
Tangan Rani gemetar ketika ingin menyentuh map berwarna kuning keemasan itu.
''Jangan bilang, jika i-ini....'' ucap Rani dengan terus menatap map itu.
Reza tersenyum lebar. ''Ya, seperti dugaan mu! Ini adalah bukti selanjutnya! Bukti di mana kita berdua memang sudah dijodohkan saat kau masih dalam kandungan Ibu! Dan ini adalah Surat wasiat Ayah Alam! Ayah buat surat ini sebelum kau dilahirkan dua puluh tahun yang lalu!'' sahut Reza masih dengan senyum manis tersungging di bibir tipisnya.
Deg.
''Ja-jadi... ini beneran??''
''Ya, sayang!'' sahut Reza dengan tersenyum lebar.
Rani menatap Reza, sedang Reza masih dengan senyum di bibirnya. ''Bukalah! dan baca setiap tulisan tangan Ayah Alam yang memang di tujukan untuk kita berdua sebagai penerus ketiga setelah Ayah Alam dan kakek Mahmud,'' ujarnya lagi membuat Rani semakin penasaran dengan isi surat wasiat itu.
Surat wasiat Muhammad Alamsyah.
Pada hari ini, pada tanggal 05 April 2003 bertempat di Kota Medan. Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama. : Muhammad Alamsyah
Tempat Tanggal lahir : Bogor, 26 April 1979
Alamat. : Jalan raya Medan baru, komplek perumahan Setia permai. No. 243 E.
No. KTP. : 657009876543xxxxx
Dengan ini menyatakan bahwa,
Seluruh harta yang saya miliki dari keluarga saya, Ayah Mahmud akan saya hibahkan kepada putri kandung saya yang bernama Aisyahrani binti Muhammad Alamsyah dan putra saya Ar Reza bin Rustam Syah sebagai pemilik yang sah.
__ADS_1
Surat wasiat ini akan hanya berlaku saat Aisyhahrani menikah dengan Ar Reza ketika umur Rani genap dua puluh tahun.
Deg.
Rani mematung membaca isi surat wasiat itu. Reza menyentuh tangan Rani. ''Ayo lanjutkan!'' titah Reza.
Seluruh harta kekayaan saya yang berada di Medan, tanah di komplek perumahan Griya M juga akan menjadi milik Aisyahrani dan Ar Reza pada saat mereka telah menikah nanti.
Setapak tanah beserta rumah di komplek perumahan Mahmud Alamsyah, juga akan menjadi milik Aisyahrani dan Ar Reza.
''I-ini.. bukannya ini rumah Abang??''
Reza menggeleng. ''Bukan! Tanah dan rumah itu beserta isinya milik ayah Alam. Sebelum kedua orang tuaku merebutnya, rumah itu adalah hadiah pernikahan dari kakek Mahmud untuk ayah Alam.'' sahut Reza dengan raut wajah dingin mengingat kedua orang tuanya.
__ADS_1
Rani menoleh, kemudian menatap lagi surat wasiat itu dan membacanya.
Istri saya yang Bernama Sri Sarasvati Alamsyah, Aisyahrani dan Ar Reza yang akan mengurus hari tuanya.
Demikian lah isi surat ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa paksaan ataupun dipaksa oleh orang lain. Dan saya berharap, kedua keturunan saya ini akan menjalan kan surat wasiat ini dengan sebenarnya.
Tertanda. Saksi
Muhammad Alamsyah. Ramlian Syah.
''Ramlian Syah?? Paman Ali??''
''Ya, paman Ali. Paman kita. Coba baca yang di belakang nya pasti ada surat untuk mu dan untukku.'' sahut Reza dengan menatap Rani.
Rani memicingkan matanya. ''Dari mana Abang tau, jika di belakang surat wasiat ini ada surat untuk kita berdua?? Jangan bilang, Abang udah membuka nya duluan?!'' tebak Rani dengan sedikit menatap Reza tajam.
Reza tergelak. ''Nggak sayang! Abang aja baru tau sekarang? Mana mungkin Abang udah tau duluan.'' sahut Reza masih dengan terkekeh kecil.
''Habisnya, Abang yang kayak udah tau gitu tentang surat ini. Makanya aku tebak aja. Kalaupun benar, kan aku nggak payah lagi bacanya?? Ishh...'' gerutu Rani.
Lagi dan lagi Reza tertawa. ''Dengar sayang. Abang memang sudah tau tentang surat wasiat itu. Tapi untuk surat kita berdua, paman Ali yang bilang sama Abang. Saat itu Abang ingin tau apa isi dari kotak Ayah ini. Kenapa sangat rahasia, pikir Abang. Jadi, untuk menghilangkan rasa penasaran itu, Abang bertanya pada paman Ali. Dan ya, paman Ali bilang, di dalam kotak itu tidak hanya surat-surat saja. Tapi juga berisikan petunjuk tentang kematian Ayah ada disana. Dan juga surat untuk kita berdua yang sengaja Ayah tulis dengan tulisan tangannya sendiri.. Demi kita berdua, Ayah rela pergi ke Medan untuk menulis surat ini. Bahkan ketika beliau tau akan dibunuh pun, beliau meminta jika nanti Ayah tiada, Ayah ingin di kuburkan di depan atau belakang mesjid raya Al Mashun. Karena itulah permintaan terakhir nya.''
Rani tercenung mendengar pernyataan Reza. Apakah benar seperti yang dikatakan Reza?? Apakah bukti pembunuhan Ayah itu ada disana??
Bukti seperti apa??
💕
Maaf jika nggak sesuai dengan ekspektasi kalian tantang isi suratnya. Jika nanti othor sebutkan berapa banyak meter tanah Ayah Alam, yang ada othor pusing jadinya.
Jadi harap maklum aja ya, kalau othor ringkas.
__ADS_1
Masih ada lagi. Di tunggu ya! 😁😁
TBC