Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 132


__ADS_3

"Kak Al" Pekik Zakia saat melihat tubuh Alesha luruh menyentuh lantai.


Untung Zakia cepat berlari hingga kepala Alesha tak membentur lantai. Beberapa suster yang kebetulan melintas langsung mengerubungi Zakia. Mereka kenal dengan Alesha yang notabenenya sebagai istri Yash, meskipun pernikahan mereka baru seumur jagung.


"Bisa tolong panggil Kak Yash, Sus. Biar kakak ipar saya yang angkat saja" Pinta Zakia, karena kebetulan Alesha pingsan di dekat ruangan Yash.


Salah satu suster disana langsung berdiri dan sedikit berlari ke ruangan Yash. Tak lama kemudian Yash datang dengan tergesa-gesa. Tanpa berbicara lagi Yash langsung mengangkat tubuh sang istri. Bukannya membawa ke ruangannya yang terbilang dekat, Yash malah membawa Alesha ke arah yang berlawanan.


Tujuan Yash kali ini adalah UGD, tak peduli jika saat ini dirinya menjadi tontonan pengunjung rumah sakit. Perawat yang bertugas di UGD seketika terkejut saat melihat Yash menggendong seorang wanita.


Setelah membaringkannya di atas brankar Yash langsung mundur, karena dokter yang bertugas langsung memeriksa sang istri. Yash hanya melihat sambil menetralkan degub jantungnya yang tak beraturan. Saat salah satu suster mendobrak pintunya dan mengabarkan bahwa sang istri pingsan, Yash tak memperdulikan apapun langsung berlari keluar. Benar saja, Alesha sudah terbaring di lantai dengan kepala di pangkuan Zakia.


"Gimana keadaan Kak Al? " Tanya Zakia setelah berhasil menyusul Yash ke UGD.


Yash menoleh ke arah Zakia, bahkan Yash sampai melupakan keberadaan adik iparnya saking paniknya.


"Masih di periksa, Kia" Jawab Yash setelah berhasil menarik seluruh kesadarannya.


Zakia hanya mengangguk dan berdiri di samping Yash. Memperhatikan dokter yang memeriksa kakaknya dengan hati-hati.


"Bagaimana dok? " Yash mulai mendekat ke arah Alesha yang masih terpejam itu.


Jangan lupakan Zakia yang mengekorinya bak anak kecil dibelakangnya.


"Nona Alesha hanya kekurangan cairan dan mungkin terlalu banyak pikiran dokter. Saya sarankan untuk kedepannya diperhatikan lagi untuk kesehatan, pola makan dan anjurkan agar tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya stres. Takut mempengaruhi kandungan Nona Alesha, mengingat ini masih Tri semester pertama yang kebanyakan orang memiliki kandungan lemah, akan mudah keguguran" Jelasnya dokter yang bertugas.


Yash hanya diam terpaku, setelah kata kandungan keluar begitu saja dari ucapan sang dokter membuat otak Yash berhenti bekerja. Perasaannya campur aduk sekarang. Haruskah dirinya senang? Tapi apakah benar Alesha hamil? Karena Alesha tidak mengalami tanda-tanda kehamilan, dirinya hanya mengeluh malas bergerak saja saat Yash menghubungi karena tidak bisa pulang.


"Jadi Kakak saya hamil, dok? " Zakia mengambil alih bagian Yash saat melihat kakak iparnya hanya diam mematung.


"Benar Nona, apa kalian belum mengetahui ini? " Tanya dokter tersebut saat melihat ekspresi terkejut dari dua orang itu.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya, jadi berapa usia kehamilan kakak saya? "


"Untuk lebih jelasnya saya akan buatkan jadwal temu dengan dokter kandungan Nona"


"Boleh, terimakasih sebelumnya dok. Kayaknya kakak ipar saya masih belum sadar dari euphoria nya" Zakia terkikik geli saat melihat Yash masih melamun ditempatnya.


"Nona, kakak anda harus dirawat paling tidak satu hari saja... "


"Lakukan yang terbaik dok, kakak saya harus sehat" Potong Zakia dengan cepat.


Dokter tersebut hanya mengangguk dengan senyum ramahnya melihat keantusiasan di wajah mungil Zakia.


...****************...


"Kenapa gak bilang kalau telat datang bulan hmm? " Tanya Yash dengan begitu lembut pada Alesha.


