Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 133


__ADS_3

Zakia duduk santai menikmati pemandangan sunset dari balik balkon kamar Zidan. Matanya memang fokus pada pemandangan di hadapannya. Namun tidak dengan pikirannya, wanita yang telah melepas gelar janda muda itu memiliki pikiran yang bercabang. Bahkan dirinya tak menyadari jika sang suami tengah menatapnya intens.


Zakia terlihat menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya menoleh, dan mendapati sang suami yang tengah menatap dirinya. Zidan dengan balutan pakaian santainya selalu membuat Zakia merasa bahwa suaminya terlihat lebih keren, Zakia wajib bersyukur karena Zidan hanya mengenakan outfit tersebut ketika di rumah. Celana pendek dipadu dengan kaos oblong ditambah sandal jepit sebagai alas kakinya.


"Kenapa sayang? " Zidan mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Zakia. Merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


"Acara kita udah deket, Kia dag dig dug" Cengirnya tanpa dosa.


"Yakin cuma kepikiran itu? " Zidan hafal betul bagaimana tabiat istrinya.


Bukannya tak ingin terbuka, namun Zakia sudah terbiasa memendam semuanya sendiri. Zidan memaklumi itu, karena cepat atau lambat Zakia juga akan bercerita padanya.


"Gak juga sih, acara Mbak Danis mungkin gak papa kalau dibuat sederhana, mengingat ini anak kedua. Tapi acara Mbak Nia masa harus dibuat sederhana juga, Mas? " Zakia mendongak untuk melihat wajah Zidan yang tengah menatap lurus ke arah matahari terbenam.


"Mas sudah diskusi dengan Albert, nanti mereka syukuran besarnya di acara 7 bulanan. Kalau acaranya dibuat besar sekarang, kasihan keluarga yang lain pasti capek. Sedangkan besoknya acara kita" Zidan mengelus kepala Zakia pelan.


"Kia cuma gak enak aja, Mas"


"Itu cuma perasaan kamu, Sayang. Mendingan masuk, terus mandi. Bentar lagi adzan maghrib. Sholat berjamaah di bawah" Zakia hanya mengangguk dan bangkit dari duduknya.


Mas tahu, rasa mu sedang campur aduk, mendekati hari H, Mas harap gak ada cobaan berarti. Zidan menatap kepergian sang istri dengan lekat.


...****************...


"Mama masih gak percaya kalau bentar lagi bakal punya cucu. Mana langsung dua lagi" Pekik Zalia terlalu senang.


Dirinya bahkan langsung berteriak memanggil sang suami saat Zakia menghubungi nya untuk memberitahu keadaan Alesha. Untung saja saat itu Riski sedang berada dirumah.


Begitu juga dengan keluarga Wijaya, mereka langsung bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar.


"Kalian ini janjian apa gimana sih? " Arya memijat pelipisnya pelan.


Sedangkan Alesha dan Tania hanya tertawa kecil melihat kelakuan Arya. Arya memasang wajah frustasi mendengar kabar kehamilan Alesha.


"Ayah harusnya bersyukur karena kita langsung kasih kalian cucu. Mudah-mudahan Kia juga langsung hamil" Doa Tania mengundang tawa yang lainnya.

__ADS_1


"Bunda berharap jika Kia hamil tahun depan" Ucap Nita tiba-tiba.


"Kenapa begitu, Bun? " Tanya Tania.


"Biar kita bisa fokus sama Zakia aja, tahun ini kita fokus sama kalian berdua dulu" Jawab Nita.


Semuanya mengangguk setuju. Mereka ingin seluruh perhatian hanya tertumpu pada Zakia ketika dia hamil nanti. Mereka tak ingin Zakia merasa kurang diperhatikan oleh keluarga besarnya saat hamil nanti karena terlalu sibuk dengan kehamilan Alesha dan Tania, meskipun mereka bisa menjamin jika Zakia bahkan tidak akan pernah menggugat soal kasih sayang pada keluarganya.


"Apapun yang terjadi nanti, kita harus siap saja. Aku yakin jika Zakia tak akan menuntut apapun dari kita nantinya" Ucap Zalia.


"Dia benar-benar cerminan Aryo yang sesungguhnya" Arya seakan melihat kilas balik kebersamaan dengan sang adik di benaknya.


"Soal acara empat bulanan kamu Nia... "


"Aku sama Kak Albert sepakat untuk acara keluarga aja, Yah. Nanti 7 bulanan baru kita buat acara yang besar. Terlalu mepet dengan acara Kia, Nia gak mau kalau Kia sampai kepikiran buat acara Nia. Tahu betul gimana itu anak kalau acara keluarga" Tania langsung memotong ucapan Arya.


