Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 151


__ADS_3

"Assalamualaikum putri kecil Papa" bisik Yash lembut pada bayi mungil yang tengah menggeliat di dekapannya itu.


Kamar VVIP itu ramai dengan keluarga besar yang berkunjung untuk menengok bayi mungil nan cantik itu. Sedangkan sang ibu dari bayi sedang beristirahat setelah memberi asi pertama pada bayi mungilnya.


Alesha memutuskan untuk memberikan asi pada bayinya. Semua setuju apapun keputusan Alesha. Yash juga sudah mengajukan cuti kerjanya agar bisa menemani sang istri pada proses pemulihan. Alesha melahirkan secara normal, dan Yash ingin menemani Alesha dalam proses pemulihan itu.


"Yash, orang tua kamu kemungkinan besok sampai. Daddy gak bisa jemput, besok Daddy ada meeting" ujar Riski.


"Biar aku aja Dad yang jemput. Tadi Mama juga sudah kasih kabar" jawab Yash.


"Assalamualaikum. Ulululu cucu oma yang cantik" kali ini Nita masuk langsung mengambil alih bayi kecil itu dari sang ayah.


"Waalaikumsalam, Mbak Nita sama siapa? " tanya Zalia yang melihat Nita masuk seorang diri.


"Sama Mas Arya, cuma Mbak tinggal. Keburu mau ketemu si cantik ini" Nita sedikit mengayun bayi dalam gendongannya itu.


Putri Alesha bisa dibilang cantik dengan pipi yang agak kemerahan itu. Bisa dibilang bayi mungil ini jelmaan Zakia saat bayi. Zalia sempat nostalgia sesaat ketika melihat wajah cucunya itu. Persis Zakia waktu kecil, pipi chubby yang kemerahan, hidung mungil dan bibir yang mengerucut lucu itu cerminan Zakia.


Jika putri Tania terlihat lebih kalem, maka anak Alesha terlihat lebih lasak nantinya. Akan tetapi tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan bukan?


"Tania mungkin jenguk si gemoy ini kalau Al sudah di rumah deh. Gak mungkin kalau Kayla dibawa ke rumah sakit. Tania juga gak mau ninggalin anaknya" jelas Nita memberitahu semua yang ada disana.


"Kita ngerti kok, Mbak. Kayak sama siapa aja, Tania juga baru lahiran. Jadi gak heran kalau gak mau pisah sama bayinya" jawab Zalia.


"Apalagi Nia gak pakai jasa baby sitter kan? Jadi wajar kalau gak mau ninggalin bayinya, apalagi ini rumah sakit" mama mertua Zalia ikut menambahi.


"Aku belum denger kabar Kia hari ini. Baik-baik saja kan, Lia? " tanya Nita.


"Itu yang ditanyain lagi tidur di bed sebelah Al" Nita langsung menoleh ke salah satu bed yang terletak di samping Alesha. Tampak Zakia tertidur pulas.


"Zakia jarang tidur siang biasanya, tumben" Nita cukup hafal dengan kebiasaan Zakia.


"Biasa gak ada Zidan, lagi istirahat juga dari kerjaannya semenjak drop. Gak diijinin kerja sama Zidan, mungkin bosan sampek ketiduran, tadi masih main HP dia" jelas Zalia.


"Tumben nurut? "

__ADS_1


"Demi calon bayi mereka, Kia masih sering lupa kalau dirinya hamil" Zalia terkekeh ketika mengingat Zidan pernah mengadu, jika Zakia masih sering melakukan hal-hal yang akan membuat dirinya kelelahan.


"Haish anak itu kapan normalnya sih, kok kelakuannya diluar nalar" Nita hanya bisa menggelengkan kepala mengingat tingkah Zakia yang tidak pernah diam.


"Bisa dibilang mungkin Zakia belum siap dengan kehamilannya, makanya dia sering lupa jika dirinya sedang mengandung. Pernikahan mereka masih cukup singkat, kebersamaan mereka juga sebentar"


"Zidan benar-benar ekstra menjaga Zakia yang sering tak terduga. Alhamdulillah nya lagi, Zakia dapat mertua dan ipar yang benar-benar menganggap Zakia adalah bagian dari keluarga itu. Bukan pendatang atau tamu, bahkan orang asing"


"Zakia memang mampu mencuri hati siapapun. Tak heran jika bayak yang ingin menjadikan anak nakal itu bagian dari keluarganya. Sekelas keluarga Gibson saja tanpa berpikir panjang untuk menggelar resepsi mewah Zakia yang notabene nya hanyalah anak angkat di keluarga itu"


*Assalamualaikum " Zidan masuk dan langsung mencium tangan para panutua yang ada di dalam sana.


