
Setiap hari Rani selalu menemani Reza ke kantor. Setelah mual-mual hari itu, kini mual itu semakin meningkat.
Tiap kali bangun tidur, Reza pasti muntah-muntah. Hanya karena mencium bau susu. Padahal dulu, setiap hari nya Reza selalu minum susu buatan Rani yang dicampur dengan obat kesuburan.
Hanya Rani yang tau itu. Dan ya, hari ini Reza mual lagi hingga membuat Rani kewalahan. Akhirnya ia putuskan untuk ke dokter saja setelah pulang kantor nanti.
Semua yang ada di kantor melihat Reza mual-mual seperti itu. Mereka keheranan. Tak biasanya Presdir mereka muntah-muntah saja.
Ada yang menebak jika istri Presdir mereka sedang hamil. Isu jika Rani sedang hamil pun sampai ke telinganya.
Rani menerka-nerka, apakah benar seperti dugaan mereka, tapi kenapa Reza yang mual muntah?
Bingung akan hal itu, Ia mengingat, jika sudah sebulan lebih ini Rani tidak mendapatkan tamu bulanan yang membuat Reza akan uring-uringan karena tidak bisa mendapatkan jatah dari Rani.
Mengingat itu dengan segera ia mengambil kalender untuk memastikan. Matanya membulat sempurna saat melihat tanggal yang seharusnya tamu bulanan nya datang, kini malah terlewati.
Ia sering mengkolom dengan pulpen warna merah setiap tanggal ia mendapat kan tamu bulanannya.
Dan ini? Kolom itu tidak tertera disana. Mulutnya menganga. Hingga membuat Reza terbengong-bengong.
''Kamu kenapa sayang?'' tanya Reza karena melihat Rani dengan mulut menganga menatap ke kalender.
''Hah? Iya! Sore ini kita ke rumah sakit, Bang! Aku mau periksa!'' sahutnya begitu senang.
''Periksa? Periksa apa? Kamu sakit?'' tanya Reza yang saat ini masih tiduran di pangkuan Rani di dalam ruangan Presdir AR Group.
Rani tersenyum manis, manis sekali. Membuat Reza merasa heran dengan tingkah Rani.
''Aku nggak sakit Abang! Udah, tiduran aja! Nanti ku bangunin kalau udah waktunya pulang ya?'' jawab Rani lagi masih dengan senyum tersungging di bibir tipis yang membuat Reza selalu candu.
''Ya, sudah. Abang tidur ya? Ngantuk banget ini.. hooaaamm.. emm.. nyaman nya tidur di pelukan mu sayang! Heemmm..'' gumam Reza dengan cepat mata itu tertutup rapat.
Sementara Rani terkekeh melihat tingkah Reza. ''Kamu akan senang Bang dengan berita ini. Ini yang sedari dulu kamu tunggu-tunggu, akhirnya Allah memberikan nya untukmu, sayangku! Aku sangat mencintaimu Bang Reza. Sangat mencintai mu. Cup!'' Bisik Rani di telinga Reza. Ia mengecup sekilas pipi Wajah tampan yang sedang terlelap dipangkuan nya itu.
Reza tersenyum dalam tidurnya. ''Abang juga sangat mencintai mu sayangku. Sangat mencintai mu..'' bisik Reza dalam hati.
Sore harinya.
Pulang dari kantor, Rani dan Reza tidak pulang kerumah. Padahal rumah sudah menelpon jika ibu Saras telah kembali dari Bogor untuk memantau perkebunan milik mereka disana.
Rani dengan segera menarik tangan Reza untuk masuk kerumah sakit Adam Malik Medan.
Tiba disana Rani mendaftar untuk periksa kandungan. Reza tercenung melihatnya. Ia melihat wajah Rani yang begitu bahagia.
''Apakah Rani hamil?'' gumam Reza dalam hati. Sedari di kantor, istrinya itu tidak berhenti untuk tersenyum membuat Reza menebak jika itu memang benar.