Saat ini mereka sudah berada di ruang rawat milik Alesha. Yash sedang menyuapi sang istri karena mendadak Alesha ingin makan dan harus disuapi oleh Yash. Dengan senang hati Yash mengiyakan keinginan Alesha.


"Aku lupa cek kalender, Sayang" Jawab Alesha pelan.


"Jangan banyak pikiran ya sayang. Biar calon anak kita gak ikutan stres" Nasihat Yash pada sang istri.


"Makanya kamu pulang, jangan betah-betah di rumah sakit" Alesha cemberut lucu, Yash hanya tersenyum melihat itu.


"Iya aku janji, setelah ini aku gak bakalan nginep di rumah sakit lagi. Takut dedek bayinya minta sesuatu" Yash mengelus pelan perut rata Alesha.


"Aku masih gak nyangka" Alesha menunduk, meletakkan tangannya diatas tangan kekar Yash yang tengah mengelus perutnya.


"Ini rejeki kita, Sayang. Kamu siap kan jadi orang tua? " Yash sedikit khawatir akan hal ini, mereka baru saja menikah. Yash hanya takut Alesha merasa kurang untuk memiliki waktu berdua dengan dirinya, mengingatkan padatnya jadwal dirinya di rumah sakit.


"Siap dong, asal kamu selalu ada di samping aku, apapun itu aku siap lakuin asal sama kamu" Yash tersenyum tampan.

__ADS_1


"Makasih sudah mau menerima aku jadi suami kamu" Alesha hanya mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Yash selalu berterima kasih hampir setiap hari padanya, akan semua hal yang Alesha terima dari sosok Yash. Baik itu kekurangan maupun kelebihan Yash.


"Anggota keluarga kita sudah dikabari, Sayang? " Tanya Alesha.


"Sudah, dibantu Zakia juga kok"


"Sekarang itu anak kemana? Aku lupa kalau tadi sama Kia kesininya" Alesha terkekeh pelan.


"Itu di sofa" Bisa Alesha lihat jika Zakia duduk dengan gaya anggunnya saat memainkan ponsel ditangannya.


"Kia" Panggilan Alesha membuat Zakia mengangkat pandangan dari layar ponselnya.


"Butuh sesuatu? " Alesha menggeleng pelan.


"Kamu gak pulang dulu? Zidan gimana? " Alesha hanya merasa tak nyaman pada Zidan.


"Kia udah telfon Mas Zidan kok. Kia disini sampai salah satu anggota keluarga kita datang. Takutnya Kak Yash ada jadwal operasi mendadak, nanti Kakak sendirian kalau Kia tinggal pulang" Jelas Zakia.


"Sini" Alesha merentangkan tangannya, kode untuk Zakia agar masuk ke dalam pelukannya. Zakia hanya tersenyum dan berjalan mendekat ke arah sang kakak.


Yash hanya bisa tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu. Alesha dan Zakia terlihat mirip dari segi wajah, namun interaksi keduanya terlihat cukup canggung untuk hubungan kakak dan adik. Zakia malah terlihat seperti adik kandung Tania dari segi interaksi.


"Terimakasih sudah selamat, terima kasih sudah mau kembali dan menerima kita dibagian hidup kamu. Kakak gak bisa bayangin gimana Mama kedepannya kalau kamu gak kembali" Alesha mulai terisak di pelukan sang adik.


Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Zalia saat dua permata berharganya direnggut secara bersamaan. Aryo yang kembali pada pangkuan pencipta, dan Zakia yang menghilang saat kecelakaan itu terjadi. Bahkan Zalia tetap mencari keberadaan Zakia meskipun belasan bahkan puluhan tahun terlewati.


Hingga Zalia memutuskan menikah dengan sahabatnya, Riski. Itupun dengan bujuk rayu Alesha yang tak tega melihat sang mama terus menerus melamun.


"Tak perlu berterima kasih, Kak. Itu adalah kewajiban Kia, terima kasih karena kalian mau menerima dan percaya pada Kia. Bahwa Kia adalah bagian dari kalian, tak mempermasalahkan apa status Kia saat itu"


"Hanya orang bodoh yang tak bisa melihat copyan papa dan mama pada diri kamu, Kia. Kamu adalah jiplakan nyata papa dan mama. Kakak bersyukur kamu kembali, Kakak bisa melihat papa hidup dalam diri kamu. Itu cukup mengobati rasa rindu kakak pada papa"

__ADS_1


__ADS_2