
''Baik! jika kamu menganggap saya bukan siapa-siapa kamu, Maka baiklah! Paman, segera nikahkan kami berdua! Sekarang dan saat ini juga!'' ucap Reza tanpa berbalik.
Sedangkan Rani mematung mendengar ucapan Reza.
''Aa-apa?!? Me-menikah??? Dengan mu?! Nggak! aku nggak mau nikah! Aku mau sendiri! Aku tak mau di ikat oleh apapun termasuk pernikahan dengan mu tuan Reza!'' tukas Rani dengan dingin.
Awalnya terkejut, tapi setelah ia mendengar ucapan Reza, Rani menolak nya.
Menikah katanya?? Menikah hanya untuk mengikat kemudian mengabaikan nya lagi begitu?!
Hah!
Rani tidak mau itu. Rani mau jika ia di terima dengan setulus hati, bukan karena ingin mengikat karena sebuah keterpaksaan.
''Aku mau menikah, jika kau menerima ku dengan setulus hatimu! Bukan karena sebuah keterpaksaan yang akhirnya kau mengikat ku dalam rantai pernikahan. Pernikahan itu bukan mainan. Hari ini menikah, ijab qobul tapi besok di talak lagi. Aku tidak mau kau menerima ku karena aku mengabaikan mu beberapa hari ini. Aku mau pernikahan sekali seumur hidup!'' ujar Rani, masih dengan membelakangi Reza.
''Pernikahan bukanlah hanya antara kita berdua saja. Tapi pernikahan itu, menyatukan dua orang yang berbeda pendapat, yang menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pernikahan bukan ajang untuk mempertontonkan kan diri siapa yang lebih baik, tapi pernikahan adalah penerimaan, penggabungan dua sifat yang berbeda dan menerima kelebihan dan kekurangan pasangan baik dan buruknya..'' lirih Rani lagi masih tanpa menatap Reza.
''Aku tak mau menikah, karena Abang ingin mengikat ku dengan dalih pernikahan tetapi nyata nya Abang mengikat ku karena Abang sedang emosi. Apakah Abang sudah berpikir secara masak-masak?? Apakah Abang menerima diriku yang hanya seorang janda yang begitu hina di mata kalangan masyarakat??''
Paman Ali menatap Rani.
''Status janda itu sangat hina Bang.. apalagi aku adalah bekas kakak ipar mu! Dan sekarang, Abang ingin menikahi ku?? Setelah ini apa? Apakah Abang akan menceraikan aku juga??'' ujarnya lagi.
Reza membatu. Tak bisa berbicara apapun lagi.
__ADS_1
''Sebulan yang lalu aku sudah merasakan yang namanya pernikahan Bang. Aku merasa bahagia, tapi hari itu juga aku terluka.. masih ingatkah Abang, bagaimana perlakuan kedua orang tua Abang terhadap ku, selama kita tinggal disana??''
''Aku tidak mau menikah karena Abang sedang emosi. Lebih baik Abang pikirkan lagi. Bukan aku menolak. Hanya saja .. aku masih trauma dengan pernikahan... sangat sulit menerima status ku sekarang ini. Belum lagi aku selalu di cap sebagai perebut suami orang, selalu di obral. Apakah Abang berpikir, aku mampu? Aku sanggup?? Aku nggak sanggup Bang.. sangat sakit rasanya di cemooh oleh orang lain karena status janda yang melekat pada diriku ini.. Tolong pikirkan lagi keputusan Abang... kita menikah bukan untuk hidup sendiri, tapi menyatukan dua keluarga yang sudah tercerai berai sedari dulu.''
''Aku tak tau, masalah apa yang membuat kalian hingga saling merebutkan harta ayah Alam. Aku tidak tau itu. Yang aku mau hanya jika pun kita menikah nantinya, seluruh keluarga besar kita berkumpul dan berdamai Bang... hanya itu yang aku mau... Bisakah Abang menyatukan dua keluarga yang sudah tercerai berai ini??'' tanya Rani yang kini sudah berbalik menghadap Reza.
Reza bergeming. Ia masih terpaku karena ucapan Rani baru saja. Ucapan Rani baru saja, menampar dirinya.
Walaupun kenyataannya ia tidak melakukan hal itu, tapi tidak menutup kemungkinan bukan, jika hal serupa dan masalah yang sama akan terulang lagi, jika ia memaksa Rani untuk menikah sekarang??
