
Warning!!!
Area 21+
Yang masih bocil, harap menyingkir! Atau skip aja yah. Othor nggak tanggung jawab loh..
💗💗💗💗
Rani menelisik seisi kamar melihat seluruh ruangan yang begitu cantik saat ini. Lantai bertaburan bunga mawar dan juga lilin harum semerbak di kamar yang luas itu.
Kamar utama milik sang direktur utama. Ar Reza Alamsyah. Rani tersenyum saat mengingat Reza.
Kaki jenjangnya terus melangkah masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan seluruh tubuhnya dengan air hangat.
Cukup lima belas menit, Rani sudah selesai. Dengan baju batik lengan pendek sebatas lutut membuat Rani begitu cantik saat ini.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Reza melihat ke pintu kamar mandi yang menampilkan Rani dengan pakaian yang sengaja ia belikan saat dulu mereka di Bogor.
Rani terus berjalan tanpa menoleh pada Reza yang sedang tertegun melihat nya. Rani mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer.
Setelah selesai, Rani menggenakan mukenah dan berbalik.
''Astaghfirullah!! Aihhhh... kenapa pula Abang mengejutkan ku? Ishh.. mandi sana!'' tegur Rani pada Reza yang terdiam menatap nya.
''Bang?''
Tak ada sahutan. Lagu, Rani mencoba memanggilnya kembali dengan sedikit menyentak.
''Bang Reza!!!'' seru Rani setelah itu ia berdehem. Mendengar itu, Reza terkejut dan terkekeh.
''Ya, Abang mandi. Jamaah ya? Tunggu Abang! Five minutes!'' ucap Reza dengan segera Reza berlari dan masuk ke kamar mandi.
Cukup lima menit saja, Reza sudah selesai dari acara mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dipakai Rani tadi di lilitkan di pinggang nya.
Rani tidak mau menoleh. Yang penting baju Reza sudah ia siapkan. Lengkap dengan sarungnya.
Setelah selesai, mereka sholat isya bersama dilanjut dengan sholat Sunnah dua rakaat setelah mereka sah menjadi suami istri.
Selesai dengan ibadahnya, Reza menarik tangan Rani hingga duduk di ranjang mereka. Rani menunduk tidak ingin menatap Reza.
Bukan marah, tapi malu. Semburat merah itu terus timbul di pipinya. Pipinya terasa hangat saat ini.
Bayangin aja jika dikamar itu ada bunga mawar nya yak? 😁 kira-kira seperti itulah bentuk dekorasi nya.
Tapi lebih bagus lagi jika semuanya lengkap disana.
''Dek?'' panggil Reza.
Rani semakin menunduk. Reza terkekeh melihat Rani semakin menunduk. ''Lihat Abang sayang!'' titah Reza dengan tersenyum menatap Rani.
Rani menggeleng, ''Kenapa?'' tanya Reza lagi.
''Malu...'' cicit Rani. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang terukir Henna yang begitu cantik.
Reza terkekeh lagi. ''Lihat dulu, sayang.. ada yang mau Abang omongin sama kamu!'' ucap Reza begitu lembut, membuat Rani mendongak menatap mata Reza.
Klep, klep.
Mata Rani mengerjabkan lucu. Dengan cepat Reza mendekati wajahnya pada Rani. Jantung Rani berdegup kencang.
__ADS_1
Deg, deg, deg.
''Sayang..'' bisik Reza di depan wajah Rani.
Rani memejamkan kedua matanya saat merasakan deru hangat nafas Reza menerpa wajahnya.
''Bisa kita mulai?'' bisik Reza lagi.
Rani mengangguk namun memilih diam. Ia menggigit bibirnya karena gugup. Reza tersenyum.
''Bismillahi, allahumma jannibissyaithoonaa wa jannibissyaithoonaa maa rozaktanaa..''
Artinya : "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang akan Engkau berikan kepada kami.''
Bisik Reza ditelinga Rani. Dengan segera ia mengecup kening, mata, hidung, terakhir bibir tipis Rani.
Cup!
Kecupan lembut, hangat dan dalam. Rani memejamkan kedua matanya. Tangan Reza tidak tinggal diam.
Tangan kekar itu terus mengelus tubuh Rani bagian belakang hingga menimbulkan sensasi aneh di tubuhnya.
Darah Rani berdesir. Reza terdiam sebentar. Ia melepas pagutan nya saat merasakan Rani hanya diam saja tidak membalas nya.
Ia menatap Rani yang sedang memejamkan kedua matanya. ''Sayang? Kok diam sih? Dibalas dong! Masa' Abang kerjanya sendiri?'' bisik Reza di telinga Rani.
