Janda Kembang

Janda Kembang
Extrapart 6


__ADS_3

''Abang butuh penjelasan mu sayang!'' tukas Reza dengan menatap tajam pada Rani.


Cup!


Bukannya takut, Rani malah mengecup pipi Reza saking senangnya. Karena melihat wajah Reza yang begitu bahagia saat ini.


Marah namun tersenyum melihat Rani.


Rani tersenyum. ''Tentu! Tapi dirumah ya? Tidak disini! Aku harus periksa dulu, Abang! Awas ih!'' gerutu Rani.


Reza tersadar, dengan segera ia mengurai pelukannya dari tubuh Rani dan tersenyum kaku pada dokter Rina.


Dokter Rina terkekeh melihat tingkah Reza. Dengan segera Rani diperiksa, setelah itu diberikan resep dan vitamin.


''Ini resep untuk mual jika Bu Rani yang mengalami mual.'' imbuh nya sambil terkekeh. Reza mendelik tak terima.


Rani terkekeh lagi. ''Kamu punya hutang sayang sama Abang!'' tukas Reza dengan tajam.


Rani terkekeh lagi. ''Siap Bos!'' Rani memberi hormat pada Reza.


Dokter Rina tertawa melihat tingkah pasangan itu. Ia ikut bahagia karena melihat pasiennya itu berhasil dengan uji coba yang ia terapkan selama tujuh bulan lamanya.


''Minum vitamin tepat waktu. Sebulan kembali lagi untuk kontrol. Selamat untuk Bu Rani dan Pak Reza. Saya salut dengan perjuangan istri anda, Pak. Ia wanita yang begitu mencintai anda. Ia rela bolak balik kerumah sakit untuk menanyakan penyakit anda kepada dokter khusus. Dan Alhamdulillah, usaha tidak menghianati hasil. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua.'' imbuh Dokter Rina dengan tersenyum manis.


Rani pun ikut tersenyum, ''Sama-sama dokter. Tanpa Anda apalah saya! Saya hanya orang biasa yang tidak memilki ilmu tentang penyembuhan, tapi kalian punya. Maka dari itu saya berusaha untuk menyembuhkan suami saya melalui kalian semua. Kalian adalah perantara untuk kami berdua. Terimakasih Dokter.''


''Sama-sama Bu Rani. Sudah menjadi tugas kami untuk membantu pasien yang membutuhkan bantuan langsung dari kami. Itulah tugas dokter yang sebenarnya.''


''Kalau begitu kami permisi dokter. Suami saya sangat penasaran dengan apa yang saya lakukan selama ini.'' ucap Rani sengaja untuk mengejek Reza. Reza menatap tajam pada Rani.


Dokter Rina terkekeh. ''Silahkan.''


Dengan segera mereka keluar dari ruangan dokter Rina dan menuju parkiran untuk pulang kerumah.


Tiba disana, sudah ada ibu Saras yang menunggu mereka dengan cemas.


Melihat sang ibu mondar-mandir tak jelas, Rani tersenyum. ''Assalamualaikum... ibu. sudah pulang?'' ucap Rani dengan segera mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.


Di ikuti oleh Reza di belakang Rani. ''Waalaikum salam. Loh? kamu kenapa nak? Kok pucat? Sakit?'' tanya ibu Saras pada Reza.

__ADS_1


''Tidak, Bu.. hanya kurang enak aja badan nya.'' Sahut Reza.


Sementara Rani sudah berjalan duluan ke meja makan untuk membuat susu jahe untuk sang suami. Ibu Saras dan Reza juga ikut ke dapur dimana Rani sedang berkutat dengan susu dan jahe yang akan ia buatkan untuk Reza.


Tiba di dapur, Reza duduk ditemani oleh ibu Saras. Bertepatan dengan adik sepupu Reza juga menuju dapur untuk mengambil minum karena haus.


Dengan tiba-tiba perut Reza bergejolak. Rasa mual itu sudah sampai di lehernya. Perutnya seperti di aduk-aduk.


Ia berlari dengan menutup mulut dan menuju westafel di dekat Rani. ''Hueeekkk... hueeekk... hueeekk... hueeekk.. brrrtthhh... hueeekk...'' suara muntahan Reza menggema di ruangan dapur keluarga mereka.


Ibu Saras terkejut melihat Reza muntah-muntah seperti itu. Sementara Rani, ia dengan segera memijit tengkuk Reza hingga Reza selesai muntah.


Dirasa reda, ia mencuci mulutnya dan mengelap dengan hijab Rani. Lalu memeluk tubuh yang selalu membuat nya nyaman.


Adik sepupu Reza yang berdiri di belakang ibu nya, bibi Kasmi tertawa terbahak. ''Abang ngidam! Kak Rani pasti sedang hamil saat ini! hahahaha... kena kamu Bang! Kamu yang nyetak, tapi kamu juga yang kena batu nya! hahaha..'' ucap Tia masih dengan tertawa terbahak.


''Hus! hus! Pergi kamu Dek! Abang mual bau tubuhmu! Pergi! jauh-jauh dari Abang! Bau mu sangat tidak enak! Padahal baru saja Abang makan tadi di jalan! Tapi muntah lagi gara-gara kamu! Pergi kamu Tia!!'' seru Reza masih dalam pelukan Rani.


