Janda Kembang

Janda Kembang
Rani di kota Medan


__ADS_3

Setelah mobil rental mengantarnya ke bandara, kini tinggal lah Rani yang duduk sendiri tanpa ada yang di kenalnya.


Mata yang sembab, dengan baju agak lusuh, membuat orang menatap nya dengan tatapan yang entah seperti apa.


Namun Rani tidak memperdulikan itu. Baginya sekarang, ia harus segera ke kota Medan.


Tempat dimana makam ayah Alam yang sebenarnya. Ia duduk sendiri karena keberangkatannya sebentar lagi.


Setengah jam Rani menunggu, akhir nya panggilan untuk keberangkatan sudah terdengar.


Rani masuk dan menyerahkan tiketnya. Setelah nya ia duduk di kelas ekonomi. Penerbangan ke kota Medan membutuhkan waktu 2 jam 35 menit jika tidak ada kendala sama sekali.


Rani berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma pukul 22.10 WIB dan tiba di kota Medan tepatnya di bandara Kuala Namu pukul 00.45 WIB.


Sudah memasuki tengah malam. Tapi tidak untuk bandara. Disana masih banyak orang lalu lalang.


Ada yang akan pergi, ada yang baru turun dan juga yang masih menunggu keberangkatan. Tiba Rani disana, ia kebingungan harus kemana.


Karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Rani yang tertidur saat di pesawat, sekarang merasakan sedikit segar walau tadi nya menangis.


Rani celingukan mencari rental. Dan kebetulan ada seorang supir yang sedang mangkal dan mencari sewa untuk mobil rental nya.


''Permisi Neng??'' sapa supir rental yang umurnya kira-kira seumuran dengan paman Ali.


''Eh??'' Rani terkejut. Ia mengelus dada dan melangkah mundur sedikit.


''Neng mau kemana?? Biar saya antar?? Nggak baik sendirian malam-malam begini. Apakah tidak ada yang menjemput??'' tanya supir itu.


''Sa-saya mau ke alamat ini. Bi-bisakah saya kesana malam ini juga??'' tanya nya dengan sedikit raut wajah ketakutan. Ia menunjukkan alamat yang akan dituju olehnya.


Supir itu tersenyum. ''Mari saya antar sampai ke tujuan! Neng nggak usah takut ya. Saya cuma niat ingin mengantar saja kok. Perkenalkan nama saya Rahmat, dan kebetulan saya juga tinggal di komplek ini.'' ucapnya sembari menunjukkan alamat yang dituju Rani dengan tersenyum ramah padanya.


''Ba-baik! jika sampai anda berbohong, maka saya akan melompat dari mobil anda nanti! Biar sekalian anda dibawa ke kantor polisi! Ayo!'' ajaknya pada pak Rahmat.


Pak supir itu terkekeh melihat tingkah Rani. ''Pantas saja den Reza menyuruhku untuk menunggunya, ternyata benar seperti yang den Reza katakan. Neng Rani ini sangat polos.'' gumamnya sembari mengikuti Rani dari belakang.


Sesampainya disana, Pak Rahmat membuka pintu untuk Rani masuk dan membawa sekalian koper mini milik Rani dan mulai melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


Selama perjalanan Rani memilih diam. Ia tidak berani berbicara apapun kepada sang supir.


Sedangkan pak Rahmat mencuri-curi pandang terhadap Rani. Rani tau itu. Tak tahan akhirnya Rani buka suara.


''Kalau boleh tau, Bapak ini orang Medan asli atau orang mana??'' tanya Rani dengan menatap pak Rahmat dengan tajam.

__ADS_1


Pak Rahmat yang di tatap seperti itu tersenyum. ''Pantas saja den Reza sangat menyukai mu Neng! wong kamu nya imut kayak begini.'' ucapnya dalam hati.


''Saya orang perantauan Neng.. saya berasal dari kota yang sama dengan Neng!'' sahut pak Rahmat.


Rani terkejut. ''Loh??''


''Saya disuruh seseorang untuk menjemput Neng Rani dibandara. Dan harus dibawa ke alamat yang dituju. Dan kebetulan alamat itu tempat tinggal Bapak Neng!''


''Hah??''


Pak Rahmat tersenyum lagi. ''Nanti Neng akan tau, siapa saya.. lain kali jangan sendirian Neng di kota orang.. bahaya! Belum lagi Neng belum pernah kemari. Kalau boleh Bapak tau, Neng Rani untuk apa ke kota Medan ??''


Rani membisu. Ia tidak berani buka suara. Karena ia takut, jika pak Rahmat ini orang jahat.


''I-it-itu...''


