan hangatnya.
"Tenangin diri dulu, setelah itu cerita" Zakia hanya mengangguk pelan di pelukan sang suami.
Setelah cukup lama, Zakia mulai melepas pelukannya perlahan. Mengangkat wajahnya agar dapat menatap wajah Zidan yang begitu sabar menunggu dirinya tenang.
"Sudah siap cerita? " Zakia mengangguk pelan. "Cuci muka dulu ya biar fresh, mau Mas gendong ke kamar mandi? " Zakia hanya menggeleng pelan.
Perlahan dirinya turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Tak lama setelahnya Zakia keluar dengan wajah fresh, meskipun matanya sedikit sembab. Kepalanya sudah tidak tertutup hijab lagi. Zakia bisa melihat jika posisi Zidan tak berubah, masih sama saat dirinya tinggal tadi. Bahkan, tampaknya Zidan terus menatap ke arah kamar mandi.
"Kemari" Zidan menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Zakia hanya menurut dan duduk di samping sang suami. Menarik napas perlahan sebelum memulai cerita yang menurutnya tidak terlalu penting. Namun, entah mengapa mengenai hatinya langsung kali ini.
"Sayang kenapa nangis tadi? Masalah HP yang ditangisi atau hal lain? " Begitu lembut jika Zidan berbicara dengan Zakia.
"Hal lain" Zakia menjawab dengan lirih dan posisi menunduk.
Zidan menarik Zakia ke pelukannya, bersandar pada sandaran ranjang. Kegiatan yang sering mereka lakukan ketika mulai hidup satu atap.
"Ada apa? "
"Tadi Kia denger Tante jelek-jelekin Kia" Air matanya lolos lagi kali ini.
Zidan hanya memejamkan matanya, dirinya tak pernah membuat Zakia menitikkan air mata. Bahkan dirinya mati-matian agar air mata itu tidak jatuh, kecuali air mata kebahagiaan. Dan sekarang, tanpa permisi, istrinya menangis.
__ADS_1
"Why? Istri Mas biasanya gak gini. Biasanya kamu bodoamat" Zidan mulai mendoktrin Zakia kembali untuk bersikap bodoamat akan cerita orang lain tentang dirinya.
"Gak tau, Kia juga bingung. Biasanya Kia gak baper, tapi tadi beda Mas" Zakia mengadu pada Zidan.
"Mereka jelekin kamu gimana? "
"Tante bilang, kalau Kia goda Mas dulu, Kalau Kia maksa Mas buat nikahin Kia. Bilang Kia mandul karena Kia belum hamil, padahal Kak Al udah hamil. Katanya Kia mandul, makanya di cerai sama mantan suami Kia. Parahnya lagi, Kia di do'ain gak punya keturunan, biar Mas jenuh sama Kia" Sungguh Zakia tak sanggup untuk menceritakannya pada Zidan.
Zidan memeluk Zakia erat, amarah mulai menyapa dirinya kali ini. Zidan tahu, mereka sebenarnya iri terhadap Zakia yang tiba-tiba menjadi sorotan keluarga besarnya. Namun, mereka keterlaluan hingga mendoakan yang tidak baik untuk keponakannya.
"Sudah ya sayang, anggap itu semua angin lalu. Anggap itu ujian rumah tangga kita ya. Kamu pondasi rumah tangga kita, jangan goyah. Mas gak mau istana yang Mas bangun runtuh karena pondasinya goyah" Zakia memeluk Zidan erat, bahkan sangat erat.
"Tapi tadi Mama sampai adu mulut gara-gara belain Kia, Kia cuma ngerasa gak enak aja, kalau kehadiran Kia cuma bikin keluarga berantakan. Kia ikhlas menjauh lagi Mas, gak papa kalau Mas mau bawa Kia tinggal di luar negeri. Mau menetap disana Kia juga gak papa, Kia ikhlas"
"Sayang, dengar Mas" Zidan melepas pelukannya, dan menangkup kedua pipi chubby itu agar wajah mereka berhadapan. "Zakia yang Mas kenal gak gini, Kia yang Mas kenal itu orangnya keras, dia gak bakal mau diinjak, dia gak bakal mau dihina, dia akan membalas kata dengan kata, mata dengan mata. Katanya mau buat semua orang yang ngehina istri Mas ini tunduk di bawah kaki kamu, kenapa sekarang mulai goyah kena angin masalah, sayang? "
"Kia gak bisa lihat Mama emosi kayak tadi, Mas. Mama bener-bener jadi tameng buat Kia, Kia gak mau keluarga ini berantakan" Air mata itu kembali menetes. Sungguh kesabaran Zidan sedang di uji sekarang.
