Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 144


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit mereka harap-harap cemas dengan keadaan Danis di dalam sana. Hampir semua keluarga berkumpul kali ini. Membuat kehebohan tanpa sengaja mengundang media agar meliput momen tersebut, bahkan mereka tak sadar jika saat ini media sedang merilis berita tentang keluarga Al Fatih.


Realita memang tak sesuai dengan ekspektasi, disaat berita bahagia berhasil dirilis, tidak dengan sepasang cucu adam yang tengah memasang wajah dingin dan datar masing-masing. Bahkan mereka tak bertegur sapa sejak tadi. Zidan dengan egonya, Zakia dengan perasaannya.


"Mas Zidan" Tiba-tiba saja Dinda datang bergelayut manja di lengan Zidan. Zakia hanya melirik sekilas dan memutar bola matanya malas.


"Dinda" Peringat Farida tegas membuat Dinda melepaskan rangkulannya di lengan Zidan.


Dinda hanya memutar bola mata pelan, sesungguhnya dirinya takut dengan Farida. Farida sudah dirinya anggap seperti ibunya sendiri. Dia menghormati Farida layaknya orang tuanya sendiri, namun ego untuk memiliki Zidan mengalahkan semuanya.


"Kata Papa Mas Zidan mau nikahin Dinda, itu beneran? " Semuanya sontak menoleh secara serempak ke arah Dinda. Kecuali Zakia, bahkan saat ini wanita berstatus nyonya muda Al Fatih itu tengah tersenyum tipis.


Zakia langsung bangkit tanpa mengatakan sesuatu dan berdiri tepat di depan pintu ruang operasi Danis. Danis terpaksa melakukan cesar karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk melahirkan normal.


"Nona Zakia anda siap? " Pintu terbuka dan Zakia langsung mengangguk.


Zakia masuk bahkan tanpa mengatakan sesuatu pada keluarganya, Zidan menatap semuanya penuh tanya. Namun, hanya gelengan kepala hanya dirinya dapatkan.


"Bang ini sebenarnya ada apa? " Zidan langsung menyerbu Zainal dengan pertanyaan ketika melihat kakaknya keluar dari ruang operasi.


"Dan, biarkan Zain duduk dulu" Ucap Farida.


Zainal berhasil mengendalikan dirinya dan tampak menghela nafas berkali-kali. "Danis kritis". Dua kata itu mampu membungkam semuanya, bahkan Farida dan besannya tanpa sadar menangis.


" Danis kehilangan banyak darah, dan Zakia siap menjadi pendonornya sampai Danis melewati masa kritisnya " Zainal mengatakan itu dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Apa ini jalan untuk membunuh Kia secara perlahan? " Ucapnya dingin.


Zainal hanya diam, bahkan saat ini pikirannya melayang entah kemana. Dirinya sempat menangis bahagia melihat putra keduanya berhasil dilahirkan ke dunia, namun tangis itu berubah pilu ketika sang istri kritis di pelukannya. Zainal juga tidak menyangka jika adik iparnya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Bahkan Zakia juga sudah melakukan perjanjian dengan Danis.


"Apa ini, Dan? " Aura kepemimpinan Alesha menguar begitu saja. Alesha yang datang bersama keluarganya tentu saja terkejut mendengar kabar ini. Zidan hanya menggelengkan kepalanya pelan, dirinya tak bisa berpikir jernih kali ini.


Albert dan Yash langsung membawa Zidan sedikit menjauh dari Zainal, mereka tidak yakin jika Zainal akan baik-baik saja jika berdekatan dengan Zidan yang sedang berperang dengan akal sehatnya itu.


"Om, Tante ada yang bisa jelasin ini maksudnya apa? " Tanya Alesha lagi, apalagi saat melihat sang mama sudah terisak membuat Alesha harus menahan emosinya.


"Ibu juga tidak tahu, Al. Kapan dan dimana Zakia dan Danis membuat perjanjian ini. Ibu juga shock dengar kabar ini dari Zainal, Ibu juga tidak tahu apa yang direncanakan dua menantu ibu itu"


Alesha menghela napas, ada yang tidak beres disini. Zakia bukan orang yang bertindak tanpa berpikir. Hanya ada satu kemungkinan yang masuk di akal Alesha, kondisi Danis tidak baik-baik saja sebelum melahirkan. Sehingga membuat Zakia berani mengambil langkah ini.


