Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 134


__ADS_3

Belum juga Zidan sampai di depan pintu, Zakia sudah masuk ke dalam ruangan dan menyalami setiap orang yang ada disana. Zakia langsung duduk di sofa single yang ada diruangan itu. Yang lain hanya menatap bingung pada Zakia yang tiba-tiba masuk dan duduk seakan tidak terjadi apa-apa.


"Sayang? " Panggil Zidan lembut seraya mengelus kepala istrinya.


"Nee" Zakia mendongak menatap sang suami yang mendudukkan dirinya di lantai.


"Duduk diatas ih jangan dilantai" Meskipun berlapis karpet, akan tetapi Zakia merasa tak sopan jika dirinya duduk diatas sedangkan sang suami dibawah.


"Gak ada kamu" Jawab Zidan enteng.


"Ini Kia kan juga duduk diatas, Mas ih" Zakia menarik jari jemari Zidan.


"Apa sih sayang" Zidan seakan tuli dengan permintaan sang istri.


"Pindah ke atas Mas" Zakia melembutkan suaranya.


Zidan malah merebahkan kepalanya dipangkuan Zakia. Membawa tangan sang istri ke kepalanya. Zakia langsung memijat pelan kepala Zidan.


"Kamu kenapa, Dan? " Tanya Nita saat melihat tingkah Zidan yang bermanja pada sang istri.


"Pusing, Bun. Biasa kerjaan kantor lagi numpuk, apalagi Zidan kan LDR sama kerjaan" Jawab Zidan tanpa melihat lawan bicaranya, karena dirinya masih menikmati pijatan lembut dari sang istri.


"Repot ya, bingung juga mau gimana" Ucap Nita menanggapi ucapan Zidan.


"Kenapa kalian gak pindah aja ke luar negeri? " Usul Aryo.


"Aku baru kumpul sama anak bungsu ku loh, Mas" Protes Zalia. "Masa udah mau dipisah lagi, meskipun sekarang Kia bareng Zidan. Tapi kan kita masih satu kota, kalau kangen aku bisa susulin dia atau dia yang main kerumah"


"Tapi Lia, bagaimanapun Kia sekarang sudah milik suaminya. Kalau Zidan yang meminta, Mas yakin jika Kia akan menurut pada Zidan"


Zalia terdiam, benar yang dikatakan oleh Aryo. Namun, dalam hati dirinya tak rela jika harus berpisah jauh dengan putri bungsunya. Apalagi waktu mereka bersama tergolong sangat singkat, karena Zakia sudah dinikahi oleh Zidan.


"Mama gak usah khawatir bakalan jauh dari Kia. Masalah pekerjaan Zidan itu gampang, Ma. Kia bakalan tetep di Indonesia kok, gak bakal Zidan boyong ke luar negeri" Ucap Zidan pelan seakan mengerti kekhawatiran ibu mertuanya.


"Usaha Kia juga di sini, kita juga sudah sepakat kalau kita bakalan tinggal menetap di Indonesia, mungkin sesekali ke luar negeri untuk kunjungan ke perusahaan" Jelas Zakia membuat Zalia bernapas lega.


"Sesekali nginep di rumah Kia, jangan nunggu Mama kangen dulu baru mau nginep"

__ADS_1


"Nggih Mama ku sayang" Jawab Zakia lembut.


"Jadi kalian tetap mau tinggal bareng orang tua kalian atau gimana? " Tanya Riski.


"Alhamdulillah Zidan lagi bangun rumah impian Kia, Yah. Sebenarnya di luar negeri Zidan sudah ada rumah, tapi Kia maunya tinggal di Indonesia jadi Zidan bangun lagi disini. Sambil nunggu rumah kita jadi sementara kita bareng sama Ayah sama Ibu" Jelas Zidan panjang lebar.


"Kenapa gak beli jadi aja kalian? " Tanya Nita.


"Kia punya tanah, Bun. Jadi sayang kalau gak dipakai" Jawab Zakia.


"Kapan kamu beli tanah? " Tanya Tania sedikit linglung. Adiknya ini suka sekali memberi kejutan tak terduga.


"Pas Kia sampai, sekalian cari tempat buat resto juga waktu itu. Ada tanah dijual Kia iseng akhirnya deal dibeli. Sekarang dibangun rumah sama Mas" Jawab Kia.


"Berarti kalian bangun di rumah dekat jalan raya? " Tanya Zalia memastikan. Karena dirinya cukup mengenal karakter Zakia yang tak jauh beda dengan sang papa.


"Enggak kok Ma, tanah itu udah dijual sama Mas Zidan" Jawab Zakia enteng.


"Kalau udah dijual ngapain kamu omongin, Kia" Tania mendramatisir keadaan.


"Kan Mbak tanya, ya Kia jawab. Salahnya dimana tho? "


"Zidan dapat lokasi seperti apa yang Kia mau, Dad. Jadi tanah yang Kia aku jual. Uangnya buat beli tanah yang sekarang dibangun, karena Kia kekeh mau bangun rumah diatas tanahnya sendiri pakai uangnya sendiri" Jelas Zidan.


"Yash di ruangan lo ada bed gak sih? " Tanya Zidan mengangkat kepalanya.


