Janda Kembang

Janda Kembang
Pertemuan pertama setelah sekian lama


__ADS_3

Hari ini Rani dan Alisa akan keluar untuk membeli peralatan untuk membuat kue di toko barunya.


Berdasarkan pengalaman nya tentang alat untuk membuat kue, Alisa selalu membeli barang itu di toko Gilang.


Karena hanya disana perabotan yang lengkap, bagus namun masih terjangkau.


Yang Alisa sendiri tidak tau, jika toko itu adalah toko nya Gilang. Ia pikir jika logo toko itu, hanya nama saja yang mirip.


Rani terkekeh geli mengenang hal itu. ''Ayo Dek! Kita belanja! Jadilah.. hari ini menggadis? Iya nggak??''


Rani tertawa. ''Yoi Mbak! Mari kita menggadis seperti keinginan Mbak! Mau borong apa kita?''


''Hem, apa ya? Ya.. paling belanja stok barang aja kali ya? Lagi apa ya? Atau kalau nggak coba deh kita ini sesekali padicure, mamicure, terus apa lagi? Ada padi-padi nya sih, pusing Mbak, Rani!''


Rani tertawa lagi. ''Haha.. Mbak bisa aja sih! Ayo kita ke salon sekalian! Duit kita kan banyak Mbak?'' goda Rani dengan menggerakkan alisnya naik turun.


Alisa terkekeh geli. ''Ayo, ayo kita menggadis!'' seru Alisa sambil tertawa begitu juga dengan Rani.


Mereka keluar dari toko kue milik Alisa, dan berjalan menuju grabcar yang dipesan oleh Alisa melalui aplikasi ponselnya.


Ketika masuk ke dalam mobil itu, sesuatu seperti terus melihat Alisa. Tapi apa? pikirnya. Alisa menatap supir itu, begitu juga dengan Rani.


''Mbak? Kenapa aku merasa jika supir ini terus memperhatikan kita sedari tadi sih?!'' bisik Rani di telinga Alisa.


Alisa mengangguk setuju. Alisa menoleh pada supir itu yang terus sedari tadi melihat mereka berdua.


''Ehm, Pak? Kalau boleh saya tau, Bapak ada yang perlu di bicarakan dengan kita? Karena saya lihat, sedari tadi Bapak terus menerus melihat ke arah kami. Terutama adik saya ini. Ada yang ingin disampaikan kah? Atau ada yang perlu di bicarakan? Silahkan! Saya tidak keberatan!'' Imbuh Alisa, menatap Bapak-bapak supir grabcar itu dengan tatapan menyelidik.


Supir itu gelagapan. ''Ehm, tidak ada Nak. Hanya saja.. sudah. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulangi nya lagi.'' Sahutnya, membuat Rani mengernyitkan dahinya bingung.


Kenapa suara ini begitu familiar di telinga ku? Sebenarnya siapa sih Bapak ini? Batin Rani.


''Hoo ya sudah kalau begitu.'' Ucap Alisa sembari mengelus lengan Rani.


''Ya, sesuai aplikasi kan?''


''Ya,'' sahut Alisa lagi.


Setelah itu tidak ada yang bersuara lagi hingga mereka sampai di tempat tujuan. Yaitu Alisa store.


Tiba disana mereka berdua turun dengan tergesa. Karena Rani merasa ada yang aneh dengan orang itu.


''Ayo cepetan Mbak.. ih! Aku takut loh Mbak sama orang itu! Aneh deh! Mana yang kelihatan cuma mata doang lagi! Belum lagi suara itu! Suaranya begitu mirip dengan...''


''Dengan siapa??''

__ADS_1


''Ah sudahlah Mbak! Ayo kita masuk!'' ajak Rani.


Alisa menggeleng kan kepala nya melihat tingkah Rani. Saat masuk kedalam toko yang mirip seperti mall itu, Alisa mendongak keatas melihat logo toko itu.


''Kenapa sih?! Tiap kali aku belanja disini, aku merasa seperti nya yang punya toko ini sengaja deh mengejekku dengan menggunakan nama ku sebagai nama toko nya?! Ck! Dasar! aku merasa dilecehkan disini!'' sungut Alisa sambil melangkah masuk kedalam.


Rani hanya tertawa saja mendengar gerutuan Alisa. Karena setiap kali ia belanja di toko milik Gilang, itulah yang ia katakan.


Selalu saja begitu. Rani sudah sangat hafal dengan ucapan Alisa itu. Selama hampir setahun, Rani bersama Alisa jadi ia tau seperti apa dan bagaimana seorang Alisa.


Istri sah secara hukum Gilang. Rani tersenyum kecut saat mengingat, jika status nya pun sama seperti Alisa.


Bedanya, Gilang begitu mencintai nya. Sedangkan Rani? Jangan kan cinta, rasa pun lelaki itu tak punya pada nya.


Jika memang ia mencintai Rani, seharusnya kan pemuda itu memperjuangkan nya? Bukan malah sebaliknya!