"Kamu pulang atau istirahat aja, Dan? " tanya Zalia.


"Pulang awal, Ma. kepikiran Kia, sudah makan belum dia? "


"Itu tidur istrimu, sengaja gak kita bangunin. Pules baget soalnya" Zidan hanya mengangguk dan menghampiri istrinya yang tengah tertidur pulas itu.


Zidan sedikit menyunggingkan senyum melihat wajah sang istri. Zakia terlihat seperti bayi ketika sedang tertidur begitu pulas. Apalagi saat ini Zakia benar-benar terlihat polos tanpa polesan make-up sedikitpun.


Semakin hari, Zidan semakin enggan berpisah dengan sang istri. Ada kegelisahan dalam hatinya jika jauh dari Zakia. Entah karena kekhawatiran nya terhadap kondisi Zakia atau hal lain, yang pasti Zidan enggan untuk berpisah dengan Zakia, meskipun itu hanya bekerja. Selain karena kondisi Zakia yang sering drop secara mendadak, Zidan juga sering kali merasa rindu yang berlebihan pada Zakia. Padahal setiap hari mereka bertemu.


"Sayang bangun dulu yuk" Zidan menepuk pelan pipi Zakia.


Zakia hanya menggeliat pelan, bahkan Zakia malah menarik telapak tangan Zidan, dan diletakkan dibawah pipinya sebagai bantal. Zidan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


"Ayo bangun, belum makan kan? " Zakia hanya menggeleng pelan.


"Sayang? " panggil Zidan lagi.


"Enggak mau Mas" rengeknya.


"Baby lapar Umma" bisik Zidan.


Zakia terdiam, tampaknya Zakia melupakan jika dirinya sedang hamil. Para orang tua hanya menonton interaksi keduanya. Zakia membuka matanya dan mengerjap pelan.

__ADS_1


"Mau makan apa? "


"Siomay Mas? "


"Delivery atau? "


"Mau langsung ke tempat nya" potong Zakia.


"Bangun, cuci muka"


"Mau mandi, tapi gak ada baju ganti" Zakia kembali merengek. Semenjak hamil Zakia semakin terlihat seperti anak kecil jika bersama dengan Zidan.


"Mas telfon Ibu dulu, biar dibawain. Ibu tadi ngabari kalau mau jenguk Al"


"Ngerepotin" Zakia mencebik.


"Ayo bangun" tak menanggapi regekan sang istri, Zidan lebih memilih membantu Zakia untuk bangun dari tidurnya.


"Kia belum hamil besar, Kia masih bisa bangun sendiri"


"Nunggu kamu bangun sendiri, itu cukup mustahil sayang. Kamu udah kayak perangko kalau ketemu kasur"


"Kia capek Mas"


"Iya sayang, tapi bawa gerak juga ya. Biar Umma sama aegi sehat" Zidan mengelus pelan kepala Zakia yang sudah duduk dengan nyaman.


"Kia pengen deh, kalau pagi tuh jalan-jalan sama Mas, gak usah kemana-mana muter-muter di pekarangan rumah aja"


"Yakin? " Zidan seakan tak yakin dengan keinginan istrinya.


"Yakin gak yakin, tapi pengen coba" Zakia menatap Zidan dengan puppy eyes.


"Besok kita coba ya" Zakia mengangguk dengan semangat.


Kebiasaan bangun pagi Zakia seakan menghilang semenjak kehamilannya. Zakia lebih banyak tertidur atau rebahan daripada bergerak. Zidan mungkin tak mempermasalahkannya, namun Zakia merasa tak nyaman dengan mertuanya. Zakia juga sering kelelahan ketika beraktivitas sedikit berat. Alhasil, untuk membersihkan kamarnya, Zakia meminta para art untuk membantunya.

__ADS_1


__ADS_2