Reza diam seribu bahasa. Rani tersenyum.
''Aku anggap diam mu sebagai jawaban Bang.. selama dua keluarga besar belum menyatu, selama itu pula aku tidak bisa menikah dengan mu.. bukan aku tidak mau.. hanya saja.. aku takut kejadian yang sama terulang lagi.. jika sakit karena di abaikan masih bisa aku terima. Aku bisa pergi jika aku tidak tahan dengan kalian. Tapi... bagaimana dengan diceraikan tepat setelah dua hari menikah?? Aku harus apa?? Aku yang berharap agar pernikahan itu sampai maut memisahkan, malah harus kandas tepat dua hari pernikahan. Aku tidak mau itu Abang Reza... lebih baik, kita berpisah disini. Kubur saja keinginan itu disini. Jangan dilanjut lagi. Jika Abang masih ingin lanjut, maka selesaikan segera permasalahan diantara kalian yang tidak pernah aku tau apa itu. Dan aku harap, Abang menerima keputusan ku. Mulai saat ini, aku tidak akan tinggal di rumah ibu, ataupun disini. Aku akan pergi mencari jati diriku sendiri. Aku ingin memperbaiki diriku, agar layak untuk suami ku kelak. Aku tau... Aku masih banyak kekurangan.. aku mohon Bang.. jangan paksa aku untuk bisa menikah dengan mu.. jika Abang ingin tinggal dengan ibu.. silahkan! Temanilah beliau, karena aku tidak bisa selamanya tinggal disana.. Terimakasih selama ini Karena telah sudi melihat seorang janda bekas kakak ipar mu ini. Walaupun aku adik sepupu mu, tapi aku tetap mantan kakak ipar mu bang Reza.. jangan lupakan itu.''
''Paman.. tolong jaga ibu untukku.. aku akan pergi dimana ada tempat yang bisa menerima ku setulus hati. Selesaikan Masalah kalian berdua. Terimakasih karena telah menerima ku selama disini. Salam untuk Bibi dan juga adik-adik ku. Abang.. aku pamit. Assalamualaikum...'' lirih Rani dengan bibir bergetar.
Sedang paman Ali terdiam seribu bahasa. Ibu Saras yang mendengar ucapan Rani, lebih kepada rasa bersalah.
Rani melewati ibu Saras begitu saja. Ia tidak tau jika ibu Saras ada disebelah pintu dan mendengar kan semua curahan hatinya.
Rani berjalan dengan gontai, di tengah gelap nya malam. Saat travel pesanan nya datang, Rani masuk dengan memandangi rumah paman Ali.
Hatinya bagai tertusuk duri, melihat ibu Saras yang menatap nya dengan pandangan kosong.
Hancur sudah hatinya, hampa sudah hidupnya. Dua orang yang ia sayangi, ia tinggalkan begitu saja.
__ADS_1
Bukan tega, tapi karena terpaksa. Terpaksa untuk mencari jati diri sendiri karena selalu dianggap rendah dan hina karena status janda nya.
Rani meninggalkan kota kelahirannya, pergi dimana tempat ayah Alam dimakan kan. Yaitu kota Medan.
Ia sudah memesan tiket dan alamat yang ia minta dari paman Ali sebelum Reza dan ibu nya datang.
''Maafkan Rani ibu... Abang.. kalian berdua adalah orang yang Rani sayangi.. tapi Rani terpaksa melakukan hal ini... biarkan Rani dengan kehidupan Rani, kalian berdua dengan kehidupan kalian berdua.. Jika memang kita berjodoh, sejauh apapun aku melangkah, maka ia akan menemukan jalannya untuk menemui ku. Aku ikhlas.. inilah jalan hidup ku.. Maafkan Rani ibu.. maafkan Rani...'' gumamnya masih dengan terus menangis dan menatap rumah paman Ali yang ia tinggalkan begitu saja.
Rani, ia ingin pergi ke tempat ayah Alam di makam kan. Ia punya tujuan, tapi cuma dirinya yang tau.
Sedangkan Reza, ia jatuh terduduk dilantai dengan tatapan kosong. Lagi dan lagi Rani pergi untuk meninggalkan nya.
''Rani...''
''Rani...''
''Rani... akkkhhhh Rani..... aarrrrgghhh...''
''Astaghfirullah! Ibu!''
Deg.
💕
Ada apa lagi itu?? Ada yang tau kah??
__ADS_1
TBC