
Rani keluar dari rumah sakit dengan tergesa. Alisa yang mengikuti nya di belakang, kewalahan mengejar Rani yang begitu cepat berjalan nya.
Tiba diluar, Rani menghentikan langkahnya. Ia celingukan kesan kemari mencari sesuatu. Tapi tak juga ia temukan.
Wajahnya semakin dingin saja. Alisa menghela nafas lelah. ''Hosshh.. hossshh.. kamu cepat banget sih jalan nya Dek? Mak engap nih! Hadeuhhh..'' gerutu Alisa sambil sesekali menarik nafasnya yang begitu sempit di paru-paru nya karena mengejar Rani.
Rani diam, ia tak peduli dengan gerutuan Alisa. Bagi nya sekarang, ia ingin pulang secepat mungkin.
Ia ingin sholat untuk menenangkan hatinya. Lelah melihat kesana kemari tapi tak ia temukan apa yang ia cari.
Tiba-tiba Pak Rahmat datang dengan mengendarai mobil Reza.
Tin, tin.
Suara klakson mobil Reza.
Rani dan Alisa menoleh. Pak Rahmat yang sudah berdiri di depan Rani, membuka kaca mobil itu dan tersenyum padanya.
Tanpa di pinta, Rani menggerakkan kaki nya untuk masuk ke dalam mobil itu. Alisa melongo melihatnya.
Inikah yang Rani tunggu sedari tadi? Hingga wajahnya nya kusut mansut kayak begitu? Batin Alisa.
Pak Rahmat terkekeh melihat Alisa yang masih melongo memandang Rani. Sedang Rani sudah duduk di depan di sebelah Pak Rahmat.
''Ayo, Neng! Bapak antar! Selain ada yang ingin Bapak bicarakan dengan Rani. Ayo, Neng!'' ajak Pak Rahmat.
Alisa mengangguk, walau masih dengan keadaan bingung. Alisa masuk di bagian belakang.
Melihat Alisa sudah masuk, Pak Rahmat menjalankan mobil milik Gilang ke toko kue Alisa.
Alisa ingin berbicara dengan Rani. Geram rasanya melihat tingkah gadis itu. ''Rani! Kamu sebenarnya ada apa sih?! Kok tiba-tiba ninggalin Mbak kayak begitu?! Masih beruntung Mbak cuma ngos-ngosan. Kalau kena serangan jantung gimana? Ingat Rani! Mbak mu ini sudah tuir!'' celutuk Alisa kesal, membuat Pak Rahmat tertawa.
Namun tidak dengan Rani. Ia mendengar perkataan Alisa, namun tidak ingin menjawabnya.
Saat ini hatinya sedang terluka, mendapati kenyataan jika Reza sudah menyentuh Karin. Hatinya begitu sakit mendengar kabar langsung dari Reza.
Sebulir bening mengalir di pipinya. Rani menyandarkan kepalanya di jendela mobil milik Reza.
Ia menutup kedua matanya, untuk bisa menenangkan hatinya yang sedang terluka. Sakit sekali.
Pak Rahmat menatap sendu pada Rani. Begitu juga dengan Alisa. Tidak terdengar suara Isak tangis, namun air mata jatuh menjadi saksi jika Rani sangat terluka akan pernyataan Reza.
''Neng... Bapak harap kamu tidak marah kepada den Reza. Bapak tau ini menyakiti perasaan mu. Tapi inilah yang harus ia jalani. Semua ini demi orang tuanya Neng, dan juga Neng sendiri. Ia rela terluka perasaannya demi menyelamatkan kalian berdua. Bapak mohon.. jangan jauhi den Reza ya Neng..'' pinta Pak Rahmat dengan sangat.
__ADS_1
Rani diam, ia tidak menyahuti perkataan Pak Rahmat. Yang dia inginkan sekarang ialah menenangkan diri.
Pak Rahmat menghela nafasnya. Sedangkan Alisa menatap sendu pada Rani.
Tiba di toko kue Alisa, Rani turun dan terus berjalan pulang ke rumah Alisa. Ia tak menggubris panggilan Pak Rahmat.
Sesekali ia mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya. Ingin marah, tapi marah pada siapa?
Bukankah Reza adalah suami nya? Suami? Ya, Reza suami sah secara hukum, tapi tidak secara agama.
Posisi nya sekarang sama dengan Alisa. Rani menyusut lagi buliran bening yang mengalir di pipi nya.
Ia terus berjalan sampai kerumah Alisa. Dua puluh lima menit kemudian, ia tiba dirumah Alisa.
Dengan Lana yang juga baru pulang sekolah, karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan disana.
''Loh? Ibuk udah pulang? Kenapa mata Ibuk sembab begitu? Ibuk nangis? Bilang sama Abang, siapa yang berani membuat Ibuk menangis biar Abang hajar orang nya!'' celutuk Lana, membuat Rani terkekeh.
