
Reza menggendong Rani di depan. Dengan senter ia gigit di mulutnya untuk penerangan jalan.
Sesekali Rani meringis menahan sakit di kaki dan tangannya. Wajahnya semakin memucat saat ini.
Mata berbulu lentik itu terpejam, namun pikiran melayang entah kemana. Rasa sakit akibat timah panas itu semakin mengikis kesadaran nya.
Sesekali ia mengerjab. Sesekali tertutup lagi. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Reza.
Sudah tiga puluh menit mereka berjalan, tapi belum menemukan jalan keluarnya. Ia hanya mengandalkan filling dan pendengaran nya saja. Untuk memastikan jika jalan raya di depan sana sudah semakin dekat.
Sementara Paman Ali semakin gelisah. Ia menunggu di keponakan nya di pinggir jalan yang Rani katakan padanya.
Ia duduk dengan gelisah di dalam mobil. Ia menoleh pada seorang anggota polisi yang di tugaskan Rani untuk menunggu nya.
Semua kegiatan ini sudah di ketahui oleh polisi. Rani sengaja melakukan percobaan ini untuk mengungkapkan kasus kematian ayahnya dua puluh tahun yang lalu.
Ia nekat membahayakan dirinya di sarang harimau. Demi bukti, ia rela terluka. Semua bukti yang ditemukan Reza dan Fatih, kini sudah berada di tangan polisi.
Untuk mengungkapkan semua ini, Rani dipaksa untuk mencari bukti lagi. Bukti yang mengatakan jika memang benar Papa Rustam sengaja membunuh Ayah Alam dengan mensabotase mobil milik Ayah Rani.
Rani pun setuju. Hingga nekat menaruhkan nyawanya. Sebelum terjun kesana, dua hari yang lalu Rani sempat latihan memegang senjata bertimah panas itu.
Takut sebenarnya. Tapi untuk keadilan Ayah alam, Rani rela melakukan ini semua. Paman Ali menoleh pada anggota polisi yang sedang mengikuti arah pelacak yang berada di telinga Rani.
''Bagaimana? Apa masih jauh?''
__ADS_1
''Sebentar lagi mereka akan sampai. Seperti nya tuan Reza sangat tajam pendengaran nya ya? Hingga ia tau kemana arah tujuan ia melangkah keluar dari hutan pala wija itu.'' Anggota polisi itu terkekeh saat tadi Reza terkejut jika Rani bisa membidik lawannya tepat sasaran.
Paman Ali memicingkan matanya melihat anggota polisi yang bernama Andra itu. ''Kenapa kamu tertawa?''
Andra lagi, lagi terkekeh. ''Nanti Anda akan tau apa yang terjadi ketika di luar ruangan tadi. Setelah tuan Reza tiba, akan kita buka rekaman ini. Sabarlah Tuan..''
Paman Ali berdecak sebal. Ia menoleh lagi keluar jendela untuk memastikan jika Rani dan Reza sudah terlihat.
Suara Ambulan dari arah jalan semakin membuat langkahnya di percepat. Reza terengah-engah sembari menggendong Rani.
Dari jauh sudah terlihat mobil ambulan. Juga sebuah mobil sedan yang begitu ia kenal. Reza semakin mempercepat langkahnya.
Tiba di ujung jalan dekat dengan mobil ambulan, ia terpeleset hingga jatuh berguling-guling ke jalan raya membuat anggota polisi itu lari keluar dengan terburu-buru.
Paman Ali terkejut. Dengan segera ia pun mengikuti anggota polisi itu. Tiba disana, ia melihat Reza yang memeluk Rani dengan erat.
Dengan segera perawat yang ditugaskan oleh Paman Ali mengangkat tubuh Rani dan Reza ke dalam Ambulan.
Mereka terpaksa melepaskan pelukan Reza dari tubuh Rani yang begitu erat ia peluk. ''Astaghfirullah! Tuan! Kepala tuan Reza terluka parah!''
''Apa?! Bagaimana bisa?!'' pekik Paman Ali.
Anggota polisi itu terkekeh melihat Paman Ali. ''Ini lagi! Orang lagi genting gini, dia malah tertawa! Kamu kenapa sih Andra!'' sentak Paman Ali begitu panik.
Ia begitu gusar saat ini. Melihat dua keponakannya yang terluka akibat sebuah bukti dari masa lalu tentang kasus kematian Abang kandungnya. Alamsyah.
__ADS_1
''Mari tuan. Kita harus bawa mereka segera ke rumah sakit untuk segera ditangani! Jalan Pak!'' titah Andra.
''Baik!'' jawab Supir Ambulan itu.
Dengan segera mereka melaju meninggalkan keempat orang yang terkapar di dalam hutan palawija milik Rani.
Sementara Rani dan Reza dibawa kerumah sakit, Papa Rustam dan Mama Nia memilih untuk pulang ke rumah mereka.
Mereka tertawa-tawa sambil mengejek Rani dan Reza yang tidak akan selamat. Padahal sebaliknya.
Mereka tiba didepan gerbang rumah keluarga Rustamsyah. Turun dari mobil mereka begitu terkejut melihat pemandangan yang ada di depan mata mereka saat ini.
''Pa? Ini kenapa? Kenapa rumah kita rata dengan tanah? Siapa yang melakukan nya?!'' pekik Mama Nia.
''Pemilik sah yang melakukan hal ini, wahai Tuan Rustamsyah dan Nyonya Nia!''
Deg!
''Apa?!''
💕💕💕💕
Kasihan.. rumahnya hancur euuy!
Kira-kira gimana ya nasib kedua orang tua Reza dan Fatih?
__ADS_1
Ikutin terus kelanjutannya! 😉