Janda Kembang

Janda Kembang
Sabar dan Tegar


__ADS_3

''Di ceraikan?? Apa maksudmu Rani??'' tanya Bibi Kasmi


''Ya! aku di ceraikan dengan talak tiga di depan semua orang, termasuk di depan orang tua Bang Fatih, Bude Nia..'' lirih Rani dengan menunduk.


''Ya Allah.. ada masalah apa hingga kau di ceraikan oleh-nya??'' tanya Bibi Kasmi dengan nada suara meninggi.


''Bu... istighfar!'' tegur paman Ali.


''Astaghfirullah... astagfirullah.. astagfirullah.. hufffttt...'' Bibi Kasmi beristighfar, dada nya begitu sesak mendengarnya.


''Ada apa? Kenapa sampai kau diceraikan oleh Fatih? Padahal kalian baru saja Paman nikahkan kemarin??'' tanya Paman Ali.


Sungguh ia belum percaya, jika Rani sudah diceraikan. Dengan talak tiga pula. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya.


Rani menatap Paman Ali yang juga sedang menatapnya.


''Aku diceraikan karena ia mendengar tanpa melihat, dan bertanya kepadaku tentang apa yang aku alami ketika dipasar tadi saat aku berbelanja kebutuhan rumah itu. Saat itu...'' Rani mulai menceritakan kejadian yang di alami nya ketika di pasar.


Tidak di lebihkan tidak juga dikurangi. Semua ia ceritakan tanpa di tutupi sama sekali. Membuat paman Ali dan bibi Kasmi terkejut.


''Astaghfirullah.. siapa yang tega berbuat seperti padamu Rani?? Apakah kamu memiliki musuh??'' tanya Bibi Kasmi.


''Tidak ada Bibi.. selama ini, Bibi kan tau jika Rani tidak pernah keluar rumah kecuali membeli obat ibu atau ke TPA untuk mengajar anak-anak disana. Selebihnya Rani tidak pernah berkeliaran..'' sahut Rani sembari menerawang kejadian saat ia mengajar di TPA di dekat rumahnya.


Bang Reza...


Rani menggumamkan nama Reza di dalam hatinya, berharap pemuda itu datang walau hanya semilir angin saja.


Sedangkan seseorang disana tersentak dari tidur nya. Ia mengusap wajah dan melihat jam di dinding masih pukul 2 dini hari.


Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa gundah di hati.


''Rani... kenapa aku memimpikan Rani?? Apakah terjadi sesuatu dengannya?? Ah sebaiknya aku bangun dan sholat tahajud. Lebih baik aku meminta kepada pemilik ku dan Rani, agar melindunginya dimana pun ia berada.'' imbuhnya pada diri sendiri sembari berlalu untuk mengambil wudhu di kamar mandi.


Setelah nya ia sholat dua rakaat dan berdoa. Tak lupa ia selalu menyebutkan Rani di dalam setiap doanya.


Rani memejamkan matanya saat merasakan ketenangan hadir setelah menyebut nama Reza.


Paman Ali dan Bibi Kasmi heran melihat Rani seperti itu.

__ADS_1


Dimana pun kamu berada Bang.. ingatlah aku disini.. aku sangat membutuhkan bantuan mu.. untuk mengungkapkan kasus kematian Ayah.. semoga Abang datang kesini ya.. aku menunggu mu..


Sampai kapan pun aku akan tetap menunggumu.. Bang Reza..


''Rani...'' panggil Bibi Kasmi.


''Eh?'' Rani membuka matanya saat mendengar suara Bibi Kasmi memanggil nya.


''Sekarang apa yang akan kau lakukan Rani?? Setelah ini pasti akan banyak hujatan tentang mu! Apakah kau sanggup menghadapi lingkungan kita yang selalu menghujat seorang janda??'' Tanya Bibi Kasmi lagi.


''Sekarang aku harus pulang kerumah Ibu, Paman. Karena tidak mungkin bagiku tinggal disini sedangkan Ibu sangat membutuhkan ku. Aku tau Ibu seperti apa Paman. Aku pun sadar. Semua ini terjadi karena tidak direstui olehnya. Tanpa restu orang tua, apalah kami.. Jika mereka menghujatku, biarkan saja! Toh, selama ini aku sudah cukup menerima penghinaan dan gunjingan dari mereka. Mereka selalu bilang, jika aku punya Ibu gila, Ibu pembawa sial! Penuh dengan kutukan! dan masih banyak lagi.'' ujar Rani.


Membuat Bibi Kasmi menghela nafasnya. Begitu juga dengan Paman Ali.


''Kamu yang sabar ya, Nak.. semua ini adalah cobaan untukmu! di balik kejadian ini pasti ada hikmah yang tersimpan didalam nya.'' ucap paman Ali.