Seutas senyum terbit di bibir tipisnya. Namun dengan sekejap senyum itu surut kembali karena mengingat penyakitnya yang tidak memiliki keturunan.
Mata Reza berkaca-kaca. Ia memegang tangan Rani dengan erat. Rani pun sebaliknya.
Saking senangnya dengan pemikiran nya sendiri, Rani melupakan Reza yang sedang menangisi takdir hidupnya.
__ADS_1
Tiba di depan ruang periksa dokter obigyn, Reza tercenung lagi. Apakah ini benar? Jika tidak, bagaimana?
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di otaknya saat ini. Ia tak sanggup membayangkan jika semua itu hanya fatamorgana.
Ya, fatamorgana!
Reza menghela nafasnya. Ia usap bulir bening yang tiba-tiba saja turun ke pipinya tanpa ia sadari.
Sementara Rani, tangannya semakin dingin. Jantungnya berdegup tak beraturan. Tibalah kini perawat memanggil nama Rani.
''Ibu Aisyahrani?''
''Ya, saya disini!'' sahut Rani.
''Mari masuk Ibu? Sekarang giliran Anda!''
''Oh, baik lah! Ayo, Bang! Kita masuk!'' ucap Rani pada Reza. Reza hanya mengangguk patuh. Wajah itu datar tanpa ekspresi.
Mereka masuk dan bertemu dengan dokter wanita. ''Selamat sore Ibu Rani? Wuuaah.. roman-romannya ini ada kabar bagus?'' pancing dokter Rina yang ternyata selama ini tempat Rani konsultasi.
Rani terkekeh. ''Dokter tau saja ya? Hem.. baiklah. Seperti yang saya katakan dulu, ini sudah lewat dari tanggal dokter! Apakah tebakan saya ini benar?'' tanya Rani begitu sumringah.
Berbeda dengan Reza, wajah itu datar. Sengaja, untuk jaga-jaga. Jaga hati agar tidak kecewa lagi akan kenyataan yang sedang di inginkan Rani.
Melihat wajah Reza yang sendu, dokter Rina terkekeh kecil. ''Tenang Pak Reza. Istri anda ini tau semuanya. Dialah yang berjuang untuk anda selama berapa bulan ini. Saya bisa menebaknya dari wajah anda. Apakah anda yang mengalami morning sick? mual muntah tiap pagi, dan hanya ingin bersama Ibu Rani saja?'' tanya dokter Rina masih dengan senyum di bibirnya.
Rani terkekeh geli. Sedangkan Reza kebingungan. ''Dari mana anda tau, jika saya mual muntah setiap pagi?'' selidik Reza.
Deg!
Reza terkejut. ''Apa?! Nggak! Nggak mungkin istri saya hamil! Secara saya kan-,''
''Apa yang mustahil bagi kita manusia tapi tidak bagi Yang maha kuasa. Jika Dia sudah berkehendak, maka apapun itu pasti terjadi!''
Reza menggeleng kan kepala nya lagi. ''Nggak! saya tetap tidak percaya! Bisa saja itu cuma gejala masuk angin?'' ucapnya Keukeh pada pendiriannya.
Dokter Rina tersenyum. ''Untuk membuktikan jika tebakan saya benar, mari Ibu Rani berbaring di ranjang itu. Agar saya bisa memeriksanya langsung! Mari Bu?''
Rani tersenyum dan mengangguk. Ia menarik tangan Reza untuk berdiri di depannya. Setelah itu dengan segera Rani berbaring, dan seorang perawat menyingkap baju Rani dan menutupnya dengan selimut di bagian kaki.
Ia mengoleskan gel di perut Rani. Dengan segera dokter Rina meletakkan alat USG di perut Rani.
Ia menggerakkan alat kursor itu di perut Rani. Reza masih diam. Tangan nya begitu erat di pegang oleh Rani.