Rani hanya bisa tersenyum meringis melihat keluarga nya telah berkumpul disana. Di dapur.


Fatih yang baru saja tiba pun ikut nimbrung. ''Lah. kamu kenapa Za? Kok berpelukan gitu? Kayak Teletubbies aja! Ingat za! Ini di dapur loh..'' ucap Fatih.


Dengan segera ia melepaskan pelukannya dari tubuh Rani dan mengarah pada westafel lagi.


''Hueeekkk... hueeekk... hueeekk..'' Reza muntah kembali.


Ia begitu lemas saat ini. Ibu Saras terkejut melihat Reza muntah-muntah seperti itu. Sementara Fatih melongo melihat Reza.


''Kamu kenapa Dek? Yang kayak orang ngidam aja!'' ucap Fatih dengan segera menenggak minuman yang sudah ada di tangan nya.


Mengingat tentang ngidam, ia juga pernah mengalami hal yang sama seperti Reza. ''Heh? Kamu hamil Dek? Reza ngidam??'' tanya Fatih dengan raut wajah terkejut.


''Hueeekkk... hueeekk...''


Brruukk..


''Abang!!! Astagfirullah!!'' pekik Rani.


Reza terjatuh dengan mata terpejam. Sementara Fatih semakin melongo melihat sang adik seperti itu.

__ADS_1


Tia semakin tertawa terbahak-bahak melihat kakak sepupu nya jatuh dilantai dengan mata terpejam.


''Bang Fatih! Bantuin ih!'' sungut Rani dengan kesal. Karena melihat Fatih yang terbengong saja melihat Reza. Bukannya di bantuin.


''Hah? Oh iya! Kita bawa ke kamar kamu saja. Ini benar-benar menyusahkan! Badan Segede gaban gini bisa tepar! Hadeuhhh.. tuh cebong nakal amat yak?''


Plak..


''Allahu Akbar!! Sakit ibu! kok di pukul sih?! Berat inihh..'' keluh Fatih pada ibu Saras.


Ibu Saras mendelik menatap Reza. ''Hehehe.. santai Bu .. santai..'' ucapan Fatih, dengan segera ia merebahkan Reza di ranjang tidur milik Mereka yang sudah di ubah oleh Reza satu tahun yang lalu.


Kamar tidur yang ranjangnya sudah di gantungkan kelambu tipis di setiap sisinya. Berwarna pink muda kesukaan Rani. Tapi untuk sekarang, menjadi warna putih.


Sesuai dengan keinginan Reza. Rani duduk disisi ranjangnya. Dengan ibu Saras duduk di kepala ranjang dekat dengan Reza.


''Kamu hamil Nak?'' tanya ibu Saras pada Rani.


Rani tersenyum dan mengangguk, ''Ya. Sudah delapan minggu, Ibu. Baru saja tadi pulang dari rumah sakit untuk periksa.'' imbuh Rani dengan tersenyum manis pada Ibu Saras.


Ibu Saras terharu. Ia memeluk Rani dengan menitikkan air mata. ''Alhamdulillah ya Allah... Allah mengabulkan doa ibu, Nak.. ibu pulang


ke Bogor selama dua bulan ini bukan hanya untuk meninjau perkebunan kita yang ada disana, tapi ibu juga singgah di satu pesantren mendoakan kalian berdua. Alhamdulillah... Allah mengabulkan doa ibu. Ini berita bagus! Ibu akan mengundang anak yatim kerumah kita untuk mendoakan kalian berdua. Alhamdulillah ya Allah... akhirnya aku punya cucu!'' pekik Ibu Sarada begitu senang.


Rani tertawa melihat sang ibu begitu bahagia. Reza yang pingsan sebentar, kini sudah sadar kembali. Ia pun ikut tersenyum melihat ibu Saras begitu senang karena berita kehamilan nya.


''Sehat-sehat ya nak? Sampai nanti kamu keluar untuk bertemu dengan Nenek!'' serunya begitu senang. Ia mengelus perut Rani dengan lembut.


Rani terkikik geli. ''Bukan satu Ibu.. tapi dua!'' celutuk Reza membuat Tia dan Fatih terkejut.


''Apa?! Dua?!'' pekik mereka bersamaan.


Reza dan Rani terkekeh. Sementara ibu Saras sudah menangis tersedu di pelukan Rani.


''Emang banget lu ya Za! Kalah Abang dari elu! Gue sekali cetak cuma dapat satu. Setahun kemudian baru dua. Lah Elu? Sekali nyetak langsung gol Dua!! Woww... your so amazing Za!!! Selamat! Selamat adikku yang tampan ini sebentar lagi akan menjadi Papa! Selamat Za! Abang bangga pada mu!'' ucap Fatih begitu senang, ia memeluk Reza dan menepuk-nepuk pundaknya saking bahagianya.


Semua yang ada disana ikut merasakan kebahagiaan yang Rani dan Reza rasakan saat ini.


💕💕💕💕

__ADS_1


Semoga nggak bosan ye nunggu nya? 😁


__ADS_2