
''Berjuanglah Za! Rani masih sama seperti Rani yang dulu. Aku melihat Rani masih sangat mencintai mu. Sengaja aku mengujinya seperti itu, dan ternyata benar adanya. Maaf, jika tadi aku berbicara seperti itu. Sengaja untuk mengetahui perasaan nya terhadap mu. Dan benar tebakan ku! Berjuang Za! Bawa Rani kembali jika ingin hidup mu bahagia selamanya.''
Reza menitikkan air matanya. Karin menepuk lembut bahu adik iparnya itu. Ya, Karin adalah kakak ipar Reza.
Istri sah dari Al Fatih. Mantan suami Rani. ''Loh, sayang? Ternyata kamu disini, aku keliling mencari mu tadi. Lah, ini kenapa lagi? Kamu apakan lagi pemuda cengeng ini?''
Reza menyusut ingusnya dan mendelik menatap Fatih. ''Kayak dia nggak pernah nangis aja! Diem deh lu Bang! Pusing gue!'' ketus Reza.
Karin tertawa mendengar ucapan Reza. ''Udah, ayo! tadi aku ketemu-,''
''Rani??'' tebak Fatih.
Karin terkejut. ''Kamu tau By?''
Fatih mengangguk. ''Ya, dan sempat ngobrol sebentar sih! Kamu apakan tadi Rani, hingga wajah nya jadi butek begitu. Kusut mansut kayak cucian kusut tidak di setrika! Asam ! Kecut! Kayak jeruk purut!''
Lagi, Karin tertawa. ''Haha.. kamu kenapa ngomong nya gitu sih By! Nggak baik loh.. Rani itu adik sepupu mu! Sekaligus mantan istrimu! Kok tega sih ngeledek gitu?'' tanya Karin masih dengan kekehan di bibirnya.
Reza melengos. Ia berjalan duluan menuju mobil mereka. Ya, hari ini ia Reza dan Fatih sedang mengadakan pertemuan di Alisa resto milik Gilang.
Karena klien Reza ini sangat menyukai masakan yang ada disana. Terkesan enak, tapi terjangkau di kantong.
Fatih tertawa melihat tingkah Reza seperti itu. ''Kamu apakan tadi istri Reza, hingga asem begitu muka nya? Hem?'' tanya Fatih, sambil merangkul Karin dan mengajaknya pergi dari sana.
''Hehehe.. aku sengaja bilang sama Rani, kalau aku ini istri nya Reza!''
''Apa?! Hahaha.. pantas saja wajahnya di tekuk begitu. Kamu iseng Sekarang ya?''
''Hahaha.. aku iseng karena kamu suamiku! Kamu yang mengajari ku tentang arti cinta dan persahabatan yang sesungguhnya. Termasuk memaafkan seseorang yang pernah melukai kita. Aku beruntung memiliki mu suamiku Al Fatih!''
''Ya, ya, ya! Anda benar Nyonya Karin Al Fatih Rustamsyah! Aku pun beruntung memiliki istri seperti mu. Yang menerimaku, apa adanya. Terlepas dulunya aku pernah mengalami gangguan jiwa. Jika bukan karena mu, mungkin saat ini aku tidak akan ada lagi di dunia ini.'' Lirih Fatih dengan sendu.
Karin memeluk suami nya. Reza yang melihatnya memutar bola mata malas. ''Ck! mau pulang tidak? Kalau mau pulang, ayo! Kalau tidak, aku akan pergi duluan!'' ketus Reza.
Fatih dan Karin tertawa mendengar ucapan Reza.
__ADS_1
Dirumah Alisa.
Sejak pertemuan nya dengan Reza, kini Rani tidak ingin pulang ke kontrakan nya. Untuk sementara ia ingin tinggal dirumah Alisa.
''Ai??''
''Aku masuk duluan ya Mbak! Ngantuk!'' kilahnya, membuat Alisa menghela nafas panjang.
Rani berlalu dari hadapan Alisa. Tiba di kamarnya, Rani menutup pintu dan duduk lesehan di depan pintu kamarnya.
Ia menangis. Ia menangis sesegukan disana. Sedari di mall tadi, Rani berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.
Padahal dada nya begitu sesak saat itu. Ingin sekali memukul Reza karena telah berani melukai hatinya kembali.
Tapi ia tak mampu. Bahkan untuk menatap mata Reza saja Rani tidak berani. Rani sengaja menyembunyikan semua itu dari Reza.
Pertemuan yang begitu menyesakkan dada nya. Alisa berdiri di depan pintu kamar Rani. Terdengar suara isakan Rani dari dalam kamar.
''Mbak tau.. kamu pasti terluka akan kenyataan ini. Tapi ini lebih baik daripada nanti. Memang sakit memendam cinta untuk orang yang tidak mencintai kita. Mbak lebih dulu merasakan nya ketimbang kamu, Dek.. tapi Mbak harus kuat demi ketiga anak Mbak dan juga diri Mbak sendiri. Jika Allah memberikan rasa sakit itu sekarang, maka akan ada kebahagiaan setelah ini menanti kita. Percayalah Dek .. jika Reza adalah jodoh mu, sejauh apapun kamu pergi maka dia sendiri yang akan datang kepada mu.'' Lirih Alisa dari sebalik pintu kamar Rani.
