Janda Kembang

Janda Kembang
Makam asli Ayah Alam


__ADS_3

''Bersabarlah Mbak.. semua akan indah pada waktunya. Semoga dia cepat menemukan bukti akurat itu. Jika tidak terbawa oleh seorang pembeli kopi dari luar negeri itu, mungkin saat ini seluruh harta Abang pasti sudah habis di ambil oleh mereka semua. Aku harap, kali ini dia pasti berhasil Mbak.. karena ini adalah jalan pembuka untuk kalian segera meninggalkan tanah Jawa ini dan pergi ke kota Medan. Karena disanalah tanah kalian yang sebenarnya! Dan juga makam bang Alam yang asli ada di Medan kan??'' tanya paman Ali sedikit lirih.


Ia takut jika ada yang mendengar ucapan nya itu. Akan sangat berbahaya untuk Rani dan juga Ibunya.


Sedangkan seseorang disana tersentak, hingga ia hampir terjungkal ke belakang jika tidak bertahan pada meja.


Deg, deg, deg.


Suara jantung nya bergemuruh hebat. Dia begitu terkejut dengan ucapan paman Alam.


''A-a-apa?!? Ja-ja-jadi.. se-selama i-ini...'' ucapan nya terhenti karena pasokan di udara di dadanya menipis.


Matanya berkunang-kunang, pusing melanda dirinya. Kakinya lemas bagai tak bertulang. Rani hampir saja tumbang jika ia tidak berpegangan pada ujung meja.


Bersyukur nya, kedua orang itu tidak menyadari jika Rani hampir saja pingsan di dapur seorang diri.


Sekuat tenaga ia berusaha mengontrol hati dan pikiran nya. Berulang kali Rani menarik nafasnya.


Setelah dirasa tenang, Rani duduk kembali disamping pintu dapur berdekatan dengan rumah tamu, dimana sekarang kedua orang itu sedang duduk berdua.


Setelah duduk disana, Rani mencoba untuk kuat, agar apapun yang kan ia dengarkan selanjutnya adalah sesuatu yang selama ini ia cari.


''Ya.. tentu saja! aku akan menunggu putra ku itu. Tapi kasihan dengan Bang Alam.. sekian tahun aku tidak pernah menjenguknya sama sekali.. tiada yang mendoakan nya disana..'' lirih ibu Saras.


Rani menahan nafasnya lagi.


''Sabar Mbak.. bukankah ini keinginan Abang dulu? Sebelum ia pergi meninggalkan kita semua?? Mbak masih ingatkan apa yang dikatakan oleh Abang waktu itu??'' tanya paman Ali mencoba untuk mengingat kan Ibu Saras.


''Ya, aku masih ingat! Bagaimana mungkin aku lupa, jika permintaan itu adalah permintaan yang terakhir kalinya. Setelah nya ia pergi meninggalkan ku dalam keadaan hamil Rani. Beruntung nya aku.. tidak ada yang tau jika waktu itu aku sedang hamil putriku..'' lirihnya lagi.


Lagi dan lagi Rani menahan nafasnya.


''Sabar Mbak.. itu semua demi kebaikan Mbak dan Rani.. Abang sengaja meminta kita untuk menyembunyikan makam asli nya yang kini ada di Medan. Juga beberapa usaha nya kini sudah berjalan lancar dibawah naungan Putra mu itu. Bersabarlah Mbak.. sebentar lagi.. sebentar lagi Mbak akan kesana bersama dengan nya.."


"Aku tau.. jika ini adalah keinginannya. Tapi aku tidak bisa menahan rindu.. sekian tahun aku mencoba untuk menerima keadaan ini. Seringkali aku menangis seorang diri di tengah malam gelap gulita mengingat tentang dirinya. Beruntung nya aku.. ada seseorang yang begitu menyayangi ku seperti Ibu kandung nya. Ya.. walaupun aku tidak melahirkan nya, namun aku tetap menyayangi nya sepenuh hatiku. Maka karena itu, dia berusaha membujuk ku agar mau menerima lamaran anak pembunuh itu. Jika bukan karena nya, aku tidak pernah mengijinkan putriku di sentuh tubuhnya oleh pembunuh itu. Setelah dia pulang dari luar negeri nanti, aku akan menikahkan mereka berdua.. tunggu sebulan lagi." imbuhnya menggebu-gebu jika mengingat tentang putra nya itu.


"Tapi Mbak.." ucap paman Ali.


"Tapi apa??"


"Bagaimana jika Rani sudah di sentuh oleh Fatih? Otomatis pernikahan mereka pasti akan tertunda selama tiga bulan ke depan. Terkecuali .." ucap paman Ali lagi menerka keadaan Rani sekarang ini.


"Apa??"


"Kecuali jika Rani sampai sekarang masih dalam keadaan suci, maka boleh kita menikahkan Rani lagi. Jika untuk surat menyurat. semua itu tidaklah penting. Bukankah Rani meminta hanya menikah secara agama saja??"


"Besar kemungkinannya jika Rani bisa menikah lagi begitu maksud mu??" selidik ibu Saras.


"Ya.. Rani bisa menikah lagi jika Fatih belum memberikan nafkah batin untuk nya." sahut Paman Ali.


Membuat Rani lagi dan lagi menahan nafasnya.


Beruntung nya Rani jika Fatih hanya menyentuh tubuhnya saja. Belum memberikan nafkah batin padanya. Jika sudah, maka akan sulit bagi Rani untuk menikah lagi setelah kepulangan putra mahkota ibu Saras itu.


