
Zidan benar-benar menikmati waktu libur mendadaknya kali ini. Terbukti dengan dirinya masih bersantai di dalam kamar sepagi ini. Dengan buku ditangan nya, duduk membelakangi cahaya matahari membuat Zidan benar-benar terlihat keren.
Jangan tanyakan dimana Zakia, wanita mungil itu sudah berperang di dapur dengan ibu mertua dan asisten rumah tangga lainnya. Bahkan dirinya langsung menghilang dari kamarnya setelah sholat subuh. Membiarkan sang suami dengan kegiatannya.
"Mbak Danis dinas malam, Bu? " Tanya Zakia pada Farida di sampingnya.
"Iya kayaknya, tapi kemarin bilang hari ini libur. Gak tau lagi sih" Jawab Farida dengan tangan sibuk memotong wortel.
"Richi sudah lama ikut kakek neneknya ya Bu. Kia kangen sama bocah itu"
"Semenjak Mbak mu hamil lagi, Rich emang sudah dibawa sama orang tua Danis. Soalnya dari kecil mereka kan gak ngerawat Rich, cuma nengok sesekali aja" Jawab Farida tanpa ditutupi.
"Kia paham, tapi masa gak kesini sama sekali Bu. Apa Mbak Danis sama Bang Zain gak kangen? "
"Kakak ipar kamu itu tiap hari mampir ke rumah ibu mertuanya, begitu juga Danis. Kata Ibu biar aja Rich di sini, daripada mereka bolak balik . Tapi kata Zain, biarin aja. Mertuanya biar gak kesepian, Rich juga santai-santai aja disana"
"Biar Kia aja deh yang main kesana nanti"
"Kalau mau kesana nanti titip kue ya, kemarin Ibu buat rencana mau dikirim pake kurir. Tapi kalau kamu kesana gak papa kan sekalian titip? "
"Gak papa lah Bu, nanti Kia buat puding dulu sebelum kesana. Biar jadi cemilan Rich, gak dikasih snack kan anak Kia itu? "
Farida tersenyum saat Zakia menyebut cucu pertamanya sebagai anaknya. Diam-diam Farida melirik ke arah Zakia yang sibuk di depan kompor. Zakia memang begitu menyayangi Richi seperti anaknya sendiri. Apalagi saat tau alasan Richi memanggil Zidan dengan sebutan papa. Tak heran, setelah menikah Zakia memiliki kegiatan baru. Yaitu mengawasi bocah yang kini menjadi anaknya meskipun dari jarak jauh.
"Sesuai kemauan kamu, Danis juga melarang Richi jajan sembarangan" Ucap Farida.
"Mbak ini tolong di tuang ke wadahnya ya, terus bawa ke meja makan. Kia mau goreng ikan dulu" setelah melihat salah satu asisten rumah tangga itu mengangguk. Barulah Zakia berpindah tempat melakukan kegiatan selanjutnya.
"Kia, kamu atau Ibu yang buat sambel? "
"Kia aja, Bu. Itu wortelnya mau Ibu buat apa? " Tanya Zakia.
"Buat sambel goreng wortel sama kentang, sama ati ayam lagi. Danis ngidam" Ucap Farida.
"Biar Kia yang buat aja, Bu. Ini bisa minta tolong Ibu yang goreng? "
"Sini biar Ibu yang selesain. Ini Ibu belum buat bumbunya loh"
"Gak papa biar Kia yang racik"
Mereka kembali dengan aktivitas nya masing-masing. Diam-diam mereka tersenyum saat Zakia mulai bersenandung kecil. Ini yang membuat asisten rumah tangga Farida betah saat memasak bersama nyonya muda mereka. Suara merdu yang selalu menyenandungkan sholawat itu selalu terdengar setiap pagi saat di dapur.
Hingga suara Zidan yang mendekat membuat Zakia dan Farida menoleh.
"Bentar dulu, ini Papa masih jalan. Iya nanti Papa kesana sama Umma"
"Sayang" Panggil Zidan.
__ADS_1
"Ya Mas? " Zakia mendongak, namun tangannya masih asik mengulek sambal diatas cobek.
"Ini anak mu kangen" Zidan menyodorkan ponselnya pada Zakia yang menampilkan sosok gembul di dalamnya.
"Assalamualaikum anak soleh nya Umma" Sapa Zakia menatap layar ponsel dengan senyum manisnya.
Farida tersenyum mendengar sapaan Zakia pada sang cucu. Se lembut itu menantunya, dirinya tak sabar untuk melihat tumbuh kembang cucu dari Zidan. Jika pada anak orang lain saja Zakia se lembut ini, bagaimana pada anaknya nanti.
"Waalaikumsalam Umma" Jawab Richi dari seberang sana.