"Ya sudah kalau keputusan kalian seperti itu, Ayah cuma takutnya kamu maksa minta acara yang besar, jadi kita bantu koordinir buat rahasiain dari Kia" Ucap Arya.


"Sebaik apapun kita menyimpan rahasia, ujung-ujungnya pasti ketahuan Yah. Zakia gak mudah buat kita tipu" Tambah Tania.


"Oh iya, Albert tolong bantu Om cari info Zakia secara menyeluruh ya" Pinta Riski pada Albert.


"Untuk jaga-jaga aja, Om hanya curiga Kia bukan cuma usaha batubara"


"Karena penghasilan Zakia ya Om? " Tebak Tania yang langsung mendapat anggukan dari Riski.


"Maksudnya kamu mau memata-matai Zakia? " Tanya Arya.


"Bukan Mas, Lia pernah menerima laporan keuangan Zakia selama satu tahun. Dan pengeluaran itu bukan sedikit untuk rekening pribadi" Jelas Riski.


"Kalian tapi tau kan kalau Zakia punya blackcard? " Zalia dan Riski mengangguk mendengar pertanyaan Nita.


"Bukan cuma satu Ma, sekarang Zakia pegang dua blackcard sekaligus" Mereka menarik napas dingin mendengar penuturan Alesha.


"Zidan emang gak kasih uang belanja. Tapi langsung kasih blackcard" Tania bahkan memasang wajah sombongnya saat mengatakan itu.

__ADS_1


"Data Zakia susah di retas, Om" Ucap Albert tiba-tiba. "Anak buah aku barusan kasih info kalau data Zakia termasuk data yang susah ditembus. Paling tembus dapat informasi dasar aja habis itu di serang virus"


Yang lain hanya bisa melongo mendengar perkataan Albert. Karena mengakui, diantara perusahaan mereka, perusahaan Albert lah yang memiliki hacker paling canggih dengan kemampuan menakutkan. Itu kenapa Riski meminta tolong pada Albert, namun siapa sangka jika hacker terbaik milik Albert juga tak bisa menembus data milik putri bungsunya.


"Assalamualaikum" Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok Zidan.


"Waalaikumsalam" Jawab mereka serempak.


Zidan langsung masuk dan mulai menyalami satu per satu orang yang ada di ruangan Alesha itu.


"Kamu sendiri? Zakia mana? " Tanya Zalia saat Zakia tak kunjung muncul dibalik pintu.


"Sama Kia, Ma. Dia masih jenguk temennya yang kebetulan di rawat disini juga" Zalia hanya menganggukkan kepalanya.


"Wih gila, langsung gas aja lu, Yash" Zidan menyalami Yash yang duduk di kursi dekat ranjang Alesha.


"Gas lah ngapain nunggu, umur gue juga udah cukup buat punya anak. Lo kapan? " Tanya Yash dengan niat menggoda Zidan.


"Pelan-pelan aja lah, gue sedikasihnya sama yang kuasa aja. Gue masih proses pindahin pusat perusahaan kesini, Kia gak mau pas hamil LDR jadi kudu ekstra usaha buat pindahin pusat kesini" Jelas Zidan panjang lebar.


Alesha dan Tania langsung tertawa, mereka tau semanja apa Zakia pada Zidan. Mereka hanya tak sabar menyaksikan bagaimana repotnya Zidan akan ngidamnya Zakia nantinya.


"Kalau semisal Zakia hamil dalam waktu dekat ini gimana? "


"Ya gue boyong dia ke luar negeri lah, gak bakal gue tinggal. Yakali bini gue hamil harus LDR, tar anak gue salah ngenalin bapaknya lagi" Ucapan Zidan membuat yang lain tertawa apalagi Yash.


Zidan hanya tak ingin kejadian Richi terjadi pada sang anak. Dimana Richi kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya saat tumbuh kembangnya karena kesibukan keduanya. Zidan ingin menjadi sosok pertama yang ada ketika putri kecil atau jagoan kecilnya kelak butuh sesuatu.


"Assalamualaikum, Mas" Zakia hanya memasukkan sedikit kepalanya kedalam ruangan.


"Waalaikumsalam" Jawab semuanya kompak menoleh ke arah Zakia.


"Masuk sayang, kamu ngapain begitu? " Zalia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putri bungsunya.


"Kia gak mau masuk, nanti aja. Kia kalau masuk nanti gak mau keluar lagi, Kia masih ada keperluan di luar. Kesini cuma mau ijin Mas Zidan" Zidan hanya memperhatikan tingkah istrinya dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Sini" Pinta Zidan.


"Mas yang sini, Kia kalau masuk nanti gak jadi keluar lagi, cepet ih Mas" Zidan hanya mengela napas pelan melihat tingkah Zakia. Wajahnya datar saat menghampiri Zakia.


__ADS_2