
Reza dan Fatih tiba dirumah itu sudah larut malam. Semua penghuni rumah sudah tidur termasuk kedua orang tua mereka.
Tapi tidak dengan seseorang. Ia masih duduk disana sendiri dalam remang-remang ruangan besar itu.
Dua orang pemuda masuk ke dalam rumah itu. Dan mengucapkan salam bersamaan. ''Assalamualaikum...''
''Waalaikum salam... Duduk!'' titahnya tegas.
Ia menatap tajam pada dua pemuda itu. Mereka berdua saling pandang. ''Say-,''
''Jelaskan!'' tegasnya lagi.
Membuat mereka berdua saling pandang dan mengangguk. Mereka berdua duduk dihadapan nya.
Reza menghela nafasnya panjang. ''Akan aku jelaskan! Tapi tidak disini. Dinding pun punya telinga di rumah ini! Bang, bawa kakak ipar ke kamarku,'' imbuhnya, dengan segera ia bangkit dan berjalan menuju kamar nya.
Fatih mengangguk, ''Ayo! Kita ke kamarnya. Tidak baik jika disini. Semua ini akan jelas nanti. Tapi setelah kamu tau, kamu jangan kaget ya?''
''Oke,'' sahut nya datar.
Kemudian ia segera berlalu menuju ke kamar Reza. Dengan Fatih mengikuti di belakang nya.
Tiba di pintu kamar Reza, Karin mematung melihat figura besar yang terpajang di dinding kamar Reza.
''Rani??''
Reza menoleh saat melihat kakak ipar sudah ada di ambang pintu kamar nya. Reza tersenyum, ''Ya, Rani istriku.'' Imbuhnya dengan sedikit terkekeh melihat wajah Karin yang terkejut.
Karin menatap Reza dengan penuh tanya. Mata nya melotot saat menyadari jika semua ini...
''Jangan bilang, kalian berdua sengaja untuk mengelabui kedua orang tua kita?!'' terka Karin.
Ia menatap Fatih dan juga Reza. Mereka berdua mengulum senyum, melihat wajah Karin semakin penasaran.
''Ya, seperti yang ada dipikiran mu sayangku!'' sahut Fatih, kemudian mengecup pipi Karin sekilas.
__ADS_1
Karin mendelik. Sedangkan Reza, memutar bola mata malas. ''Kalau kalian berdua ingin bermesraan, jangan di kamarku! Pergi sana ke kamar Kalian!'' ketus Reza.
Karin semakin mendelik melihat suaminya. ''By!''
''Apa sayang...'' sahut Fatih semakin membuat Reza mual.
''Keluar kalian berdua! Kamu udah dapatkan apa yang kamu ingin tau dari ku, Kakak ipar?''
''Hem, baiklah! Aku pergi! Dan jangan coba-coba untuk membohongiku lagi!'' tegas Karin.
Setelah itu, ia bangkit dan keluar dari kamar Reza. Fatih dengan segera mengejar isterinya menuju ke kamar mereka.
Lagi, Reza merasakan kesunyian di hatinya. ''Aku harus kuat!'' imbuhnya pada diri sendiri.
Pagi hari nya.
Hari ini Fatih dan Reza seperti biasa menuju kantor cabang milik mereka. Kantor cabang yang selama ini dirintis oleh Reza atas nama Rani.
Bukan hanya cabang itu saja atas nama Rani. Semua harta peninggalan Ayah Alam telah ia balik nama menjadi milik Rani.
Semua akta itu sudah di tanda tangani oleh Rani tanpa paksaan apapun. Mengingat itu Reza terkekeh.
Sekarang Reza sedang berada di dalam kantor cabang nya. Semua surat menyurat Reza titipkan di kantor cabang itu.
Karena disana, ia sengaja meletakkan satu orang kepercayaan nya untuk menjaga barang itu dari kedua orang tuanya.
Saat ini Reza sedang sibuk dengan berkas-berkas saham serta data keuangan dari dua puluh tahun yang lalu hingga saat ini.
Semua berkas itu bertumpuk menggunung di hadapan Reza. Reza yang terkenal pintar dan jenius sangat mudah baginya untuk bisa menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu satu hari.
Bahkan bisa lebih singkat lagi. Saat ini saja Reza sudah menyelesaikan setengah tumpuk dari berkas yang menggunung itu.
