Janda Kembang

Janda Kembang
Di pancing


__ADS_3

''Tertawalah kalian sebelum tertawa itu dilarang! Tertawa diatas penderitaan orang lain! Itu yang dulu pernah kalian lakukan kepada ayah dan ibuku! Dan hari ini.. aku akan membalas perbuatan kalian berdua kepada kedua orang tuaku! Aku akan membunuh kalian berdua seperti kalian membunuh kedua orang tuaku dulu!''


Deg!


Deg!


''Apa?! Membunuh ku?! Hahaha... Kau tak kan bisa membunuh ku Rani!'' ucap Papa rustam masih dengan tertawa mengejek Rani.


Rani tersenyum sinis. ''Benarkah kau tidak akan mati bandot tua bangkotan?!''


Reza, Fatih dan Karin berikut mama Nia melototkan mata nya saat Rani berani mengejek Papa Rustam.


Reza dan Fatih saling pandang. Sedang Mama Nia ingin sekali menjambak dan mencakar wajah Rani.


''Apa? Tidak suka jika suami mu itu ku katakan seperti itu?! Benar bukan, jika suami mu itu sudah tuir? dan bangkotan! Sok Sokan mau makan aku! Sekali kena kejut listrik saja kamu sudah tepar! Hih! jijik aku melihat mu bandot tua! Ingin Makan pula dia? Kau pikir aku ja laang.. apa?!'' kesal Rani.


Padahal tersenyum jahat dalam hati. Sengaja untuk memancing reaksi ke lima orang yang ada ditangan itu. Hanya di sekatt dengan pembatas triplek tipis saja.


''Diam kau Rani!'' sentak Mama Nia.


''Apa?! Tak suka?!''

__ADS_1


''Dasar pembawa sial! Kau yang menggoda suamiku! Kau yang ja laaang!'' pekik Mama Nia.


Wajah nya memerah seketika. Ingin sekali ia menghajar mulut Rani. Tapi sayang kedua tangan dan kaki mereka sudah terikat kuat dengan tali.


''Aku? Ja laaaangg?? Nggak salah tuh! Yang ada tuh ya, Bude yang begitu! Aku pula yang dikatakan ja laaaangg. Suami bangkotan mu itu yang kegatelan! Kamu tau Bude Nia? bahkan dia ingin memakan ku! Katanya, jika Reza dan Fatih itu kalah Gagah darinya! Pusaka bangkotan nya begitu gagah hingga ingin mencoba apem legit milikku! Cih! Tak Sudi aku!!'' ketus Rani.


Membuat Keempat pasang mata membola bersamaan gegara perkataan Rani yang begitu vulgar. Mama Nia semakin melotot ke Rani.


''Tidak usah kau lototkan begitu matamu! Nanti copot baru tau rasa kau! Kau itu sudah nini-nini. Jadi jangan sok berani melawanku yang masih muda ini! Cih! jijik sekali aku satu ruangan dengan bandot tua bangkotan dan juga istri sialaaaannn nya ini!!'' ejek Rani lagi.


''Kau!!! Diam kau Rani!!!! Berani sekali kau menuduh suamiku!!!! Akan ku bunuh kau! Sama seperti kedua orang tuamu!!! Akan ku habisi siapa saja yang akan menghalangi jalanku! Termasuk kedua putra sialan ku itu!!!'' pekik Mama Nia begitu lantang.


Rani tertawa melihat sikap Mama Nia yang semakin kalap padanya. ''Cih! ternyata sifat lembut mu itu hanya kedok ya Bude Nia?'' ejeknya lagi.


Wajah Mama Nia merah padam. Jika sekiranya ada penampakan, ia pastikan api dan asap yang sedang berada di tubuhnya saat ini.


Ia sengaja ingin mengadu domba istri, suami dan anak itu. ''Hahaha... kau marah padaku Bude Nia? Jangan marah... itu memang benar adanya! Suami tercintamu itu ingin menggauli ku saat aku masuk ke kamar mu tadi sore. Pada saat itu kau jatuh tak berdaya disampingnya karena di bius olehnya! Hahaha.. licik sekali kau Pakde Rustam! Demi ingin merasakan apem legit milikku kau membius istrimu sendiri! Cih! Dasar bandot tua bangkotan!'' tukas Rani lagi.


Ia memang sengaja ingin memanasi kelima orang itu. Karena ia ingin mengambil bukti dari percakapan mereka tentang kejadian dua puluh tahun lalu.


Mama Nia menatap tajam pada Rani. ''Aku tidak percaya dengan ucapan mu!'' ketus Mama Nia.

__ADS_1


''Tidak percaya? Baiklah... akan ku tunjukkan padamu buktinya! Apakah aku disini yang ja laaang atau bandot tua ini? Cih dasar pusaka sudah Karatan! Beraninya ingin menikmatiku! Hoo.. pasti kamu tidak bisa memuaskan nya lagi Bude Nia! hingga dia ingin menikmati tubuhku?? Apa mungkin kamu, Bude Nia yang sudah longgar??''


''Astaghfirullah al'adzim..'' ucap ketiga orang disebelah sana. Mereka bertiga memejamkan kedua matanya.


Rani tertawa dalam hati. Ia terpaksa mengucapkan kata-kata kotor. Demi mendapatkan bukti dari kedua orang ini.


Ia tak perlu harus bersusah payah untuk melenyapkan semua ini. Cukup main halus saja.


Pancing. Dan dapatkan buktinya. Walaupun Rani tau, jika setelah ini Rani akan di buru oleh anggota Papa Rustam.


Ia tetap pada pendiriannya. Toh, semua ini sudah separuh jalan? Tidak mungkin kan mundur lagi?


''Dasar sialaaaannn... pembawa siaaaaaallll...!!! pekik Mama Nia. Sekuat tenaga ia meronta ingin melepaskan diri.


Papa Rustam tersenyum devil melihat Rani. Rani pun sama. Ia menatap suami Bude Nia , bandot tua yang sedang mengejek melalui senyum nya itu.


Dengan segera Rani memutar rekaman yang ia rekam saat masuk kedalam kamar Papa Rustam beberapa saat yang lalu.


💕💕💕💕💕


Nanti lagi ye! 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2