
Reza dan kedua orangtuanya telah sampai di rumah. Kedua orang tuanya dibawa ke dalam kamar untuk segera di obati.
Setelah membaringkan Mama nya, Reza keluar untuk menelpon dokter keluarga untuk segera datang kerumahnya.
Tuut, Tuut, Tuut.
''Hallo! dokter Harun! segera kerumah! Papa dan Mama sedang terluka!'' ucapnya dengan sekali tarikan nafas.
Dokter Harun yang mendengar ucapan Reza, ia panik dan bergegas berdiri. Padahal beliau baru saja kediaman nya.
''Baik! lima belas menit lagi saya tiba!'' sahutnya dengan segera bergegas kerumah sahabatnya itu.
Ya, dokter Harun dan Papa Reza bersahabat. Saking persahabatan itu kokoh, mereka berdua berniat menjodohkan Fatih dengan putri sulungnya.
Lima belas menit kemudian, dokter Harun tiba di kediaman Reza.
Tap, tap, tap.
Suara derap langkah kaki seperti berlari, mendekati Reza yang sedang gusar disana.
__ADS_1
''Reza!''
Reza menoleh, ''ya! mari ke dalam! mereka berdua saat ini sedang terluka!'' imbuh Reza, dengan segera membawa dokter Harun di kamar tamu.
Sesampainya disana, terlihat Papa Reza memegang kepalanya yang berdarah. Darah yang keluar cukup banyak.
Belum lagi wanita tua yang tergolek disana. Dengan wajah yang memerah serta dahinya memar, seperti pukulan benda tumpul.
''Astaghfirullah! kenapa ini Rus??'' tanya dokter Harun. Tangannya bergerak cepat menangani Papa Reza.
Papa Reza menoleh, ''hanya luka kecil! obati dulu ratu ku! Dia yang lebih membutuhkan perawatan di bandingkan aku!'' imbuhnya dengan mendorong dokter Harun ke ranjang dimana istrinya terkapar tak berdaya.
Reza yang mendengar nya mengulum senyum. Beginilah jika kedua sahabat telah bertemu.
''Ya.. ya.. ya! terserah anda tuan dokter! Toh, apapun yang gua katakan, elu takkan mendengar nya!'' kesal Papa Reza.
Melihat itu Reza terkekeh. Setelah dokter Harun mengobati Papa Reza terlebih dahulu, lalu Mama nya.
''Pa.. Reza keluar sebentar ya! Ada yang mau di urus!'' ujarnya seraya berlalu.
__ADS_1
Tuan raja itu mengangguk.
Tiba di depan pintu pertengahan antara ruang tamu dan pintu depan, Reza melihat Fatih membopong Rani. Wajahnya begitu khawatir.
Reza yang melihatnya, hatinya sedikit tercubit.
''Hmm.. andai yang sedang membopong Rani adalah aku, pastilah aku jadi lelaki yang sangat bahagia saat ini.. Tapi... itu hanya mimpi belaka! karena cintaku yang baru saja ku tanam, harus terkubur karena ke injak Kakak ku sendiri! Nasib... nasib! Sudah lah jomblo.. nggak punya gebetan.. eh sekali dapat gebetan, malah ditikung Abang sendiri.. ck!ck! Apes banget hidup Lo Reza!!'' ucapnya pada diri sendiri.
''Za! Panggil kan dokter Harun! Rani pingsan! kayaknya kelelahan karena habis menangis! cepetan!!'' seru Fatih. Ia berlalu dihadapan Reza dengan melihat Rani dalam dekapannya dengan mata terpejam.
Mata yang sembab, penuh dengan air mata yang baru saja di tumpahkan pada saat ia menikah tadi dengan Fatih.
Reza menghela nafasnya.
''Ya sudahlah! mau di buat apa?? Toh, walaupun Rani menjadi kakak ipar ku, tetapi ia tetaplah sepupuku! Yang akan selalu ku jaga sampai kapan pun! Terlepas aku pernah menyukainya, itu tidak akan masalah untukku dan Rani. Wong Rani aja nggak tau.. kalau aku menyukainya sejak pertama kali bertemu! Aku akan menjaga mu sebisa ku Rani! Seperti yang telah dituliskan dalam wasiat itu! Jika suatu saat Abang, tidak bisa membahagiakan mu, maka aku yang akan menggantikannya! Aku janji Rani. Aku berjanji pada diriku sendiri! Dan juga paman Alam! Paman.. doakan Reza, agar mampu menjadi pelindung Rani, dari kekejaman kedua orang tua Reza. Reza percaya.. pasti Paman punya alasan tersendiri, mengapa Paman mengatakan jika aku juga bisa menjadi suami Rani! Ya Allah.. bantu aku.. untuk bisa membantu Rani, agar mendapatkan seluruh harta milik kedua orangtuanya.. biarlah aku jadi gembel! asalkan Rani tidak membenciku, seperti Bibi Saras membenci kedua orang tuaku! Amiiin..''
💕
Ringkas namun padat ya!
__ADS_1
TBC