Janda Kembang

Janda Kembang
Di bohongi


__ADS_3

aMereka tiba dirumah baru milik Rani yang ia beli lima bulan yang lalu. Saat ini ia sedang duduk di balkon kamarnya seorang diri.


Menatap pekatnya malam yang berhiaskan awan mendung. Seperti mendung hatinya saat ini.


''Tega kamu Bang membohongiku! Apa kata mu dulu! Kamu serius dengan ku? Sedang tujuan mu adalah ingin melenyapkan ku? Untuk apa kamu meminta maaf padaku! Hiks.. Ayah.. Rani nggak kuat...'' rintih Rani.


Siapa yang sanggup berhadapan langsung dengan orang yang begitu kita cintai ? Orang kita cintai ternyata musuh di balik semua kejadian nya selama ini.


''Aku mencintaimu setulus hatiku Bang! Ku pikir kau tidak sama dengan nya? Namun apa? Kau membohongiku! Jahat kau Bang!! Jahat!!'' pekik Rani di atas balkon kamarnya yang menghadap ke arah jalan komplek perumahan mereka.


Seseorang mengepalkan tangan nya begitu erat. Ingin rasanya ia menemui gadis itu. Tapi itu tidak mungkin.


Mendengar keluh kesah Rani, membuat hatinya seperti di cabik-cabik. Ia menatap datar pada seseorang yang menangis disana.


''Aku menginginkan mu? Apakah Abang tidak menginginkan ku sama sekali? Kenapa? Apa alasannya?! Hiks.. sakit..'' rintihnya lagi sambil memukul dadanya kuat.


Pemuda itu tidak bisa berbuat banyak. Karena sekarang ia harus berdiri di tengah. Diantara dua pilihan untuknya sekarang.


Rani menatap keluar balkonnya. Matanya memicing saat melihat seseorang yang begitu ia kenal berada disana.


Ingin memanggil, tapi dengan segera pemuda itu pergi. Ia menutup kepalanya dengan Hoodie yang ia kenakan.


Setelah itu ia berlalu menjauh dari rumah itu. Tiba disana, ia menatap datar pada orang itu. Ia tersenyum mengejek. ''Sudah puas??''


''Ya,'' sahutnya datar.


''Ayo kita pulang! Terlalu lama disini, akan membuat curiga mereka semua!'' imbuh nya.


Dengan segera ia masuk ke sisi kiri mobil Pajero sport warna putih miliknya. Dengan orang itu mengemudi kan mobil miliknya.


Ia menyandarkan kepalanya di jok mobil. Matanya mengembun. Tanpa di pinta buliran bening itu mengalir di pipinya.


Orang itu menghela nafasnya. ''Sabar.. semua ini butuh waktu. Setelah semuanya usai, kamu akan segera bersatu dengannya. Sebelum semua ini selesai, tetaplah seperti ini.''


''Mudah bagimu mengatakan nya! Tapi aku yang merasakan sakit tiada Tara di hatiku! Sakit! Sakit sekali! Melihat nya harus menangis seperti itu! Aku nggak kuat! Aku nyerah.. biarkan kami mati saja! Ambillah semuanya untuk kalian! Aku ikhlas! Begitu pun dengan nya...'' lirihnya begitu pilu.


Orang itu hanya bisa menghela nafasnya. ''Sebentar lagi! Tunggu sebentar lagi! Besok, kamu harus ke kantor! Periksa semua berkas itu dengan teliti jangan ada yang terlewat. Sedikit saja kamu salah dalam menilai angka di dokumen itu, maka hancurlah semuanya. Hancur semua yang telah kita rencanakan selama ini Dek .. Bersabarlah! Tahan hatimu! kebalkan telinga mu untuk mendengar keluh kesahnya. Semua ini tergantung pada mu Dek.. selebihnya nanti biar itu menjadi urusannya! Tugas kita hanya membantu nya! Biarlah kita di tuduh seperti ini! Aku ikhlas! Aku rela! Asalkan kalian berdua bisa bersatu.'' imbuh ya lagi.

__ADS_1


Semakin membuat nya terisak. Bohong jika hatinya tidak merasa kan sakit. Tapi inilah pilihan nya.


Sementara Rani, ia terus terisak di tempat ia berdiri tadi. ''Kamu datang?? Tapi kenapa tidak menemui ku? Segitu tidak inginkah kamu terhadap ku? Hiks.. tega kamu!'' lagi dan lagi ia merintih.


Seseorang disana terus menebalkan telinganya mendengar rintihan kekasih hati. ''Aku kuat!'' gumamnya.


Puas dengan menangis hingga mata membengkak, kini ia duduk merenung di tepi balkon.


Udara cukup dingin malam ini, tapi ia tak peduli. Sekilas ingatan nya dimasa lalu saat Lana memanggil nya dan memberikan sambungan ponsel itu padanya.


Flashback


''Buk.. ibukkk... Buk Ai.. Buk Rani iiii...'' panggil Ira dan Lana.


