Janda Kembang

Janda Kembang
Extrapart 2


__ADS_3

Pertempuran itu usai saat matahari sudah meninggi. Rani yang begitu semangat menyentuh Reza, tidak sadar jika hari ini ia dia harus kontrol lagi kerumah sakit.


Dan kebetulan obat untuk Reza Hanya tinggal sedikit. Tapi demi keutuhan rumah tangganya, Rani rela tidak pergi ke rumah sakit.


Yang penting saat ini adalah Reza. Ya, Reza sudah kembali lagi seperti dulu. Sudah mau makan, bersemangat, bergairah, juga semakin tampan saja. Tidak lesu seperti empat bulan belakangan ini.


Sebulan sudah berlalu semenjak pergumulan itu. Kini setiap malamnya Reza selalu menggempur Rani.


Rani tidak menolak, karena inilah yang di inginkan. Reza saking semangatnya menggempur Rani setelah Rani memberikan harapan padanya, walaupun hanya lima persen.


Rani yakin, jika memang sudah waktunya mereka mendapatkan anugerah itu pasti mereka dapatkan.


Mungkin saat ini mereka berdua sedang di uji tentang itu. Rani tetap memberikan semangat pada Reza.


Tubuh yang dulunya kurus, kini semakin berisi. Tidak ada lagi mengurung diri dalam kamar.


Reza sudah kembali seperti biasa. Kembali bertegur sapa dengan Para anggota rumah dan juga sudah kembali ke kantor.


Selama empat bulan ini paman Ali lah yang mengurus segalanya. Terkadang pria tua itu ingin sekali menendang Reza karena kelakuannya seperti itu.


Tapi karena Rani selalu berpesan, biar dia saja yang membujuk Reza akhirnya Paman Ali mengalah. Demi dirinya, begitu kata Paman Ali.


Dan pagi ini, Reza masih bergelung dalam selimut. ''Abang! Bangun ih! Ini udah siang loh.. masa' mau tidur lagi?? Nggak baik loh setelah subuh tidur lagi!'' bujuk Rani masih dalam pelukan hangat Reza.


''Abang ngantuk sayang.. hoaaamm.. mata ini lengket banget nggak bisa di buka sayang! Belum lagi, Abang mual bau parfum yang dipakai sama mereka diluar! Bau sayang! Abang nggak mau ah! Hanya bau kamu yang enak. Menyenangkan! Cup!'' ucap Reza. Ia mengecup sekilas pucuk kepala Rani yang masih basah akibat pertempuran mereka tadi malam.


Rani mengernyitkan dahinya. ''Bau? Mual? Ah, Masa' sih? Biasanya Abang nggak gini loh .. bangun ih! Ayo..'' ajak Rani lagi.


''Nggak mau! Abang mau begini aja sama kamu! Abang pingin lagi dek.. boleh ya?''


Rani terkejut, ''Eh? Lagi? Kan baru aja tadi habis subuh? Abang aja belum mandi besar, ih! Aku nggak mau!'' elak Rani dengan segera bangkit dari ranjang, tapi terhenti karena Reza menariknya kembali.


Brruukk..


''Astaghfirullah! Abang!!!'' pekik Rani.


''Sekali lagi, ya? Setelah ini Abang ke kantor! Boleh ya? Please...'' pinta nya dengan wajah memelas.


Rani menatap Reza dengan heran. ''Abang sakit? Nggak biasanya ah begini?''

__ADS_1


''Please sayang.. tuh coba kamu sentuh, pasti deh udah tegak tinggi kayak pohon kelapa! Please Hunny...''


Rani yang mendengar perkataan Reza jika sudah setinggi pohon kelapa tertawa terbahak hingga kepala nya mendongak ke atas.


Itu semua membuat Reza bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan.


Cup!


Cup!


Rani masih saja tertawa. Tapi Reza dengan gesit terus membuat Rani ikut terhanyut bersama nya.


Dan ya. Rani terhanyut dengan perlakuan Reza yang memabukkan hingga pertempuran itupun tidak bisa di elak kan. Maka terjadilah pertempuran untuk yang kesekian kalinya.


Dua jam kemudian, Reza keluar dari kamar dengan wajah berseri. Begitu juga dengan Rani.


Namun pada saat berpapasan dengan adik sepupu nya, tiba-tiba Reza merasakan mual yang sangat.


Sangat mual, kepalanya pusing. Perut bergejolak hebat. Dengan cepat, Reza berlari lagi ke kamar mandi miliknya dan Rani.


Tiba di sana Reza mengeluarkan semua isi perutnya. ''Hueeekkk... hueeekk.. hueeekk...'' Reza memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja ia makan bersama Rani.


''Abang masuk angin?'' tanya Rani pada Reza yang masih saja muntah.


Tidak ada lagi cairan dari dalam perutnya hanya ludah saja yang keluar. Reza mencuci mulutnya dan duduk bersandar di dinding kamar mandi.


