
''Mau kemana kamu Rani?? Bawa-bawa tas segala?! Mau minggat kamu?!'' ketus ibu Saras
Membuat Reza terkejut dengan ucapannya itu.
''Ibu...'' tegur Reza.
''Aku akan pergi dimana ada tempat yang bisa menerima ku dengan tulus! tanpa diabaikan karena kedatangan orang lain!'' sahut Rani menatap kedua orang yang berdiri mematung melihat nya.
Ucapan Rani itu memantik kemarahan di hati ibu Saras. ''Oo.. mau pergi?? Pergi saja! dan jangan kembali lagi!'' ucapnya dingin sembari menatap tajam Rani.
Rani tersenyum kecut. ''Ya, aku akan pergi dan nggak akan kembali lagi, aku akan pergi dimana ayah dimakam kan! Buat apa aku tinggal disini, jika aku tidak dianggap sama sekali! Lebih baik aku pergi! Lagipula aku ini siapa ibu?? Hingga ibu bersusah payah merawat ku selama ini?? Bukankah aku anak angkat??'' sindir Rani untuk ibu Saras.
Reza dan ibu Saras terkejut mendengar ucapan Rani.
''Rani!!'' sentak ibu Saras.
''Kenapa ibu marah?? Benarkan jika aku ini anak angkat?? Maka nya tidak di anggap sama sekali??'' sindir Rani lagi.
''Dek...'' tegur Reza
''Ya! kamu memang anak angkat! Dasar anak tidak tau diri! menyesal aku telah melahirkan mu! jika ujung-ujungnya kau melawan pada ku?! pergi kau dari sini!!'' sentak nya lagi
Membuat Rani memejamkan kedua matanya. ''Baik! aku pergi! Terimakasih karena sudah merawat ku selama ini! Dan maaf, karena kehadiran ku merusak mata ibu..'' lirihnya dengan bibir bergetar
Rani menarik kopernya dan berlalu dari hadapan Reza dan ibu Saras.
Reza yang sadar dan tidak tersulut emosi, mengejar Rani. ''Tunggu Dek! kamu salah paham! Bukan seperti itu dek!'' tahan Reza dengan menghadang Rani dari depan.
Rani berhenti. ''Apa yang kamu inginkan?? Belum puas kah kau menyakiti hatiku dengan merebut ibu dari ku?? Tidakkah kau sadar? jika kehadiran mu disini telah memisahkan aku dan ibuku?? Apakah memang seperti ini keluarga mu? Bisa nya hanya bisa jadi penghancur saja? Keluarga mu itu keluarga pembunuh Reza!!'' pekik Rani dengan mata memerah.
''Rani!!!! Berani nya kau!!! Siapa kau berani menghukum putra ku hah?!?'' pekik ibu Saras.
Rani terkejut, mata nya nanar menatap ibu Saras. ''Bahkan ibu lebih membelanya ketimbang aku yang anak kandung ibu.. padahal keluarga nya lah yang membunuh Ayah Alam.. tega ibu .. Rani kecewa sama ibu.. hanya demi orang lain, Ibu menyentak Rani??'' tanya nya dengan begitu lirih.
Reza membatu mendengar ucapan Rani. Sedangkan ibu Saras masih dengan nafas tersengal.
''Ternyata kasih sayang ibu hanya sebatas ini saja?? Sebenarnya siapa anak kandung ibu? aku? atau Dia??'' tunjuk Rani pada Reza.
Reza menatapnya dengan nanar. Tidak tau harus berbicara apa. Bukan ini yang ia mau. Bukan.
__ADS_1
''Aku pergi! selamat Reza! kau berhasil memisahkan aku dan ibuku! Semoga kalian bahagia...'' lirihnya
Kemudian ia memutar badan, berbalik dan pergi meninggalkan dua orang yang berdiri mematung menatap nya.
''Rani... jangan pergi...'' lirih Reza dengan air mata membanjiri wajah tampan nya.
''Bukan ini yang ku mau... buat apa aku mengumpulkan semua bukti ini, jika kau pergi sayang... ibu... Rani pergi...'' Isak Reza pada ibu Saras.
Ibu Saras mematung. Ia menatap nanar pada Rani yang telah hilang dibalik tikungan jalan rumahnya.