Saat ini ia sedang memeriksa berkas sepuluh tahun silam. Ia ingin membalik berkas itu agar bisa cepat di selesaikan.
Namun gerakan tangannya terhenti saat mendengar ucapan Rani di seberang sana.
__ADS_1
Di seberang sana Rani sedang mengomel tak jelas pada Gilang. Ia sedang tidak ingin di ganggu.
''Mbak, udah sampai ke Bogor kan?''
''Udah!'' sahutnya singkat. Gilang mengernyitkan dahinya.
Namun ia terkekeh, ''Kenapa? Apa Bang Reza belum selesai dengan tugasnya untuk membunuh Mbak?'' selidik Gilang dengan wajah seriusnya.
Padahal Gilang sekarang sedang menahan tawanya saat melihat wajah Rani yang super jutek itu.
''Sudah! Kenapa kamu tanya-tanya! Kamu senang jika Mbak mati?!'' sahut nya ketus.
''Astaghfirullah! Nggak gitu Mbak ku yang cantik.. maksud aku tuh nanya gitu loh.. bukan-,''
''Apa?! ingin membela pemuda itu? Iya? Udah Sono telepon tuh si barokokok itu?! Saya tak peduli dengannya! Dan satu lagi ! Jangan sebut-sebut namanya saat kamu menghubungi saya!'' ketusnya lagi.
Reza disana terkekeh mendengar suara Rani yang jutek terhadap Gilang.
''Ih, kenapa pula Gilang yang Mbak marahin? Marahin aja tuh sama suami Mbak! Jangan ke Gilang dong!'' seru Gilang tidak terima.
Lagi, Reza terkekeh mendengar dua orang itu berdebat karena nya. Tangan Reza terus saja bergerak cepat membolak balikkan berkas yang sudah puluhan tahun itu.
Tiba pada lembaran kertas yang terakhir, Reza berhenti. Ia menatap tajam pada kertas itu. Bersamaan dengan ucapan Rani yang begitu membuat hatinya sakit.
''Mbak...''
''Kenapa ya Lang, kehidupan Mbak nggak ada baik-baik nya. Nggak diwaktu kecil hingga sekarang pun Mbak masih merasakan nya. Kamu tau nggak, ketika Mbak kecil dulu sering kali di ejek dan di hina oleh anak tetangga. Katanya Mak ini keturunan pembawa sial yang lahir dari wanita pembawa sial! Ibunya gila karena menyelamatkan nya, sedangkan ayahnya mati karena melindungi wanita pembawa sial itu..''
Deg!
Bagai di hantam puluhan batu di dada Gilang dan Reza. Reza memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa sesak di dadanya.
Begitu juga dengan Gilang. Berulang kali ia menghela nafas berat. Ia menatap sendu pada Rani.
''Tidak ada seorang manusia pun yang di lahirkan dalam keadaan pembawa sial Mbak Rani.. semua anak manusia yang lahir itu suci. Fitrah. Yang menjadikan dirinya itu kotor itu adalah kedua orang tua nya. Begitu juga dengan Mbak Rani. Mbak bukan pembawa sial seperti yang mereka tuduhkan. Mbak itu suci sesuci air bening yang mengalir di dalam surga jannatul Ma'wa. Mbak mengalami semua ini karena memang ini sudah menjadi suratan takdir untuk Mbak. Alisa pun sama seperti Mbak. Ia juga dituduh sebagai wanita pembawa sial oleh keluarga suaminya terdahulu. Namun ia tetap sabar. Karena ia tau, jika memang itulah jalan hidup yang harus di tempuhnya.''
__ADS_1
''Kalian berdua bukan pembawa sial. Kalian itu pembawa berkah untuk kami. Kamu istimewa Rani.. biarkan saja mereka berkata apa. Yang jelas kami tau seperti apa kamu sebenarnya. Begitu juga dengan Gilang. Alisa bukanlah pembawa sial. Ia juga sama seperti mu. Mungkin benar apa yang dikatakan Gilang pada mu. Semua ini memang sudah menjadi ketentuan untuk kalian berdua. Kami berdua berani bertaruh, jika kalian berdua itu adalah wanita istimewa bukan wanita pembawa sial seperti yang mereka tuduhkan!''
TBC