Rani yang mendengar nya semakin sesak dadanya. Ia menangis meraung meluapkan rasa sesak dihatinya.
Namun sayang nya tidak. Malah rasa sesak itu semakin menyiksa batin nya. ''Ibu... Rani nggak sanggup lagi.. Rani harus apa Bu.. Rani nggak kuat.. Selama ini sengaja Rani menyimpan nya sendiri.. Rani sangat menginginkan Abang, Bu.. Rani butuh dia.. Rani butuh dia ada disamping Rani.. tapi tidak bisa.. sekarang Rani harus apa?? haaaa... huuuuuuuu..'' Raung Rani di dalam kamarnya.
Alisa yang mendengar pun ikut menangis. Sekuat apapun ia mencoba melupakan Reza tapi itu tidak akan pernah terjadi.
Malah rasa cinta dan rindu itu semakin menyiksa batinnya. Berulangkali mencoba untuk melupakan nya, tetap tidak bisa.
Malah dengan nekat nya Rani setiap malam selalu memimpikan Reza tidur bersama nya. Harum tubuh Reza sangat menenangkan hatinya.
''Aku harus apa?? Hiks.. Mbak.. Rani nggak kuat .. Rani nggak sanggup... hiks.. hiks..'' lirih Rani semakin terisak .
Alisa masuk dengan sedikit mendorong pintu itu. Ia melihat Rani tidur di lantai dengan wajah ia telungkup kan di tangan nya.
Alisa kasihan melihatnya. ''Dek .. bangun. Jangan disini. Nanti kamu masuk angin loh. Pindah ya?'' ajak Alisa, ia berusaha membawa Rani ke ranjangnya.
__ADS_1
Agar gadis yang sedang terluka hatinya itu bisa istirahat disana. Rani menurut. Tiba di ranjang, ia menubruk tubuh Alisa.
''Hiks.. bawa Rani pergi Mbak.. Rani nggak sanggup.. bawa Rani pergi.. hiks.. Rani mau pergi.. Rani nggak sanggup seperti ini lagi.. sakit Mbak.. sakit...'' lirihnya lagi.
Alisa mengangguk. Ia tak menjawab ucapan Rani, karena Alisa pun sedang tersedu sama seperti nya.
''Kamu harus kuat Dek.. kamu lihat Mbak! Bahkan Mbak lebih sakit dari mu lagi. Mbak ditinggalkan, diberikan kemewahan, di tinggali bekal untuk Mbak hidup, tapi apa? Mbak tetap juga tidak bisa bersama nya. Kita sama Dek.. kita sama.. Kamu harus ingat! Setiap ujian itu pasti ada hikmahnya. Jika sekarang ujian itu menghampiri mu, berarti memang hanya kamu yang bisa melewatinya. Sabar... sabar seluas samudera sayang.. lupakan lah dia jika itu membuatmu terluka. Lepaskan segala nya biar hatimu merasa lega. Serahkan semua nya kepada sang maha pencipta. Karena Hanya dialah yang tau apa yang terbaik untuk kita.''
Rani mengurai pelukan nya. ''Mbak jangan tinggalin Rani ya? Rani nggak tau harus kemana jika Mbak tinggalin Rani.. Rani tidak punya siapa pun disini.''
Alisa tersenyum. ''Mbak pun sendiri sayang.. Tapi Mbak selalu mengingat jika selalu ada Allah bersama kita. Seberat apapun cobaan itu, mintalah pada nya agar hati kita di tenangkan olehnya. Perbanyak zikir dan membaca sholawat. Insyaallah, ketenangan hati itu akan kamu rasakan segera. Ayo lakukan!''
Rani tertegun dengan ucapan Alisa. Ia tersenyum kemudian melangkah kan kaki nya ke kamar mandi dan mulai berwudhu.
Setelah berwudhu Rani menunaikan sholatnya yang tertunda karena sibuk dengan menangis.
Melihat Rani sudah kembali seperti biasa, Alisa keluar dari kamarnya dan menemui seseorang yang sedari tadi terus gelisah menunggu kedatangan nya.
''Gimana? Apa dia sudah baikan??''
Alisa tersenyum. ''Ya, Rani sudah kembali seperti biasa. Cepat urus segala keperluan kalian berdua untuk berangkat ke Bogor. Malam ini bukan??''
''Ya, semuanya sekarang tergantung Rani. Jika Rani tidak mau ikut dengan ku, maka aku pun akan habis ditangan nya.''
''Berjuanglah! aku tau Rani tidak seperti itu. Ia hanya sedang terluka saja!''
''Ck! dasar kakak ipar kampret!''
''Eh? Enak aja lu ngatain gue kakak ipar kampret! mau lu tak kutuk jadi kodok??''
''Hahaha... Om akan jadi kodok! Berarti Om akan melahirkan cebong dong?!''
''Hah??''
💕
__ADS_1
Siapa itu?? Cebong?? 🤣🤣🤣
TBC