Tiba di tempat yang dituju oleh kursor, Dokter Rina tertawa. Rani pun ikut tertawa namun air mata itu mengalir dengan deras.
Reza terkejut melihat Rani tertawa namun menangis. ''Sayang! Kamu kenapa? Sakit kah perutnya? Dokter!'' panggil Reza dengan panik.
Dokter Rina masih saja tertawa. Matanya fokus pada layar monitor berwarna hitam keabuan itu.
Disana menunjuk kan ada dua kantung janin. Rani semakin tersedu. Reza memeluknya dengan erat.
__ADS_1
''Dokter!'' Seru Reza.
''Hiks, Abang! Kita akan punya bayi! Dua Bang! Dua!'' seru Rani dalam pelukan Reza.
Deg!
Reza membeku. Matanya menatap Rani yang sedang terisak namun tersenyum melihat padanya.
Reza menoleh pada dokter Rina. Dokter Rina mengangguk sambil terus tersenyum pada pasiennya itu. ''Selamat Pak Reza! Istri anda sedang mengandung delapan minggu! Bukan hanya satu. Tapi dua calon bayi kalian!''
Ddddduuuaaarrrr...
Reza tersentak, tubuhnya oleng jatuh kebelakang dan menimpa peralatan medis milik dokter Rina.
Praaanggg..
Bbrruuaaakkk..
''Allahu Akbar!! Abang!!!''
''Pak Reza!!!!'' pekik Rani dan dokter Rina bersama an.
Dengan segera Rani turun dan mendekati Reza yang semakin pucat wajahnya. ''Sayang!'' bisik Rani di telinga Reza.
Reza menoleh. ''Sayang? I-ini cu-cuma mi-mimpi kan ya?'' tanya Reza dengan air mata yang sudah beruraian.
Rani menggeleng, ''Nggak sayangku! Ini bukan mimpi! Ini beneran! Rani hamil! Hamil anak Abang! Anak kita! Anak yang selama ini Abang tunggu! Sekarang ada di rahim Rani, Abang!'' Seru Rani dengan memeluk Reza begitu erat.
Reza terisak. Ia memeluk Rani lebih erat lagi. Matanya basah karena air mata yang tidak mau berhenti.
''Bagaimana mungkin sayang! Abang kan mandul?'' tanya Reza pada Rani. Ia mengurai pelukannya agar bisa melihat wajah Rani.
Rani tersenyum walau air mata terus bercucuran. ''Nggak sayang! Abang nggak mandul! Abang hanya sakit. Sekarang sakit Abang sudah sembuh! Buktinya, Rani hamil kan?''
Reza memeluk Rani lagi. Ia tertawa namun air mata terus bercucuran. Dokter Rina dan perawat nya terharu melihat itu.
Ia menyeka sebulir bening yang mengalir di sudut matanya. ''Berterimakasih lah kepada istri Anda, Pak Reza. Karena berkat perjuangan nya selama kurang lebih tujuh bulan ini akhirnya membuahkan hasil. Bukan hanya satu. Tapi dua sekaligus! Subhanallah .. begitu besar kuasa Mu Allah. Bahkan yang divonis mandul pun bisa hamil berkat doa dan usaha seorang istri yang begitu tulus ingin membuat suaminya bahagia.'' ucap Dokter Rina.
Reza menoleh pada Rani. ''Abang butuh penjelasan mu sayang!'' tukas Reza dengan menatap tajam pada Rani.
Cup!
Bukannya takut, Rani malah mengecup pipi Reza saking senangnya. Karena melihat wajah Reza yang begitu bahagia saat ini.
Rani tersenyum. ''Tentu! Tapi dirumah ya? Tidak disini! Aku harus periksa dulu, Abang! Awas ih!'' gerutu Rani.
Reza tersadar, dengan segera ia mengurai pelukannya dari tubuh Rani dan tersenyum kaku pada dokter Rina.
💕💕💕💕💕
Bonus dari othor buat bang Reza! hihihi..
__ADS_1