Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 124


__ADS_3

"Assalamualaikum" Sapa Zakia membuka obrolan dengan ibu mertuanya.


"Waalaikumsalam. Kamu dimana nak? "


"Di apartemen, Bu. Ibu butuh sesuatu atau minta antar? " Tanya Zakia langsung, jujur saja dirinya lelah. Bahkan dirinya masih berdiri dibalik pintu saat menjawab panggilan dari Farida.


"Bisa pulang dulu, nak. Ayah ada perlu"


"Iya, Kia berangkat sekarang"


"Hati-hati dijalan. Ibu tunggu"


"Ibu mau Kia bawakan apa? "


"Gak usah nak, sudah ditunggu ayah soalnya. Ibu tutup dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Jawab Zakia pelan.


Zakia menghembuskan napasnya pelan. Melangkahkan kakinya menuju kamar dengan koper di tangannya. Setelah meletakkan koper nya begitu saja, Zakia langsung menyambar kunci mobil yang ada diatas meja riasnya.


Melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan langsung menuju basement untuk mengambil mobilnya. Wajah lelahnya begitu kentara saat ini, Zakia bahkan lupa untuk mencuci muka karena mendengar nada tak biasa dari sang ibu mertua.


Zakia membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Sesekali berhenti karena lampu merah, hingga akhirnya mobil yang dirinya kendarai memasuki pekarangan besar milik mertuanya itu.


Zakia mengernyitkan dahinya saat melihat beberapa mobil terparkir didepan sekaligus. Mungkin ada tamu, itu pikirnya. Namun otaknya menepis itu semua saat dua mobil dengan plat nomor yang begitu familiar tertangkap indera penglihatannya.


Ada apa ini?. Batin Zakia bertanya-tanya.


Zakia memasuki rumah besar itu dengan mata sayunya. Kini Zakia benar-benar membutuhkan kasur untuk tubuhnya. Rasa lelah benar-benar menyapa dirinya kali ini. Belum lagi Zakia bepergian seorang diri kali ini.


"Assalamualaikum" Sapa Zakia saat memasuki rumah besar itu.


"Waalaikumsalam" Jawab semua orang kompak.


Zakia mendongak saat melihat banyaknya orang yang menjawab salamnya. Tampaknya banyak orang yang menunggu kehadirannya, di tengah-tengah mereka juga ada orang tuanya. Zakia masih setia dengan ekspresi datarnya. Matanya sedikit membola saat mendapati suaminya tengah berjalan menghampiri dirinya.


Zakia langsung mencium punggung tangan Zidan saat pria itu sampai di depan tubuhnya.


"Mas kapan sampai? " Zidan tak menjawab sibuk memeluk erat tubuh mungil istrinya, sesekali menciun pucuk kepala Zakia.


"Kamu sendiri kapan sampai? " Bukannya menjawab Zidan malah balik bertanya pada Zakia.

__ADS_1


"Baru sampai apartemen pas Ibu telfon tadi" Jawab Zakia menempelkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Belum istirahat? " Zakia menggeleng pelan.


"Khem" Deheman keras membuat keduanya sadar jika masih banyak orang disana.


Zakia langsung berjalan menjauh dari Zidan dan menyalami satu per satu para panutua disana.


"Kamu kapan sampai, nak? " Tanya Al Fatih karena kebetulan Zakia berangkat dari kediamannya saat itu.


"Baru sampai, Yah. Ini ada acara apa kenapa ramai sekali? " Tanya Zakia yang sudah duduk di samping Zalia dan Nita.


"Ini mengenai berita Zidan yang sudah menyebar luas, kami ingin kalian berdua segera mengadakan resepsi" Ucap Zalia langsung.


"Atau paling nggak kalian berdua buat klarifikasi soal berita itu" Tambah Nita.


"Mau klarifikasi, maksudnya biar keluarga besar Al Fatih di cibir karena penerusnya menikahi seorang janda? " Sinis Dinda yang ikut dalam diskusi keluarga kali ini. Karena dirinya juga menjadi oknum yang dibicarakan dalam berita tersebut.


Zalia dan Nita hendak membalas anak muda ini, namun elusan lembut yang Zakia berikan membuat mereka mengurungkan niatnya.


"Apa yang kamu katakan Dinda? " Farida menatap tajam keponakannya itu.


"Iya Mas, saham keluarga Al Fatih bisa turun" Tambah seorang wanita yang Zakia yakini sebagai tante Zidan.


"Segitu pentingnya dunia buat kalian. Jangan terlalu menuntut menurut apa kata orang, kalian yang menjalani. Orang lain hanya mengomentari" Jawaban menohok Farida membuat keduanya bungkam.


"Isu seperti wajar menerpa sekertaris dan atasannya, Kia udah gak heran lagi kok" Ucap Zakia.


