
Saat di perjalanan, Fatih menghubungi Reza. Ia mengatakan jika Rani ikut bersama mereka. Reza tergelak senang.
Sedangkan Karin dan Fatih terkekeh. Rani yang mendengar cemberut. Wajah itu semakin kusut.
Reza yang melihat Rani dari sambungan ponsel nya terkekeh-kekeh. ''Selamat datang kembali sayang, di dalam keluarga besar Alamsyah!'' seru Reza sengaja untuk menggoda Rani.
Rani melotot, lagi Reza tertawa lepas. Ia sangat suka saat melihat Rani jutek seperti itu.
Fatih dan Karin saling pandang. ''Kamu bawa ponsel kan Dek?'' tanya Fatih.
Rani mengangguk, ''Tuh, bini elu bawa ponsel! Hubungi gih nomornya! Jangan nomor gue mulu! Habis pulsa gue!'' ketus Karin.
Fatih tertawa. Reza berdecak, ''Dasar Kakak ipar medit!''
Karin melototkan matanya. Rani terkekeh geli. Reza pun sama. Sambungan ponsel itu terputus karena mobil mereka harus berhenti.
Rani bingung. Fatih terkekeh lagi. Begitu juga dengan Karin.
Tok, tok.
Jendela mobil Rani di ketuk dari luar. Ia menoleh. Ternyata Reza lah yang mengetuk jendela nya.
Melihat itu Rani mendelik menatap Karin dan Fatih. Seakan tau Fatih berbicara, ''Jangan salahkan Abang! Semua itu salah suami mu! Karena dia tidak berhasil membujuk mu, makanya Abang ikut-ikutan. Beruntung nya Alisa bisa bekerja sama.''
Lagi mata Rani membola. Reza terkekeh Dengan segera ia. membuka pintu mobil itu setelah Fatih membuka pintu mobilnya terlebih dahulu.
''Sayang, ayo! Kita harus segera berangkat. Waktu kita tinggal tiga jam lagi. Belum lagi perjalanan kita yang jauh harus makan waktu lumayan lama. Ayo!'' ajak Reza lagi pada Rani.
Rani merengut sebal. Wajahnya masam. Gemas Reza, ia mengecup sekilas pipi itu.
Cup
Rani melotot kan matanya dan menimpuk lengan Reza.
''Ishhh...'' gerutu Rani.
Reza tertawa. ''Ayo! Mau di cium lagi?''
Rani mendelik, dengan segera Rani keluar dari mobil Fatih. Ia kesal terhadap Reza.
''Awas Abang!'' ucap Rani melalui matanya, karena mulut nya tidak boleh dibuka sebelum satu jam lamanya.
__ADS_1
Lagi, Reza tergelak kencang. Fatih dan Karin tersenyum. ''Semoga mereka berdua cepat bersatu ya By? Kasian Reza jika Rani menolaknya..''
Fatih menghela nafas berat. ''Maka dari itu, kita harus lebih giat lagi dalam membujuk Rani. Semua ini karena kesalahan ku. Jika bukan karena ku, maka semua ini tidak akan terjadi..'' lirih Fatih.
''Sudahlah By.. semua itu sudah berlalu, aku yakin Rani pasti sudah memaafkan mu. Ayo, kita juga harus bergegas. Mereka berdua juga membutuhkan kita disana.''
''Ya,'' sahut Fatih.
Dengan segera mobil sedan milik Fatih mengikuti mobil Reza yang sudah terlebih dahulu berjalan.
Dua jam kemudian, mereka tiba di bandara. Mereka berempat dengan segera check out, karena penerbangan akan segera lepas landas.
Hanya tersisa mereka lagi. Sedangkan penumpang lain sudah pada masuk semua. Rani berdebar kembali, setelah sekian lama ia tidak pulang ke Bogor, sekarang harus kembali lagi ke tanah kelahirannya.
****
Tiga jam kemudian, mereka telah tiba di bandara Halim Perdanakusuma. Untuk selanjutnya pulang ke Bogor, sudah menunggu satu buah mobil Alphard disana yang di supiri oleh Pak Rahmat.
Melihat Rani, pak Rahmat tersenyum. ''Apa kabar Neng?''
''Alhamdulillah baik Pak.. '' sahut Rani dengan tersenyum tipis.
