
Setelah berkendara melalui kemacetan yang lumayan hingga satu jam lamanya, kini Rani dan Gilang sudah tiba di tempat Alisa bekerja.
Ya, baru seminggu ini istri Gilang itu sedang membuka usaha membuat kue. Gilang tersenyum melihat istrinya begitu sibuk melayani pelanggan.
Begitu juga dengan putri sulung Alisa. Gilang melihat putranya sedang bermain dengan putri bungsu nya.
Gilang terkekeh, ketika melihat putra nya itu menjahili adiknya.
''Turun Kak.. itu dia disana!'' tunjuk Gilang pada Alisa yang sedang melayani para pembeli.
Rani terkejut. Ia tak sadar jika sudah sampai di tujuan. Rani melihat ke depan, dimana seorang wanita dewasa sedang melayani pembeli.
Rani mematung melihat wanita dewasa yang sangat cantik itu. Senyum nya itu sangat meneduhkan.
Rani menatap Gilang yang sedang menatap istrinya itu dengan tersenyum lebar namun terselip sendu di dalamnya.
Ingin bertanya, tapi takut tersinggung nantinya. Sudah di antar saja, itu sudah sangat cukup untuk nya.
''Kakak bilang aja, jika Gilang yang menyuruh Kakak kemari. Jika ia tak percaya, telpon aja nomor Gilang melalui ponsel nya, Kak. Kakak nggak akan kecewa bertemu dengan istriku! Dia sangat baik dan murah hati terhadap sesama. Hanya saja... takdir tidak berpihak padanya..'' lirih Gilang begitu pelan.
Rani dapat mendengar, jika Gilang mengucapkan itu dengan leher tercekat. ''Gilang.. Mbak nggak tau ada masalah apa antara kamu dan istrimu. Tapi Mbak sangat berterima kasih pada mu, karena telah bersedia mengantar Mbak sampai kesini. Terimakasih Gilang..'' ucap Rani begitu tulus dari hatinya.
Gilang tersenyum. ''Sama-sama Mbak.. aku sengaja membawa Mbak Rani kemari, agar istriku punya teman untuk bicara. Kayaknya Mbak cocok deh dengan nya? Aku melihat ada persamaan diantara kalian berdua.'' Sahut Gilang, kemudian terkekeh geli.
Rani tertawa. ''Kamu bisa saja Gilang! Udah ah! Mbak mau masuk! mau kenalan sama istri kamu! Siapa tau bisa jadi sohib nanti??'' seloroh Rani membuat Gilang tertawa.
Setelah nya mereka terdiam sembari melihat Alisa begitu kewalahan melayani para pembeli.
''Andai aku bisa bersama nya...'' lirih Gilang
Rani menoleh. ''Sabar! jika memang sudah waktunya pasti kamu akan bersatu dengan nya. Mbak tak ingin tau ataupun bertanya pada mu! Tapi melihat dari cara kamu melihatnya, Mbak sudah paham. Sabar Gilang.. semua itu butuh waktu. Cukup ubah diri kamu menjadi lebih baik dan pantas bersanding dengan nya. Saat itu terjadi, Mbak orang pertama yang akan memberi mu selamat!'' ujar Rani membuat Gilang tersenyum, namun sendu.
__ADS_1
''Terimakasih Mbak! Tentu! Aku akan menunggu waktu itu tiba. Mbak.. titip pesan untuk istri ku ya? Katakan padanya, jika aku sangat merindukan nya.. tunggu aku lima tahun lagi. Dan selama itu, aku mohon jangan berubah ..'' sahut Gilang, ia sengaja menitip pesan untuk istrinya itu.
''Kalau boleh Mbak tau, siapa nama istrimu itu?? Kan nggak enak manggil Mbak doang?'' seloroh Rani.
Membuat Gilang tertawa. ''Alisa. Alisa Febriyanti.'' Sahut Gilang dengan tersenyum manis mengingat wajah Alisa.
Rani terkekeh kecil melihat tingkah Gilang. ''Ya sudah Mbak turun ya? Terimakasih Gilang.. semoga kamu sukses nantinya dan kita akan bertemu lagi saat kamu memang benar-benar sudah bisa dan pantas untuk bersama Mbak Alisa. Mbak pamit! Assalamualaikum Dek..'' ucap Rani dengan segera membuka pintu mobil dan berlalu meninggalkan Gilang yang masih menatap Alisa dari kejauhan.
''Waalaikum salam Mbak.. semoga kehadiran mu bisa merubah sedikit suasana hatinya.. Aku sangat mencintai nya.. apapun akan kulakukan agar ia bisa bahagia..'' lirih Gilang.
Rani terlihat memasuki toko Alisa. ''Alisa Bakery??'' ucap Rani saat melihat nama logo toko kue Alisa.
Setelah nya ia masuk dan bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang di jahili oleh Abang nya.
Melihat itu Rani terkekeh geli. ''Assalamualaikum Mbak Alisa...'' ucap Rani sembari mendekati stand penjualan kue Alisa.
Alisa menoleh dan tersenyum. ''Waalaikum salam.. mau makan disini atau dibungkus??'' tanya Alisa dengan senyum teduhnya.
Rani terkejut dan tersenyum kikuk. Karena ketahuan sedang menatap Alisa begitu dalam.
''Saya ingin bicara dengan Mbak sebentar, saya di utus oleh suami Mbak untuk kesini. Katanya, jika Mbak sedang butuh pelayan di toko Mbak ini.'' Ucap Rani membuat Alisa terkejut.
''Suami??''
''Ya, suami Mbak! Gilang! Gilang Bhaskara!''
Deg.
Deg.
''Papiiii!!!'' pekik putra Alisa saat melihat mobil yang begitu ia kenal, jika itu adalah mobil Gilang.
__ADS_1
Rani terkejut. Putra Alisa itu terus berlari ke jalan raya. Membuat Alisa juga ikut berlari.
''Papiiiii... tunggu Abang...'' pekik putra Alisa lagi.
Putri sulung Alisa yang melihat itu, langsung saja mengangkat adik dan menggendong nya. Ia berdiri di sebelah Rani.
''Abang.. udah Nak.. itu bukan Papi sayang..'' teriak Alisa sambil terus mengejar putra nya itu.
Rani mematung melihat Alisa yang sedang berlari mengejar putra nya. Karena tau, jika itu mobil Gilang.
Sedangkan Gilang, menangis sesegukan melihat putra tersayang nya itu berlarian mengejar mobilnya.
''Maafkan Papi, Nak.. belum saat nya kita bertemu..'' lirih Gilang dengan terus menangis.
Seseorang memanggil putri Alisa untuk membayar kue yang tadi sudah diberikan oleh Alisa.
''Dek! ini uang nya?'' kata orang itu.
Putri Alisa menoleh dan tersenyum. Ia melihat Rani yang juga sedang melihatnya. ''Buk.. boleh bantu saya nggak??'' tanya nya.
Rani mengangguk. ''Tentu! Mari Mbak..'' ajaknya pada orang tadi yang membeli kue Alisa
Selesai dengan pembayaran kuenya, kini Alisa juga sudah kembali. ''Mak .. Abang mau Papi Gilang...''
''Papi tidak bisa bersama kita, Nak..''
💕
Hiks.. othor belum move on dari babang Gilang!
TBC
__ADS_1