Rani menunduk malu. ''A-aku tak tau caranya Bang..'' cicit Rani dengan menunduk.
Reza yang sudah mulai menciumi cuping Rani, berhenti. Ia menoleh lagi pada Rani. ''Maksud kamu? Apakah.. maaf sebelumnya. Apakah kamu tidak seperti ini dengan bang Fatih?'' tanya Reza dengan hati-hati.
Rani menatap Reza dengan wajah malu. ''Ada sih, Bang. Tapi cuma sekali. Pas waktu kita baru masuk kerumah itu pertama kali. Cuma ciuman doang nggak lebih..'' cicitnya lagi sambil menunduk tak ingin menatap Reza.
Reza mengernyitkan alisnya. ''Cuma sampai disitu?'' Rani mengangguk malu. Reza terkekeh.
''Ya sudah, kita mulai lagi ya? Jangan tegang! Rileks sayang!'' Rani mengangguk.
Mengecup, mengecap dan memagut nya dengan lembut. Rani terbuai. Tangan Reza terus bergerak menyentuh apapun yang ia temui.
''Ughh..'' lenguh Rani di sela-sela ciuman mereka.
Reza semakin terbakar gai rah. Ia semakin gencar membuka seluruh pakaian Rani dan juga pakaian nya.
Ia mencumb*i tubuh Rani. Dari telinga, hingga ke tulang selangka. Memberikan tanda-tanda merah disana.
Turun ke bawah bertemu dengan buah melon yang begitu pas di tangannya. Ia memilin dan mencecap pucuk merah muda yang sudah mencuat itu.
Lagi, suara lenguhan Rani terdengar memenuhi kamar pengantin mereka. Reza tidak berhenti disitu.
Ia semakin turun, dan turun. Sampai tiba di Palung surga milik Rani. Dengan segera ia melepas segitiga Bermuda dan membuangnya asal.
Rani pasrah saat tangan Reza menyentuh palung surga miliknya. Suara desahaaan dan lenguhan semakin terdengar di kamar itu.
Semakin lama semakin nikmat, hingga tubuh Rani melengkung seperti busur panah. Reza tersenyum, mendapati sesuatu di bawah sana sudah mengalir seperti air mengalir.
Dengan cepat, ia memposisikan dirinya di depan palung surga milik Rani. Wajah Rani memerah saat ini.
Sekilas Rani melihat, benda lunak tak bertulang itu berdiri kokoh disana. Ia memejamkan matanya. Reza terkekeh.
''Abang masuk ya?'' Rani mengangguk. Dengan segera Reza menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan mulai melesakkan pusaka nya di Palung surga milik Rani.
Satu, tertahan.
Dua, Rani meringis.
__ADS_1
Tiga, Reza berhenti.
Ia menatap dalam pada Rani. ''Sayang? Kamu? Masih gadis??'' tanya Reza menatap Rani yang sudah berkabut.
Rani mengangguk dan tersenyum malu. Reza terkejut bukan main. ''Beneran sayang?'' tanya Reza lagi memastikan.
Rani mengangguk lagi. Reza tertawa dengan segera ia melesakkan kembali Pusaka mya di Palung surga milik Rani.
''Ssssttt... sempit banget sih?!'' keluh Reza masih dengan berusaha membobol Rani. Rani semakin meringis menahan sakit yang sedang mendera pusat inti miliknya.
Reza semakin kuat melesakkan senjata itu. Sesekali ia mengeram, sesekali melenguh. Sementara Rani, semakin erat memeluk tubuh Reza.
Hingga percobaan yang kesekian kalinya...
Ah...
Rintih Rani dengan memekik tertahan. Dengan segera Reza membungkam mulut Rani dengan bibir nya.
Hingga suara Rani teredam di dalam mulut Reza. Sedikit di sedikit benda tumpul itu ia lesakkan hingga masuk semua.
''Ah... sempitnya..'' racau Reza. Rani meringis menahan sakit. Terasa ngilu dibawah sana. Sebulir bening jatuh mengalir di pipi nya.
''Maaf.. Abang akan pelan! Terimakasih sayang! Kamu memberikan yang terbaik untuk Abang malam ini! Terimakasih sayangku. Abang sangat mencintai mu. Sangat mencintai mu..'' lirih Reza di telinga Rani.
Merasa Rani telah tenang, Reza mulai memaju mundurkan pinggulnya. Rani masih meringis.
Hingga lama kelamaan rasa pedih itu lenyap entah kemana. Yang tersisa hanya suara lenguhan dan desahaaan di kamar pengantin mereka berdua.