Rani yang baru saja selesai sholat terkejut mendengar jeritan Ira dan Lana yang memanggil nya begitu kencang.


''Ada apa ini??'' kata Rani saat ia sudah menemui dua anak itu.


''Papi mau ngomong sama Ibuk! Nah!'' ujarnya, sembari memberikan ponsel milik Alisa pada Rani.


''Ibuk? Kenapa?'' tanya nya.


''Bicara di kamar aja Buk.. kata Papi, itu penting dan tak boleh di ketahui oleh siapapun!''


Rani mengangguk. ''Oke!''


Setelahnya ia berlalu menuju balkon kamar nya yang berada di rumah Alisa. ''Assalamualaikum Gilang..''


''Waalaikum salam Mbak.. apa kabar??''


''Alhamdulillah baik.. kamu sendiri??''


''Sedih aku Mbak! Jauh dari istriku! Ingin ngomong sama dia tapi aku tidak bisa! Hiks.. syedih sekali nasibku!'' keluh Gilang dengan seloroh.


''Hahaha.. kamu bisa aja sih! Ayo.. mau ngomong apa? Tadi kata Kakak, kamu mau ngomong penting sama Mbak? Ada apa? Kok Mbak merasa ada sesuatu ya?'' selidik Rani dengan sedikit memicingkan matanya menatap Gilang.


Ternyata Gilang menghubungi nomor istrinya dengan video call. Jadi, Rani bisa melihat wajah serius Gilang saat ini.

__ADS_1


''Bang Reza membohongi kamu Mbak! Baru saja ia menelpon ku. Ia membicarakan rencananya untuk membunuh mu sebentar lagi!''


Deg!


''Apa?! Me-membunuh?? Tapi kenapa??'' tanya Rani dengan wajah terkejut nya.


Ingin sekali Gilang tertawa melihat wajah Rani. Tapi demi seseorang ia terpaksa melakukan ini.


''Ya, membunuh mu Mbak! Aku nggak tau kenapa dan ada apa. Yang jelas sebentar lagi ia akan menjebak mu untuk mau ikut dengannya ke Bogor! Tiba disana, ia akan membunuhmu di depan rumah kedua orang tua nya.'' ujar Gilang masih dengan wajah seriusnya.


''Astaghfirullah.. ya Allah.. Tega sekali kamu Bang..'' lirih Rani dengan mata berkaca-kaca.


Ingin sekali Gilang mengumpat orang itu sekarang juga karena telah membuat Rani menangis.


''Mbak...''


''Mbak harus apa Gilang?'' tanya Rani masih dengan menangis.


Gilang menghela nafasnya. Ia menoleh pada seseorang itu dan mendengus. ''Sebaiknya Mbak harus berhati-hati dari sekarang. Mulai sekarang, Mbak harus bisa membela diri. Mbak harus melakukan serangan balik padanya nanti. Mbak harus kuat! Lawan dia dengan cinta mu bukan dengan kekuatan! Tapi sebelum itu, Mbak harus menyusun rencana untuk menggagalkan rencana mereka! Mbak mau? Jika Mbak mau, nanti akan Gilang kirimkan orang Gilang untuk mengurus semua ini. Sekarang dia juga sedang berada di Jakarta. Gimana??'''


Rani menyusut bulir bening yang mengalir di pelupuk matanya. ''Ya, Mbak bersedia! Kirimkan segera orang itu untuk ke Bogor. Dia akan Mbak tugaskan disana. Mbak punya uang kok untuk membayar nya! Shuutt... kamu tenang saja!'' sahut Rani dengan sedikit menyusut ingusnya.


Gilang terkekeh melihat itu. ''Ya sudah, simpan nomor ini di ponsel Mbak! Karena kita akan sering berhubungan jarak jauh setelah ini!'' goda Gilang.


Rani mendelik. ''Hanya urusan pekerjaan ya Gilang! Tidak lebih!'' ketus Rani.


Gilang tertawa mendengar ucapan Rani. Begitu juga dengan seseorang itu. ''Ya sudah, Gilang tutup ya Mbak.. Assalamualaikum..'''


''Waalaikum salam Gilang.. hah! Sesak dada ku! Tega-teganya Bang Reza merencanakan ini semua! Aku heran, kenapa pula dia menceritakan perihal ini pada Gilang? Dan juga Gilang, kenapa pula ia memberitahu kan hal ini padaku? Ck! Baiklah.. aku akan berusaha kuat untuk menghadapi ini. Aku juga akan menyusun rencana untuk membalas mereka!'' ketus Rani.


Mulai dari hari ia menerima telepon dari Gilang, hari itu juga Rani memulai rencana nya untuk membalas kejahatan Reza yang akan ia lakukan nanti.


Sebelum itu terjadi, ia harus terlebih dahulu bersiap diri. Demi melindungi dirinya.


Flashback Off.


TBC

__ADS_1


Maaf ya banyak typo. Ini udah othor revisi. Maklum kebut sama si kecil. 😁


__ADS_2