Inilah yang di inginkan nya. Pulang kerumah Alisa ingin bertemu dengan Lana. Lana adalah pelipur lara bagi Rani selama tinggal dirumah itu.
''Kita masuk dulu ya? Nanti Ibuk cerita di dalam.'' Lirihnya, Lana mengangguk dan mereka berdua masuk kedalam.
Tiba di dalam, Rani menjatuhkan dirinya di lantai dengan kaki nya ia selonjor kan. Melihat itu Lana mendekati nya.
Rani menghela nafasnya. ''Ya.. Ibuk sudah pulang..''
''Lalu? Kenapa Ibuk menangis? Seharusnya Ibukkan senang sudah bertemu dengan calon suami Ibuk? Siapa namanya?''
''Reza..''
''Hah iya! Reza! Lantas kenapa wajah Ibuk kusut mansut kayak baju kusut yang tidak di setrika begitu?!''
Rani terkekeh namun sendu. Lana tau itu. Ia menatap Rani yang tertawa namun buliran bening mengalir di pipinya.
''Kenapa ya Bang? Nasib Ibuk sama Mak mu sama?? Di tinggal pas lagi sayang-sayang nya? Belum lagi dia juga sudah menikah dengan orang lain. Pasti sebentar lagi tuh cebong akan hadir ke dunia ini!''
''Hah? Cebong? Kecebong maksud Ibuk? Anak kodok kan ya?''
Rani tergelak mendengar ucapan Lana. Lana bingung. Kenapa Rani tertawa pikirnya. ''Ishh.. Buk! Kok malah tertawa sih?! Yang Abang tanya bener tidak? Kan cebong, kecebong yang berarti anak kodok dong? Terus maksud Ibuk, cebong siapa nih yang akan hadir ke dunia ini? Cebong Om Reza? Eh, masa iya sih Om Reza pelihara tuh cebong? Mana mau dia?! Secara kan.. dia orang kaya kayak Papi Gilang??''
Rani yang mendengarnya semakin tertawa. Ia tertawa terbahak. Sedangkan seseorang di depan pintu sana tersenyum melihat Rani sudah kembali lagi seperti biasa.
Ia berbalik dan kembali pergi ke toko nya. Karena toko nya hanya ada Ira dan juga Pak Rahmat disana.
__ADS_1
Sedangkan Raga, sedang pulang kerumah orang tua nya. Awalnya ia gelisah karena Rani pergi tanpa pamit padanya dan juga Pak Rahmat.
Tapi saat melihat Rani sudah kembali seperti biasa, ia jadi lega sekarang. Alisa kembali lagi ke toko nya.
Dirumah Alisa masih saja suara gemuruh tawa itu menggema di seluruh ruangan. Dasar Lana koplak.
Bukannya menenangkan Rani, malah ia membuat lelucon yang membuat perut Rani begitu sakit karena tertawa.
''Ibuk tau nggak, kalau Om Reza punya tuh cebong, pastilah dia geli Buk! Mana mau dia pelihara cebong? Tapi kalau misal nya iya, woaahh.. bisa penuh tuh rumah Om Reza gara-gara tuh cebong lahir ke dunia!''
Lagi Rani tertawa terbahak. Sangat geli hatinya mendengar ucapan Lana. Sungguh putra Alisa sangat lucu.
Tanpa di pinta ia tau kapan dan dimana ia bisa buat lelucon seperti itu. Setelah lelah tertawa, kini Rani menatap Lana dengan dalam.
''Untung ada kamu Bang, kalau tidak Ibuk tak tau harus kemana sekarang.''
''Bagus itu! Orang Indonesia mah banyak untungnya Buk! Yang rugi mah.. kebanyakan orang cina!'' ucapnya sambil manggut-manggut.
''Kenapa begitu?''
''Ya karena memang seperti itu adanya. Untung masih ada Lana! Tapi kalau orang cina, ue lugio..''
''Bbrrrttt... buahaha... hahaha...'' Rani tertawa terpingkal karena ucapan Lana baru saja.
Sungguh jauh di dalam lubuk hatinya, Lana adalah obat untuk dirinya. Pelipur lara saat ia sedang terluka.
Lana... semoga nantinya kamu selalu bahagia Nak...
💕
Pernah denger nggak kata-kata kayak begitu? Pertama kali othor ke Medan, othor belanja sama orang cina.
Barang rumah tangga ya. Othor tawar dong, tapi setengah harga.
Tapi apa katanya, ue lugio.. Apa coba perasaan kalian pada saat itu?
Benar sekali! Keluar dari toko itu othor tertawa terpingkal-pingkal disana.
Pengalaman pribadi othor! 🤣🤣🤣
Kalau ada orang cina yang baca a.. jangan marah ya? ✌️✌️😄😄
TBC
__ADS_1