Satu jam setelah masuknya Zakia, kini tampak Zakia terbaring di ranjang pesakitan dengan damainya. Layaknya orang yang tertidur, Zakia begitu anggun meskipun wajahnya begitu pucat. Zidan tertegun melihat wajah istrinya, air matanya turun tanpa di paksa. Pikiran buruk menghampiri otak cerdasnya. Namun dengan sigap Yash langsung mengambil alih untuk mengecek kondisi adik iparnya secara kasar. Yash hanya menganggukkan kepalanya pada suster yang menangani Zakia.


"Tempatkan dia di tempat miliknya di rumah sakit ini, hubungi Dokter Xavier, katakan jika adik kecilnya ada disini. Katakan juga pada James, VVIP digunakan oleh princess" Yash hanya memberikan intruksi.


"Zakia akan dipindahkan ke ruangannya, begitu juga Mbak Danis. Mari kita tunggu di ruangan saja" Yash langsung merangkul Alesha dan membawanya ke ruangan yang akan di tempati oleh Zakia.


Mereka sampai di ruangan VVIP milik Zakia. Ruang rawat pribadi milik pemilik rumah sakit kini digunakan oleh Zakia. Memang begitu meratukan Zakia kesannya, namun seperti janji James saat melamar Zakia dulu. Jika dirinya siap mengalihkan rasanya menjadi rasa sayang kakak dan adik. Dan ini adalah salah satu cara James menyayangi adiknya, memberikan yang terbaik untuk Zakia.


Zidan hanya diam menatap Zakia dengan tatapan yang sulit diartikan. Alesha dan lainnya hanya bisa diam dengan tanda tanya yang berdiri tegak di kepala mereka. Zidan bahkan tak menghampiri Zakia yang tengah terbaring itu.


"Aku meminta maaf atas apa yang terjadi dengan Zakia saat ini. Jujur aku merasa tak berguna sebagai suami saat harus melihat orang lain berkorban begitu besar untuk istriku" Zainal menunduk saat mengatakan itu.

__ADS_1


Al Fatih langsung mengalihkan pandangan, Farida mulai terisak. Jujur mereka juga shock dengan apa yang di lakukan Zakia. Mereka merasa tak seharusnya Zakia berkorban begitu besar.


"Itu berarti kalian bagian dari Zakia, tolong jangan sebut adikku orang lain setelah dia melakukan pengorbanan ini. Itu akan melukainya" Ucap Tania tegas.


"Dia putri ku. Putri bungsu Ibu, nak. Adik mu adalah putri ayah dan ibu sejak pertama kali kita berjumpa melalui layar telepon dulu" Ungkap Farida. Tania hanya mengangguk puas.


"Dad, bawa Mama pulang dulu. Al gak mau kondisi Mama drop, kalau Zakia sadar nanti Al kabari" Pinta Alesha pada Riski.


"Tapi, Al"


"Please Ma, kondisi Mama lagi gak baik-baik aja. Tolong kasihani Al kalau sampai Kia tau kondisi Mama yang shock begini" Zalia menatap putri sulungnya yang tengah menatap dirinya dengan tatapan memohon itu.


"Mama pulang, jaga diri kalian disini" Pamitnya pada anaknya.


"Mbak, Mas saya kembali dulu. Saya janji akan kembali lagi, mau nengokin anak Danis" Farida memeluk besannya, dirinya juga tahu jika kondisi Zalia masih dalam tahap pemulihan.


"Hati-hati" Ucap Al-Fatih saat Riski menyalami tangannya.


"Zain, temani istri mu. Meskipun dia belum sadar dan temui anak mu. Jangan larut dalam rasa bersalah itu, Zakia tidak akan suka melihat itu. Dan, jemput Rich di rumah, tadi dia sengaja Ayah pulangkan dengan Tante mu. Sekarang dia merengek ingin melihat adiknya"


Zidan langsung bangkit tanpa mengatakan apapun. Bahkan tanpa berpamitan dirinya langsung meninggalkan ruangan Zakia.


"Mereka sedang diterpa ujian rumah tangga" Ucap Farida pelan.


Alesha dan lainnya langsung menoleh, kemudian mengangguk pelan. Kini mereka mengerti karena apa sikap diamnya Zidan. Mereka masih berfikir kesalahan fatal apa yang adiknya lakukan hingga Zidan memilih sikap ini.

__ADS_1


__ADS_2