Reza dengan semangat masih saja menggempur Rani. Sementara Rani, menikmati nya.
Semakin lama semakin nikmat, semakin kuat pula Hujaman yang diberikan Reza di tubuhnya.
Rani menikmati nya. Sangat menikmati nya. Di sela-sela aktifitas nya, Reza masih sempat-sempatnya meracau tidak jelas membuat Rani terkekeh.
''Ugh.. kamu nikmat sekali sayang.. sangat nikmat! Nanti, setelah ini minta lagi boleh ya? Nggak cukup sekali! Mau lagi dan lagi. Kalau gini mah.. ugh.. Abang nggak mau lepasin kamu dulu sama bang Fatih! Ah! Nikmatnya... pingin dimakan terus nggak mau berhenti! Bikin nagih! Ughhh..'' ucapnya dengan terus bergerak di atas tubuh Rani.
Rani hanya bisa tertawa dalam hati. Mulut nya tidak bisa menyahut ucapan Reza. Hanya ada suara lenguhan dan desahaaan yang keluar dari bibir Rani.
Entah sampai kapan aktivitas itu berakhir, yang jelas Reza dan Rani sama-sama untuk mencari kepuasan dari diri masing-masing.
Hingga pukul tiga dini hari, Reza ambruk di tubuh Rani dengan nafas memburu. Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
Namun ia puas, saat merasakan jika ia adalah orang pertama untuk Rani. ''Terimakasih sayang, Abang sangat mencintai mu lebih dari diri sendiri. Terimakasih sudah memberikan hadiah ini untuk Abang. Duda vs Janda berakhir dengan bahagia. Terimakasih sayang. Abang tak menyangka jika kamu masih suci saat Abang nikahi. Abang pikir kamu sudah di sentuh olehnya. Maaf, Abang salah sangka padamu sayangku. Maaf..'' lirih Reza dengan segera mendekap tubuh polos Rani dengan erat.
''Tak apa Bang. Mungkin memang ini rejeki Abang. Mendapatkan janda tapi perawan seperti ku! Awalnya ingin sih beritahu Abang. Tapi ya sudahlah, biar jadi kejutan saja untuk Abang. Abang masih ingatkan apa yang pernah aku ucapkan dulu?''
''Hem, ya. Saat itu ucapan mu terhenti saat kamu mengatakan Jika kamu belum disentuh olehnya. Dua kali kata-kata ambigu itu kamu ucapkan. Dasar Abang tidak peka, ya jadi seperti ini. Tapi Abang sangat bersyukur. Abang mendapatkan mu masih suci. Ya.. kalau pun seandainya tidak. Juga tidak apa-apa. Cuman.. tidak ada dong Duda vs Janda?'' goda Reza pada Rani.
Rani tertawa. ''Aku juga sangat mencintai mu, Bang Reza. Sangat mencintai mu. Jauh sebelum kita berdua di pertemukan ketika dewasa. Sama sepertimu. Aku menyukaimu saat umurku sudah berusia sepuluh tahun. Aku beruntung memiliki mu bang Reza. Sangat beruntung. Terimakasih, karena sudah menerima diriku yang hanya seorang janda ini.''
''Eits! Bukan janda sembarang janda. Tapi kamu Seorang Janda Kembang. Janda kembang pilihan Reza! Janda terhormat yang pernah Abang temui. Ya.. walaupun harus Abang ikut campur dalam kehidupan mu. Tapi semua itu Abang lakukan hanya untukmu. Agar kamu terpandang dan terhormat di mata orang-orang yang selalu mengejek dan menghinamu. Ayo kita tidur! Habis subuh, Abang minta lagi ya?''
''Nggak! Capek! Itu nya aja masih sakit? Ishh..'' gerutu Rani sambil memeluk tubuh Reza dengan erat.
Reza tertawa ia juga memeluk tubuh Rani dengan erat.
💕💕💕💕
Yuhuuu.. hehehe.. maaf ya lama baru bisa update!
Maklum, othor harus bertapa dulu untuk mencari wangsit tentang jebol menjebol.
Jangan marah kalau tidak hot. Yang hot itu cuma hot pop! Hot, hot pop! Makin gaya makin ngepop! Eh? hihihi..
__ADS_1
Jangan lupa hadiahnya buat othor! Sampai begadang nih ngetiknya! Buat apa coba? Buat kalian para pembaca setiaku uuu...
Dahlah. Othor mau bobok! Udah malem! Besok, othor tunggu hadiahnya dari klean ya? 😎😎😎