
"Kangen" Alesha dan Tania serempak memeluk Zakia saat dirinya baru sampai. Mereka langsung berpelukan bertiga layaknya teletubbies.
"Kia engap" Cicit Zakia karena diapit dua bumil saat ini.
Secara kompak mereka langsung melepas pelukannya dan tersenyum tanpa dosa pada Zakia. Mereka berdua langsung menggandeng lengan Zakia dan menuntunnya menuju sofa. Kegiatan mereka tak luput dari pantauan seluruh keluarga besar yang tengah berkumpul itu.
"Assalamualaikum" Sapa Zakia dan mulai menyalami satu per satu para panutua yang ada disana.
"Kemari" Saat menyalami sang nenek, Zakia langsung ditarik untuk duduk di samping sesepuh keluarga Wijaya itu, bahkan saat ini pinggangnya tengah di rengkuh oleh sang nenek yang menatapnya intens.
"Nenek kangen papa? " Anggukan neneknya membuat senyum kecil di wajah Zakia terbit. Wajahnya memang cetakan Aryo versi wanita, itu mengapa mereka tak berpikir dua kali untuk mengakui Zakia sebagai salah satu keturunannya.
"Ini Zakia? " Zakia langsung menoleh saat mendengar suara mempertanyakan dirinya.
"Saya Zakia" Jawabnya lembut.
"Kemari nak, peluk Bu De" Wanita paruh baya itu langsung merentangkan tangannya, dengan lembut Zakia melepas pelukan neneknya dan beralih memeluk wanita paruh baya yang menyebut dirinya Bu De itu.
"Pantas saja dirinya langsung diakui, wajahnya mirip Aryo tapi ini versi wanita" Salah satu pria paruh baya yang merupakan sanak saudaranya ikut berargumen.
"Iya, apalagi saat Arya memperkenalkan dia sebagai anaknya, media juga tak membuat berita aneh-aneh. Wajah mereka mirip, mana bisa media menemukan cela kalau Zakia sebenarnya keponakan Arya bukan anaknya"
"Dia anakku, Mas. Aku memiliki tiga putri. Alesha, Tania dan Zakia. Tidak ada keponakan untuk anak adikku" Jawab Arya tegas membuat tiga nama yang disebut itu tersenyum mendengar ucapannya.
"Bu De kenapa nangis? " Zakia mengusap lembut punggung wanita yang sejak tadi memeluknya.
"Wajar kalau dia nangis, Kia. Papa mu itu dulunya deket banget sama Bu De mu itu, bahkan mereka sampai dibilang pasangan saking seringnya bareng"
Zakia hanya merespon dengan tawa kecil di bibirnya. Tangannya sibuk mengelus punggung wanita yang memeluknya itu.
"Kia, ngerujak yok" Ucap kompak kedua ibu hamil itu.
Yang lain sontak tertawa mendengar kekompakan keduanya, Zakia hanya menatap dengan binar polosnya.
"Masih pagi, Kia mau cari Mama Lia sama Bunda Nita dulu" Zakia langsung bangkit saat tak melihat keberadaan dua malaikat tak bersayapnya itu.
Alesha dan Tania hanya memasang wajah memelas andalannya, namun sayang itu tak mempan untuk sekedar merayu Zakia, yang notabenenya adalah wanita keras kepala.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Mereka serempak menoleh.
__ADS_1
"Loh, tak kira Kia sendiri" Ucap Alesha sambil menatap Zidan yang menyalami satu persatu panutua disana.
"Bareng gue, cuma gue ngobrol bentar di luar. Sekarang mana bini gue? " Tanya Zidan.
"Ke belakang, cari Bunda sama Tante Lia, biarin ih sama Bunda sama Tante dulu. Kagak bisa lepas banget keknya sama Kia" Ucap Tania.
"Bucin lo, Dan" Ejek Alesha pada Zidan.
"Gak papa bucin sama bini sendiri kok" Jawab Zidan santai.
"Ya kali lo bucin sama bini orang, Dan" Albert langsung menatap Zidan setelah mengatakan itu.
"Satu cukup bro, gue gak main-main sama bini gue. Dia korban pengkhianatan, maka sebisa mungkin gue buat dia lupa akan semua hal itu. Lagipun pantang bagi keturunan Al Fatih mendua, macam di rumah gue serem"
"Takut banget lo sama bokap lo" Tambah Yash dengan kekehan kecil.
"Lebih ke menghargai sih gue, bokap gue mendidik gue dan abang gue dengan begitu luar biasa. Gue sebagai anaknya wajib tahu diri dan tahu caranya berterimakasih pada orang tua. Gak usah aneh-aneh, cukup buat mereka bahagia dan bangga terhadap kita. Itu sudah bentuk rasa terima kasih kita pada orang tua kita "
"Lo keliatan normal kalau ngomong panjang gini, Dan" Celetuk Alesha.