Zidan menundukkan kepalanya dibahu kecil Zakia. Matanya terpejam erat. "Berhenti nangis sayang, Mas gak sanggup lihat kamu nangis. Mas bukan orang yang sabar kalau lihat kamu nangis, sayang" Lirih Zidan di telinga Zakia
Zakia berusaha menghentikan tangisnya, bukan karena merasa kasihan pada Zidan. Tapi lebih memilih menjaga amarah Zidan, Zakia bisa menebak jika suaminya sedang menormalkan emosinya. Terbukti dari helaan napas berat yang sudah berlangsung berulang kali sejak tadi.
Zidan mengangkat kepalanya dan menatap sang istri yang entah mengapa semakin ke sini semakin menggemaskan dengan pipi bulatnya.
"Sudah? " Zidan menangkup kedua pipi chubby itu. Zakia hanya mengangguk pelan.
"Istirahat aja ya, biar gak pusing. Kamu kebanyakan nangis" Zakia mulai merebahkan tubuhnya dan menempel pada Zidan.
Zidan dengan lembut mengelus punggung Zakia. Zidan akan berusaha menjadi sosok apapun yang dibutuhkan oleh istri mungilnya.
__ADS_1
"Sayang? " Panggil Zidan pelan.
"Emmm? "
"Dengar Mas ya, apapun yang terjadi atau kamu dengar tadi, jangan sampai sikap kamu berubah sama Tante, bagaimanapun dia keluarga kamu" Zakia hanya mengangguk pelan.
Entah mengapa dirinya tiba-tiba malas menanggapi Zidan yang membahas soal tantenya. Padahal sejak tadi dirinya merasa begitu sedih hanya karena ucapan tantenya yang tak sengaja dirinya dengar.
"Sayang? " Panggil Zidan saat melihat Zakia memalingkan wajahnya. Zidan tertawa kecil melihat istrinya yang tampak jengah itu. Bukankah tadi mantan janda kembang ini menangis karena perkataan sang tante? Lalu kenapa bisa berubah secepat ini moodnya?
"Tetap jadi Zakia seperti yang Mas kenal. Tetap jadi wanita yang berpendirian teguh, jangan goyah hanya karena angin masalah ya sayang. Apalagi sekarang kita sudah hidup berdua, apapun yang terjadi kita tanggung dan jalani bersama. Tetap terbuka seperti ini, mas sandaran kamu sekarang" Zidan mengelus pelan kepala istrinya itu.
Zakia meringsek ke dalam pelukan Zidan. Zakia yang tampak tenang di luar belum tentu setenang pikirannya. Zakia yang tampak ceria di luar belum tentu hatinya juga bahagia, bisa saja ada kemelut yang sengaja tak dirinya bagikan karena menurutnya hanya masalah sepele.
...****************...
"Ini pertama dan terakhir kali Mbak gituin Zakia" Ucap Zalia penuh penekanan.
"Kenapa Tan? " Tanya Tania dengan alis bertautan heran.
"Biasa, kalau orang iri ada aja jalanan buat jatuhin mental lawannya" Zalia tampak memutar matanya malas.
"Zakia anggota keluarga kita yang baru, yang kita cari selama belasan tahun. Inikah sambutan kalian pada anggota keluarga kita yang baru? Kalian ingin cucu ku itu kembali menjauh? " Tanya panutua dari pihak Wijaya itu.
"Tapi Ma? Harusnya kita cek dulu siapa tau dia hanya mengaku-ngaku saja. Sudah untung diangkat anak oleh Arya sekarang malah ngelunjak minta bagian dari Lawrence. Bukankah sudah berhasil menjerat bungsu Al Fatih. Memang kalau anak gak jelas asal usulnya ya gitu"
"Meta" Bentak Zalia, ini pertama kali seorang Zalia meninggikan nada bicaranya.
"Apa, benar bukan Zakia itu gak jelas asal usulnya, hanya karena mirip dengan Aryo kalian langsung percaya. Ingat tiga tahun dia hidup di luar negeri, bisa saja dia melakukan operasi plastik. Jangan tertipu dengan muka polos dia kalian. Apalagi statusnya seorang janda. Wanita baik-baik tidak akan diceraikan oleh suaminya "
__ADS_1
Prangg...