Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 143


__ADS_3

Zakia menatap Zidan dengan tatapan yang sulit diartikan. Sudah seminggu ini Zidan lebih banyak mendiamkan dirinya. Mereka hanya berinteraksi wajar ketika bersama keluarga besarnya. Zidan masih menempati rumah keluarganya karena permintaan Farida.


Zakia mulai jengah dengan sikap Zidan kali ini. Zakia tahu jika sikap buruk Zidan adalah ketika marah dia akan berlarut-larut. Tapi Zakia selalu bisa mengatasi setiap kekesalan sang suami. Namun, kaki ini sikap Zidan tiba-tiba berubah tanpa sebab, awalnya Zakia menganggap itu hal biasa karena Zidan sibuk dengan perusahaan pusat yang berhasil dirinya pindah, mungkin Zidan lelah, itu pikirnya.


"Mas" Zakia sampai diambang batas jengahnya menghadapi sikap diam Zidan.


Zidan hanya menoleh sekilas pada Zakia, sebelum kembali menatap laptopnya.


"Mas? " Panggilnya lagi, bahkan meskipun sikap Zidan berubah Zakia tetap memanggilnya dengan lembut.


Zidan tak menjawab melainkan menunjukkan layar laptopnya, menunjukkan jika dirinya sedang sibuk. Zakia hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya menjauhi Zidan.


Zidan tampak menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya meneruskan pekerjaannya.


"Kia" Panggil Farida ketika melihat menantunya melintas di sampingnya.


"Iya Bu? " Farida menepuk sofa di sampingnya. Zakia dengan patuh duduk di samping ibu mertuanya itu.


"Kamu ada masalah dengan Zidan? " Zakia hanya mengerjapkan matanya dengan polos.


"Kia gak ada masalah kok, Bu. Kenapa? "


"Zidan anak Ibu, begitu juga Kia. Ibu bisa rasain kalau kalian sedang tidak baik-baik saja. Ibu cuma berharap kamu sabar menghadapi sikap Zidan yang berlarut kalau sudah kesal atau marah. Dia hanya begitu jika miliknya merasa terusik"


"Kia paham"


"Jika Zidan tetap seperti ini, bilang sama Ibu. Biar Ibu yang bicara sama Zidan"


"Ibu" Zakia mengelus lembut tangan mertuanya. "Ini ujian rumah tangga Kia sama Mas Zidan, InsyaAllah Kia mampu lewati ini. Mungkin Kia belum tahu apa penyebab Mas Zidan uring-uringan akhir-akhir ini. Kia hanya menyimpulkan mungkin Mas Zidan lelah dengan pekerjaan kantor. Jadi Ibu tenang aja, nanti Kia coba bicara dengan Mas Zidan pelan-pelan"


"Zidan itu keras kepala nak"


"Hahaha, tapi keras kepalanya itu yang membuat Mas Zidan sukses bu. Kia mau buat kan teh Mas Zidan dulu, Bu" Ini hanya alibi Zakia.


"Zidan masih kerja, ini kan weekend. Tumben? " Heran Farida.


"Mungkin urgent" Jawab Zakia singkat sambil berlalu dengan senyum manisnya.


Sampai di dapur Zakia hanya mampu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara dengan Zidan.


"Mas ini Kia buatkan teh" Zakia langsung meletakkan teh di meja samping Zidan duduk.


"Hmm" Hanya itu jawaban yang Zidan berikan.


"Mas sibuk? " Zakia duduk di kursi sebelah Zidan, matanya menatap lurus ke depan menatap dedaunan yang bergerak tertiup angin. Kebetulan mereka saat ini sedang di balkon.


Zidan tak menjawab, hanya melirik ke arah Zakia.

__ADS_1


"Tak usah jawab, cukup dengarkan saja. Mas boleh jawab kapan-kapan" Zakia terkekeh di akhir kalimatnya.


Zidan memejamkan matanya, nada bicara Zakia sama seperti Zakia yang pertama kali dirinya kenal.


"Mas ini sebenarnya kenapa? Kenapa tiba-tiba mendiamkan Kia? Kia ada salah kah? " Pelan dan lembut cara Zakia bertanya.


"Kalau Kia ada salah, Kia minta maaf ya sayang. Tolong jangan diamkan Kia. Mas biasanya negur Kia kalau Kia salah, ini kenapa tiba-tiba diam saja. Se fatal dan sebesar apa salah Kia, hingga Mas tak mampu menegur Kia? Se sakit apa salah Kia buat hingga Mas enggan menatap Kia akhir-akhir ini? "


"Mas tau? Kia rindu. Rindu sosok hangat suami Kia, rindu sosok manja suami Kia, Kia rindu ditatap begitu hangat dan begitu dalam oleh suami Kia. Kia rindu ketika berbincang apapun itu sebelum tidur" Pelan dan dalam, namun belum mampu meruntuhkan ego tinggi keturunan Al Fatih ini.


"Mas paling tahu siapa Kia, paling dekat dengan Kia melebihi keluarga Kia sendiri. Tolong jangan diamkan Kia, Kia minta maaf sekali lagi jika Kia punya salah. Lebih baik tegur atau bahkan Mas ngomel Kia gak papa daripada Mas diamkan"


Zidan masih bungkam, Zakia tersenyum manis melihat hal ini. Zidan kembali menjadi Zidan dengan ego yang tinggi. Dan Zakia nyaris diambang kesabarannya.