Rani mengangguk. ''Ya. aku harus tegar dengan semua keadaan ini. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Karena kehidupan ku masih panjang. Tanpa dia pun aku masih bisa hidup. Terlepas tetangga yang akan mengatakan diriku, aku tak peduli. Toh, yang mengalami semua ini adalah aku. Apa peduli mereka? Aku tidak bisa menutup mulut mereka untuk tidak berbicara. Karena mereka punya telinga untuk mendengar. Jadi.. buat apa pusing-pusing mikirin mereka. Yang rugi kan mereka sendiri??'' jelas Rani.


Paman Ali tersenyum begitu juga dengan Bibi Kasmi.


''Kami tau.. jika kau adalah wanita pilihan. Mungkin Fatih bukanlah jodoh mu! Tidak menutup kemungkinan kan jika Reza yang akan menjadi jodoh mu berikutnya??''


Rani terkejut dengan ucapan Bibi Kasmi. Sedangkan paman Ali melotot memandangi Bibi Kasmi.


Aduh... keceplosan euuy..


''Apa maksud bibi dengan Bang Reza yang akan menjadi jodoh ku??'' tanya Rani dengan menatap lekat Bibi Kasmi.


Bibi Kasmi salah tingkah. ''Hehehe.. Bibi salah ngomong Nak.. jangan di dengarkan ya.. Bibi hanya iseng saja..'' lirih Bibi Kasmi serta Memandangi paman Ali yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.


''Ya sudah, ayo Paman antar kamu kerumah ibumu! Beliau pasti sudah menunggu mu disana! Karena Paman tau seperti apa Kakak ipar ku itu!'' ucap paman Ali dengan sedikit senyum misterius di bibirnya.


Bibi Kasmi mendelik menatap suaminya. Sedang yang di tatap cuek aja. Ia kemudian berlalu dan pergi ke garasi untuk mengambil motornya.


''Ya sudah, kalau begitu Rani pamit Bi.. salam saja sama Ika dan Zidan.'' imbuhnya sembari berdiri dan berjalan keluar dimana Paman Ali sudah menunggunya.


''Ya.. kau harus sabar! Hadapi semua ini dengan lapang dada. Di balik sebuah ujian pasti ada kebahagiaan yang akan menanti mu nantinya. Tetap tegar dan selalu tawakal ya, Nak.. doa Bibi selalu menyertai mu..'' ucap Bibi Kasmi seraya memeluk Rani dengan erat.


''Terimakasih Bibi.. Rani pamit. Assalamualaikum..''

__ADS_1


''Waalaikum salam.. hati-hati! salam untuk ibu mu! Kakak ipar ku, Mbak Saras.'' sahut bibi Kasmi sambil melambaikan tangannya ke Rani.


Rani tersenyum. ''Ya. nanti Rani sampaikan!''


Setelah nya mereka berdua pergi ke tempat semula Rani tinggal. Sekarang antara dirinya dan Fatih sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.


Rani harus sabar dengan semua ujian ini. Mencoba untuk tegar, walau terkadang terasa sulit.


Biarlah semua ini berjalan seperti biasa. Mungkin jodohnya dengan Fatih memang cukup sampai disini saja.


Sesampainya dirumah Rani yang dulu, ia melihat seseorang sedang berdiri di depan pintu dengan mata terus menatap ke mereka.


Saat tiba disana, Paman Ali berdiri mematung demikian juga dengan Rani.


''Kamu pulang Nak?? Ya Allah.. Engkau telah mengabulkan doaku.. anakku selamat dari para pembunuh itu.. hiks.. hiks...'' ia menangis sembari berlari memeluk Rani.


''Anakku... anakku.. putriku... putriku sudah kembali! Kau tau Nak?? Selama dua hari ini, ibu tidak bisa tidur karena selalu memikirkan mu! Apakah kau baik-baik saja saat berada di rumah itu?? Dimana putraku? Kenapa ia tidak datang lagi kemari?? Kemarin sebelum ia pergi untuk keluar negeri, ia sempat bertemu dengan ibu. Ia mengatakan jika kau akan baik-baik saja disana. Alhamdulillah.. anakku telah kembali...'' racau ibu Saras masih dengan memeluk Rani begitu erat.


Rani mematung mendengar kata 'putraku'.


''Siapa?? Yang mana putra ibu??'' tanya nya dalam hati.


Rani menatap Paman Ali. Paman Ali pun sama ia masih berdiri mematung disana melihat kakak ipar nya keluar rumah.


''Ali??''


''Hah??''


''Ayo masuk! Mbak udah masak! karena Mbak tau, jika Rani akan pulang hari ini! Ayo.. oh iya Ali?? Mana putra ku?? Apakah ia sudah memberi kabar pada mu jika ia akan datang setelah masa lah nya selesai??'' tanya ibu Saras sembari menatap Paman Ali.


''I-it-itu...''


💕


Holaaa.. othor kembali lagi nih.. hehehe..


Nantikan terus ya kelanjutannya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2