''Siapa sebenarnya putra Ibu ini?? Apakah?? Ah! tidak mungkin! Mana mungkin dia? Kan jika sampai itu terjadi maka mereka semua akan memburunya?? Bang Reza... Rani kangen..'' lirihnya pada diri sendiri, sembari menatap ponselnya yang menunjukkan profil Reza saat ini.


Terlihat Reza telah mengubah foto profil nya tetapi tidak seluruhnya. Ia tetap memajang foto Rani disana.


Rani tersenyum. ''Aku tau Bang.. jika ini adalah foto ku! Abang sengaja menggabungkan nya agar terlihat kita berdua seperti sepasang kekasih. Kapan Abang pulang? Rani kangen..'' tanpa disadari nya apa yang di ucap itulah yang terkirim Reza.


Ting!


Pesan WhatsApp masuk ke ponsel Rani. Rani membuka nya dan melihat centang biru dan juga balasan dari seseorang yang dirindukan nya.


Reza ❤️ :


Abang juga kangeeennn banget sama kamu! Tunggu ya! Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi, setelah ini kita akan berkumpul bersama. Sabar ya sayang.. 😘😘


Blushhh..


Wajah Rani merah merona.

__ADS_1


Ting!


Masuk lagi pesan dari Reza.


Reza ❤️ :


Ihh.. mukanya kok merah gitu sih. Pingin dicubit! 😘😘


Lagi dan lagi wajah Rani merah merona.


Balas to Reza ❤️:


Ishh.. kok bisa tau sih? padahal kan orang nya nggak ada disini? 😒😒


Ting!


Reza ❤️:


Hehehe.. apa sih yang Abang tidak tau tentang mu, hem? Kita satu hati satu jiwa Rani.. jadi jangan terkejut jika Abang tau segalanya tentang mu! 😘😘


Rani :


Ishh.. dari mana mau satu hati satu jiwa? Wong akunya disini? lah Abang? entah dimana? 🤔🤔


Ting!


Reza ❤️:


Abang tau segalanya tentang mu sayang.. jangan pernah kamu ragukan kekuatan pikiran Abang. Apa yang tidak kamu ketahui, tapi Abang bisa tau! 😏😏


Rani :


Ohh ya?


Ting!


Reza ❤️:


Ya.


Rani :


Ting!


Reza ❤️:


Apakah kamu sedang berpikir jika ibu sedang memikirkan tentang putra nya? Sedangkan kamu penasaran dengan putra ibu itu??😎😎


Rani membulatkan matanya. Rani celingukan mencari Reza.


Ting!


Reza ❤️:


Apa yang kamu cari?? Abang disini loh..


Lagi, Rani membulatkan matanya.


Rani :


Ishh.. Abang jangan nakutin dong! 😒😒


Reza ❤️:


Abang nggak nakutin kamu sayang.. tapi beneran deh, kamu cari Abang? Sedang Abang ada disini!


Rani :


Dimana??🤔🤔


Reza ❤️:

__ADS_1


Dihati dan pikiran mu! 😘😘


Blushhh..


Lagi Rani tersipu. Sedangkan nan jauh disana, ia terkekeh geli melihat reaksi Rani.


Reza ❤️:


Hii.. merah gitu mukanya?? Kamu kenapa sayang?? cerita sama Abang!


Rani :


Ishhh.. Abang gombal melulu.. Diabetes aku nya..


Rani mencebik kan bibirnya, membuat Reza tertawa lepas disana.


Reza ❤️:


🤣🤣🤣🤣


Rani :


Abang tau dari mana sih? jika Rani sedang memikirkan hal itu??


Reza ❤️:


Cctv.


Rani :


Ha? 😨😨 mana ada bang! disini mana ada cctv?


Reza ❤️:


Ada! 😉😉


Rani :


Isshh nggak ada ah! kalau beneran ada Di mana dan apa nama nya?? 😏😏


Reza ❤️:


Ada di hatimu! ❤️❤️


Cctv Cintaaaaa... 😍😍😍


Blussshh..


Lagi dan lagi Rani menjadi malu. Ia menutup kedua matanya. Tidak ingin melihat ponsel itu lagi.


Sedangkan di seberang sana, Reza tertawa terbahak.


''Kamu tau sayang.. inilah yang aku inginkan! aku harus sabar menunggu waktu yang tepat demi bisa membawa kalian bisa pergi dari tanah Jawa. Dan aku akan pastikan pembunuh ayah akan segera ditangkap dengan bukti yang akan ku temukan nanti.''


Reza menatap laptopnya lagi. Disana Rani sedang tersenyum-senyum sendiri. Melihat itu Reza terkekeh.


''Kamu sangat manis sayang.. andai.. jika bukan karena liontin itu, maka aku tidak mengijinkan mu menikah dengan pemuda itu. Walaupun dia saudara ku, tapi aku tidak menyukai tingkah laku nya itu. Aku tau segala nya tentang mu.. bersabarlah! Aku akan pulang menemui mu! Sudah saatnya kau tau siapa aku sebenarnya!'' seutas senyum tipis terbit dari bibir tipis nya itu.


Ia masih saja melihat ke laptop dimana ada Rani yang masih sibuk dengan ponsel nya itu.


Sedangkan Rani masih tersenyum senyum sendiri melihat ponselnya, itu tak luput dari tatapan ibu Saras.


''Kamu kenapa Nak?''


''Astagfirullah? jangkrik terbang!!''


''Ha??''


💕


Jangkrik terbang?? Adakah??

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣


TBC


__ADS_2