
''Benarkah itu, nak??'' tanya bibi tetangga di sebelah Rani.
''Semua itu benar Bibi. Tapi Rani tidak mengatakan kepada semua orang, jika Rani butuh belaian seperti yang ibu-ibu itu katakan..'' lirih Rani.
''Ya Allah... yang sabar ya ndok.. jika sudah seperti ini takdirmu maka harus kamu jalani. Yang penting, jangan dengarkan apa kata mereka. Sebaiknya sekarang kamu masuk dan jangan keluar lagi!'' titah bibi, tetangga Rani.
Ia begitu kesal dengan mereka semua. Ia menatap tajam pada ibu-ibu itu dan meninggalkan pergi.
Membuat mereka semua mengejek wanita paruh baya itu. Setelah nya mereka bubar dengan sendirinya.
Sebulan setelah nya Rani jarang keluar, jika tidak ada keperluan mendesak.
***
Sebulan sudah Rani dirumah ibunya. Tak sehari pun tanpa kabar dari Reza. Dan tepat hari ini Reza akan tiba di tanah air dengan penerbangan malam.
Rani sedari pagi sudah berkemas dan beberes. Karena seperti yang Reza bilang, jika ia akan pulang langsung kerumah ibu Saras.
Tidak ke rumah keluarga besar Rustamsyah. Sedari subuh Rani sudah memasak, mencuci, mengepel dan mengelap seluruh rumah.
Ia sibuk sendiri. Sedang ibu Saras hanya duduk saja dan melihat apa yang di perbuat Rani. Ia tersenyum saat melihat tingkah Rani yang sering tersipu malu ketika di goda Reza.
Ibu Saras menyukai itu. Ia tersenyum membayangkan putra nya itu telah kembali. Pasti dengan membawa kabar gembira untuknya.
Tapi sesaat kemudian, senyum itu surut saat mengingat sebentar lagi waktu mereka akan tiba.
Ibu Saras jadi deg degan memikirkan hal itu. Rani yang melihat ibu Saras gelisah, heran. Seharusnya ia kan bahagia seperti hari-hari kemarin??
Lalu mengapa sekarang berubah jadi gelisah seperti itu?? pikir Rani.
Lama Rani menatap ibu Saras. Namun saat teringat Reza, Rani bergegas membersihkan seluruh rumah untuk menyambut sang pujaan hati.
Pujaan hati?? Benarkah??
Mengingat itu Rani tersipu malu. Namun, tangannya tidak berhenti untuk mengelap seluruh perabot rumahnya.
Sedangkan seseorang disana, baru saja keluar dari bandara dan menaiki sebuah kijang Avanza untuk mencapai ke tujuan.
''Apa kabar Den??''
''Alhamdulillah baik! Bagaimana dengan keadaan dirumah saat aku pergi??'' tanya Reza dengan mata mengarah keluar jendela.
''Semuanya aman. Tapi tidak untuk Rani.'' sahutnya dengan menghela nafas berat.
Reza menoleh. ''Ada apa dengan Rani?? Ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi??''
__ADS_1
''Ya, selepas Aden pergi, rumah itu mendadak kacau akibat ulah dua orang dirumah itu. Mereka menjebak Rani dan akhirnya berpisah dari Fatih dengan talak tiga!'' seru orang itu begitu geram.
Reza menduduki dirinya agak sedikit condong ke depan.
''Bagaimana kejadian nya??''
Orang itupun menceritakan bagaimana Rani yang sengaja disuruh kepasar, di jebak dan ditalak dalam waktu bersamaan.
Membuat ia pulang dengan berjalan kaki kerumah orang tuanya. Namun karena ada pak Udin, jadi Rani bisa terselamatkan.
Mendengar cerita pak Udin, Reza tersenyum. ''Baguslah kalau begitu! Memang itu yang aku harapkan! lagi pula apa yang kami butuhkan sudah aku dapatkan! Dan sekarang waktunya untuk pertunjukan!'' ucapnya dengan sedikit senyum smirk disana.
Ya, dia adalah pak Udin. Beliau orang suruhan Reza serta mata-mata dirumah itu. Serta ada beberapa orang lagi dirumah itu.
Mereka semua setia kepada Reza bukan kepada Rustamsyah dan nyai menir itu. Reza membayangkan kedua orang tua kandungnya yang begitu kejam itu, geram.
''Sekarang saatnya untuk pembalasan! butuh waktu puluhan tahun bagiku untuk bisa mengungkap keadilan untuk Ayah Alam! Sekarang lah waktunya! Kerumah Ibu, Pak!'' titah nya pada pak Udin.
''Baik, Den!'' sahut pak Udin.
Mobil itu berbelok ke desa sebelah dimana Rani dan ibu Saras tinggal. Setengah jam per jalanan cukup untuk tiba dirumah ibu Saras.