''Selamat datang kembali di kota kelahiran, Neng.. ayo! Kita harus segera! Karena semua ini tergantung Neng Rani dan den Reza!'' imbuhnya dengan segera berlalu untuk membuka pintu mobil Alphard punya Reza.
Pak Rahmat terkekeh. Ia sangat mengenal majikannya yang satu ini. Selama menikah dengan Karin, Fatih banyak berubah.
Mereka berenam dengan segera meninggalkan bandara. Dengan segera mereka ke Bogor menuju kediaman keluarga Fatih. Karena disanalah peperangan ini akan terjadi.
Jam delapan malam mereka baru tiba di Bogor, karena harus melewati kemacetan yang lumayan banyak.
Saat tiba di kediaman keluarga besar Fatih Rani mematuung. Ia mengingat sesuatu. Reza menatap Rani.
''Ada apa??''
Rani menoleh, ''Aku tidak bisa masuk ke rumah itu!''
''Hah?''
''Karena sumpah seseorang, aku tidak bisa masuk ke rumah ini! Dia mengharamkan ku untuk masuk kesana! Jika mereka ingin bertemu denganku, bawa mereka keluar dan aku tunggu disini!'' tegas Rani.
Reza menatap Fatih sedang Fatih menunduk. Karin bingung, ''Ini ada apa sih? Siapa yang melarang mu masuk kerumah ini Rani?''
__ADS_1
''Suami mu!''
Deg!
Mata Karin membola. ''Tapi kenapa?'' pekik Karin dengan suara meninggi.
''Maaf Dek .. karena emosi Abang harus melarang mu untuk masuk kerumah ini lagi.'' Lirih Fatih.
Rani tersenyum kecut ''Sudahlah Bang! Semua itu sudah berlalu! Sekarang, yang aku inginkan adalah jika mereka berdua ingin menemui ku, maka keluar dari rumah ini.'' tegasnya lagi.
Fatih semakin merasa bersalah terhadap Rani. Masih di dalam mobil, Reza dengan segera keluar dan ingin menemui kedua orang tua nya.
Begitu juga dengan Fatih, ia segera turun di ikuti Karin di belakang nya. Begitu juga dengan Pak Rahmat.
Ia pun ikut turun. Tapi tidak dengan Rani. Matanya terus menatap rumah besar itu. Rumah yang ternyata kepemilikan nya atas nama Rani.
Yang dulunya sudah di ubah oleh Reza ketika Rani menikah dengan Fatih. Rani menerawang jauh saat dimana ia menjadi istri Fatih.
Dan sekarang ia kembali lagi saat dirinya menjadi istri Reza. Akankah kejadian setahun silam itu terulang lagi?
Entahlah, Rani pun tidak tau. Ia menghela nafas saat melihat dua orang paruh baya keluar dari rumah itu dengan angkuhnya.
Rani menatap tajam pada kedua orang itu. Matanya terus menelisik pada setiap sudut rumah itu.
Mencari seseorang yang katanya menjadi tawanan mereka karena ingin memancing Rani.
Rani tersenyum smirk mengingat hal itu. ''Rupanya kalian ingin bermain-main ya dengan ku? Jangan salahkan aku jika jebakan ini akan berbalik pada diri kalian! Jangan kalian kira aku bodoh, tidak tau apapun! Selama hampir setahun ini,. sengaja aku menyendiri menjauhi kalian semua. Karena aku tau, kalian semuanya penipu! Termasuk dia! Tak kusangka, pengorbanan ku selama ini membuahkan hasil!''
''Kalian ingin bermain-main dengan ku bukan? Baiklah,.. akan ku ikuti permainan kalian! Tapi setelah itu, giliran ku yang akan bermain.'' Gumam Rani dengan sedikit senyum misterius disana.
Rani merogoh ponselnya dan mulai berbicara serius dengan seseorang disana. Sementara itu, Reza dan Fatih serta Karin sedang menemui sepasang paruh baya itu.
''Sudah sampai rupanya! Mana gadis pembawa sial itu!'' ketus Mama Nia.
Reza menatap datar pada nya. ''Kami sudah membawa Rani seperti keinginan mu!'' imbuhnya.
''Bagus! Ayo, masuk! Biarkan gadis itu di dalam mobil dan dia akan segera mati terbakar disana!''
"Hahaha..."
Deg!
__ADS_1
"Terbakar??"
TBC