"Ada, kenapa? "


"Numpang istirahat bentar, gue pening"


Zakia langsung bangkit dari duduknya. "Istirahat di ruangan Kak Vier aja yuk. Ada Mom juga disana, sekalian Kia ketemu" Ajak Zakia namun Zidan menggeleng pelan.


"Mas anterin kamu ke ruangan Xavier, tapi cuma sampai depan pintu aja. Kalau ikutan masuk, Mas gak enak sayang. Secara dia orang tua kamu juga walau cuma orang tua angkat, masa gak mas temenin ngobrol. Posisi Mas sebagai menantu soalnya" Zidan berkata lembut sambil mengelus kepala istrinya.


Di sisi lain, Yash mendekat ke arah Alesha. "Sayang? " Panggilnya pelan.


"Hmm? " Alesha menoleh ke arah Yash.

__ADS_1


"Sejak kapan kulkas itu bicara panjang lebar? " Alesha hampir saja tertawa mendengar pertanyaan konyol suaminya.


"Sejak dipawangin mantan janda kembang yang satu itu" Terang Alesha sambil cekikikan sendiri.


"Power adik ipar aku emang gak ada lawan. Kamu tahu, sekarang Vier mulai mencari jati dirinya yang sesungguhnya, dia mulai mendalami agama yang dia anuti. James, dia juga mulai menata dirinya menjadi lebih baik. Dia sudah gak pernah keluar masuk club semenjak Zakia mengomel padanya" Yash terkekeh mengingat bagaimana James mati kutu di hadapan Zakia yang tengah mengomel saat itu.


"Iyakah? " Alesha menoleh tak percaya pada sang suami dan mendapat anggukan mantap dari sang suami.


"Zakia pernah gak sengaja papasan sama mobil James pas dia mau masuk ke club, dia tanyain beneran mobil James bukan. Dengan polosnya James ngaku kalau itu dia" Yash berusaha menahan tawanya agar tak pecah.


Alesha pun juga begitu, bisa dibayangkan seperti apa ekspresi James saat adiknya memulai kelas ceramahnya.


"Itu ada bed, Dan. Istirahat disitu aja kalau kamu capek, kalian mau nginep apa gimana? " Tanya Zalia.


"Iya Dan, istirahat disitu aja. Sudah gak usah merasa sungkan sama kami, kami juga orang tua kamu dan kamu juga anak laki-laki kami" Jelas Nita panjang lebar.


Zidan hanya menganggukkan kepalanya, dan berjalan menuju bed. Zakia hanya mengekori kemana Zidan melangkah. Bahkan saat Zidan sudah berbaring Zakia masih setia berdiri di samping bed tempat sang suami tidur.


"Kenapa sayang? " Zidan bangun dan menggenggam tangan sang istri.


Zakia hanya menggeleng pelan. Namun Zidan menangkap jika sorot mata itu menginginkan sesuatu.


"Ayo, Mas antar ke ruangan Xavier" Zidan langsung bangkit dan menarik lembut tangan Zakia. "Kenapa? " Zidan menoleh saat Zakia tak bergerak dari tempatnya.


"Kia cuma mau pamit sama Mas buat ke ruangan Kak Vier, mau ketemu Mom. Mas istirahat aja"


"Sudah gak papa, ayo. Mas juga mau nyapa ibu mertua Mas yang satu itu. Orang tua kamu juga orang tua Mas, ayo" Zakia masih menatap Zidan dengan mata bulat polosnya. "Mau digendong? " Tanya Zidan karena Zakia tak kunjung bergerak.


Pipi Zakia sedikit memerah karena malu, Zakia langsung menarik tangan Zidan keluar. Apalagi dengan Zidan yang terkekeh melihat respon kecil Zakia.


"Kita ke ruangan Xavier dulu, Kia mau ketemu Mom Xavier katanya" Pamit Zidan yang tertarik karena tarikan Zakia.


Tawa yang lain langsung meledak melihat interaksi antara Zakia dan Zidan yang menurut mereka lucu. Zakia yang manja dan Zidan yang suka usil dengan sang istri. Tidak ada yang menyangka dibalik sosok dingin Zidan ada sikap hangat yang hanya ditujukan untuk orang terdekatnya. Mereka merasa beruntung Zakia mendapatkan sosok seperti Zidan.


"Kia lucu ya kalau sama Zidan" Ucap Nita.


"Dia cuma manja sama Zidan" Tambah Tania.

__ADS_1


"Gimana gak manja, tiga tahun dia hidup berdampingan sama Zidan. Siapa juga yang akan menyangka jika dibalik suksesnya Zidan dalam dunia bisnis ada Zakia yang menjadi support system terbaik" Tambah Tania lagi.


Sedikit banyak Tania tahu kehidupan Zakia di luar negeri, karena dirinya kerap kali bertanya siap adiknya pada Zidan. Meskipun dirinya tak membagi pada yang lain, tapi Tania tahu sekeras apa Zakia untuk bangkit dari masa lalunya. Menara hidupnya dengan kembali dan mulai menjadi dirinya sendiri dengan versi terbaiknya.


__ADS_2