
Karin yang baru saja tiba di rumah keluarga besar Alamsyah, sedikit terkejut karena mendengar suara teriakan Reza.
Ia berjalan tergesa masuk ke dalam rumah. Tiba di dalam rumah, Karin melihat Reza yang sedang mengamuk histeris.
Karin berdiri mematung. Reza benar-benar seperti orang kerasukan sekarang ini. Wajahnya basah dengan air mata.
Rambut awut--awutan. Lagi wajahnya itu memerah karena ia terus berteriak histeris memanggil nama Rani.
Karin mendekati Reza yang sedang terduduk di lantai. Tiba disana, Reza pun menyapanya dengan tatapan mengerikan.
Deg!
''Kau! Untuk apa kau kesini?! Ingin melihat ku terluka karena perbuatan kalian?! hah?!" sentak Reza, membuat Karin terjingkat kaget.
"Za.. aku-"
"Pergi."
Karin menggeleng, "Aku tidak akan pergi sebelum mengobati luka mu!"
"Kau-"
"Benar yang dikatakan Kak Karin, Abang obati dulu ya luka nya? Adek nggak sanggup lihat Abang seperti ini.." lirih Airin dengan terus menangis.
Baru sebentar ia melihat Reza tertawa bersama nya, dan sekarang? Harus seperti ini lagi.
Sama seperti dulu.
"Pergi," titahnya lagi tanpa melihat Karin yang terus mendekati nya.
Tiba di depan Reza, "Pergi!!! Apa kau tuli?!! hah?!!!?" sentaknya lagi saat Karin menyentuh tangan nya yang terluka.
Karin menulikan pendengaran nya. Baginya saat ini luka itu harus di obati agar tidak terjadi infeksi.
Reza menatap nyalang pada wanita berhijab yang sedang berlutut di hadapan nya ini. Reza menghempaskan tangan Karin, membuat dokter saraf itu terhuyung hingga jatuh kesamping.
"Apa sih mau mu, hah?!?! Gara-gara Kau! Hubungan ku dan Rani hancur! Kau penyebab nya! Semua ini gara-gara Kau dan juga kedua orang tua Yang tidak punya hati itu! Gara-gara kau! Rani ku pergi! Jangan salahkan aku jika aku juga melakukan hal yang sama pada mu saat ini! Mulai saat ini, Aku bukanlah siapa-siapa kamu lagi Karinita Bramantyo! Aku melepas mu dari belenggu yang sedang mengikatmu karena kedua orang tuaku! Aku menjatuhkan talak tiga padamu Karinita Bramantyo! pergi dari siniiii!!!!!''
__ADS_1
Ddddduuuaaarrrr...
Karin mematung mendengar ucapan Reza. Seperti petir yang baru saja menghantam jiwa nya.
''Talak??''
Reza menoleh pada Airin. ''Masuk dan jangan ikut campur! Dan kau!'' tunjuknya pada Karin. ''Mulai saat ini, kau bukan lah istriku lagi! Aku menceraikan mu, aku menceraikan mu, aku menceraikan mu Karinita Bramantyo!!!'' seru Reza sekali lagi begitu lantang, hingga rasanya dunia Karin runtuh seketika saat itu juga.
Karin terhenyak begitu juga dengan Airin. Pak Rahmat yang berada disana, memejam kan kedua matanya.
''Lagi, kali ini den Reza yang melakukan nya. Dulu, den Fatih. Kenapa lah harus seperti ini jalan hidup kalian berdua, Nak??'' tanya Pak Rahmat sembari mendekati Reza yang menatap nyalang pada Karin.
''Pergilah, Nak. Biar Bapak yang mengurus den Reza. Sebaiknya kamu pergi dari sini, agar Den Reza bisa sedikit menghilangkan rasa amarahnya. Bapak mohon Neng..'' pinta Pak Rahmat dengan sangat pada Karin.
Karin duduk terdiam. Tatapan matanya kosong. Secepat itukah? Pikirnya.
Melihat Karin yang tidak bergerak sama sekali, Pak Rahmat mengkode Bu Ani agar bisa membawa mantan istri Reza itu keluar.
''Ayo Neng! Ibu antar kamu ke depan. Kamu bawa mobil??''
Melihat Karin pergi dan sudah keluar dari rumah, Reza histeris lagi. ''Aaaaaaa.... Raniiiiii.. jangan pergiiiiii... arrggghhhtt... kembalilah Rani...'' pekik Reza begitu menyayat hati Pak Rahmat.
