Janda Kembang

Janda Kembang
Tertembak


__ADS_3

''Tubuhmu dingin. Pakai baju Abang.'' titah Reza.


Dengan segera ia membuka baju kemeja miliknya dan ia berikan kepada Rani. Namun belum sempat Rani memakainya, terdengar suara lolongan anj*ng semakin mendekat.


Rani panik, dengan segera ia menarik tangan Reza agar berdiri. Ia tidak sadar jika tubuhnya saat ini terekspos di bagian kedua pinggang nya.


''Bangun Bang! Kita lari. Ayo!'' seru Rani begitu panik. Dengan cepat ia mengeluarkan benda dari sebalik kaos kakinya.


Lagi Reza mematung. ''Dek. Pakai baju dulu-,''


''Itu mereka!'' pekik satu orang dari orang suruhan Papa Rustam. Belum sempat mereka berlari tapi suara tembakan sudah berdenging di seluruh hutan itu.


Dor!


''Allahu Akbar!'' Seru Rani saat merasakan lengannya di terkam timah panas. Rani mendesis menahan sakit.


Reza membeku. Ia mematung melihat darah mengucur dari tangan kirinya. Rani sengaja melindunginya agar tidak tertembak.


Dor!


Dor!


Deg!


''Arrggghhhtttt.. Raniiii...'' pekik Reza semakin terkejut melihat Rani jatuh terkapar dengan mendesis menahan sakit.


''Ya Allah...'' lirih Reza dengan segera ia memeluk Rani. Rani menutup kedua matanya menahan rasa sakit yang terus menjalar di tangan dan kakinya.


Ia membuka mata dan menatap tajam pada beberapa orang yang berdiri di hadapannya itu.

__ADS_1


Mereka semua menertawakan Rani dan Reza. Reza sudah menangis saat ini melihat tubuh Rani bersimbah darah.


Ia memeluk Rani dengan erat. Untuk menutupi tubuh Rani yang tanpa memakai baju hanya tertutup hijab saja.


''Rasain lu! Mampus lu! emang enak, kita tembak? hahaha...''


Rani menatap tajam pada mereka semua. ''Weeiisstt.. tajam amat mata elu! usah melotot napa! Gantian atuh.. tadi elu kan yang buat mata kita hampir buta? Heh! sekarang gantian! elu yang kami tembak!''


Rani semakin erat memegang sesuatu di balik hijab panjangnya. Ia tersenyum smirk melihat ketiga orang itu.


''Bersiaplah! Kalian berdua akan menyusul kedua orang tua kalian!'' ucapnya dengan tajam.


Dengan segera ia menarik pelatuk itu.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Lagi suara tembakan itu bergema di dalam hutan di tepi tebing itu. Sementara Reza semakin erat memeluk Rani.


''Bang... kita pergi.''


''Hah?'' Reza melepas pelukan nya dan melihat Rani.

__ADS_1


''Tadi itu...'' Rani tersenyum.


''Mereka Bang.. Bukan kita.'' lirih Rani lagi. Ia mendesis lagi menahan rasa sakit di kaki dan tangannya.


''Apa?!'' pekik Reza. Ia menoleh kedepan melihat anggota Papa Rustam sudah terkapar jatuh ke tanah.


''Bagaimana bisa?! Kamu!'' serunya lagi semakin terkejut saat melihat tangan Rani mengeluarkan sesuatu yang membuat mereka semua tumbang.


Rani terkekeh melihat wajah Reza yang begitu terkejut. Beruntung nya mereka berdua para pesuruh Papa Rustam itu membawa senter untuk penerangan jalan mereka.


''Ayo Bang! Sebelum mereka bangun! Jauh loh.. jarak nya dari hutan ini?''


Reza terdiam. Ia masih membeku melihat empat orang itu tepar tergeletak di tanah dengan tubuh bersimbah darah.


''Enggak! Kamu nggak boleh masuk penjara! Kamu akan masuk penjara Dek! Nggak! Abang nggak akan ngijinin kamu kamu masuk penjara! Kamu, Kamu!'' ucap Reza begitu panik.


Rani tertawa namun setelah nya ia meringis. ''Ayo Abang! Aku tidak akan masuk penjara. Semua ini polisi sudah tau. Bahkan sambungan rekaman di telinga ku masih menyala. Dan pasti saat ini mereka juga mendengarkan nya.''


''Apa?!!?'' pekik Reza lagi.


Lagi, Rani tertawa. ''Ayo ah! Buruan!'' sentak Rani.


Reza terkejut, dengan segera ia membuka bajunya bagian luar dan memakai kan nya pada Rani.


Dengan tangan gemetaran, ia berusaha mengancingkan baju ditubuh Rani. Rani semakin pucat saat ini.


''Bertahan! Kita akan segera keluar dari hutan ini!'' imbuhnya dengan segera ia mengangkat tubuh Rani dan mengalungkan senter itu ke tubuhnya.


Ia berjalan cepat meninggalkan empat orang itu. Dengan Rani dalam gendongan nya.

__ADS_1


💕💕💕


Ikutin terus ye! Bentar lagi end!


__ADS_2