
Setibanya Rani dan Reza dirumah, Reza masuk kemar nya dan mengambil sebuah kotak untuk ditunjukan pada Rani.
Rani menunggu dengan setia di meja makan. Sengaja ia menunggu disana, karena Rani saat ini sedang ingin makan mie ayam buatan Bu Ani.
Karena tadi siang saat mereka pergi, Bu Ani mengatakan jika makan malam mereka sudah di request oleh Reza yaitu mie ayam.
Mengapa mie ayam?? Karena mie ayam adalah makanan kesukaan Reza. Reza tidak menyukai terlalu banyak micin seperti yang dijual diluar.
Maka dari itu, Bu Ani sengaja membuatnya untuk Reza.
Bu Ani tiba dengan membawa sebuah nampan sedang berisikan dua mangkuk mie ayam.
Lengkap dengan jus buahnya. Reza dengan jus terong Belanda sedang Rani dengan jus mangga.
''Ayo Neng, dimakan!''
''Terimakasih Bu Ani..'' sahut Rani dengan tersenyum manis.
Seseorang berdiri mematung ketika melihat senyum Rani yang begitu manis. Ia berdehem, kemudian berjalan lagi untuk duduk di sebelah Rani.
''Aden.. ini mie ayam nya udah jadi!'' imbuh Bu Ani.
Membuat Reza tersenyum. Ia duduk disebelah Rani dan mulai memakan mie ayam kesukaan nya.
Rani melihat sekilas bagaimana Reza makan dengan lahap nya mie ayam buatan Bu Ani. Rani terkekeh kecil melihat itu.
Reza berhenti makan dan melihat Rani. Ia memiringkan sedikit wajahnya untuk bisa melihat Rani yang sedang makan dengan lahap.
Rani tak sadar jika sedang di tatap oleh Reza. Rani sudah selesai makan, kini ia ingin menunggu Reza dulu karena tadi katanya ada yang ingin dikatakan olehnya.
Saat Rani berbalik dan menatap Reza, Rani terkejut.
''Astaghfirullah! Abang! sejak kapan Abang lihat Rani?? Isshh .. buat jantungan saja!'' sewot Rani.
Reza tertawa. ''Sedari tadi Abang lihat kamu! tapi kamu sibuk dengan makanan mu! enak banget ya??''
__ADS_1
''Hu'um. Jarang-jarang bisa makan mie ayam! Abang kan tau jika selama ini Rani nggak pernah lagi bisa makan mie ayam. Padahal mie ayam kesukaan Abang! Eh? Ups! hehehe..'' sahut Rani keceplosan.
Reza masih menatap nya dengan dalam. Malu di tatap terus seperti itu, Rani meraup kasar wajah Reza.
Membuat Reza kesal. ''Apaan sih dek?! Ishh..'' gerutu Raga kesal.
Rani terkekeh geli. ''Rasain! emang enak!'' ledek Rani.
Membuat Reza semakin kesal. ''Kalau kamu udah kenyang, tunggu dulu abang makan! Ada yang ingin Abang tunjukkan pada mu! Tunggu sebentar! Jangan diganggu!'' ketus Reza membuat Rani tertawa.
Reza tersenyum tipis melihat Rani tertawa. ''Semoga tawa ini bukanlah tawa terakhir mu sayang..'' bisik Reza dalam hatinya.
Hanya butuh waktu lima menit saja, Reza sudah menyelesaikan acara makan nya. Rani masih saja menatap Reza.
''Dek... ini kotak yang Abang temukan dirumah Mama. Abang udah tau isinya apa. Cuma.. untuk membuka kotak ini kita harus bekerja sama. Liontin yang Abang pakaikan di leher kamu, masih ada kan??'' tanya Reza untuk memastikan.
Rani mengangguk. ''Ada. Sebentar!'' sahut Rani, di depan Reza ia membuka liontin yang masih terlilit di leher jenjang nya.
Terlihat leher itu begitu menggoda Reza. Reza menoleh ke arah lain untuk menghindari godaan di depan matanya itu.
''Nah,'' ucap Rani memberikan liontin itu pada Reza.
''I-ini... liontin lagi??? Bagaimana mungkin?! Bukannya liontin nya hanya satu ya Bang??'' tanya Rani.
Ia begitu penasaran dengan liontin itu. Bagaimana mungkin ada liontin yang sama? Rani kebingungan melihat ada dua liontin di atas meja yang baru saja Reza letakkan.