"Iya biasanya lo udah kayak patung hidup aja, kagak ngomong jarang gerak juga kalau lagi ngumpul"
"Pawangnya bukan kaleng-kaleng" Tania menaik turun alisnya.
"Mas? "
Yang lain hanya takjub dengan Zidan yang langsung menyahuti panggilan Zakia. Padahal tak nampak Zakia disana, hanya ada suara yang memanggil.
"Mas? " Kali ini tampak wujudnya dengan ekspresi bingung.
"Kenapa sayang? " Tanya Zidan saat melihat Zakia dengan wajah bingung.
"Lihat HP Kia yang ungu gak? "
"Di tasnya gak ada? " Zakia menggeleng pelan. "Mungkin ketinggalan di kamar, di mobil gak ada soalnya. Kenapa dulu? " Zidan mengulurkan tangannya yang di sambut baik oleh Zakia.
Zakia menurut saja saat Zidan menarik tubuhnya perlahan agar mendekat. Hingga Zakia tak sadar jika saat ini dirinya duduk dan di rengkuh oleh sang suami. Pasangan suami istri yang satu ini memang sering lupa tempat jika ingin bermesraan.
"Yang dua kemana? " Tanya Zidan lembut.
"Ada, yang ungu Kia butuh. Mau kirim email, Kia janji jam sepuluh mau kirim"
__ADS_1
"Mas telfon orang rumah dulu buat cek ke kamar" Zidan langsung mengeluarkannya ponselnya dan menelpon Farida.
Karena semenjak menikah dengan Zakia, asisten rumah tangganya tak lagi masuk ke dalam kamarnya. Semua Zakia yang mengurusnya, bahkan sampai urusan mencuci baju pun Zakia kerjakan sendiri.
"Nanti aja Kia cek kalau acara disini udah kelar" Zakia berucap lirih, matanya berkaca-kaca.
"Ssstt, jangan nangis. Pasti ketemu"
Bukan masalah ponselnya, namun kenangannya, itu adalah ponsel yang dirinya beli dengan gaji pertamanya saat berhasil mengamankan proyek besar milik keluarga temannya dulu.
"Mas, please. Jangan repotin Ibu" Zakia menahan tangisnya.
Tanpa aba-aba Zidan langsung memeluk Zakia yang menumpahkan tangisnya.
"Kia tumben melow gini sih, Dek. Biasanya juga gak gini" Ucap Alesha saat melihat punggung adiknya bergetar.
Zidan hanya memberi kode agar Alesha diam. Zidan menangkap sesuatu yang aneh disini, meskipun Zidan tahu itu adalah ponsel kesayangan sang istri. Namun yang membuat Zidan heran adalah, kenapa Zakia hingga menangis seperti ini.
"Mas" Zakia mendongak dengan air mata yang membasahi pipinya.
Zidan tertawa kecil melihat wajah lucu sang istri. Zakia akan terlihat seperti anak kecil dengan hidung memerah. "Kenapa, hmmm? " Selembut itu jika dengan sang istri.
Zakia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban, tapi Zidan paham jika sang istri sedang tidak baik-baik saja.
"Mau balik? Nanti kesini malem aja? " Zakia langsung mengangguk
"Gak ada ya" Bentak Tania. "Kalian gak boleh balik sampe acara selesai" Putus Tania mutlak.
Seluruh keluarga besarnya bahkan kaget dengan sikap Tania. Namun Zakia dan Zidan bahkan tak bergeming sedikitpun.
"Kamar Kia disini sebelah mana? " Tanya Zidan.
"Pulang ke rumah Ibu" Jawab Zakia dalam pelukan Zidan.
"Adek kakak yang cantik ini ada masalah kah? " Alesha mendekat dan mengelus lembut punggung sang adik.
"Ya Allah nak, kok nangis. Biasanya juga cuek, gak usah di dengerin omongan yang tadi ya. Mamah sudah tegur Tante kamu itu" Zalia mengambil alih pelukan Zakia.
Zakia memeluk Zalia cukup erat, melampiaskan sedikit amarahnya dengan memeluk sang mama.
"Kenapa, Lia? " Tanya Arya yang sejak tadi hanya mengamati bersama yang lain.
__ADS_1
"Ayo ke kamar kamu dulu, Mas mau ngomong" Zidan bahkan sampai berjongkok agak dapat melihat wajah istrinya.
Zidan bangkit dan langsung menggendong Zakia ala bridal style, Zakia yang biasanya berontak kini tampak pasrah saat Zidan menggendong nya.