"Sayang? " Lembut sekali Zakia memanggil Zidan.


Zidan hanya menghela napas. Menyerahkan laptopnya pada Zakia lalu meninggalkannya begitu saja. Zakia menerima laptop itu dan menatap layar yang tengah menampilkan video beberapa bulan lalu.


"Kamu cemburu, Mas? Kamu pasti berpikir macam-macam" Zakia terkekeh melihat video tersebut.


"Hebat sekali yang bikin video ini, kenapa di crop kan gak asik" Zakia kembali tertawa sendiri.


"Cuma karena cemburu Mas rela cuekin aku hampir seminggu" Zakia cemberut mendapati penyebab perubahan sikap suaminya itu. "Kekanakan sekali suami aku ini"


Zakia menutup laptop Zidan dan membereskan sisa pekerjaan Zidan. Menatap teh yang belum disentuh oleh Zidan dan tersenyum simpul. Cemburu memang buta dan itu benar adanya.


"Jadi gimana, Dan? "


"Apanya yang gimana, Om? "


"Soal yang tadi? "


"Sampai kapanpun aku gak akan melakukan poligami. Bukan kah om tahu jika itu pantang bagi keturunan Al Fatih" Jawab Zidan dengan tegas, tanpa dirinya tahu bahwa sang istri sudah berdiri dengan wajah datar nan dingin di belakang sana.


"Apa salahnya Zidan? Lagian istri kamu itu juga belum hamil kan? Tolong Om, Zidan. Dinda tak mau menikah jika bukan dengan mu"


"Lalu, aku harus menyakiti hati istriku? Maaf aku tidak bisa Om"


"Kenapa Zidan? Apa Zakia hamil? "


"Tidak"


"Maka dari itu, berhubung Zakia belum hamil, nikahi Dinda Zidan. Berikan dia keturunan lalu kau boleh menceraikannya"


"Tapi, Om.. "


Prang...

__ADS_1


Semuanya kaget dan menoleh ke arah yang sama. Zakia tampak menatap pecahan guci yang tak sengaja dirinya tabrak ketika berbalik itu.


"Hancur dan berantakan" Gumamnya.


"Sayang" Zakia langsung melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke belakang.


"Ada apa ini Zidan? " Tanya Farida yang baru saja dari taman belakang.


"Rich, jangan kesana itu bahaya nak" Zidan langsung sigap menggendong keponakannya saat Richi berlari tanpa melihat jalan yang akan dilaluinya.


Zidan berbalik dan menatap adik dari sang papa dengan tatapan dingin.


"Dengar ini sekali lagi, Om. Aku Zidan Al Fatih sampai kapan pun hanya akan memiliki satu istri, satu wanita yang aku inginkan. Dan itu hanya Zakia Arabelle Lawrence, calon ibu dari anak-anak ku kelak. Sikap Om ini sama saja mempermainkan sebuah pernikahan"


"Apa maksudnya ini Zidan? " Tanya Farida bingung.


"Jangan membuat ku muak dengan permintaan konyol Om itu" Ucap Zidan lalu melangkahkan kakinya dari sana.


"Loh ini kenapa Bu? " Tanya Zainal yang baru pulang dari kantor, kaget saat melihat pecahan guci yang berserakan.


"Ini Ibu juga bingung mau minta penjelasan sama siapa? "


"Ikut Abang ke ruang kerja, abang mau bicara" Al Fatih langsung melangkahkan kakinya. Gurat kemarahan terbaca jelas di wajah pria berstatus kakek itu.


Zainal menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dirinya bingung, sang Ibu juga bingung. Sebenarnya ada apa, hanya itu yang ada dibenak keduanya.


"Mas Zain" Teriakan itu membuat Zainal langsung berlari karena kaget. Bahkan Farida juga menyusul anak sulungnya, Farida hafal betul suara ini. Danis.


"Kenapa sayang? " Zainal langsung masuk dengan wajah paniknya.


"Ya Allah Danis, ayo Zain, gendong istrimu. Sepertinya Danis akan melahirkan, itu air ketubannya sudah pecah" Farida tampak panik melihat wajah menantunya agak memucat.


"Iya bu" Zainal dengan sigap langsung menggendong sang istri.


"Loh Bang, Mbak Danis kenapa? " Tampak Zakia juga mengatur nafasnya.


"Mau lahiran kayaknya dek, Mas bawa Mbak mu dulu. Tolong urus Rich ya"


"Kia ikut, biar Rich sama Mas Zidan aja. Abang jalan dulu aja, Kia susul sambil bawa persiapan Mbak Danis dan baby" Zainal hanya mengangguk dan membawa Danis dengan sedikit berlari.


"Loh Bang? "


"Mau lahiran Mbak mu, Dan" Zidan langsung berlari di depan Zainal, bahkan Richi masih dalam gendongannya.


Di kamar Zakia dan Farida langsung mengambil beberapa barang yang belum Danis masukkan ke dalam tas perlengkapannya.


Di luar, Zidan dengan sigap duduk di kursi kemudi. Richi dia dudukkan di kursi sampingnya. Zainal dan Danis di jok belakang.

__ADS_1


__ADS_2