Airin tak sanggup melihat Reza seperti itu. Ia memeluk Reza yang terus menerus menangis memanggil nama Rani.
Kakak sepupu sekaligus istri sah secara hukum Reza.
Hingga tanpa sadar Reza jatuh terkulai di pelukan Airin. ''Abang!! Bangun! Jangan tinggalin Airin! Banguuuunnnn!!! Haaaaa....'' pekik Airin pula melihat Reza yang sudah tidak sadarkan diri.
Pak Rahmat yang melihatnya sigap memanggil Pak Kurni. Mereka bedua membopong Reza untuk di bawa ke rumah sakit.
Airin pun mengikuti dari belakang. Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit Pirngadi Medan.
Reza dilarikan ke ruang IGD. Ia ditangani oleh dokter bagian saraf dalam seperti Karin mantan istri Reza.
Selesai di periksa dokter Alvian keluar dari ruangan itu. ''Pak Rahmat??''
''Ya, saya!''
__ADS_1
''Kenapa bisa sampai terjadi lagi seperti ini?? Bukan kah dulu sudah saya peringatkan agar Reza tidak mengalami hal seperti ini lagi?? Sekarang lihat lah apa yang terjadi!!'' seru dokter Alvian sembari menghela nafas berat.
''Maaf dokter.. saya tidak bisa mencegah nya..'' lirih Pak Rahmat.
''Hah! Pak Rahmat! Ini sangat berbahaya bagi tubuhnya. Sedikit saja tadi terlambat, maka nyawa nya akan melayang. Siapa Rani??'' tanya dokter Alvian.
''Istrinya Den Reza!''
''Lantas?'' tanya dokter Alvian lagi.
''Rani pergi meninggalkan den Reza. Karena den Reza menikah lagi dengan wanita lain pilihan kedua orang tua nya. Sedangkan Rani adalah sepupu nya. Ia memilih pergi dari hidup den Reza, demi den Reza berbakti kepada kedua orang tua nya..'' lirih Pak Rahmat dengan mata berkaca-kaca.
Begitu juga dengan Airin. Sedari tadi air mata itu terus saja berjatuhan. ''Saya tidak bisa melakukan apapun sekarang! Karena semua ini tergantung Reza sendiri. Dulu sudah saya katakan, jangan pernah membuat Reza tertekan. Cukup sudah depresi yang ia alami selama bertahun-tahun ini karena kedua orang tua nya! Airin!''
''Saya Bang! Hiks..''
''Jaga dan rawat Abang mu. Untuk saat ini ia ingin tidur dan melupakan segalanya. Tetap terus berada disampingnya. Jika perlu panggil Paman Ali kemari, agar Reza bisa cepat bangun dari tidurnya. Kasihan sekali sahabat ku itu..'' lirih dokter Alvian sembari menoleh ke Reza yang sedang tidur terlelap di bangkar pasien.
Airin masuk bersama Pak Rahmat saat dokter Alvian mengijinkan mereka untuk masuk. ''Rani... jangan.. pergi...''
Bahkan dibawah alam sadar nya pun ia memanggil Rani.
Lagi, sesak dada Airin melihat Reza seperti itu. ''Adek akan merawat Abang disini. Jika perlu, adek akan bersujud pada kak Ai, agar dia kembali pada Abang lagi..'' lirih Airin.
''Sabar Neng.. inilah yang selama ini ditutupi oleh den Reza dari kalian semua.. kematian Tuan Alam yang begitu membuatnya terpukul hingga harus keluar masuk kerumah sakit setiap tahun nya. Ia begitu terpuruk saat tau jika tuan Alam meninggal dunia karena di bunuh. Den Reza stress saat itu. Walaupun ia masih kecil, tapi ia tumbuh dewasa lebih cepat dari umurnya. Dan sekarang? Kejadian yang sama terulang kembali. Dan terjadi pada orang yang sama.''
''Sekarang kita hanya bisa berdoa dan terus membujuknya, agar Den Reza mau membuka matanya. Kalau bisa Bapak akan membawa Neng Rani kehadapan nya. Demi den Reza bisa bangkit kembali apapun akan Bapak lakukan! Asalkan ia kembali sehat dan tidak terpuruk lagi seperti ini..''
💕
Masih ranah konflik!
Ada yang kenal dengan dokter Alvian?? Kalau belum, Cuss kepoin di cerita sebelah. Othor nggak buat cerita tentang dokter Alvian.
Tapi othor selipkan saja disini. Karena cerita ini nyambung ke cerita sebelah.
TBC
__ADS_1