"Tapi itu bukan gaya Al Fatih jika harus diterpa isu miring seperti itu Zakia" Jelas Al Fatih. "Ayah menyayangkan kecerobohan Zidan kali ini"


Zidan hanya mampu menunduk dalam. Untuk pemberitaan di luar negeri sudah dirinya atasi. Zidan tak menyangka jika sang ayah tak membantu kali ini. Inikah hukuman yang Al Fatih maksud?


"Setiap manusia pasti melakukan kesalahan Ayah, tidak ada manusia yang sempurna"


"Maafin Mas"


"Tak perlu meminta maaf Mas, Gabby dan yang lainnya sudah turun tangan untuk isu tersebut" Jelas Zakia. Zidan menelan ludah nya kasar, dirinya lupa jika Zakia juga memiliki keluarga di luar negeri.


"Jadi tidak perlu klarifikasi bukan? " Tanya Dinda.


"Keputusan Ayah sudah bulat, gelar resepsi kalian berdua secepatnya" Putus Al Fatih tak mau diganggu gugat.

__ADS_1


Zakia hanya mengangguk patuh, berbeda dengan Zidan yang tersenyum lebar. Daripada memikirkan isu yang akan menimpa nama keluarga besarnya. Zidan lebih mengkhawatirkan bagaimana respon dunia jika Zakia berhasil dirinya persunting.


Mungkin keluarga nya belum mengenal siapa Zakia, namun Zakia adalah sosok istimewa yang bergerak dibalik layar. Tidak ada yang tahu apa dan dengan siapa dirinya bekerja. Bisa dipastikan resepsi kali ini akan menampakkan sosok Zakia yang sebenarnya. Zakia benar-benar akan menginjak orang-orang yang dulu menghinanya dengan prestasi dan pencapaiannya kali ini.


"Biarkan kamu ikut membantu kali ini Pak Al" Usul Arya yang sejak tadi diam.


"Tidak, biarkan ini menjadi urusan Zidan. Biarkan dia menyenangkan istrinya, anggap saja ini kompensasi karena dirinya lalai hingga menimbulkan berita sampah"


"Kamu minta apa untuk kado pernikahan kamu? " Tanya Zainal pada Zakia.


"Jaga aegi di perut Mbak Danis"


"Itu kewajiban Abang, Kia" Zakia hanya mengangguk lucu. Matanya benar-benar sulit dibuka lebar.


"Karena mendadak jadi gak undang rekan bisnis dong? "


"Kamu kenapa sih Dinda? " Tanya Danis heran.


"Kalau gak suka jangan keliatan gitu dong, kan keliatan kalau bukan suhu" Zakia mengatakan itu dengan mata terpejam.


"Zakia bagian dari Al Fatih, mau tidak mau dia harus dikenal oleh publik sebagai istri Zidan" Tutur Al Fatih.


"Tapi Om? "


"Dinda jangan lupa ambil pesangon kamu di kantor, surat pemecatan kamu sudah ada di meja kamu" Ucapan Zakia membuat yang lain melotot tak percaya.


"Heh, siapa lo yang berani ngomong gitu. Atasan gue itu Kak Zidan bukan lo" Bentak Dinda.


"Orang yang kamu bentak itu salah satu pemilik saham di perusahaan ku Dinda, yang berarti dia juga atasan kamu. Posisi kamu hanya sebagai sekertaris perusahaan, itu pun karena persetujuan Zakia agar menerima kamu. Kamu juga selalu bertanya siapa senior designer di perusahaan kan? Itu Zakia, yang karyanya selalu sold out saat produk baru meluncur" Zidan menjelaskan dengan panjang lebar kali ini.


Emosinya memuncak saat Dinda membentak Zakia. Siapa dia berani membentak bidadarinya, Zidan saja berusaha mati-matian agar menjaga intonasinya saat berbicara dengan Zakia.


Tak menghiraukan semua orang yang kaget akan posisi Zakia di perusahaan Zidan. Zidan lebih memilih menghampiri istrinya yang meringkuk tenang di pelukan Zakia. Bisa dipastikan jika wanita mungil itu tertidur pulas.


Zidan menarik pelan tubuh Zakia dan menggendongnya meninggalkan suasana tegang itu. Melangkahkan kakinya menuju kamar agar istrinya merasa nyaman.


"Kamu keterlaluan Dinda" Geram Al Fatih merasa tak nyaman pada keluarga Zakia.


"Kamu beruntung bukan kedua kakak Zakia yang datang kemari. Kamu berkarir di luar negeri, pastikan tutup permasalahan ini dari keluarga Gibson agar karir wanita cantik ini tetap berjalan lancar" Ucap Nita.


"Kami permisi dulu Pak Al" Ucap Arya langsung berdiri, daripada memaki Dinda didepan orang tuanya. Arya lebih memilih untuk memberi gadis itu melalui Tania.

__ADS_1


__ADS_2