''Tak apa. Jika Neng Rani tidak mau ngomong tidak apa. Untuk malam ini Neng Rani harus istirahat dulu ya. Besok baru bapak antar ke makam Ayah Neng Rani. Bapak tau alamat nya. Istirahatlah! Bapak tidak akan macam-macam. Bapak disini, karena seseorang yang menyuruh Bapak untuk menyusul Neng Rani. Karena ia sangat khawatir dengan Neng Rani.'' imbuhnya dengan sesekali melirik Rani dari kaca spion.


''Siapa??'' tanya Rani.


''Besok Neng akan tau siapa orang nya. Dia sedang dalam perjalanan kemari menyusul neng. Bapak salut padanya. Sedari dulu, ia tidak pernah melupakan Neng. Kadang ia marah, kadang ia gusar ketika tau Neng Rani tidak baik-baik saja. Bapak tau segalanya tentang nya. Dia sangat baik Neng.. Bapak disini pun karena nya.. jika bukan karena nya, pasti Bapak sudah masuk dalam penjara karena kasus penipuan.''


Rani tertegun mendengar ucapan pak Rahmat. Siapa kira-kira orang ini? Apakah??


''Neng Rani...''


''Bang Reza...''


Pak Rahmat tersenyum mendengar ucapan Rani. ''Cepat sekali kamu ingat tentang den Reza, Neng. Bapak yakin, kamu juga sedang memikirkannya nya. Sabar. Ia sedang dalam perjalanan kemari. Sebentar lagi akan tiba. Tunggu saja. Kamu jangan terkejut ya Neng?'' gumam nya dalam hati saat melihat Rani memejamkan kedua matanya.


Perjalanan malam itu begitu melelahkan untuk Rani. Waktu yang di tempuh dari bandara Kuala Namu menuju komplek perumahan Griya M, sekitar 3 jam.


Melebihi waktu saat Rani naik pesawat tadi. Saat sedang asyik-asyiknya mendengar lagu dari earphone nya, pak Rahmat terkejut saat mendengar ada panggilan masuk.


''Assalamualaikum Den... udah sampaikah??''


''Waalaikum salam, Pak! saya sudah tiba di bandara. Bagaimana dengan Bapak? Masih dijalankah??''


''Iya Den.. bapak masih dijalan. Lima belas menit lagi sampai. Aden sudah ada yang tunggu disana ya? Tadi kami sama-sama kesana soalnya.''


''Oke. Bagaimana dengan Rani??''


Pak Rahmat tersenyum. ''Neng Rani sedang tidur Den. Tenang aja!''

__ADS_1


''Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, saya berangkat sekarang. Mang Ucup juga sudah ada bersama saya sekarang. Ayo Mang!''


''Ya sudah, istirahat lah Den. Butuh tenaga untuk menghadapi calon istrimu ini.''


Reza terkekeh dibalik telepon. ''Tentu, Pak! Assalamualaikum.''


''Waalaikum salam.'' sahut Pak Rahmat.


Ia melirik sekilas kepada Rani. Terlihat Rani begitu lelap. ''Kamu memang cantik Neng. Pantas saja Den Reza tidak ingin melepaskan mu.'' lirih pak Rahmat.


Setelah nya hanya ada kesunyian malam diantara pak Rahmat dan Rani.


Hampir subuh, mereka baru masuk dalam kawasan komplek perumahan Griya M. Pak Rahmat menunjukkan tanda pengenal nya kepada penjaga gerbang komplek.


Setelah nya ia di izinkan masuk dan langsung menuju rumah yang selama ini Pak Rahmat dan istri tinggali.


Sesampainya disana, Pak Rahmat mencoba untuk membangunkan Rani. Rani yang begitu lelap, tidak sadar jika ia sudah sampai.


Tak sabar, karena tubuhnya sudah lelah. Pak Rahmat terpaksa mengguncang bahu Rani.


''Neng Rani! kita sudah sampai!''


''Euugghh.. sudah sampaikah?? Maaf pak! saya ketiduran. Hoaaammm...'' sahut Rani dengan menguap lebar.


Pak Rahmat terkekeh melihatnya.


Dengan mata sedikit menyipit, Rani terpaksa turun dari mobil dan berdiri tegak. Ia menghirup udara yang begitu menyegarkan paru-paru nya.


Karena selama lima jam lebih Rani menghirup aroma pendingin dalam mobil yang dikendarai oleh pak Rahmat.


Saat Rani membuka matanya dan mengucek sedikit, ia seperti melihat sebuah nama yang begitu di kenal nya.


''Kediaman Reza Alamsyah??''


''Ya! Ini rumah den Reza. Dan juga rumah Neng Rani!''


''Eh? Hah? A-apa?!?''


💕


Hayo... kenapa itu?? Rumah siapa?? Ada yang kenal??


Tenang Neng.. babang tamvan sedang othor kirim ke tempat mu pakai kerdus! 😄😄

__ADS_1


Maaf ya.. othor kagak pernah naik pesawat, jadi harap maklum. Nggak ngerti othor gimana caranya. 😁😁


TBC


__ADS_2