Reza tiba di rumah itu, dengan ibu Saras yang sudah menunggu nya di depan pintu dengan Rani sedang menjemur pakaian.
Saat melihat sebuah sedan berhenti di depan pagarnya, Rani kaget. Siapa gerangan?? pikirnya. Tanpa peduli siapa yang datang, Rani sibuk dengan jemuran nya.
''Assalamualaikum Ibu...''
Deg.
''Abang...'' lirih Rani. Tangan nya berhenti saat mendengar suara yang begitu di kenal olehnya.
''Waalaikum salam.. putraku.. kamu sudah pulang, Nak?? Ibu kangen...'' ucap ibu Saras seraya mendekati Reza dan memeluknya.
Kemudian ia mencium kening Reza tepat di depan ibu-ibu yang sedang berkumpul ingin melihat siapa pemuda tampan itu.
Rani masih mematung dengan pakaian menggantung di tangannya.
Apa yang tadi ia dengar? Putraku, katanya?? Reza??
''Nggak! nggak mungkin! nggak mungkin itu bang Reza!'' elak Rani pada diri sendiri.
''Ayo Nak.. masuk! Pak Udin juga ya? Bawa barang putra ku masuk!'' titahnya seraya menggamit lengan Reza dan membawanya kedalam.
Sesekali mereka bercanda, dan tangan ibu Saras sudah nangkring di telinga Reza. Semua itu tidak luput dari tatapan mata para ibu-ibu dan juga Rani.
__ADS_1
Rani terabaikan. Rani bisa merasa kan itu. Saat Rani masih sibuk dalam lamunannya, ibu-ibu yang berdiri dekat dengan mobil Reza memanggil Rani.
''Rani!! siapa pemuda yang dirangkul ibu mu itu?? Suami baru mu kah?? Atau? jangan-jangan..''
''Maaf ibu-ibu saya tidak tau! dan saya pun baru tau hari ini!'' elak Rani.
Sengaja. Ia malas melayani ibu-ibu biang gosip itu. Sudah cukup dirinya dikatakan sebagai janda kembang yang sengaja di obral seperti barang.
Dan sekarang, mereka sibuk ingin tau dengan hal yang lain lagi? Itu tidak bisa di biarkan!
Saat ibu-ibu itu ingin mengucapkan kata-kata yang lebih pedas lagi, keluar lah seseorang yang baru saja dibicarakan oleh nya.
''Sayang! masuk!'' panggil Reza.
Membuat Rani terkejut dan cepat-cepat meninggalkan jemuran yang bahkan belum habis ia jemur.
Biarlah nanti saja pikir nya. Rani masuk dulu dan melewati Reza. Sedangkan Reza menatap ibu-ibu itu dengan tatapan tajam nya.
Membuat nyali ibu-ibu itu menciut seketika. Mereka bubar dengan sendirinya.
Sesampainya di dalam, Rani tak peduli dengan dua orang itu. Hatinya masih kesal di cuekin sedari tadi.
Baik ibu, maupun Reza mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri. Berbeda dengan Rani.
Setelah tadi masuk, ia mencuci tangan dan kaki kemudian masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi.
Mereka yang disana pun tidak peduli dengan hal itu. Toh, ada hal yang lebih penting dari Rani lagi menurut mereka.
Padahal mereka salah. Mereka tidak tau saja, sikap mereka yang seperti itu kepada Rani akan menimbulkan malapetaka baru dalam rumah ibu Saras.
Rani begitu kesal, sejak kedatangan nya Rani jadi terasingkan.
''Apakah aku ini bukan putri kandung ibu dan ayah Alam?? Dan apakah bang Reza itu putra kandung ibu?? Maka dari itu, ibu sangat begitu mengistimewakan nya begitu?! Aku kecewa dengan kalian berdua?! Kalian ingin lihat bukan seperti apa diriku? Baik! akan aku tunjukkan! Kalian lakukan yang kalian anggap benar! Dan aku pun akan melakukan apapun yang aku anggap benar! Aku kecewa dengan kalian!'' seru Rani.
Setelah nya ia tidur tanpa tau apa yang terjadi diluar sana.
''Bu... Rani kok nggak keluar-keluar ya?? Udah sedari tadi pagi loh Bu..'' tegur Reza.
''Eh? Iyakah?? Ah! biarkan saja! nanti kalau lapar pasti keluar sendiri!'' ucap nya begitu santai.
''Tapi Bu...''
''Sudah! biarkan saja! nanti pasti keluar sendiri!'' ucapnya lagi, tanpa tau jika perbuatan nya itu akan menimbulkan huru hara di dalam rumahnya nanti.
💕
__ADS_1
Masih ingin tau kelanjutannya??
TBC