Janda Kembang

Janda Kembang
Menyusul nya


__ADS_3

Melihat Reza keluar dengan berlari, Rani pun mengejarnya. Tiba disana, terlihat raut wajah Fatih dan Karin begitu terkejut.


Melihat Reza begitu panik, Rani heran. Ada apa pikirnya. Kakinya melangkah menuju dimana Reza dan Fatih berdiri.


Selesai berbicara dengan Fatih dan Alisa, Reza pun pamit pergi. Dari kejauhan mereka menatap Rani yang tak jauh berada dari mereka semua. Tanpa menoleh lagi dengan segera Reza keluar dari rumah Alisa.


Rani semakin bingung. Tapi ia tidak melangkah mendekati mereka semua. Ia berdiri mematung disana.


Sebelumnya ia pamit pada Alisa dan Lana. Alisa menoleh pada Rani dengan tatapan sendu nya.


Begitu juga dengan Fatih dan Karin. Fatih mendekatinya. ''Pulanglah Dek! Reza membutuhkan mu saat ini. Ibu mu sedang dalam bahaya sekarang! Demi kalian berdua, Reza rela harus berkorban nyawa. Pergilah! Sebelum semuanya terlambat! Jika sudah, menyesal pun tidak ada gunanya. Abang hanya memberikanmu nasehat. Bukan menggurui dan memaksa mu. Lepaskan dan kembalilah! Reza butuh kamu Dek.. jika kamu tidak bisa menolong nya sekarang, maka siapapun tidak ada yang bisa menolong nya! Kunci nya ada pada mu, makanya kami datang kemari untuk menyusul mu! Pergilah sebelum terlambat! Maut sedang menanti suami mu disana!''


Deg!


Deg!


''Apa maksud Abang? Menyesal? Kenapa? Lalu, maut? Siapa?''


''Tanpa Abang jelaskan pun kamu tau jawabannya! Pergilah, sebelum terlambat! Kau akan menyesal seumur hidup mu jika tidak menyusul suami mu sekarang! Pergilah! Supir Abang sudah menunggu mu di luar!''


''Rani masih bingung ini-,''


''Kamu tak perlu bingung. Semua ini memang sudah di atur dan direncanakan oleh Reza. pergilah menyusulnya ke Bogor. Jangan biarkan pengorbanan nya selama ini sia-sia Dek.. dia cukup sabar menanti mu selama hampir setahun ini. Cukup banyak waktu yang terbuang karena dia selalu memikirkan mu. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan! Pergilah, sebelum terlambat. Tiket keberangkatan mu memang sudah di pesan sejak kemarin!''


''Apa?! Tapi...'' Rani menatap Karin.

__ADS_1


Sedangkan Karin terkekeh geli. ''Ck! sayang....'' tegur Fatih.


''Iya By! Iya! Hallo adik ipar! Kita berjumpa lagi! Sebaiknya kamu cepat pergi, Reza sudah menunggu mu di bandara. Jangan pikirkan Kakak, Rani.. bayi ini aman bersama kedua orang tua nya.''


''Kakak ipar? Jadi Kakak ..''


''Ya, Karin istri Abang! Bukan istri Reza! Kamu salah paham, Dek.. pergilah sebelum terlambat!'' desak Fatih lagi.


''Tapi...''


''Ai??'' sela Alisa, karena melihat Rani begitu keras kepala.


''Mbak...''


Alisa tersenyum, ''Pergilah! Suami mu membutuhkan mu. Untuk saat ini, buang ego mu. Sedikit saja kamu terlambat, maka semua ini akan sia-sia. Jika bukan untuknya, maka lakukan untuk ibu mu. Ibu Saras dalam bahaya sekarang. Maka dari itu Reza menyusul mu kesini untuk segera di bawa ke Bogor bersama nya untuk menyelamatkan ibu mu. Dengarkan Mbak, Dek! Jika kamu masih ingin sendiri, silahkan! Kami tidak akan melarang mu. Tapi untuk saat ini banyak nyawa yang di pertaruhkan oleh Reza demi kalian berdua. Kamu rela jika seluruh karyawan ayah mu dari semenjak ayah mu masih hidup mati sia-sia? Apakah kamu bisa menggantikan nyawa ayah atau ibu mereka jika terjadi sesuatu disana saat menolong ibu mu?''


''Baik!'' sahut mereka berdua.


''Ini akan sakit sedikit, tapi tenang saja. Kamu tidak akan apa-apa. Buka mulut mu!'' titah Karin.


Rani yang masih kebingungan terpaksa membuka mulutnya. Setelah terbuka, Karin memasang sesuatu yang begitu kecil di dalam gigi Rani yang berlubang.


''Arrgghtt.. aduh... sakit Kak!''


''Eit! Jangan banyak bicara! Semua ini demi dirimu! Kami akan memantau mu melalui benda kecil itu. Reza pun sudah memasangnya kemarin! By! Ayo, kita harus bergegas sebelum pesawat Reza lepas landas!''

__ADS_1


''Ya! ayo! Alisa, kami pamit! Setelah urusan di Bogor nanti selesai, kami akan kembali lagi kesini. Karena disinilah rumah kami sekarang. Dan juga rumah kami kayak nya hampir siap? Ya kan sayang?'' tanya Fatih pada Karin.


Karin terkekeh. Sedangkan Rani melototkan matanya. Ingin berbicara tapi Karin melarang nya.


Karena sesuatu yang baru saja ia masukkan masih harus menyatu dengan gigi nya. Rani meringis merasa ngilu pada giginya yang berlubang.


''Dasar kampret Kak Karin! Benda apaan sih yang dimasukkan ke dalam gigi ku? Kok ngilu banget ya? Haduuhh... dasar kakak ipar durjana!'' sungut Rani dalam hatinya.


''Jangan mengumpat ku, Dek! Kualat kamu!'' ketus Karin.


Fatih tergelak hingga kepalanya mendongak ke atas.


Rani melototkan matanya. Ia menatap Alisa yang terkekeh. ''Mbaakkk..'' rengek Rani dalam hati. Namun Alisa tau apa yang adik nya itu katakan. Karena bahasa tubuh Rani yang sedang kesal padanya dengan menghentak kan kakinya ke lantai.


''Ternyata mereka berdua begitu mirip ya?'' celutuk Fatih.


Karin terkikik geli. ''Wong jodoh? Piye?''


Lagi, Fatih tertawa. Setelah nya mereka bergegas pergi. Namun sebelum pergi Alisa memberikan sesuatu pada Rani untuk jaga-jaga.


''Sebelum pergi, bawa ini! Ini pasti berguna nanti!''


Mata Rani berkaca-kaca. Ia terharu. Alisa tau itu. ''Pergilah! Susul suami kamu ke Bogor, karena hanya kamu yang bisa melakukan nya!''


Rani mengernyitkan dahinya bingung, namun tetap mengangguk. Setelah nya mereka pergi dari kediaman Alisa .

__ADS_1


Untuk segera ke bandara, dimana Reza sudah menunggu mereka disana.


TBC


__ADS_2