Reza tersenyum tipis. ''Sebentar lagi kamu akan tau, untuk apa liontin itu dan juga kenapa ada dua.'' imbuh nya sembari tangannya terus mengotak ngatik tombol pada kotak itu.
Kotak itu berbentuk seperti kotak korek api. Tapi ukurannya lumayan besar. Seukuran dengan sebuah map agak lebar sedikit.
Diatas kotak itu bertuliskan nama Muhammad Alamsyah bin Mahmud Baharuddin Syah.
Dengan sisi kiri dan kanannya bertuliskan nama...
Reza putra Alamsyah dan Aisyahrani putri Alamsyah.
__ADS_1
Bertambah terkejut lah Rani. Matanya membola melihat kotak itu. Kotak wasiat kepunyaan Ayah Alam yang sengaja di tempah dari Inggris pada saat beliau masih hidup.
Entahlah beliau sudah tau jika akan terjadi hal seperti itu atau hanya kebetulan saja. Karena semuanya sudah diatur sesuai dengan tahun mereka sekarang ini.
''Maksudnya ini apa Bang?? Mengapa nama Abang dan nama ku disanding menjadi dua begini? Dan juga Abang darimana tau tentang kotak ini??'' selidik Rani, seraya menatap tangan Reza masih sibuk dengan berbagai tombol yang ada di kotak itu.
Reza menghela nafasnya. ''Saat Ayah Alam belum meninggal, beliau saat itu masih dirumah sakit dalam keadaan kritis.'' Reza berhenti, ia mengingat dua puluh tahun yang lalu tentang pembicaraan nya dengan Ayah Alam.
''Pada waktu itu, beliau kritis dan... Ayah sering memanggil nama Abang dalam tidurnya. Tante Rima yang melihat nya, tau jika Ayah sangat ingin bertemu dengan Abang.''
Lagi Reza berhenti untuk berbicara. Dadanya begitu sesak ketika mengingat wasiat Ayah Alam untuknya.
''Ayah bilang, jika suatu saat nanti kamu lahir, maka Abang harus menjaga mu dari keluarga Abang.. dan juga... dua pasang liontin yang berukirkan nama kita berdua disana, Ayah serahkan kepada Abang untuk dijaga. Liontin itu adalah kunci pembuka kotak ini.'' lirih Reza dengan lidah tercekat.
Rani mematung mendengar nya. ''Lantas, mengapa liontin ini bisa ada sama Bude Nia??''
Reza menoleh pada Rani dengan tatapan sendu nya. ''Waktu itu Abang sedang demam. Liontin ini sengaja Abang pakai dan abang bawa kemana pun Abang pergi. Mama Nia pada saat itu yang mengurus Abang ketika demam. Biasanya Ibu... Abang tidak sadar jika Mama sengaja mengurus Abang karena memiliki tujuan untuk mengambil liontin itu.'' ucap Reza dengan bibir bergetar.
Rani saking terkejut mendengar nya, Ia memegang tangan Reza yang masih memegangi tombol pada kotak itu.
''Hah! Abang di tipu oleh kebaikan Mama Nia selama ini. Makanya Abang jarang ada dirumah saat mengetahui.. dalang kematian Ayah Alam adalah kedua orang tua Abang...'' lirih Reza begitu pelan di ujung Kalimat nya.
Rani shock. Ia begitu terkejut dengan pernyataan Reza. Tubuhnya kaku, dada nya bergemuruh hebat.
Jantungnya berdegup kencang hingga bertalu-talu. Rani masih menatap Reza dengan Reza sudah beruraian air mata.
''Liontin satunya lagi Abang simpan, karena liontin itu bertuliskan nama mu! Coba kamu periksa, pasti ada inisial nya disana. Sedangkan punya Abang diambil oleh Mama Nia. Abang berusaha mengambil liontin itu, tetapi selalu gagal. Maka dari itu Abang menunggu waktu yang tepat, yaitu saat kamu masuk kerumah itu. Saat kamu menikah dengan Bang Fatih.. Karena semua itu adalah rencana Abang.''
Deg.
💕
Udah nyambung kan ceritanya? Masih ingat kotak yang diambil Reza dirumah Mama nya?
Dan juga ibu Saras pernah bilang, jika kotak itu harus aman??
__ADS_1
Masih ingat?? Kalau belum, dibaca lagi deh.. 😄😄
TBC