Sementara adik sepupu Reza dan Rani terkejut melihat reaksi Reza yang tidak biasa. Walau ia kuliah jurusan keperawatan, sedikit tidaknya ia tau gejala apa yang sedang di alami Reza saat ini.


Namun ia tidak berani mendiagnosa. Biarlah Rani sendiri yang memeriksakan dirinya nanti kerumah sakit.


''Sayang.. Abang tidak ke kantor. Abang lemas.. Abang tiduran aja ya? Kepala Abang pusing! Cuman bau kamu yang membuat Abang lebih baik. Abang mohon.. ya?'' imbuh Reza dengan wajah yang semakin pucat.


Rani semakin dibuat kebingungan, namun ia tetap menuruti kemauan Reza. Dengan segera ia memapah Reza untuk di bawa ke ranjang.


Tiba di ranjang, Reza dengan segera memeluk perut Rani. Ia ingin tidur di pangkuan Rani.


Dengan segera, Rani mendial nomor Paman Ali. Rani mengatakan jika Reza tidak bisa ke kantor karena sedang sakit.


Paman Ali dan Fatih semakin kesal saja dengan kelakuan Reza. Rani tertawa. Akhirnya demi mengurangi beban Fatih dan Paman Ali, Rani memilih dialah yang akan menyelesaikan pekerjaan Reza yang tertunda selama lebih kurang lima bulan ini.

__ADS_1


Rani mengambil laptop dan membuka nya. Ia membuka setiap email yang dikirimkan Fatih untuk di periksa.


Sedikit tidaknya Rani tau tentang masalah perusahaan yang sedang dirintis oleh Reza dan Fatih.


Ia memilih jalan ini, untuk bisa mengurangi beban Reza saat sakit dulu. Dan terbukti. Semua itu ada gunanya sekarang ini.


Dengan cepat Rani mengadakan meeting online terhadap para klien yang ingin berbicara dengan Reza.


Rani berbicara begitu lugas pada setiap klien Reza. Satu persatu Rani jelaskan dan menjawab semua pertanyaan mereka.


Reza yang sedang terpejam tersenyum manis mendengar ucapan Rani dan juga para klien nya.


Sikap Rani sama sepertinya. Tegas dan dingin saat berbicara dengan klien mereka. Masih dalam keadaan pusing, Reza sempat melihat wajah Rani yang berubah menjadi galak.


''Apa yang anda katakan tuan Amir! Jika anda tidak menerima kesepakatan yang kami lakukan kenapa dulu anda menandatangi kontrak ini? Sudah saya ingatkan dulu. Segala sesuatunya yang di tangani oleh tuan Reza suami saya, itu juga menjadi urusan saya! Terima tidak terima saya tidak peduli! Seharusnya anda konsisten tuan Amir! Tau seperti ini, saya tidak mau menerima proposal dari Anda! Menyesal saya membantu anda! Proposal Anda akan saya cabut! Tuan Ali!''


''Saya Nyonya!''


''Cabut semua investasi yang pernah kita kirimkan pada perusahaan kecil miliknya. Bayar denda ganti rugi dari pembatalan kontrak!''


''Baik, Nyonya! Segera saya laksanakan!'' sahut Paman Ali. Ia tersenyum tipis melihat sikap Rani yang sama persis seperti Reza.


Tegas dan dingin. Dia akan bertindak tegas kepada siapa saja yang tidak suka dengan kinerja nya selama ini.


''Cih! saya tidak sudi harus bekerja sama dengan pemimpin wanita seperti Anda! Menyesal saya dulu mau bekerja sama dengan Anda!''


''Saya tidak meminta anda untuk mau tanda tangan kontrak di perusahaan saya. Tapi anda lah yang mengajukan diri. Setelah apa yang sudah kami lakukan untuk perusahaan mu, kini anda ingin berpaling dari kami karena sudah mendapatkan suntikan dana dari perusahaan lain yang lebih menguntungkan Anda begitu? Cih! Tidak tau terimakasih! Sekali lagi saya tekankan, jika ada diantara kalian masih ada seperti tuan Amir, silahkan keluar! Sebelum saya nantinya yang menendang anda dari perusahaan saya! Sekian dan terimakasih atas pertemuan hari ini! Segera urus kontrak kerja sama mereka tuan Ali! Satu kali dua puluh empat jam, surat itu sudah ada ditangan saya! Meeting selesai! Tut!'' layar laptop di depan Rani menghitam seketika.


Reza yang sedari tadi mendengar ucapan Rani tertawa terbahak-bahak. Rani terkejut melihatnya.


''Weleh? Abang udah bangun?''


''Kamu keren sayang! Kamu cocok jadi Presdir di perusahaan kita selain dari bang Fatih!''


''Hoo.. ternyata Abang pura-pura ya? Pura-pura sakit agar aku yang harus menangani si tua Bangka Amir itu?! hem?!''


''Hahaha... hahaha...'' Reza tertawa terbahak saat pinggangnya di gelitiki oleh Rani.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2