''Aku nggak mau semua ini ibu... aku mau Rani... sudah aku bilang, jangan buat dia kecewa Bu... tapi ibu tidak mendengar kan ku.. sekarang aku harus apa?? Aku harus kemana Bu...'' ucap Reza lagi masih dengan sesegukan.
''Reza....''
''Rani pergi Bu...'' Isak nya lagi.
Ibu Saras menatap Reza dengan tatapan sendu. ''Maaf Nak.. maksud ibu, hanya ingin...''
''Rani... aku mau Rani Bu... Aku mau Rani...'' isaknya lagi.
Ia menangis seperti anak kecil meminta Rani untuknya. Ibu Saras terisak.
''Ayo kita kejar Rani!'' ajaknya setelah lama berdiam diri, sedang Reza masih menangis.
Ya, itu dia Reza yang sesungguhnya. Reza jika dengan ibu Saras akan berubah menjadi cengeng seperti anak kecil.
Tapi jika di depan orang lain, ia terkesan datar dan dingin. Sangat sulit untuk disentuh.
''Ayo! Ibu tau, Rani dimana! Hapus air mata mu! semua ini belum terlambat! Masih bisa di perbaiki! Ibu tau Rani kemana! Ayo bangun Nak!'' titah ibu Saras
Reza mengangguk. Setelah dirasa tenang, kini mereka berdua menyusuri jalan untuk menuju kerumah paman Ali.
Tiba disana, benar dugaan ibu Saras, jika Rani datang kesana. Saat melihat mobil Reza, Rani berlari masuk.
Sedangkan Reza keluar dengan tergesa-gesa. Hampir saja tersungkur, jika tidak di pegangin oleh paman Ali.
''Hati-hati, nak!''
''Rani....'' panggil Reza.
__ADS_1
Tapi Rani tidak menggubris nya. Reza masuk kedalam dan duduk di sebelah Rani. Tapi Rani bergeser ke tempat lain.
Paman Ali yang melihatnya menggeleng kan kepalanya.
''Kalau ada masalah itu, di selesaikan dengan cara baik-baik! jangan kabur-kaburan seperti itu! nggak baik!'' sindir paman Ali.
Membuat Rani menatap paman nya itu dengan tajam. Rani tersenyum kecut.
''Ternyata... kemana pun aku pergi tidak ada yang tulus menerima kehadiran ku! Didepan saja baik, tapi ketika kedatangan orang lain malah menyindir ku! Baik! jika itu yang kalian inginkan, aku akan pergi!'' sahut Rani dengan bibir bergetar menahan tangis.
''Eh??'' paman Ali terkejut dengan ucapan Rani.
''Dek.. dengarkan Abang dulu... kamu salah paham!'' ucap Reza lagi masih dengan memaksa Rani.
Rani tidak peduli, ia masuk kedalam kamarnya dan mengambil koper yang baru saja ia letakkan disana.
Rani melewati paman Ali yang berdiri mematung sedang kan Reza ikut mengejarnya.
''Dek... tunggu! kamu salah paham! Kita duduk dulu ya? Biar Abang jelaskan!'' ucapnya lagi masih dengan menahan Rani.
''Terimakasih karena telah mengijinkan saya untuk tinggal disini walau baru satu jam saja! Saya pergi! Assalamualaikum!'' ujarnya kemudian berlalu pergi.
''Berhenti Aisyahrani binti Muhammad Alamsyah! Saya belum selesai bicara!'' ucap Reza begitu dingin.
Rani membatu mendengar ucapan Reza. Tanpa berbalik Rani berdiam diri di depan pintu.
Sedangkan Reza memunggungi nya. ''Saya belum selesai bicara dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya! Jika saya sudah selesai kamu boleh pergi!'' ujarnya lagi, masih dengan dingin.
Rani tersenyum miris. ''Saya bukan siapa-siapa Anda Tuan Reza! Jadi anda tidak berhak terhadap saya! Maaf saya harus pergi!'' imbuh Rani tidak kalah dingin dari Reza.
Paman Ali menghela nafasnya. Ia bingung harus membela siapa sekarang.
Reza tersenyum smirk. ''Kau bilang, kalau kau itu bukan siapa-siapa saya?? Baiklah! Paman! Nikahkan kami segera! sekarang dan saat ini juga!''
Deg.
Deg.
''A-apa?!?''
__ADS_1
💕
Hayo loh.. mau dinikahin tuh!