"Anak Ummat gak sekolah? Katanya sudah TK ya? " Zakia mulai memancing percakapan, namun matanya sesekali menunduk karena dirinya masih sibuk.
"Iya, Rich sekolah. Tapi masih belum berangkat, Rich masih mau sarapan"
"Sarapan apa pagi ini? " Tanya Zakia.
"Rich mau roti isi selai coklat"
"Oke, susunya jangan lupa ya ganteng"
"Siap Umma. Umma nanti beneran mau kesini? " Tanya Rich dengan begitu antusias.
"Ya, mungkin selepas dzuhur ya, Umma bikinin puding mau? "
"Mau mau mau" Rich mengangguk dengan wajah lucunya, Zakia terkekeh di buatnya.
"Oke, Umma buatkan. Lanjut dengan Papa dulu ya, Umma mau lanjut masak. Baik-baik di sekolah ya anak soleh"
Zakia langsung berbalik menuju kompor setelah menyelesaikan pamitannya bersama Richi. Membiarkan bocah kecil itu berceloteh dengan Zidan, tampaknya Zidan juga rindu dengan cerewetnya Richi.
"Nanti Papa kesana mau dibawain apa? "
"Mainan?"
"Mainan kamu sudah banyak, jangan numpuk mainan. Yang lain"
"Rich mau sepatu baru sama tas baru"
"Oke nanti Papa belikan"
"Tasnya iron man Papa"
"Oke tampan"
"Makasih, Rich mau sarapan dulu. Dadah Papa, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Zidan yang belum berpindah dari posisinya itu malah semakin menyamankan diri. Tak beranjak dari posisinya, matanya mengawasi sang istri yang cekatan di depan kompor itu.
"Dan, panggil Ayah mu di musholla. Sarapannya sudah siap, Ibu bikin teh dulu buat Ayah. Kamu juga mau? " Tawar Farida setelah memberi perintah pada sang anak.
"Green tea" Zidan langsung berlalu setelah mengatakan keinginannya.
Setelah semuanya selesai kini saatnya mereka melaksanakan kegiatan pagi sebelum memulai aktivitas. Yaitu sarapan, kali ini mereka hanya berempat. Karena Zain harus menjemput sang istri di rumah sakit. Kemungkinan putra sulungnya itu akan sarapan di luar.
Setelah sarapan mereka langsung berpisah ke kamar masing-masing. Farida akan melayani Al Fatih untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Zidan dan Zakia sedang bersantai di balkon kamar Zidan.
"Rich minta sepatu sama tas baru, sayang"
"Mampir ke mall dulu nanti" Jawab Zakia.
"Kamu gak ada kegiatan? " Tanya Zidan.
"Gak ada, kan udah di ganti Ayah lagi posisi di perusahaan. Mbak Nia juga sering ke perusahaan sekarang. Semuanya masih bisa di handle"
"Buat seragam keluarga gimana? Emang nurut sayang waktunya? " Tanya Zidan.
"Kainnya udah Kia siapin Mas. Aslinya mau pakai kebaya lagi, tapi kan ini resepsi jadi Kia buat gaun semi kebaya aja. Temen-temen Kia yang urus dari keluarga Mas. Untuk keluarga Kia, Kak Al juga minta bantuan temannya"
"Mas takut gak keburu" Jawab Zidan.
"InsyaAllah keburu kok, Mas"
"Gak mau ketemu sama anak-anak dulu nanti? Karena kedepannya kita bakal sibuk, atau minta bantuan mereka juga kalau misal butuh tenaga atau apa. Kamu jangan kecapekan ya" Pinta Zidan.
"Iya, Kia jaga kesehatan Kia kok. Kia ikut Mas aja sih"
"Ayo siap-siap, kita ke tempat undangan. Kamu mau desain sendiri atau pilih desain yang sudah jadi nanti kita omongin disana"
"Kia masih mau bikin puding buat Rich loh, Mas" Kia berbicara dengan protes, karena Zidan tak memberitahunya terlebih dahulu.
"Lama nggak? " Tanya Zidan.
"Nggak kok, Kia buat dulu sekarang. Habis itu langsung ke tempat undangan"
"Ya udah, kamu buat Mas cek kerjaan dulu deh"
"Mas mau dibuatin apa? "
"Adek bayi" Jawab Zidan dengan nada datar tanpa mengalihkan pandangan nya.
Zakia berhenti melangkahkan kakinya dan menoleh ke arah Zidan. Tersenyum kecil melihat raut wajah Zidan kali ini. Tak heran, Zakia tahu jika Zidan tak mau ditinggal kali ini.
"Pindahin pusat ke sini, Kia gak mau pas hamil kita LDR an" Jawaban Zakia membuat Zidan mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Siap nyonya Al Fatih" Jawab Zidan menaik turunkan alisnya.
Zakia hanya menggelengkan kepalanya sembari meneruskan langkah kakinya.