Janda Kembang

Janda Kembang
Meledak


__ADS_3

''Sudah sampai rupanya! Mana gadis pembawa sial itu!'' ketus Mama Nia.


"Ada di mobil," sahut Fatih


Reza menatap datar pada Mama nya. ''Kami sudah membawa Rani seperti keinginan mu!'' imbuhnya.


''Bagus! Ayo, masuk! Biarkan gadis itu di dalam mobil dan dia akan segera mati terbakar disana!''


Deg!


Karin melototkan matanya. "Enggak! itu nggak boleh terjadi! Kalian jahat!" pekik Karin.


"Hahaha... lihatlah istrimu Fatih, apakah kamu tidak menceritakan semua padanya? Apakah kamu masih menyembunyikan apa sebenarnya tujuanmu membawa Rani kesini?"


Deg!


Lagi, Karin semakin terkejut dengan ucapan ibu mertua nya ini. Ia melihat Fatih yang menatap datar pada Mama nya.


"By?"


"Sudahlah Fatih.. ceritakan saja yang sebenarnya pada istrimu!" ucap Papa Rustam.


Karin semakin bingung. Ia melihat Reza yang juga sedang melihat nya dengan wajah datar.


Tak lama Reza menampilkan senyum smirk di bibirnya. Karin tersentak melihat senyum Reza tidak seperti biasa nya.


"Kamu?!"


"Ya, aku! Aku lah orang nya! Aku sengaja menjebak Rani agar mau datang kesini! Terimakasih Kakak ipar! Ayo, sebaiknya kita masuk! Biarkan mobil itu meledak dan terbakar di sana!" imbuhnya dengan segera berlalu.


"Terbakar?? Rani?? Astagfirullah!! Ya Allah.. Rani!!!!!" pekik Karin.


Ia ingin berlari kesana untuk menolong Rani tapi tertahan karena Fatih mencekal lengannya.


"Tiidaaaaakkkk... Raniiiiii... keluaaaarrr!!! Aaaaa..." pekik Karin


Dengan segera Fatih mengangkat tubuh istrinya dan masuk kedalam rumah itu. Demikian juga dengan dua orang paruh baya itu.

__ADS_1


Mereka tertawa terbahak saat menyaksikan jika Rani sebentar lagi akan terbakar disana bersama dengan mobil nya.


Reza tersenyum smirk melihat mobil Alphard yang baru saja ia naiki disana. "Kamu yang memulainya Rani! Jadi jangan salahkan aku, jika aku memilih jalan ini! Terimakasih karena selama ini kau sudah bersama ku!" gumam Reza dengan segera berlalu meninggalkan mobil itu.


Karin menangis meraung-raung di dalam rumah besar itu. Rani dapat mendengar nya. Dari alat yang di pasang Karin di giginya sudah berfungsi dengan baik.


Rani tersenyum, senyum yang begitu manis. "Permainan di mulai! Ddduaarr!!" imbuhnya.


Dengan sekejap, mobil itu meledak dan hangus terbakar. Para tetangga yang terkejut mendengar suara ledakan itu keluar dari rumah mereka.


Seseorang dari atas sana, menatap nanar pada mobil yang terbakar itu. Air matanya menetes, tangan nya mengepal erat.


Tidak ingin berlarut-larut, ia menutup jendela itu dan masuk ke kamar mandi. Ia membuka seluruh pakaiannya dan mulai merendamkan dirinya di dalam bathtub itu.


Sejenak pikiran nya melayang saat ia melihat wanita itu. "Dari dulu sampai sekarang, kau masihlah sama Aisyahrani! Jadi jangan salahkan aku, jika aku memilih jalan ini untuk mengubur semua kisah ini! Terimakasih karena selama ini kau mau bersama ku! Dan maaf! Aku harus melakukan ini terhadap mu!" imbuhnya dengan sedikit tersenyum misterius disana.


Setelah nya ia mulai mandi dan menenangkan pikiran nya. Selesai mandi, ia keluar dan memakai bajunya.


"Permainan akan segera di mulai! kita lihat! Siapa yang akan masuk kedalam jebakan sendiri." imbuhnya lagi pada diri sendiri.


Sedangkan di luar sana semua tetangga berhamburan ke halaman rumah Rustam Syah.


Ia tersenyum saat sekilas tadi melihat bayangan seseorang yang selama ini mengisi ruang hatinya.