Ck! Rani berdecak memikirkan hal itu. Tanpa di pinta buliran bening itu mengalir di pipinya. Sesak sekali rasanya mengingat pujaan hati, tapi sang pujaan tak mengingat nya sama sekali.


Alisa dan Rani sibuk memilah-milah barang untuk keperluan toko kue nya. Mulai dari Microwave, pengocok telur secara manual, dan lain masih banyak lagi.


Pusing jika di sebutkan satu persatu peralatan nya. Rani menggeleng kan kepalanya pusing dengan alat-alat itu.


Setelah selesai, mereka keluar. Dan tanpa sengaja Rani yang keluar belakangan berpapasan dengan seseorang.


''Kamu tak apa Karin? Makanya kalau jalan hati-hati! Kamu itu lagi hamil tua loh! Ck! Gimana sih?!''


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Rani berdegup kencang saat mendengar suara yang begitu di kenalnya. Suara yang begitu ia rindukan saat ini.


''Hehe.. maaf Za! Aku buru-buru soal nya! Eh, kamu tidak apa-apa?'' tanya Karin.


Rani mencoba menegarkan hatinya. Sekuat apapun ia menghindar pastilah ia akan bertemu juga dengan mereka.


''Aku tak apa Kak Karinita!'' sahut Rani seraya mendongak menatap dua orang yang juga sedang menatapnya dengan raut wajah terkejut.


''Rani!''


''Dek!!'' Seru mereka bersamaan. Rani tersenyum kecut melihat keadaan perut Karin yang membuncit karena hamil.


''Ya, aku Rani! Aisyahrani! Wooaaahhh.. kamu hamil Kak? Sudah berapa bulan? Kok nggak ngabarin sih?! Curang ih!'' Sahut Rani dengan bibir manyun.

__ADS_1


Karin kikuk karena Rani bertingkah seperti itu. Sedangkan Reza, ia terus menatap Rani dengan binar mata kerinduan.


Mata mereka bersiborok. Rani menatap mata itu dengan kecewa. Reza tau itu. ''Dek.. apa kabar?? Apakah kamu masih bersama Alisa??''


Rani tersenyum walau hatinya sangat sakit. ''Baik Alhamdulillah! Ya, aku masih dengan Mbak Alisa. Eh? Mbak Alisa!!'' pekik Rani saat melihat Alisa semakin jauh berjalan.


Alisa yang merasa dipanggil namanya, menoleh. Ia terkejut melihat Rani masih tertinggal jauh darinya.


''Loh?!'' Alisa bergegas mendekati Rani dan dua orang yang sedang membelakangi nya.


Tiba disana, Alisa seperti mengenal dua orang itu. Bukan, bukan dua. Tapi satu. Lelaki itu...


Alisa mendekati Rani, ''Kok ketinggalan sih! Mbak kirain kamu ngikutin Mbak di belakang tadi. Kenapa kamu berhenti disini. Eh? Loh? Reza?? Ini...'' celotehan Alisa berhenti saat melihat seseorang yang sedang berdiri dihadapan Reza, perutnya membuncit seperti hamil besar.


''Kenalkan Mbak, saya Karinita! Istrinya Reza!''


Deg!


Rani tercubit hatinya mendengar pengakuan Karin. Karin mengulum senyum melihat raut wajah Rani menjadi datar.


Sedangkan Reza menggeleng kan kepala nya melihat tingkah Karin. ''Hoo.. kalau begitu selamat ya? Semoga lahiran nya nanti lancar dan sehat ibu dan anak nya.'' Kata Alisa.


''Amiinn .. terimakasih Mbak! Kalau begitu, kami permisi ya? Ayo sayang!'' ajaknya pada Reza.


Reza menurut saja. Rani tersenyum hambar melihat itu. Reza menoleh ke belakang melihat Rani, tapi Rani membuang muka.


''Maaf Dek..'' lirih Reza sambil terus berjalan mengikuti Karin.


''Dek??''


''Kita pulang Mbak!'' ajak Rani dengan suara bergetar.


Alisa mengangguk. Ia mengikuti Rani yang terus berjalan cepat di mana grabcar mereka menunggu.


Reza menatap nanar pada Rani. Sebulir bening mengalir di pipi mulus nya. Karin menepuk bahu Reza.


''Berjuanglah Za! Rani masih sama seperti Rani yang dulu. Aku melihat Rani masih sangat mencintai mu. Sengaja aku mengujinya seperti itu, dan ternyata benar adanya. Maaf, jika tadi aku berbicara seperti itu. Sengaja untuk mengetahui perasaan mu terhadapnya. Dan benar tebakan ku! Berjuang Za! Bawa Rani kembali jika ingin hidup mu bahagia selamanya.''


💕


Nyesek nggak? Pertama kali bertemu setelah berapa purnama tapi tau nya pria yang kita Cintai sedang bersama istrinya. Lagi hamil pula!


Gimana menurut kalian?


TBC

__ADS_1


__ADS_2