"Aku memang mencintai mu, tapi jika kau melakukan kesalahan seperti ini, maka jangan salahkan aku, jika aku sendiri yang akan menghukum mu!"


"Nyonya!" panggil seseorang di belakang Rani.


Rani menoleh dan tersenyum. "Sudah sampai rupanya! Apa sudah siap semua?"


"Sudah Nyonya!" sahutnya.


"Terimakasih Aldi! Aldi Prajaditya!"


"Sama-sama Nyonya! Mari, mobil anda sudah menunggu di sana!" tunjuknya pada sebuah sedan berwarna putih.


Melihat itu Rani tersenyum. "Ayo! Banyak yang harus aku kerjakan! Apakah dia masih kambuh lagi menyebut pemuda itu?"

__ADS_1


Aldi mengangguk dengan wajah datar. "Ya, Nyonya! Masih sama seperti beberapa bulan yang lalu!"


"Baiklah, terus awasi dari jauh. Jangan sampai pemuda itu mengetahui nya."


"Tapi Nyonya.. bukankah pemuda itu.."


"Sudahlah Aldi ..tidak usah di bahas! Tujuan ku kesini hanya satu. Memberantas kezoliman yang pernah keluarga itu lakukan terhadap Ayah ku. Termasuk diriku!"


"Apa sesuatu di gigi nyonya sudah di lepaskan?" tanya Aldi.


"Tidak perlu di lepaskan. Karena itu adalah sesuatu yang akan membawaku kembali pada nya nanti. Aku tidak sabar ingin bertemu lagi dengan mereka semua! Aku sudah merencanakan ini dari setahun yang lalu Aldi. Tapi entah bagaimana pemuda itu tau apa niatku? Terkadang aku berfikir, sebenarnya apa yang di inginkan oleh nya? Harta ayahku? Atau ada sesuatu yang tidak ku ketahui selama ini tentang nya?"


"Semua itu akan terjawab, jika Nyonya sudah bertemu dengan nya. Percayalah, jika niatnya itu baik, Maka Allah akan mempermudah nya. Namun jika niat nya itu buruk, maka tunggulah azab yang akan mendatangi nya!"


"Ya, kau benar Aldi! Gimana kabar keluarga mu?"


"Alhamdulillah baik Nyonya.. Abang juga sehat di Jakarta. Kayaknya Abang akan pulang jika tuan Gilang pun pulang nantinya!" imbuhnya dengan sedikit kekehan disana.


Rani pun ikut terkekeh. "Masih baik nasib ku Di? Jika Gilang tidak mengetahui tentang niat pemuda itu, maka sampai sekarang pun aku tidak bisa ada disini. Mungkin aku sudah mati dengan mobil tadi." Imbuhnya dengan sedikit kekehan di bibirnya.


Aldi pun ikut terkekeh. "Nyonya bisa saja. Nyonya harus berterima kasih kepada tuan Gilang saat dia kembali nanti. Mungkin ketika tuan Gilang kembali, Nyonya pasti sudah menikah dengan nya!"


Rani mendelik. "Tak Sudi aku!" ketus Rani.


Aldi terkekeh. "Jangan menolak takdir Nyonya.. mungkin inilah jalan nya agar kalian berdua bisa bersatu. Siapa yang tau dengan masa depan? Bisa jadikan, saat tuan Gilang nanti kembali, Nyonya dan pemuda itu sudah menikah dan memiliki seorang anak! Siapa tau?"


"Ya, ya, ya! Terserah kau lah Aldi!"


Aldi terkekeh lagi. Sementara supir mereka pun ikut terkekeh.


Sedangkan di kediaman keluarga Rustamsyah, saat ini rumah itu sudah di penuhi dengan polisi dan juga wartawan.


Berita meledaknya mobil di depan rumah keluarga kaya itu menjadi sorotan publik. Papa Rustam Syah tertawa puas.


"Hebat sekali ide mu Reza! Pasti setelah ini, pelaku pencurian data di kantor kita pasti tertangkap! Tapi kamu yakin, jika orang itu bukanlah orang disini?"


"Bukan! Orang itu berasal dari Medan." sahutnya masih dengan wajah datar.

__ADS_1


Begitu juga dengan Fatih. Dua bersaudara itu menjadi dingin setelah kejadian itu. Karin? Ia sedang istirahat, karena perutnya mengalami kram akibat terkejut ketika mengetahui jika Rani meledak bersama mobil itu.


TBC


__ADS_2